Married by Accident

Married by Accident
XCII




Renjana tampak menggemaskan dengan jumper putih yang membungkus tubuhnya ditambah bandana kecil berwarna senada. Renjani sudah menduga jika jumper dari papa nya itu akan cocok untuk Nana. Aji memang pandai memilih hadiah untuk Nana.


"Bagaimana ini?" Kelana mengangkat tubuh mungil Nana dan mencium wajahnya berkali-kali. Kelana baru tahu jika tubuh bayi sangat wangi yang membuatnya enggan meninggalkan Nana.


"Kenapa?" Renjani baru membereskan bodycare Nana ke tempat semula.


Setelah belajar dari Lasti, akhirnya Renjani bisa memandikan Nana sendiri. Memandikan bayi adalah hal paling menyenangkan bagi Renjani karena ia bisa mengusap permukaan kulit Nana yang lembut dengan penuh cinta.


"Aku nggak bisa berangkat kerja kalau Nana se-lucu ini, aku nggak akan bisa berhenti mikirin Nana."


Renjani menghela napas panjang, Kelana selalu seperti itu sejak seminggu terakhir setiap kali hendak pergi bekerja. Rupanya posisi Renjani sudah tergeser oleh Nana.


"Papa harus kerja buat Ibu dan Nana." Renjani menepuk punggung Kelana, "nanti kita bisa video call."


"Tunggu, 5 menit lagi." Kelana menimang Nana yang sedang memainkan tangannya sendiri sedangkan pandangannya mengarah pada sang papa.


"Nanti kamu telat lho." Renjani melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 10 tepat. Kelana memiliki jadwal pemotretan dan undangan talk show yang akan membahas tur konsernya.


"Antar aku ke depan pintu." Dengan berat hati Kelana menyerahkan Nana pada Renjani.


Renjani melangkah mengekori Kelana dengan Nana di gendongannya.


"Papa semangat kerjanya ya." Renjani mengecilkan suaranya menirukan anak kecil untuk menghibur Kelana yang galau karena hendak pergi bekerja.


"Jaga diri baik-baik ya di rumah." Kelana mengusap lengan Renjani lalu mengecup keningnya tidak lupa memberi ciuman berkali-kali pada Nana.


"Kamu juga, oh iya hari ini anak kantor mau datang, temen ku dari Edelweiss juga."


"Iya, jangan mengabaikan telepon ku." Pesan Kelana sekali lagi, jika sedang istirahat ia pasti akan melakukan panggilan video untuk melihat Nana.


"Iya sayang." Kata Renjani gemas, ternyata Kelana yang dulu dingin dan galak ini bisa meleleh juga setelah kelahiran buah hati mereka. Padahal dulu Kelana sendiri yang mengatakan tidak ingin memiliki anak. Atau anak tidak ada di rencananya tapi setelah Nana lahir, Kelana justru jadi papa yang super baik.


"Kamu cantik sekali setelah melahirkan." Kelana kembali memberi kecupan tapi kali ini di bibir Renjani. Renjani langsung menepuk lengan Kelana lalu melirik kanan dan kiri takut jika ada orang lain disana. Namun lorong apartemen itu memang selalu sepi seperti tak ada penghuni lain. Bahkan sampai sekarang Renjani tidak mengenal tetangga yang tinggal di dekat unit apartemen mereka.


"Jadi waktu hamil aku jelek?"


"Kamu cantik tapi sekarang kamu lebih cantik, aku ingin menghamili mu lagi." Bisik Kelana di telinga Renjani. Sebenarnya Kelana frustrasi karena ia harus menunggu hingga lebih dari satu bulan.


"Ih apa sih, udah buruan berangkat!" Renjani mendorong Kelana hingga masuk ke dalam lift.


Renjani kembali ke kamar Nana untuk menyusulnya. Setelah mandi dan menyusu sampai puas biasanya Nana akan tertidur jadi Renjani bisa melakukan pekerjaan lain.


"Kamu memang mirip Ibu." Renjani mengusap kening Nana dengan lembut. Nana sudah mulai memejamkan mata, pada saat seperti ini Renjani bisa memandang lama sang buah hati. Sama seperti Kelana, Renjani juga dibuat jatuh cinta pada Nana. Bagaimana Renjani tidak jatuh cinta pada bayi mungil yang sudah tinggal di rahim nya selama 9 bulan.


"Re, Nana sudah tidur?" Lasti muncul di ambang pintu membawa sarapan untuk Renjani.


