
Konser di Venesia berhasil memukau 500 penonton yang hadir. Genre klasik yang mendominasi musik Kelana berhasil dimainkan dengan apik membuat penonton terpukau. Kelana telah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Mereka sangat mengapresiasi karya Kelana sejak awal karir Kelana 7 tahun lalu.
Itu adalah konser kedua Kelana setelah sebelumnya ia pernah mengadakan konser di Roma tahun 2019. Ini adalah pencapaian besar Kelana bisa kembali ke negara tersebut setelah 2 tahun.
Negara selanjutnya adalah Perancis lebih tepatnya di kota Marseille dengan penonton hadir lebih banyak dibandingkan konser di Venesia. Venue konser lebih luas sehingga bisa menampung lebih banyak penonton.
Di antara penonton yang hadir ada sosok Elara, ia berkendara tiga jam dari tempat tinggalnya demi menonton konser Kelana. Bahkan ia juga ikut berebut tiket konser sejak seminggu yang lalu. Karena tiket konser Kelana selalu terjual habis dalam waktu singkat maka Elara berusaha keras untuk mendapat satu tiket VIP.
Elara bukannya tidak tahu diri setelah Kelana menolaknya hari itu. Elara hanya ingin melihat penampilan Kelana untuk terakhir kalinya. Setelah ini ia berjanji pada dirinya sendiri untuk segera melupakan Kelana. Apalagi Kelana saat ini sudah memiliki seseorang yang amat ia cintai.
Terlalu terlambat bagi Elara untuk menyesali semuanya tapi ia selalu berandai-andai jika ia tak pernah pergi ke Perancis mungkin bukan Renjani yang bersanding dengan Kelana. Elara masih ingat betapa Kelana mengatakan amat mencintainya dan memintanya untuk tidak pergi. Lalu dengan egoisnya Elara mengatakan bahwa ia memiliki mimpi lain dan meminta Kelana menikah. Elara benar-benar menyesali kebodohannya.
Suara tepukan riuh penonton mengejutkan Elara, ia melihat sekeliling, konser malam itu sudah berakhir setelah Kelana membawakan lagu Cloudy Night. Elara ikut berdiri memberi tepuk tangan untuk penampilan Kelana yang luar biasa. Kelana selalu tampil sempurna di atas panggung.
Satu per satu penonton keluar dari Venue. Namun Elara masih duduk di tempatnya, ia tidak berkutik walaupun tempat tersebut perlahan semakin gelap.
"Aku harus bicara dengan Kelana, setidaknya untuk terakhir kali." Elara beranjak dari sana menuju tempat parkir. Ia memperkirakan Kelana dan timnya akan keluar sebentar lagi.
Elara bersandar pada mobilnya menunggu dengan cemas, jika ia tidak bertemu Kelana hari ini maka ia tak akan pernah memiliki kesempatan bertemu Kelana lagi.
"Kelana!" Elara memekik ketika melihat Kelana keluar dari backstage. Suaranya tidak terdengar karena jarak mereka terlalu jauh.
Elara melangkah menghampiri Kelana tapi sebelum Kelana melihatnya, ada wanita lain yang datang dan langsung menggandeng tangan Kelana bahkan memeluknya. Wanita itu tidak lain adalah Renjani.
"Aku nyariin kamu dari tadi." Kelana merengkuh Renjani lalu mengecup keningnya berkali-kali. Karena Renjani tidak mendapat kursi di Venue maka selama Kelana tampil, ia berada di backstage.
"Aku beli minum buat kamu." Renjani menunjukkan dua gelas Citron Presse di tangannya, ia membelinya tak jauh dari Venue. "Kamu haus nggak?"
Kelana tersenyum, sebenarnya ia tidak haus tapi karena Renjani telah membelinya maka ia harus meminumnya.
"Haus." Kelana mengambil satu Citron Presse dan meminumnya.
"Enak nggak, itu jeruk peras kesukaan kamu tapi nggak tahu rasanya sama atau nggak dengan yang biasa aku bikin."
"Lebih enak buatan istriku."
Ketika Kelana melihat ke arah lain, ia menyadari kehadiran Elara disitu. Kelana tidak terkejut karena ia melihat Elara berada di antara penonton lain tadi tapi ia mengabaikannya. Kelana tak mau membuat kesalahan yang sama, kebaikannya pada Elara telah disalahartikan.
