
Di depan ruangan operasi, Elvina Garvita yang dari tadi hanya diam karena masih menyusun kalimat yang tepat untuk besannya. Meskipun ia tidak mendapatkan kemurkaan dari pria yang sebaya dengan suami, tapi tetap saja merasa tidak enak.
Hingga ia memberanikan diri mengungkapkan semua yang telah tercipta di otaknya dengan mengulurkan tangannya pada pasangan suami istri tersebut, dimulai dari sosok pria di hadapannya.
"Atas nama Erland, aku minta maaf. Memang kata maaf tidak akan bisa mengembalikan semuanya menjadi seperti semula karena janinnya tidak bisa diselamatkan, tapi memang faktanya hanya ini yang bisa kulakukan sebagai seorang ibu mewakili putranya saat melakukan kesalahan." Masih menunggu hingga tangannya yang menggantung di udara disambut dengan baik.
Namun, ia malah mendapatkan tatapan sinis, tapi sama sekali tidak terpancing emosi karena mengerti bahwa tidak ada orang tua yang tidak akan murka melihat putrinya disia-siakan.
Hingga ia merasa sangat terkejut kala suara bariton dari besannya itu membuatnya membulatkan mata.
"Sampai di sini saja hubungan perbesanan kita karena janinnya sudah tidak bisa diselamatkan, aku akan mengurus perceraian. Pasti Anda tahu jika putra putri kita menikah atas dasar terpaksa demi janin hasil perbuatan mereka saat mabuk, kan?" Hugo Madison yang tidak bisa lagi mentolerir lagi, tidak memperdulikan sang istri yang langsung mencubit pinggangnya.
Lestari Juwita sama sekali tidak menyangka jika sang suami malah mengatakan sesuatu hal tidak pantas dibahas saat putrinya tengah ditangani di ruang operasi.
"Jangan bicara seperti itu di situasi ini. Bukannya malah mendoakan putrinya, tapi sibuk membuat keputusan sepihak. Bagaimana jika Floe makin bersedih karena harus kehilangan janin sekaligus suami?" seru Lestari yang menatap tajam suami agar tidak melanjutkan perkataannya.
Apalagi tengah dikuasai oleh emosi dan membuatnya merasa tidak enak pada besannya, sehingga beralih menatap wanita sebayanya tersebut. "Jangan dengarkan apa kata suamiku. Dia kalau sedang emosi pasti seperti itu."
Saat Elvina Garvita hendak membuka mulut setelah tersenyum simpul untuk memaklumi orang yang dikuasai emosi, mendengar suara bariton dari putranya yang membuatnya kesal karena datang di waktu yang tidak tepat.
"Aku sudah selesai mengurus persyaratannya. Semoga proses kuratase berjalan lancar dan Floe cepat pulih." Erland yang tadi sepanjang perjalanan memikirkan apakah akan berpamitan atau pergi tanpa menceritakan rencananya, akhirnya mengambil keputusan.
"Cepat sekali," lirih Ervina Garvita yang merasa yakin jika sebentar lagi semuanya akan selesai begitu seorang Hugo Madison membuka mulut.
'Sepertinya ini memang takdir hidup putraku. Apalagi dia memilih pergi ke London hari ini karena mengkhawatirkan keadaan Marcella. Apa dia akan menunda kepergiannya karena kejadian ini?' gumamnya dengan perasaan berkecamuk.
"Baguslah kau sudah datang!" Hugo Madison yang tidak memperdulikan larangan sang istri, kini menatap tajam sosok pria di hadapannya tersebut. "Aku akan mengurus perceraian kalian karena tidak ada lagi yang perlu dipertahankan setelah janin di rahim putriku tidak bisa diselamatkan."
"Sayang!" seru Lestari Juwita yang merasa telah gagal menahan suami berbuat sesuka hati tanpa memikirkan perasaan putrinya.
Berbeda dengan Erland yang saat ini terdiam karena langsung tidak berkutik. Hingga ia hanya bisa bersuara lirih karena tidak pernah berpikir untuk bercerai saat Floe keguguran.
"Perceraian?" Erland makin dibuat bimbang kala tadi berniat untuk pergi secara diam-diam tanpa berpamitan pada mertuanya.
Harusnya ia merasa lega sekaligus senang, tapi yang terjadi tidak seperti itu. Kini bayangan wajah Floe seolah tepat berada di hadapannya.
'Bukankah ini yang kau inginkan, Erland? Sekarang kau bebas dan bisa kembali pada Marcella. Tapi apa Floe tidak apa-apa?' gumamnya yang saat ini dipenuhi oleh kebimbangan hati.
To be continued...