
"Lihat tuh anak baru di kampus ini!" ucap wanita yang kini mengenakan setelan berwarna merah dan menenteng tas miliknya ketika berjalan ke depan area kampus untuk mengambil kendaraan.
Sementara itu, wanita satunya kini menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh sahabat baiknya dan melihat seseorang dengan setelan panjang dan rambut terurai di bawah bahu tengah berjalan bersama dengan seorang pria berbadan gempal dan berwajah sangar.
Tentu saja pemandangan tersebut menjadi pusat perhatian dari semua mahasiswa maupun mahasiswi di kampus karena ini adalah pertama kalinya ada anak baru yang dikawal oleh seorang bodyguard.
"Jadi, dia anak baru yang merupakan istri dari Erland Carl Felix? Cantik dan seksi. Pantas saja seorang Erland langsung menikahinya dan melupakan seorang wanita yang menemaninya dari nol. Ternyata benar apa kata orang orang." Ia tidak melanjutkan perkataannya karena dipotong oleh sahabat baiknya.
"Bahwa seorang pria tidak akan menikahi wanita yang menemani sampai bertahun-tahun lamanya, tapi akan menikah ketika sudah merasa siap dengan wanita yang dipilihnya untuk menjadi ibu dari anak-anaknya," ucap wanita kini menepuk pundak Zeze begitu melihat kekasih dari sahabatnya tersebut.
Ia tanpa pikir panjang langsung berlalu pergi dan melambaikan tangannya. "Selamat bersenang-senang!"
Sementara itu, wanita yang tak lain bernama Zeze dan menjadi kekasih dari mahasiswa paling populer di kampus, seketika menoleh ke arah belakang saat mendengar suaranya bariton.
"Yank!" teriak Harry yang berjalan cepat mendekati sang kekasih.
Zeze kini tersenyum simpul dan melambaikan tangannya. "Kita jadi pergi, kan?"
Harry yang kini menyerahkan tas kecil berisi kotak bekalnya agar besok pagi kembali diisi. "Maaf, Yank. Aku mendadak disuruh Mama menemani pergi. Besok saja kita perginya. Kamu nggak marah, kan?"
Ia bisa melihat raut wajah kekecewaan dari sang kekasih dan membuatnya sudah bisa menebak ekspresi wanita di hadapannya tersebut, sehingga langsung menunjukkan ponsel miliknya yang diambil dari saku celana.
"Ini pesan Mama baru sepuluh menit yang lalu. Makanya aku baru mengatakan padamu sekarang." Harry berbicara dan melihat sekilas ke arah Floe yang baru saja masuk ke dalam mobil ketika pintu dibukakan oleh pengawal dan menjadi pusat perhatian di kampus.
Saat Zeze membaca sekilas pesan di layar ponsel tersebut dan beralih menatap ke arah sang kekasih. Ia mengikuti arah pandangnya dan mengetahui jika tengah menatap anak baru.
"Kabarnya anak baru itu satu jurusan denganmu. Siapa namanya? Cantik juga. Tahu kita tidak jadi pergi, aku pulang sama Narnia tadi," Ia sengaja ingin tahu pendapat dari sang kekasih mengenai wanita yang baru saja pergi tersebut.
"Iya, namanya Floe dan tadi duduk di sebelahku. Masih cantikan kamu, jadi jangan cemburu. Kalau gitu, kamu hubungi saja Narnia. Dia pasti masih menunggu taksi di depan. Aku buru-buru karena sudah ditunggu mama. Maaf, ya Yank." Tidak ingin menjadi korban omelan dari sang ibu, Harry kini selalu pergi setelah mengusap lengan sang kekasih.
Bahkan ia melambaikan tangan ketika berjalan menjauh dan langsung menuju ke arah motor sport miliknya yang terparkir rapi di sudut sebelah kiri. Sebenarnya merasa bersalah dan tidak tega karena membatalkan janji secara tiba-tiba, tapi tidak mungkin lebih mementingkan janji dengan sang kekasih ketika sang ibu menyuruhnya datang.
Apalagi sang ibu tidak setiap hari mengajaknya pergi bersama, jadi berharap sang kekasih bisa mengerti dan tidak bersikap kekanakan dengan merajuk. Ia dari dulu tidak pernah suka dengan sifat kekanakan seorang wanita, makanya hubungannya tidak pernah bertahan lama.
Ia selama ini mencari sosok wanita yang bisa mengerti dirinya dan tidak membuatnya hilang kesabaran. Jika biasanya hanya bertahan beberapa bulan saja, sedangkan hubungannya dengan Zeze cukup bertahan lama karena sudah setengah tahun.
Selama bersama dengan Zeze, tidak pernah melihat wanitanya itu marah-marah dan cemburu tidak jelas. Ia menganggap jika kekasihnya sangat dewasa dan yang selama ini ia cari karena bisa mengerti kondisinya.
Harry pun kini langsung melajukan kendaraannya menuju ke arah salah satu Mall terbesar di Jakarta karena sang ibu menyuruhnya untuk menemani belanja.
Sementara itu, Zeze yang langsung menelpon Narnia agar tidak pergi meninggalkannya karena ingin mengajak keluar jalan-jalan untuk meredam amarahnya ketika gagal berkencan dengan sang kekasih.
Kemudian masuk ke dalam mobil dan menginjak pedal gas dan mengemudikannya keluar dari area kampus. Tentu saja ia langsung menepikan mobilnya begitu melihat Narnia sudah menunggu.
"Pasti kamu sangat kesal hari ini karena tidak jadi ngedate sama Harry," ucap Narnia yang baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi depan.
