Married by Accident

Married by Accident
Apa yang dikatakannya pada daddy?



"Bagaimana dengan hari pertama bekerja, Sayang?" tanya Lestari Juwita yang saat ini menyambut putrinya yang baru saja pulang. Tadi ia emang sengaja duduk di depan teras saat jam pulang kantor.


Tentu saja menunggu putri dan juga suaminya pulang bekerja. Jadi, begitu kulihat putrinya masuk pintu gerbang, langsung bangkit berdiri dan menunggu hingga bisa bertanya. Ia melihat raut wajah putrinya yang seperti kecapean dan membuatnya merasa iba karena nanti malam masih harus pergi ke kampus.


"Ini minum teh Mommy dulu, Sayang." Lestari Juwita yang tadi memang dibuatkan teh hangat oleh perayaan saat menunggu di depan, kebetulan belum meminumnya dan mengambilnya untuk diberikan pada putri semata wayang yang sangat disayangi.


Floe ya saat ini langsung mendaratkan tubuhnya di kursi teras depan rumah, mengambil gelas berisi teh yang masih hangat dan langsung diminumnya hingga tersisa separuh. Ia seperti kehilangan banyak tenaga hari ini hanya karena perbuatan sang atasan yang melibatkannya pada masalah pribadi.


Meskipun hari pertamanya bekerja tidak terlalu membuatnya pusing karena masalah pekerjaan, tapi digantikan dengan masalah yang berhubungan dengan kehidupan pribadi sang atasan yang menyita banyak pikirannya hari ini.


"Kamu pasti capek banget dengan pekerjaan hari ini, ya Sayang." Mendaratkan tubuhnya di kursi yang ada di sebelah putrinya yang terlihat masih mengunci rapat bibirnya.


Padahal ia benar-benar merasa penasaran dengan apa yang dirasakan oleh putrinya mengenai pekerjaan dan juga pria yang hendak dijodohkan oleh sang suami. 'Sebenarnya apa yang terjadi pada putriku? Kenapa terlihat lemah, letih dan lesu seperti ini? Seperti banyak kehilangan tenaga hingga tidak bisa berbicara untuk menjelaskan padaku.'


Ia memilih untuk menunggu sampai putrinya mau bercerita karena tidak ingin memaksa dan malah terlihat mencurigakan karena terobsesi dengan masalah yang berhubungan tentang pria bernama Dhewa Adji Ismahayana tersebut.


Sementara itu, Floe yang baru saja meletakkan gelas ke atas meja, kini menoleh ke arah sang ibu yang terlihat sangat penasaran dengan pekerjaannya hari ini. Ia merasa tidak tega dan akhirnya menceritakan mengenai apa saja yang dikerjakan di lokasi.


Mulai dari mengerjakan semuanya tanpa penjelasan dan dipuji adalah seorang wanita yang cerdas, serta kejadian yang menimpa atasannya tersebut hingga mengantarkan ke rumah sakit. Hanya saja ia tidak menceritakan mengenai masalah yang melibatkannya pada perjodohan pria itu.


"Jadi seperti itu, Mom. Aku sebenarnya tidak capek karena pekerjaanku hari ini ringan saja. Hanya saja, karena tadi pergi ke rumah sakit dan menunggu atasan dirawat, malah membuatku capek. Mommy tunggu saja di sini sampai daddy pulang. Aku mau mandi, gerah banget rasanya." Floe seketika bangkit berdiri dari kursi karena tidak ingin ditanya macam-macam lagi oleh sang ibu.


Ia benar-benar sangat malas jika membahas mengenai permintaan Dhewa yang dianggapnya sangat konyol karena harus bertemu dengan mamanya. Bahkan membayangkannya saja sudah bisa ditebaknya jika ibu dari atasannya tersebut hanya akan menghinanya habis-habisan.


Bahkan akan dituduh sebagai wanita pengincar harta, seperti yang dituduhkan Camelia tadi.


"Sayang, Mommy belum selesai bertanya lho. Nanti saja mandinya, sambil menunggu daddy-mu pulang." Lestari Juwita sebenarnya ingin memancing putrinya untuk berpendapat mengenai pria yang membuatnya penasaran karena sang suami menyukainya hingga ingin dijodohkan.