Renjani mengikuti arah pandang Kelana, ia melihat Elara berdiri tak jauh dari mereka.
Penampilan Elara tampak menawan dengan dress putih bermotif floral yang mewah. Dari pada menonton konser Elara terlihat hendak tampil di konser tersebut.
Renjani sempat terkejut di tiga detik pertama melihat Elara, percayalah tanpa berpenampilan seperti itu Elara sudah sempurna. Elara sudah cantik tanpa riasan atau baju bagus. Namun malam ini ia tampak berbeda.
"Aku cuma mau ngucapin selamat atas kesuksesan konser kamu malam ini dan di Venesia sebelumnya." Elara berjalan mendekat.
"Kamu nggak perlu repot-repot untuk itu." Balas Kelana dingin.
Bertemu dengan Elara membuat Renjani teringat kalimat terakhir Elara waktu itu ketika mereka makan bersama di restoran Jepang, Elara begitu yakin akan memiliki Kelana kembali. Namun Renjani bisa membuktikan bahwa ucapan Elara salah, ia sudah memutuskan untuk bertahan di sisi Kelana.
Tadi Elara begitu percaya diri untuk bertemu Kelana tapi ketika menyadari Renjani tengah hamil, ia menciut seketika. Perut buncit Renjani membuat dada Elara seperti diiris-iris. Kehamilan Renjani membuktikan betapa keduanya saling mencintai. Berbeda dengan Elara yang harus berkendara sendiri ke tempat ini demi menemui Kelana. Sekarang cinta Elara berubah menjadi perasaan sepihak.
"Selamat juga atas kehamilan kamu." Elara mengulurkan tangan mengusap perut Renjani perlahan, ia tetap mempertahankan senyum meski hatinya sakit luar biasa. Elara harus terlihat baik-baik saja di depan Kelana dan Renjani.
"Terimakasih." Renjani tersenyum tipis. Meski bayangan saat Kelana dan Elara tampil satu panggung kembali berkelebat tapi Renjani berusaha meyakinkan sendiri bahwa Kelana telah mencurahkan semua cintanya.
"Semoga kalian bahagia." Elara tersenyum lebar, senyum palsu yang ia tebarkan pada Kelana dan Renjani.
"Kamu juga." Kali ini Renjani mengucapkannya dengan tulus, ia berharap Elara bahagia meskipun tanpa Kelana di sisinya. Bukankah dulu Elara yang membuat keputusan untuk meninggalkan Kelana. Itu artinya Elara siap hidup tanpa Kelana.
"Aku pergi dulu." Elara melihat Kelana sekali lagi lalu membalikkan badan melangkah menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.
Kali ini Elara benar-benar harus mengubur perasannya yang telah lama bersemayam dalam hatinya. Elara tak seharusnya mengusik kebahagiaan Kelana.
"Kelana, celana ku berdarah." Renjani mengguncang tubuh Kelana di tengah malam saat ia baru keluar dari kamar mandi untuk buang air kecil. Renjani bisa bangun hingga lima kali dalam semalam untuk buang air kecil.
Sebenarnya Renjani tidak tega membangunkan Kelana tapi ia terlalu panik melihat bercak darah di underwear nya.
Kelana tidak segera bangun mungkin karena kelelahan setelah seharian berlatih untuk konser. Kelana memang hampir tak pernah punya waktu senggang sejak menyelesaikan konser di Venesia.
"Hm?" Dengan mata setengah terbuka, Kelana bangkit dari posisi tidur meskipun ia tak mendengar apa yang Renjani katakan barusan. Namun melihat wajah risau Renjani membuat Kelana bangun dengan sigap. "Ada apa?"
"Ada darah di celana ku." Ulang Renjani.
"Perut kamu sakit nggak?"
"Dari kemarin sempet kram tapi dokter bilang nggak apa-apa." Renjani menghubungi dokter kandungannya di Jakarta kemarin tapi dokter mengatakan itu adalah hal yang wajar.
"Ayo ke rumah sakit." Kelana mengambil jaket dan menyampirkan nya di punggung Renjani.
"Sekarang?"
"Iya." Jika Renjani panik maka Kelana lebih panik lagi ditambah mereka sedang berada di negara asing.
