Married by Accident

Married by Accident
XLIII



Renjani merasa kesepian di tengah riuhnya orang-orang yang berlalu-lalang melewati lobi gedung Antasena. Pandangannya kosong ke arah mereka yang mengobrol dan tertawa. Apakah mereka bahagia?


Renjani tersenyum getir, kini dalam hidupnya ia tak bisa mempercayai siapapun. Bahkan untuk mempercayai diri sendiri ia tak bisa. Dulu orangtuanya mengatakan bahwa mereka menyayanginya tapi Renjani selalu merasa sendiri di rumah. Mendengar pertengkaran orangtuanya setiap hari bukanlah perkara mudah.


Ketika Renjani bertanya tentang kabar papa nya setelah bercerai, papa nya selalu mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Namun setelah bertemu, Aji tampak kurus dan tidak terawat, ia terlihat lebih tua dari usianya. Lasti juga mengatakan ia jauh lebih tenang setelah bercerai, tapi mengapa ia selalu memarahi Renjani.


Di dunia ini Renjani tak pernah mendapat kehangatan cinta dari orang lain, Arya yang selalu mengatakan tak akan menduakan nya ternyata berselingkuh di belakangnya.


Siapa lagi yang bisa Renjani percaya?


Mengapa Kelana mengatakan mencintai Renjani jika ia masih menyimpan rapi kenangannya bersama Elara.


Renjani sadar bahwa ia tak akan bisa menghapus memori tentang Elara di kepala Kelana. Lalu ungkapan cinta Kelana saat itu hanyalah lelucon. Lelucon yang sama sekali tidak lucu. Renjani benci lelucon itu. Ia merasa dipermainkan oleh Kelana.


Kamu memang tidak pantas bahagia, Renjani. Bahkan dalam novel Meet Sunshine, tokoh Rain bukanlah apa-apa meski ia selalu ada untuk Dion. Seluruh dunia hanya akan tertuju pada tokoh utama seperti Sinar dan—Elara.


"Mbak Rere, silakan masuk, Mas Kelana menunggu di ruangannya." Seorang staf menghampiri Renjani.


"Iya." Renjani beranjak meski sebenarnya ia tidak ingin bertemu Kelana, ia sudah bersama Kelana di rumah. Renjani hanya ingin membebaskan diri dari sosok Kelana. Renjani ingin waktu 7 bulan yang tersisa berlalu dengan cepat.


Renjani melihat punggung lebar Kelana yang dibalut kemeja hitam. Kelana sedang siap-siap membuka acara fan sign tahun ini bersama 50 orang penggemar setelah peluncuran album Love Season.


"Re." Kelana membalikkan badan merasakan kehadiran Renjani. "Kamu dari mana?"


"Dari lobi." Renjani berjalan mendekat.


"Kenapa kamu disana, aku nyariin kamu dari tadi." Kelana menatap Renjani.


"Nggak ada alasan khusus." Renjani sempat terpesona dengan penampilan Kelana hari ini. Kelana menata rambutnya ke atas yang membuatnya terlihat lebih segar. Namun Renjani berusaha mengkondisikan ekspresinya agar tidak terlalu kentara.


Kelana merentangkan tangan memeluk Renjani seolah mereka lama tidak bertemu.


Harusnya pelukan itu terasa hangat tapi bagi Renjani, ini terasa perih seperti pisau yang mengiris hatinya.


Kelana mengajak Renjani duduk, ia mengeluarkan sebuah album bertuliskan Love Season dengan cover keseluruhan berwarna hitam dan abu-abu metalik. Album itu tampak mewah dengan warna gelap.


"Satu untuk mu." Kelana memberikan album tersebut pada Renjani.


"Aku juga dapet?" Renjani membelalak, album itu cukup berat membuatnya penasaran ingin segera membukanya.


"Kamu bisa putar lagunya di kantor."


Renjani berterimakasih pada Kelana, ini pertama kalinya ia mendapat album seperti itu. Renjani tak pernah menyukai satu publik figur khusus termasuk Kelana. Namun sekarang Renjani memiliki rasa suka pada Kelana, bukan suka tapi jatuh cinta—cinta yang mungkin akan memiliki akhir menyedihkan.


"Kalau kamu mau lihat acaranya, aku bisa minta staf menyediakan tempat khusus buat kamu."


"Jangan repot, aku bisa duduk dimana saja." Renjani tersenyum tipis.