"Sebentar lagi, Mama nggak perlu bawa sarapannya kesini nanti aku ke dapur sendiri."


"Mama lagi mau PDKT sama kamu." Melihat kedekatan Renjani dan papa nya membuat Lasti sadar bahwa ia sudah keterlaluan. Ditambah kelahiran Nana yang membuat Lasti tak ingin Renjani menjadi ibu yang sama seperti dirinya. Sedangkan Lasti telah melampiaskan kemarahannya pada Renjani sejak kecil. "Mama udah keterlaluan karena bilang kamu wanita murahan, padahal kamu anak Mama."


Renjani memalingkan wajah menghindari tatapan Lasti, saat itu ia benar-benar hancur dan membutuhkan dukungan tapi mama nya justru mengucapkan kata-kata yang menyakitkan.


"Kamu tahu Mama trauma dengan pernikahan dan nggak mau kalau rumah tangga mu sama seperti Mama dan Papa, tapi kamu justru berani sekali menikah dengan orang yang nggak kamu kenal demi uang."


"Walaupun aku kekurangan uang tapi itu bukan alasanku menikahi Kelana."


Lasti menatap Renjani menunggu kalimat selanjutnya.


"Aku punya mimpi memiliki perusahaan penerbit dan Kelana berjanji akan mewujudkan nya, selain itu aku bertanggungjawab pada berita tentang kami yang telanjur beredar."


"Tapi sekarang Mama tahu kalau kekhawatiran itu nggak akan pernah terjadi karena Kelana sangat mencintaimu, kalian juga nggak akan sering bertengkar karena masalah ekonomi."


Renjani memindahkan Nana yang sudah tertidur ke dalam box.


"Makasih sarapannya Ma." Renjani duduk di samping mama nya dan mengambil sepiring nasi dengan tumis sayur bayam serta bakwan jagung di atasnya.


"Maafin Mama." Lasti menyentuh paha Renjani.


Renjani mengangguk pelan, sebelum itu ia sudah memaafkan mamanya. Renjani selalu memahami perasaan Lasti, rumah tangga yang tidak harmonis pasti membuat Lasti stres hingga akhirnya melampiaskan semua itu pada Renjani. Tentu Renjani tak akan bisa melupakan itu seumur hidup tapi bukan berarti ia tidak bisa menerima permintaan maaf mama nya.


******


Dari kejauhan Renjani melihat Manda dan Eve melambaikan tangan ke arahnya, ia menjemput mereka di lobi. Di belakang dua cewek itu, Ervin dan Fatan juga terlihat membawa kotak cukup besar berwarna merah muda.


"Gimana kabar kalian?" Renjani memeluk Manda dan Eve bergantian, sudah cukup lama mereka tidak bertemu karena Renjani jarang pergi ke kantor sejak kandungannya memasuki trimester ketiga hingga sekarang.


"Baik, Mbak Renjani nggak kelihatan habis melahirkan." Tukas Manda.


"Lalu?"


"Seperti gadis." Eve menimpali yang sontak membuat Renjani tertawa.


"Kalian gimana, semoga masih betah di Asmara Publishing." Renjani melihat Ervin, Fatan dan Jeno.


"Betah banget." Jeno merentangkan tangan hendak ikut memeluk Renjani seperti yang dilakukan Manda dan Eve.


"Eh eh mau ngapain?" Eve langsung menarik Jeno mundur.


"Mau peluk Bu Bos." Jeno tertawa jahil.


"Belum pernah ngerasain tinju nya Kak Kelana sih!" Manda mencibir.


"Udah-udah, ayo naik." Renjani mengajak mereka masuk ke lift untuk naik ke unit apartemen nya. Dari pada bersikap seperti atasan, Renjani justru menganggap mereka seperti keluarga.


Selain mereka berlima, Jesi, Setiani dan Desty sudah sampai terlebih dahulu di apartemen Renjani. Apartemen yang biasanya sepi itu kini berubah ramai oleh kehadiran mereka. Itu membuat Renjani seolah kembali ke masa lalu saat dirinya belum menikah, bekerja di perpustakaan mengumpulkan uang yang tidak seberapa. Masa awal-awal Asmara Publishing menerbitkan novel juga tidak mudah. Tabungan Renjani terkuras habis untuk menggaji para karyawan. Namun kerja keras mereka membuahkan hasil, kini Asmara Publishing semakin dikenal banyak orang. Terlepas dari status Renjani sebagai istri Kelana, Asmara Publishing telah menerbitkan banyak novel bagus dan menjadi best seller.