Apalagi ia hanya melihat dari foto saja dan belum bertemu secara langsung untuk mengetahui bagaimana sifat dari pria itu. Namun, merasa kecewa begitu melihat putrinya menggelengkan kepala.


"Iya, nanti saja setelah aku mandi, Mom. Risi banget ini. Bau asem juga." Floe saat ini berakting seperti tengah mencium bau badannya.


Meskipun bau badannya tidak seperti ekspresinya, tetap saja ingin segera menghindar dari pertanyaan sang ibu karena saat ini ingin meluapkan kekesalannya yang dari tadi ditahan. Sepanjang perjalanan dari rumah sakit menuju ke lokasi tadi, ia hanya diam saja dan tidak bisa meluapkan kekesalan.


Bahkan Dhewa pun juga tidak lagi berbicara padanya dan ia berpikir jika pria itu juga tengah merasa pusing karena penolakannya. Jadi, ia dan Dhewa tadi sama sekali tidak mengobrol sampai tiba di lokasi hingga tiba waktu pulang.


"Baiklah, mandi sana. Nanti cerita lagi tentang pekerjaanmu dan juga bagaimana atasanmu memperlakukanmu saat menjadi pegawai baru dan menyamar bukan merupakan putri dari penerus perusahaan Madison." Sang ibu yang sebenarnya merasa kecewa dengan putrinya yang tidak bisa mengobati rasa penasarannya, akhirnya hanya bersabar dan menunggu hingga Floe bercerita lagi.


Floe yang kini merambaikan tangannya pada sang ibu dan juga merasa lega karena terbebas dari interogasi, seketika berjalan cepat menuju ke arah pintu utama dan langsung menaiki anak tangga menuju ke lantai atas.


Sepenjang ia berjalan menaiki anak tangga, mengingat ekspresi wajah muram Dhewa saat ia menolaknya mentah-mentah ketika diajak untuk berakting sekali lagi menemui ibu pria itu. Ia beberapa kali menggelengkan kepala agar tidak merasa bersalah.


Ia saat ini berdiri di depan cermin untuk mengamati penampilannya dan membandingkan dengan sosok wanita yang tadi memiliki body bak gitar Spanyol karena sangat seksi. Bahkan sampai bergerak memutar beberapa kali untuk melihat lekuk tubuhnya yang sama sekali tidak terlihat karena memakai pakaian panjang longgar.


"Aku baru sadar jika tubuhku sangat rata dan tidak se-seksi wanita itu. Camelia ya namanya tadi. Dia bahkan sangat cantik dan seksi, tapi sama sekali tidak bisa menggetarkan hati Dhewa. Kalau dipikir-pikir, bukankah sangat aneh? Bukannya para pria lebih suka dengan wanita seksi dan cantik seperti Camelia? Lalu, kenapa dia bilang jika Camelia tidak sanggup menggetarkan hatinya?" Floe saat ini terdiam karena merasa apa yang dikatakan oleh Dhewa seperti tidak masuk akal.


Ia masih menatap penampilannya di depan cermin Dan tentu saja mengingat seperti apa wanita yang tadi menghinanya tanpa tahu siapa dirinya sebenarnya. "Kasta memang membuat orang lupa daratan dengan merendahkan orang lain. Dia bahkan menghinaku mengincar harta Dhewa. Tapi sebenarnya sangat asyik melihat kebodohan wanita itu yang menilai semuanya dengan uang."


Floe saat ini bergerak membuka kancing kemeja berwarna hitam yang melekat di tubuhnya dan memperlihatkan leher serta dadanya yang putih mulus. "Kira-kira wanita seperti apa yang nantinya berhasil menggetarkan hati pria sepertinya? Aku jadi penasaran. Apa ada tipe ideal yang spesifik?"


Saat kancing kemeja terakhir terlepas sudah, Floe pun melepaskan dari tubuhnya dan melemparkan ke atas keranjang pakaian kotor. Kemudian ia melangkahkan kaki telanjangnya menuju ke arah kamar mandi.