Kelana melihat ponselnya mencari rumah sakit terdekat dari hotel mereka. Setelahnya ia menginjak gas melesat keluar dari tempat parkir hotel.
"Aku mau pulang." Renjani menunduk menutup wajahnya dengan dua tangan. Tiba-tiba ia terisak membuat Kelana semakin kalut. Renjani ingin kembali ke apartemen mereka di Jakarta tapi tak mau mengatakannya pada Kelana. Renjani harus menemani Kelana tapi ia juga ingin pulang. Namun malam ini tiba-tiba ia begitu ingin pulang.
"Baiklah." Kelana menyanggupi permintaan Renjani tanpa berpikir dua kali. Kelana mengerti tempat ini sangat asing bagi Renjani. Ia melihat Renjani begitu kelelahan karena mereka harus naik pesawat berulang kali. Bepergian memang sesuatu yang melelahkan. Renjani tak pernah tidur nyenyak di malam hari tapi Kelana khawatir jika meninggalkan Renjani di apartemen seorang diri.
Renjani mengangkat wajah menatap Kelana tak percaya, ia merasa bersalah karena mengatakan ini. Renjani sudah berjanji untuk menemani Kelana tapi ia kesulitan untuk menyesuaikan diri disini.
"Kita akan pulang." Kelana menghentikan mobil di halaman rumah sakit, hanya butuh 5 menit perjalanan dari hotel untuk menemukan rumah sakit tersebut.
Renjani tidak bisa mengatakan apapun, ia langsung menghambur ke pelukan Kelana dan berterimakasih karena Kelana memperbolehkannya pulang.
"Kamu nggak apa-apa?" Renjani mengkhawatirkan Kelana.
"Aku nggak apa-apa tapi kamu harus janji sama aku, kamu akan jaga diri baik-baik." Kelana paham betul emosi wanita hamil seperti Renjani memang tidak menentu. Dulu sebelum hamil Kelana hampir tidak pernah melihat Renjani menangis. Sekarang Renjani bisa menangis tiga kali sehari dengan alasan sepele.
Kelana menunggu di kursi tunggu sementara Renjani diperiksa oleh dokter. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 2 waktu setempat. Kelana berharap tak ada sesuatu yang serius terjadi pada Renjani. Usia kandungan Renjani belum genap 7 bulan.
Saat pintu UGD terbuka Kelana beranjak dari sana menanyakan keadaan Renjani pada dokter.
Dokter mengatakan Renjani kelelahan dan melakukan aktivitas terlalu berat yang menyebabkan flek darah. Dokter menyarankan agar Renjani istirahat total untuk mencegah adanya kontraksi yang lebih kuat.
Mendengar penjelasan dokter Kelana memutuskan untuk segera mengantar Renjani kembali ke Jakarta.
"Kita akan berangkat pagi ini." Kelana mendekati Renjani yang berbaring di atas ranjang. "Kamu istirahat dulu ya."
"Kamu mau kemana?"
"Aku disini." Kelana menarik kursi duduk di samping ranjang. Ia tak kuasa melihat wajah pucat Renjani. Kelana merasa dilema, ia ingin Renjani menemaninya. Namun kondisi Renjani sekarang tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. "Aku harap kamu dan Nana baik-baik saja."
"Kami baik-baik saja, kan ada kamu." Tangan Renjani terulur mengusap mata Kelana yang basah.
"Aku khawatir banget sama kamu." Kelana menggenggam tangan Renjani lalu mengecupnya.
"Jangan berpikir untuk melepaskan mimpi kamu." Renjani mencoba menebak apa yang Kelana pikirkan.
"Aku nggak mungkin ninggalin kamu di apartemen sendiri."
Renjani menggeleng, Kelana harus tetap melanjutkan tur konsernya. Kelana tak mungkin membatalkan konser yang telanjur diumumkan, ia akan membuat banyak orang kecewa. Antasena telah mengumumkan konser di Hamburg, Amsterdam, Atlanta, Tokyo, Seoul, Shanghai, dan Bali. Semua tiket bahkan telah terjual habis sejak dua Minggu yang lalu.
"Ini tentang banyak orang, bukan cuma aku." Renjani berkata dengan lembut. "Nanti aku minta Jesi nginep di apartemen, boleh ya?"
"Aku juga akan minta Yana temenin kamu." Kelana tak bisa percaya hanya pada Jesi.