"Baiklah." Kelana mengusap rambut Renjani. Kelana heran mengapa Renjani tidak mau membalas tatapannya. Kelana merasa sikap Renjani berubah akhir-akhir ini. Namun Kelana berusaha menepis pikiran-pikiran buruknya tentang Renjani.


"Tapi sepatumu lepas." Kelana berjongkok hendak memasang tali sepatu Renjani yang hampir terlepas.


"Aku bisa sendiri." Renjani mundur satu langkah dan segera mengencangkan tali sepatunya.


"Kamu kenapa?" Kelana terkejut dengan sikap Renjani.


"Nggak enak nanti ada yang lihat." Renjani hampir saja lupa jika semalam Yana memberitahunya untuk menjaga suasana hati Kelana agar tetap baik sebab Kelana akan bertemu dengan para penggemarnya hari ini.


"Aku cuma mau pasang tali sepatu kamu."


"Tapi kamu bahkan nggak pasang tali sepatu mu sendiri, ada staf yang bantuin masa kamu mau pasang tali sepatuku?" Renjani berusaha mencari alasan yang masuk akal.


Kelana berdiri tegak memegang lengan Renjani, "tapi kamu bukan orang lain, kamu istriku."


Renjani menarik senyum, ingin rasanya ia berteriak di depan wajah Kelana, jika aku istrimu mengapa kamu menyimpan foto wanita lain? kamu lupa ada tempat sampai di dunia ini? atau kamu masih nunggu dia kembali? Dasar buaya!


"Semoga acara hari ini lancar ya." Hanya kalimat itu yang berhasil keluar dari mulut Renjani di antara umpatan dan makiannya terhadap Kelana. Renjani merapikan kerah kemeja Kelana lalu menepuk bahunya dua kali.


"Renjani, kamu harus percaya kalau aku sayang sama kamu." Ujar Kelana sungguh-sungguh, ia mengecup kening Renjani sesaat.


Renjani mengangguk, ia bahkan tak tahu persis seperti apa rasa sayang itu.


"Kelana, silakan keluar." Salah seorang staf memanggil Kelana, mereka harus segera memulai acara fan sign tersebut.


"Aku pergi dulu." Kelana mengusap lengan Renjani sebelum pergi mengikuti staf yang memanggilnya barusan.


Renjani duduk meringkuk di lantai setelah kepergian Kelana. Renjani ingin mempercayai ucapan Kelana andai ia tidak menemukan album foto itu. Renjani yakin ada banyak barang lain yang menyimpan kenangan Kelana bersama Elara di apartemen itu.


Renjani mendongak menelan air matanya sebelum luruh, ia tak boleh menangis hari ini. Ia pernah melalui hal yang lebih berat dari sekarang tapi ia bisa melewatinya.


Sorak riuh dan tepuk tangan terdengar ke seluruh aula gedung Antasena ketika Kelana keluar. Para penggemar meneriakkan nama Kelana sambil mengacungkan ponsel mereka untuk merekam video. Kesempatan seperti ini tak akan terjadi dua kali, mereka harus memanfaatkannya sebaik mungkin.


Kelana menyapa penggemarnya, ia mengucapkan terimakasih karena mereka hadir disini. Kelana bukan apa-apa tanpa mereka semua.


Penggemar pertama melangkah maju, ia membawa album Love Season untuk ditandatangani oleh Kelana.


"Selamat siang, siapa nama kamu?" Sapa Kelana.


"Rara." Wanita seusia Kelana itu menyodorkan album miliknya.


"Terimakasih sudah hadir disini, Rara." Kelana menorehkan tandatangan di bagian dalam album setelah menulis nama Rara disana.


"Aku ngikutin kamu dari awal tapi baru hari ini bisa berkesempatan ikut fan sign."


"Oh ya? terimakasih banyak karena kamu sudah setia mengikuti ku." Kelana mengulas senyum lebar pada Rara.


Rara memberikan sebuah kotak berisi dasi pada Kelana, "ini cocok untukmu."


Kelana tersenyum, "kamu tahu seleraku."


"Dulu aku ngeship kamu dan Elara." Ujar Rara jujur meskipun ia sempat ragu untuk mengatakan hal tersebut karena hubungan Kelana dan Elara sudah lama berakhir. Sekarang Kelana juga sudah menikah dengan Renjani yang bukan dari kalangan artis.


