Married by Accident

Married by Accident
XXVIII



Keadaan di backstage cukup kacau menurut penglihatan Renjani yang biasanya hanya menonton sebuah acara melalui layar televisi. Biasanya suatu acara akan terlihat rapi sehingga enak dipandang. Itu berbanding terbalik dengan suasana belakang panggung. Barisan meja rias penuh dengan peralatan make-up untuk masing-masing bintang tamu. Tak ada ruang kosong, semuanya terisi oleh barang seperti kamera dan kotak penyimpanan yang Renjani tak tahu apa isinya. Yang jelas keadaan ini membuat Renjani terperangah-bukan kagum melainkan karena terkejut.


Itu adalah acara talk show di salah satu televisi swasta yang telah mengundang banyak publik figur Indonesia. Renjani masih tak percaya ia akan ada di acara yang biasanya hanya ia tonton di televisi. Dunia berubah begitu cepat.


"Hai, kamu Renjani ya?" Seorang wanita berambut panjang kecoklatan menyapa Renjani.


"Iya, nggak nyangka bisa ketemu penyanyi terkenal disini." Renjani menjabat tangan wanita itu, ia adalah Zaneta yang beberapa kali menjadi penyanyi pada lagu Kelana. "Harusnya saya yang mengapa dulu." Ucapnya. Renjani ingin menyapa tapi takut jika mereka akan menganggap dirinya aneh. Renjani seperti berasal dari dunia lain saat berada di tengah-tengah mereka.


Renjani pikir tak akan ada artis lain disini kecuali Kelana tapi setelah masuk lebih dalam, ia menemukan beberapa artis yang sering muncul di televisi.


"Kelana, gimana kabar kamu?" Zaneta juga menyapa Kelana yang baru masuk menyusul Renjani.


"Baik, kamu sendiri?" Kelana melirik Renjani di atas kursi roda bersama Yana. Kemana Yana akan membawa Renjani, harusnya ia menunggu Kelana.


"Seperti yang kamu lihat." Zaneta mengulas senyum lebar pada Kelana.


Kelana hendak mengejar Renjani tapi beberapa teman artis menahannya untuk mengobrol.


"Valia!" Renjani melihat Valia sedang merias wajah bersama MUA.


Melalui ekor matanya Valia melihat Renjani perlahan mendekat. Valia pikir Renjani sudah bisa berjalan tapi melihat kaki itu dibungkus gips sepertinya kecelakaan waktu itu cukup parah.


"Kak Renjani disini juga?" Valia bisa melihat Renjani sepenuhnya setelah MUA selesai mengaplikasikan lipstik. "Aku pikir Kak Lana aja."


Renjani tersenyum kaku tanpa bisa membalas ucapan Valia. Gadis 19 tahun itu tidak terlihat ramah tapi Renjani tak mau menilai terlalu cepat.


"Ya ampun, tas Mbak Rere ketinggalan di mobil." Yana terkejut setelah sadar bahwa ia meninggalkan tas Renjani di mobil.


"Nggak apa-apa, ditinggal aja." Tukas Renjani, lagi pula ia tidak memiliki barang berharga di tas nya. Hanya ada ponsel yang dibeli Renjani dua tahun lalu, kalaupun jatuh di jalanan tak akan ada yang berminat mengambilnya.


"Aku ambil dulu." Yana izin kembali ke tempat parkir untuk mengambil tas Renjani. Tas adalah benda penting bagi wanita untuk menunjang penampilan, Yana harus memberitahu Renjani soal itu.


"Kakak ku dimana?"


"Disitu, lagi ngobrol sama yang lain."


"Dia kelihatan dingin dan nggak tertarik soal cinta, aku nggak nyangka kalau dia akan menikah secepat ini."


Renjani kembali tertawa karena tak tahu harus membalas ucapan Valia dengan kalimat macam apa. Renjani memiliki kosakata yang sedikit di dalam otaknya padahal ia sering membaca novel. Tentu orang yang gemar membaca novel lantas tak akan membuatnya pandai bicara.


"Katanya cinta itu datang sangat cepat tanpa kita duga."


Kali ini Valia yang tertawa terbahak-bahak hingga air merembes dari sudut matanya.


"Tapi menurut sudut pandang ku, Kak Renjani ini bukan tipe Kak Lana." Valia mengucapkan itu dengan penuh penekanan di setiap kata.