"Ini berat." Fatan mencegah Yana yang hendak mengambil alih kotak hadiah di tangannya.


"Saya kuat." Kata Yana yakin.


"Jangan, biar aku yang bawa." Fatan meminta Yana menunjukkan dimana tempat ia harus meletakkan hadiah tersebut.


"Taruh di kamar Nana aja." Tukas Renjani.


"Iya Mbak." Yana melangkah terlebih dahulu diikuti Fatan menuju kamar Renjana. "Sebelah sini Mas."


"Disini ya?" Fatan meletakkan kotak tersebut di dekat pintu bersama hadiah yang lain.


"Iya." Setelahnya Yana melangkah menuju dapur untuk mengambil minuman dan tambahan makanan ringan.


Fatan melihat kepergian Yana, ia tahu gadis itu adalah asisten karena mereka sempat beberapa kali mereka sempat bertemu. Pantas saja Kelana mempekerjakannya, Yana sangat cekatan dan ramah.



"Mbak, boleh gendong Nana ya?"


"Aku duluan!"


Saat kembali ke ruang tamu Fatan mendapati Manda dan Eve sudah berebut untuk menggendong Renjana. Fatan duduk ikut bergabung dengan mereka, si mungil Renjana sekarang berada di gendongan Eve yang mendapat giliran lebih dulu.


"Akhirnya bisa ketemu orang-orang luar biasa di balik Asmara Publishing." Tukas Desty.


"Terimakasih atas pujiannya tapi sebenarnya kami hanya orang biasa tanpa Mbak Renjani." Balas Eve rendah hati.


Renjani langsung menggeleng tidak setuju, "tanpa kalian mungkin Asmara Publishing nggak akan bisa bertahan sampai sekarang."


"Di perpustakaan, Pak Rizan membuat section khusus untuk buku terbitan Asmara Publishing dan pasti selalu jadi rebutan." Setiani menimpali.


"Oh ya?" Jeno dan Ervin menyahut bersamaan, mereka senang jika buku-buku Asmara Publishing diminati banyak orang. Itu artinya kerja keras mereka tidak sia-sia.


"Kak Kelana lagi nggak di rumah Mbak?" Tanya Manda, dari tadi ia tidak melihat keberadaan Kelana.


"Iya, pagi-pagi tadi udah pergi."


"Sayang banget padahal nggak setiap hari bisa kesini." Manda menekuk bibir bawahnya, ia berharap bisa bertemu dengan Kelana.


Sebenarnya Desty dan Setiani juga ingin bertemu Kelana apalagi berita tentang Kelana selalu mondar-mandir di internet dan tv. Belum selesai kabar konser dunianya sekarang kelahiran Renjana juga menjadi trending topik.


Yana datang membawa minuman kaleng dingin sedangkan Lasti membawa dua toples kastengel yang ia bikin sendiri sejak kemarin untuk disuguhkan pada tamu. Meski Yana sudah membeli banyak persediaan kue tapi Lasti tetap membuat kuenya sendiri.


"Ya ampun Tante jangan repot-repot." Jesi mengambil satu toples kastengel terlebih dahulu padahal sebelumnya ia hampir menghabiskan nutella cookies.


"Nggak repot, di dalam masih banyak." Lasti mengusap bahu Jesi sesaat sebelum pergi.


Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian mereka termasuk Renjani. Jika yang lain penasaran, lain halnya dengan Renjani yang langsung tahu bahwa itu adalah Kelana.


"Selamat sore." Kelana menyapa mereka semua seraya menebarkan senyum ramah.


Renjani menyembunyikan senyumnya karena setahu dirinya Kelana akan pulang malam.


Manda melongo tak percaya melihat Kelana seolah itu adalah pertama kalinya ia melihat sang violinis. Meski sudah sering bertemu tapi Manda selalu terpesona dengan ketampanan Kelana. Ia tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Renjani yang setiap bangun tidur langsung melihat wajah tampan Kelana.


"Ini untuk kalian." Kelana meletakkan paper bag di atas meja yang langsung disambar oleh Jesi. Jesi mengeluarkan dua kotak dari dalam paper bag lalu membukanya. Itu adalah Cheese Snow Ball yang tampak cantik dan menggiurkan.


"Yang ini untuk Ibu." Ia memberikan paper bag lainnya pada Renjani.