Saat Zeze kembali mengemudikan mobilnya, ia sekilas menoleh ke arah sahabatnya dengan raut wajah kesal. "Kita makan makanan yang enak di restoran nanti. Aku butuh makanan yang serba pedas agar amarahku tersalurkan."
Ia selama ini menjadi orang lain ketika bersama dengan Harry karena mengetahui jika sang kekasih akan merasa ilfil jika melihat seorang wanita bersikap kekanakan. Sebelum dekat dengan Harry dulu, ia sudah banyak mencari tahu tentang kekasihnya tersebut yang sering gonta-ganti pasangan karena bertahan hanya satu hingga dua bulan saja.
Narnia sebenarnya merasa kasihan pada sahabatnya, jadi kali ini ingin menasihati. "Kamu tidak capek bersikap menjadi orang lain di depan Harry?"
Tidak langsung menjawab karena jujur saja Zeze benar-benar sangat lelah bersikap menjadi orang lain yang diimpikan oleh Harry. Namun, cintanya pada pria itu jauh lebih besar dan juga tidak ingin merasa malu jika sampai putus seperti yang lainnya.
"Cinta yang membuatku jadi bego seperti ini. Apa hanya aku yang melakukan segala cara untuk membuatnya bertahan? Hingga rela menjadi orang lain seperti ini. Semoga semuanya terbayar nanti saat Harry benar-benar tergila-gila padaku." Tiba-tiba Zeze berubah pikiran dan berbelok ke arah sebelah kiri.
"Kita mau ke mana? Kenapa belok?" tanya Narnia yang sengaja tidak ingin menjawab saat sahabatnya menyalahkan diri sendiri.
'Mana mungkin aku mengiyakan perkataannya. Bisa-bisa malah membuatnya makin bertambah kesal,' gumam Narnia yang sebenarnya ingin sekali mengumpat agar sahabatnya mengerti jika cintanya pada Harry hanyalah semu.
Bahwa menurutnya cinta bisa membuat semua orang menerima baik buruknya pasangan dan tidak ada syarat apapun atas perasaan yang dimiliki sehingga tidak menjadi sebuah beban bagi salah satunya.
Sementara sahabat yang sangat berbeda karena selalu terbebani ketika bersikap menjadi orang lain agar terlihat sempurna di mata Harry.
'Cinta itu tanpa syarat dan menganggap kekurangan pasangan adalah sebuah kelebihan yang terlihat lebih manis dibandingkan apapun, tapi kapan aku bisa merasakannya? Bahkan sahabatku yang cantik dan menjadi mahasiswi paling populer di kampus saja menderita seperti ini meskipun mempunyai seorang kekasih yang menjadi incaran para wanita.'
Lamunan Narnia seketika sirna begitu mendengar suara sahabatnya dan membuatnya menoleh ke arah sebelah kanan. Di mana mandi tadi balik kemudi tersebut masih fokus menatap ke arah depan ketika mengemudi.
"Tiba-tiba aku ingin shopping. Bajuku hanya itu-itu saja dan aku ingin membeli banyak pakaian hari ini. Kamu bisa memilih pakaian juga. Aku yang bayar nanti. Lalu, setelah itu baru kita makan makanan yang pedas untuk menghilangkan stres." Saat ia menambah kecepatan menuju ke arah salah satu Mall terbesar di Jakarta, seketika bibirnya mengerucut ketika tersindir oleh perkataan sahabatnya.
"Ada hikmah dibalik stres karena aku jadi mendapatkan rezeki nomplok ketika dibayari olehmu. Apa lebih baik aku mendoakanmu selalu stres agar berbaik hati seperti ini?" Narnia sengaja bercanda agar mood buruk sahabatnya kembali baik.
Hingga ia seketika tertawa ketika merasakan pukulan dari sahabatnya.
"Sialan! Kalau gitu tidak jadi saja. Kamu bayar sendiri saja!" sarkas Zeze dengan wajah masam.
Saat ini, seketika Narnia menyatukan kedua tangan dan menampilkan wajah memelas karena sudah membayangkan hari ini bisa membeli pakaian tanpa mengeluarkan uang.
Ia hanyalah seorang putri dari pemilik kedai makan dan tentu saja sangat jauh berbeda dengan sahabatnya yang merupakan anak konglomerat. Bisa kuliah di tempat bergengsi saja karena mendapatkan beasiswa atas kepintarannya.
Hal itulah yang membuat seorang Zeze menyukainya karena sering meminta bantuan dalam masalah pelajaran. "Aku hanya bercanda. Kan kamu jadi tidak terlalu stres setelah aku bercanda, kan?"
Saat Zeze tidak berniat memperdulikan perkataan Narnia, ia mengerutkan kening begitu melihat mobil di depannya yang seperti tidak asing. "Itu mobil milik anak baru itu, kan?"
Ia merasa yakin sekaligus aneh begitu melihat mobil tersebut berbelok ke arah Mall. "Bisa-bisanya dia ke sini juga "
"Iya, benar. Apa dia juga mau shopping dengan bodyguard-nya?" sahut Narnia yang kini tidak mengalihkan perhatian dari mobil milik mahasiswi baru di kampus.
Saat Zeze juga berbelok ke area Mall dan memarkirkan mobilnya, ia mendengar suara notifikasi dari ponsel di dashboard. "Coba lihat pesan dari siapa! Penting atau tidak," ucapnya pada sahabatnya.
Narnia yang biasa memeriksa ponsel sahabatnya, kini melaksanakan perintah dan langsung mengecek pesan, tapi seketika ia membulatkan matanya begitu melihat video.
'Wah ... bahaya jika sampai Zeze melihat video ini,' gumamnya yang kini merasa bingung untuk menyampaikan apa yang dilihatnya.
To be continued...