Renjani menelan salivanya dengan susah payah, kalimat itu seperti pisau yang menusuk tenggorokan Renjani hingga membuatnya mati kutu.


"Rere!" Kelana akhirnya menemukan Renjani, "ternyata kamu disini."


Valia berdiri dan tersenyum hendak menyapa Kelana tapi kakak tirinya itu sama sekali tak melihatnya.


"Ayo pergi dari sini." Kelana mendorong kursi roda Renjani menjauh dari Valia. Melihat wajahnya saja membuat Kelana muak. "Jangan ngobrol sama dia."


Renjani terdiam, ia menekan dadanya yang terasa amat sesak. Dunia ini terlalu baru untuk Renjani. Rasanya kemarin ia masih tidur di kamar kosnya yang sempit, sarapan bubur ayam yang lewat depan kosan. Renjani hanya lah gadis penjaga perpustakaan yang senyumnya selalu diabaikan semua orang. Lalu tiba-tiba sekarang Renjani menjadi istri seorang Kelana.


Renjani tak bisa membalas karena ucapan Valia ada benarnya. Renjani memang bukan tipe wanita yang Kelana sukai apalagi jika dibandingkan dengan sosok Elara.


Dunia mu bukan disini, Re.


Seluruh bintang tamu berkumpul untuk briefing sebelum acara dimulai. Crew memberikan daftar pertanyaan untuk mereka. Walaupun tak sama persis tapi setidaknya mereka memiliki gambaran sebelum berada di depan stage.


Pandangan Renjani berkabut, ia tak bisa membaca pertanyaan-pertanyaan itu dengan jelas karena kalimat Valia masih terngiang di telinganya. Ah gila, Renjani tak pernah sakit hati karena ucapan seseorang sebelumnya. Renjani pikir ia tak akan terpengaruh karena dirinya sudah terbiasa dengan kata-kata kejam Lasti. Namun Renjani salah, perkataan Valia jauh lebih kejam.


"Mari kita sambut Kelana Radiaksa dan Asmara Renjani." Host berseru memanggil Kelana dan Renjani. Tepuk tangan riuh menyambut kedatangan mereka di depan stage.


"Wah ini dia pasangan yang lagi hangat dibicarakan dimana-mana."


"Baru dua bulan menikah ya?" Tanya host wanita berambut cepak tersebut.


"Benar." Jawab Kelana.


"Kami dengar baru-baru ini Renjani mengalami kecelakaan." Host tersebut melihat Renjani.


"Iya." Renjani mengangguk, ia memaksakan senyum karena kamera mengarah kepadanya.


"Kami harus menunda hingga tiga hari demi Renjani."


"Ah saya minta maaf karena hal tersebut." Renjani tak tahu jika acara ini harus diundur karena kecelakaan yang menimpanya.


"Tapi akhirnya kami bisa mengundang istri Kelana Radiaksa, bukankah ini pertama kalinya?"


"Benar, saya sedikit gugup."


Kelana melirik Renjani, ia menyentuh paha wanita itu dan mengusapnya pelan untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Jangan tegang, kita disini ngobrol santai aja." Host tersenyum lebar pada Renjani.


"Kelana baru saja menggelar konser besar di Seohanna Hall dengan penonton seribu orang, tiket VIP terjual dalam waktu kurang dari satu menit dan seluruh tiket terjual habis hanya dalam waktu tiga menit, wah." Host terperangah membaca fakta tentang konser Kelana yang berlangsung 5 jam di salah satu gedung di Jakarta.


Penonton kembali memberikan tepuk tangan untuk Kelana.


"Kelana boleh cerita sedikit tentang konser ini?"


"Saya sudah menyiapkan konser ini sejak lama, saya juga membuat lagu yang pertama kali ditampilkan pada saat konser, jujur awalnya saya tidak percaya karena tiketnya terjual habis dalam waktu singkat, saya bersyukur karena banyak yang menikmati konser ini."


"Kamu pantas mendapatkannya mengingat kamu sudah membawa nama Indonesia ke kancah internasional melalui permainan violin."


"Ini berkat kerja sama tim dan teman-teman penikmat musik yang selalu mendukung saya."


"Tapi yang lebih mengejutkan adalah, kami semua tahu bahwa kamu sedang menyiapkan konser lalu tiba-tiba kalian muncul di media dan mengumumkan hari pernikahan."


