Married by Accident

Married by Accident
Perjanjian



Jangan pernah mencoba


Meninggalkan diriku


Sean Cetta Xavier


Mengandung umpatan kasar yang tak cocok untuk anak di bawah umur.


Sudah saya peringatan


London ( Waktu ini )


Sean menatap wanita cantik di sampingnya, tertidur pulas bagai bidadari, wajahnya tenang seolah tanpa beban, tak ada tatapan kebencian untuk dirinya. Untuk sesaat Sean menikmati keheningan ini, wanita ini miliknya tak akan ada yang bisa menggantikan dia. Siapapun yang berani menyakiti miliknya Sean pastikan orang itu akan menangis memohon ampun pada dirinya.


Wanita itu mengeliat, sungguh rasanya Sean ingin mencium bibir sensual wanita di sampingnya, wajah bangun tidur yang sempurna. Bibir cantik yang selalu menjadi candu bagi Sean. Rasanya selalu saja manis.


"Iblis" desis wanita itu tak kala menemukan wajah Sean di hadapannya.


Sean tersenyum "Aku rela di pangil iblis seratus kali asal dari mulut cantik mu sayang"


Anna menatap tak suka "Aku bukan sayangmu"


Sean tertawa ekspresi dan tatapan benci tak akan mengubah apapun. Anna tetap milik Sean.


Anna menatap benci Sean, pria kurang ajar itu memenangkan tubuhnya lagi malam tadi dan bodohnya Anna juga menikmatinya. Anna mendorong tubuh Sean, mengambil piyama yang terlempar di lantai dan berjalan ke kamar mandi.


Sean terkekeh, dia berniat mengikuti sang istri tapi tatapan tajam dari Anna membuat Sean mengurungkan niat mesum pagi ini, membiarkan Anna berlama-lama di kamar mandi.


Anna menatap pantulan wajahnya di cermin, mirip seorang pelacur. Bercak merah memenuhi leher dan dadanya. Anna menangis sungguh dia tak ingin seperti ini, rasanya dia ingin ikut pergi bersama ayahnya.


***


Flashback


Anna melihat bagaimana Dady tertembak, dia ingin berlari tapi pria di samping dirinya mencengkram erat lengan Anna.


"Lepaskan aku"teriak Anna tak kala pria itu menarik Anna menjauh dari tempat pesta.


"Dia sudah mati Anna tak usah di sesali" kata pria yang kini menjadi suaminya, entahlah apapun yang terjadi di Altar Anna tak meyakini bahwa kini mereka benar-benar menikah. Bahkan pria itu sudah mempersiapkan dokumen pernikahan mereka.


"Kau iblis"


Sean tak peduli, apapun yang Anna katakan seolah tak pernah berarti penting untuk dirinya. Sekarang Anna miliknya dan selamanya akan begitu walau harus ada adegan pembunuhan, tapi tak apa mereka sudah waktunya mati.


Anna di tarik masuk ke dalam sebuah mobil, tenaganya sudah habis di gunakan untuk memberontak, dia ingin bertemu Dady, hanya itu saja.


***


London


"Tuan Xavier Nyonya Anna menolak makan apapun sejak tiga hari yang lalu"


Sean meletakan berkas yang baru dia bawa, Ansel menunduk hormat. Melaporkan keadaan Nyonya baru kediaman Xavier. Ansel sudah lama mengabdi pada keluarga Xavier mungkin ini adalah tradisi turun temurun. Seluruh silsilah keluarga Ansel mengabdi pada keluarga Xavier.


"Biar aku yang urus, batalkan semua meeting dan pertemuan hari ini. Katakan Tuan Xavier tak bisa di ganggu"


Ansel menganggukkan kepala patuh, pria itu begitu setia dan patuh terhadap perindah Sean. Selain seorang kepala pelayan Ansel juga menjadi asisten kepercayaan Sean.


Sean bangun dari kursi, meletakan kaca mata anti radiasi dan meninggalkan ruang kerjanya. Menuju kamar utama tempat di mana Sean mengurung Anna.


Sean mengisyaratkan agar para Bodyguard menyingkir dari depan pintu, membuka pintu Sean menemukan Anna  di pojokan.


Sean menutup pintu, menghampiri Anna di pojok ruangan, gadis itu masih tak mau menyentuh makanan yang ada di depannya.


"Hei" Sean menarik dagu Anna, wajah gadis itu begitu pucat bibirnya bergetar.