Saat sudah berada di dalam kamar mandi dengan interior mewah serta perlengkapan membersihkan diri yang lengkap, Floe pun mulai bergerak melepaskan semua penutup tubuhnya dan berdiri di bawah shower yang baru saja dibukanya.


Ia saat ini sudah merasakan segarnya air yang keluar dari shower dan membasahi pori-pori kulitnya. Saat masih memejamkan mata di bawah guyuran air, bayangan dari wajah dengan ekspresi muram dari seorang Dhewa membuatnya seketika membuka mata.


"Sialan! Kenapa aku jadi iba jika mengingat wajahnya yang seperti memelas itu saat memohon padaku untuk membantunya?" geram Floe yang saat ini memilih untuk berjalan menuju ke arah bathtub dan masuk ke dalamnya setelah mengisi air dan juga aromaterapi.


"Lebih baik aku merilekskan tubuh dan juga pikiranku agar tidak terus-menerus merasa iba karena mengingatnya." Akhirnya Floe kini memilih untuk berendam di dalam bathtub dan tidak terburu-buru membersihkan diri seperti rencananya tadi yang ingin bersantai dengan sang ibu dan menceritakan tentang masalah pekerjaannya hari ini.


Floe saat ini terdiam dan tidak memejamkan mata seperti beberapa saat lalu karena khawatir akan kembali mengingat bagaimana ekspresi wajah memeras yang ditunjukkan oleh Dhewa. "Aku kan tidak setuju pada permohonannya tadi. Kira-kira apa yang akan dilakukannya saat mamanya datang?"


Floe menepuk jidatnya karena merasa apa yang saat ini dipikirkannya sangatlah konyol ketika merasa penasaran. "Dasar bodoh! Ngapain kamu ingin tahu jika menolak untuk membantunya? Biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri dan kamu tidak perlu tahu apa jalan keluar yang akan dicarinya."


Saat merutuki kebodohannya, ia pun memilih untuk melupakan semua kejadian hari ini dan bergerak menenggelamkan diri di dalam bathtub selama beberapa detik. Hingga ia pun kembali terlihat setelah merasa kehabisan napas.


"Aku sekarang jadi lemah karena lama tidak berenang. Hari Minggu nanti pergi berenang saja bersama teman-teman." Floe dulu rajin berenang di belakang rumah karena memang memiliki kolam pribadi, tapi semenjak hubungannya dengan sang kekasih kandas, membuatnya malas melakukan apapun.


Apalagi saat ia hamil, juga tidak mungkin berenang karena mengalami morning sickness. Kini ia mulai berpikir untuk kembali fokus pada hidupnya dan juga tidak sibuk dengan kesedihan, jadi berniat untuk mengundang teman-temannya datang ke rumah hari Minggu nanti agar bisa berenang bersama.


"Nikmati masa mudamu yang penuh kebebasan ini dengan penuh kebahagiaan, Floe. Kau akan menjadi seorang wanita hebat setelah menjadi pemimpin perusahaan untuk meneruskan perjuangan daddy-mu. Semangat, Floella Khaisyla," ucap Floe yang saat ini mengangkat tangannya untuk memberikan semangat pada diri sendiri.


Beberapa saat kemudian ia pun mulai bergerak membilas tubuhnya dan setelah selesai, langsung keluar dari kamar mandi, begitu memakai kimono berwarna putih. Begitu ia berniat untuk menuju ke ruangan walk in closet, mendengar suara notifikasi dari ponselnya.


Merasa penasaran ada pesan dari siapa, ia pun mengambil ponsel miliknya yang tadi ditaruh di atas meja riasnya. "Daddy? Tumben jam segini malah mengirim pesan. Memangnya daddy tidak pulang, apa?"


Floe pun kini boleh membuka pesan masuk dari sang ayah dan seketika mengerjapkan mata begitu membacanya. Bahkan wajahnya seketika memerah karena kesal. "Sialan, Dhewa. Apa yang dikatakannya pada daddy?"


To be continued...