"Selagi menyiapkan konser dan menulis lagu, sebenarnya saya juga mempersiapkan pernikahan."


"Kita semua kan tahu kamu tidak pernah dikabarkan menjalin hubungan sejak 3 tahun terakhir, apa yang membuatmu jatuh cinta pada seorang Renjani dan mantap untuk menikah?"


Kelana memutar kepala menggenggam tangan Renjani dan menatapnya dalam. Renjani membalas tatapan Kelana salah tingkah.


"Dia satu-satunya orang yang peduli tentang kebahagiaan saya ketika orang lain hanya peduli pada penampilan saya di atas panggung."


Renjani terperangah mendengar jawaban Kelana, ada perasaan hangat yang menelusup ke dalam rongga dadanya. Perasaan aneh yang belum pernah Renjani rasakan sebelumnya. Kupu-kupu beterbangan di dalam perut Renjani mendesak hendak keluar. Kupu-kupu imajiner yang selalu muncul beberapa waktu terakhir sejak Renjani bertemu Kelana.


"Karena pernikahan tersebut, beberapa orang membahas soal Elara, yang sudah mengikuti Kelana dari lama pasti tahu sama Elara, mereka membahas betapa manisnya hubungan kalian di masa lalu."


Raut wajah Kelana berubah saat host menyebutkan nama Elara, crew tidak mengatakan sebelumnya jika host akan membahas soal hubungan Kelana dan Elara. Setahu Kelana mereka akan membahas tentang pernikahan dan konsernya.


Renjani menatap Kelana menunggu jawabannya. Selama Kelana diam, waktu terasa berjalan sangat lambat bagi Renjani.


"Hubungan manis di masa lalu yang orang-orang katakan itu sudah lama berakhir, saya minta tolong pada teman-teman untuk menjaga perasaan istri saya Renjani dengan tidak membahas hal tersebut."


Renjani tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, kini tak hanya kupu-kupu yang mendesak keluar tapi lebah yang memiliki sengat juga menyerang dadanya. Sakit dan mengejutkan pada saat yang bersamaan. Sakit mengingat ucapan Valia tadi, Kelana sungguh pandai menjaga perasaan Renjani di depan publik. Namun Renjani tahu bahwa perasaan Kelana sepenuhnya hanya untuk Elara. Renjani tak mau terlena dengan ucapan Kelana. Renjani tahu Kelana tidak akan bisa melupakan Elara.


"Penonton banyak yang meminta Kelana memainkan lagu Senja Bertemu Cinta, itu sebabnya kami mengundang Zaneta yang merupakan penyanyi dari lagu tersebut."


Kelana mengangguk mengiyakan tanpa berpikir dua kali meskipun itu adalah lagu yang paling ia hindari sejak Elara pergi. Lagu itu hanya akan membawa Kelana kembali mengingat masa lalu. Namun jika Kelana menolak, pasti orang-orang akan berpikir bahwa Kelana sama sekali belum bisa melupakan Elara.


Penampilan Kelana menjadi akhir segmen tersebut. Kelana bersama Zaneta membawakan lagu Senja Bertemu Cinta yang merupakan single terbarunya.


Kelana memejamkan mata menggesek violin di bahunya. Suara merdu Zaneta menyusul setelahnya. Lagu menggambarkan betapa momen senja saat itu adalah hal yang paling menyenangkan bagi Kelana.


Namun tak seperti biasanya, alih-alih bayangan pertemuan pertamanya dengan Elara, sebuah insiden Renjani jatuh dari tangga hingga menimpa tubuhnya itu tiba-tiba muncul di kepala Kelana. Tanpa terasa Kelana tersenyum, senja itu ia juga mendapat sesuatu yang membuatnya dongkol setengah mati. Untuk pertama kalinya nama Kelana muncul di akun gosip karena ditemukan berciuman dengan Renjani.


Senja selalu memberikan kesan indah bagi Kelana. Bukan lagi pertemuannya dengan sang cinta pertama tapi insiden memalukan yang membuat Kelana mendapat hal baru-tentang ketulusan si gadis biasa bernama Asmara Renjani. Tentang gadis yang mempertanyakan tentang kebahagiaan Kelana. Bahkan Kelana sendiri tak peduli apakah dirinya bahagia atau tidak tapi Renjani justru mempedulikan hal itu.