"Ah begitu, itu sudah berlalu." Kelana tetap berusaha tersenyum meskipun ia tidak nyaman dengan obrolan tersebut.


"Aku tahu Senja Bertemu Cinta diciptakan untuk Elara."


"Wah, apa penggemar lain juga tahu atau hanya kamu?" Kelana sudah menduga bahwa orang-orang akan menyadari itu karena setelah hubungannya dengan Elara berakhir, ia tak pernah menyanyikan lagu tersebut.


"Mungkin hanya sedikit orang yang menyadari itu."


"Karena sekarang aku sudah bersama Renjani, aku harap kamu dan penggemar lain juga mencintai Renjani seperti kalian mencintaiku." Kata Kelana penuh harap, ia ingin mereka mencintainya dan Renjani yang sudah menjadi bagian dari dirinya.


Rara tersenyum seraya mengucapkan terimakasih dan berlalu agar orang lain mendapat giliran.


Renjani muncul dari balik pintu belakang, ia penasaran pada jalannya acara tersebut. Kelana tampak mengobrol dengan gadis remaja yang Renjani perkirakan berusia 17 tahunan.


"Wah Kelana punya banyak penggemar." Renjani melempar tatapan pada penggemar yang duduk di barisan kursi di depan sana. Jika Renjani menjadi penggemar Kelana, ia akan lebih memilih datang ke acara seperti ini dibandingkan konser karena ia bisa mengobrol lebih dekat dengan Kelana.


"Duduk Mbak." Seorang staf memberikan kursi pada Renjani.


"Oh terimakasih, saya cuma lihat-lihat." Renjani terpaksa duduk karena staf tersebut telah memberinya kursi.


Acara tersebut berlangsung dua jam, sebagai penutup Kelana menyanyikan lagu Dancing in the Rain yang membuat semua penggemar terkejut. Ini pertama kalinya Kelana bernyanyi. Mereka tak menyangka jika Kelana juga memiliki suara yang bagus.


Mereka memberi tepuk tangan atas penampilan luar biasa Kelana.


"Terimakasih untuk semuanya yang hadir hari ini, semoga kalian menikmati acara ini, terakhir saya ingin mengundang istri saya Renjani untuk datang kesini."


Renjani yang semula menahan kantuk sontak berdiri mendengar Kelana menyebutkan namanya. Renjani mengerutkan kening hendak memarahi Kelana, ia hanya mengenakan sweater dan celana pendek. Rambutnya juga acak-acakan. Kelana tidak mengatakan bahwa Renjani akan dipanggil bersamanya.


Namun Renjani tidak punya pilihan selain melangkah mendekat, ia hanya menyisir rambutnya dengan jari agar tidak terlalu berantakan.


"Ee selamat siang semuanya." Renjani kikuk, ia tak tahu harus mengatakan apa untuk menyapa semua orang yang hadir. "Dari tadi saya melihat dari belakang, pokoknya saya mengucapkan terimakasih kepada semua orang yang hadir siang ini."


"Bolehkan saya memberi hadiah pada Renjani?" Salah seorang penggemar bertanya dengan suara lantang.


"Silakan." Adam mengizinkan penggemar wanita itu kembali maju.


"Semoga hubungan kalian bertahan dalam waktu yang sangat lama." Ia menyodorkan boneka domba pada Renjani.


"Ah terimakasih!" Renjani mengucapkan terimakasih beberapa kali, ia sumringah mendapat boneka dari penggemar Kelana padahal dirinya tidak berperan apapun dalam acara ini.


Mereka memotret kebersamaan Kelana dan Renjani berkali-kali. Walaupun komentar penggemar Kelana begitu kejam di internet tapi saat bertemu Renjani secara langsung, sikap mereka akan berubah sangat ramah.


Kini Renjani tak perlu terlalu mengkhawatirkan komentar-komentar itu.


"Ini bukan pertama kalinya, saya berharap semua orang yang hadir disini bisa menyukai Renjani dan tidak lagi membahasa soal Elara, kini Renjani adalah bagian dari diri saya maka kalian juga harus menyukainya."


Renjani tak bisa berkata apa-apa mendengar kalimat Kelana. Jantungnya berdebar kencang, setiap kali Kelana berkata seperti itu di depan banyak orang Renjani jadi tidak berdaya dan ingin jatuh ke pelukan Kelana saat itu juga.