"Sebentar ya." Renjani beranjak menyusul Kelana menuju kamar, ia harus menyiapkan pakaian ganti untuk Kelana.


"Pokoknya kita harus foto bareng." Ujar Desty seraya mengepalkan tangannya.


"Kamu penggemar Kelana juga?" Manda membelalak dramatis karena menemukan seseorang yang juga menyukai Kelana.


"Memangnya ada disini yang nggak suka sama Kelana?" Desty mengedarkan pandangan ke semua orang, mereka menggeleng artinya semuanya menyukai Kelana kecuali Jesi yang justru memasang ekspresi datar. Bagi Jesi, Kelana tidak lebih dari sekedar suami Renjani.


Sementara itu Kelana pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih karena ia ingin segera menggendong Renjana.


Setelah menyiapkan pakaian ganti untuk Kelana, Renjani membuka paper bag berwarna biru miliknya. Terdapat sebuah kalung dengan liontin berwarna biru tua yang amat cantik.


"Sini aku pakaikan." Kelana keluar dari kamar mandi berbalut bathrobe.


"Kenapa tiba-tiba beli kalung?" Renjani menoleh ke arah Kelana.


"Hadiah karena kamu sudah melahirkan anak kita, tentu ini nggak sebanding dengan semua pengorbanan mu tapi aku akan memberikan seluruh hidup ku untuk mu, untuk Renjana." Kelana melingkarkan kalung di leher jenjang Renjani.


"Makasih Pa." Renjani tidak bisa mengatakan apapun lagi selain berterimakasih.


"Sama-sama Ibu." Kelana mengecup bibir Renjani sesaat. "Aku ganti baju dulu, nggak enak sama temen-temen kamu kalau terlalu lama."


"Iya, kalau gitu aku depan dulu." Renjani kembali ke ruang tamu, Nana sudah berpindah ke gendongan Manda. Namun baru sebentar, Nana sudah merengek dan terlihat gelisah.


"Hayo lho, diapain anak orang." Jesi menggoda Manda karena membuat Nana menangis.


"Sumpah Mbak, nggak aku apa-apain." Ujar Manda.


Renjani hanya terkekeh melihat ekspresi ketakutan Manda.


"Sini gendong Papa." Kelana datang bergabung setelah selesai mengganti pakaiannya dengan celana kain dan kaos oblong.


Manda membeku untuk beberapa saat ketika Kelana mengambil alih Nana di gendongannya.


Setelah berada di gendongan Kelana, Nana langsung tenang. Rupanya Nana bisa membedakan gendongan orang asing dan papa nya sendiri.


"Manda pengen foto bareng kamu katanya tuh." Renjani melihat dari tadi Manda seperti hendak mengatakan sesuatu tapi tidak berani.


"Bukan Manda doang, yang lain juga mau." Timpal Eve, ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto bersama artis papan atas seperti Kelana. Lumayan untuk dipamerkan di media sosial.


"Boleh nggak?" Tanya Renjani.


"Boleh." Kelana mengangguk dengan senang hati. "Tapi nggak apa-apa ya lagi jelek gini."


"Jelek? Kak Kelana tuh ganteng banget!" Seru Desty tak terima karena Kelana mengatakan jelek padahal tak peduli apapun yang Kelana pakai, ia tetap terlihat mempesona.


"Ya ampun Re, gimana perasaan lo Kelana dipuji cewek lain?" Jesi beraksi menjadi kompor di tengah-tengah para penggema Kelana.


"Udah biasa." Renjani mengibaskan tangan, ia sama sekali tidak masalah jika mereka memuji atau terang-terangan menyukai Kelana. Itulah resiko menjadi istri publik figur.


"Tolong nanti kalau mau posting di media sosial, wajah Nana ditutup emoticon atau diblur ya." Pesan Kelana pada mereka.


Mereka mengatur posisi duduk di sofa, Renjani dan Kelana berada di tengah sedangkan para perempuan di samping kanan dan kiri. Para lelaki berasa di belakang sofa.


"Yana, ikut gih biar aku yang fotoin." Jesi secara sukarela menjadi fotografer fansight dadakan sore itu.


"Biar saya yang foto Mbak."


"Udah, nggak apa-apa biar Jesi aja, ayo." Renjani memanggil Yana ikut bergabung.


Setelah Yana mengambil posisi, Jesi mengambil foto beberapa kali hingga para penggemar Kelana itu merasa puas.