"Dady" lirihnya


"Ini aku suamimu"


Anna tersadar dari tidurnya, dia tidur di pojok ruangan.


"Kau" sinis Anna pada Sean.


"Makan"


Sebelum Anna menyerang dirinya, Sean sudah menahan serangan Anna. Gerakan Anna mudah terbaca oleh Sean.


"Jangan berani macam-macam denganku Anna"


"Bunuh saja aku, kirim aku bersama Dady ku"


Sean terkekeh, merebut pisau yang di bawa Anna dan membuangnya "Kau tak bisa mati tanpa seizinku Anna"


"****, mati saja kau iblis terkutuk" teriak Anna frustasi.


Anna bergetar, pandangan Anna mengabur. Hal yang terakhir dia lihat adalah Sean memanggil dirinya. Bolehkah Anna berharap mati saja.


Sean menatap Anna cemas, memanggil nama Anna tapi gadis itu diam, Anna pingsan. Membopong tubuh Anna ke ranjang Sean menyuruh Maid menelfon dokter.


Sean benar-benar mencemaskan keadaan Anna.


***


"Bagaimana keadaan istri daya Dok, saya harap baik-baik Saja Dokter yang akan menanggung akibatnya"  Sean menatap tajam wanita cantik di sampingnya yang dia sebut dokter.


"Aku rasa ingin menengelamkan wajah mu di kolam renang sekarang juga Sean Cetta Xavier"  Kirena menatap sebal pria yang sedari tadi crewet soal pemeriksaan yang dia lakukan.


"Aku serius Sakura Letta Xavier"


Sakura tertawa menatap sang adik " Dia baik-baik saja tak perlu cemas, dia hanya butuh makan dan kurasa terlalu tertekan"


"Aku serius kak"


Sakura berdecak "Aku juga serius, jangan kau anggap aku dokter abal-abal"


Giliran Sean yang tertawa melihat ekspresi sebal kakaknya, dan dalam saat inilah Sakura bisa menemukan sosok menyenangkan dari Sean.


"Berhenti membunuh orang-orang" Sakura berkata lirih sambil menatap sang adik "Menghilangkan nyawa seseorang sangat mudah tapi menyelamatkan nywa seseorang itu sulit"


Sean menghembuskan nafas kasar "Kau tau Kak semenjak kepergian Papa dan Mama rasanya aku ingin selalu membunuh, membalas dendam terhadap setiap orang"


Sakura menatap Sendu sang adik, bagaimanapun dia seorang dokter yang tugasnya menyelamatkan setiap nyawa dan adiknya seorang pembunuh, walau seburuk apapun Sean, Sakura akan tetap menerimanya, tak peduli apapun yang terjadi.


***


"Mau ku tawari sebuah perjanjian"


Sakura menatap Sean tak yakin "tak tertarik"


"Kau pasti suka" Sean tersenyum penuh misteri "kau boleh membunuh diriku tapi jika kau gagal dengan percobaan itu maka aku akan memperkosa dirimu. Bagaimana? Ahh ya bukan memperkosa tapi kita akan menikmatinya bersama"


Anna membulatkan mata tak percaya dengan ucapan Sean, mulut kotor Sean benar-benar perlu di bersihkan, Anna menimbang ucapan Sean, jika dia berhasil dalam percobaan pertama maka dia akan bebas dari pria itu.


"Aku terima" jawab Anna yakin, salah satu tangan Anna mengambil belati yang telah dia sembunyikan, melempar ke arah Sean.


Tapi Pria itu tak bisa di bohongi, dengan sigap Sean menangkap belati dengan tangannya.


"Kau tau Anna sepertinya kita harus mulai malam pertama saat ini juga" Sean tersenyum picik, dan saat inilah Anna menyadari bahwa pria itu telah menjebak dirinya.


Anna mundur tak kala Sean mendekati dirinya.


"Menjauh dariku ****" teriak Anna murka.


Tapi Sean tak menyerah untuk mendapatkan Anna. Dan semua terjadi seperti keinginan Sean, Anna mendesah di bawahnya


Flashback End


***


Pranggggg


Suara barang pecah membuat Sean terlonjak dari kamu nanya, buru-buru dia mengedor pintu kamar mandi, takut terjadi sesuatu pada Anna.


Tapi wanita itu tak menyahut, dia mengunci pintu kamar mandi. Sean yang tak sabar langsung mendobrak pintu itu.


Betapa terkejutnya Sean melihat Anna bersimbah darah di lantai kamar mandi.


"Anna"