Married by Accident

Married by Accident
Mengaitkan semuanya dengan Floe



Beberapa hari yang lalu, setelah tiba di London dan mencari tahu tentang perihal kabar dari kekasih atasannya, Leo Sandiago awalnya pergi ke kampus karena tidak mendapatkan sesuatu dari alamat yang diberikan.


Meskipun ia berkali-kali mau mencet bel pintu, sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari dalam apartemen. Ia yakin jika kekasih dari bosnya tersebut tidak ada di rumah. Bahkan sahabat yang dikatakan tinggal bersama juga tidak ada, sehingga memilih berinisiatif untuk bertanya di kampus.


Hingga ia mendapatkan kabar jika kekasih dari atasannya dirawat di rumah sakit. Begitu ia mendapatkan alamat rumah sakit, segera mencari informasi mengenai apa yang terjadi.


Sampai ia dibuat terkejut dengan kenyataan yang baru saja diketahui tentang kekasih dari atasannya yang ternyata mengalami pelecehan seksual oleh rekan sama dosen.


Bahwa wanita bernama Marcella yang berakhir bunuh diri di sebuah kamar mandi ruangan hotel terbaik dan mengenai tersangka masih dalam pemeriksaan karena dibutuhkan kesaksian secara langsung oleh korban yang masih belum sadarkan diri.


Hanya saja ada saksi yang merupakan teman satu apartemen Marcella dan juga sang kekasih yang berakhir di hotel karena diberikan obat tidur hingga tidak sadarkan diri dan tidak bisa menjaga sahabatnya tersebut.


Ia sengaja tidak memberitahu atasannya mengenai hal tersebut karena khawatir jika akan terjadi sesuatu hal yang buruk. Jadi, ia memutuskan untuk memberitahu secara langsung ketika bosnya sudah berada di London.


Bahkan ia menghabiskan waktu di rumah sakit tanpa pulang ke hotel karena ingin tahu perkembangan dari Marcella yang masih kritis. Memang pria yang merupakan teman dosen Marcella yang membawa ke rumah sakit begitu mendengar suara pecahan kaca di kamar mandi.


Polisi memang tidak menahan pria berkebangsaan asing bernama Zack Pieterson itu karena sudah langsung membawa ke rumah sakit dan korban masih bisa diselamatkan. Meskipun sampai sekarang belum sadarkan diri karena masih kritis.


Bahkan ia juga sering bertemu pria itu yang datang ke rumah sakit untuk menjenguk Marcella dan merasa yakin jika Zack melakukan hal itu karena terobsesi.


Ia juga berbicara pada teman satu apartemen Marcella yang selalu setia menemani di dalam ruangan karena merasa bersalah dan tidak berhenti menangis.


Bahwa wanita itu selalu menyalahkan diri sendiri karena menjadi penyebab Marcella pertama kali datang ke klab malam, sehingga tidak berhenti menyalahkan diri sendiri karena berpikir telah menjerumuskan sahabatnya.


Saat ia tadi menunggu dokter memeriksa di dalam ruangan ICU, begitu melihat pria dengan jubah putih tersebut keluar, segera bangkit berdiri dari kursi dan ingin mengetahui bagaimana perkembangan dari Marcella.


"Apakah pasien masih kritis, Dokter?" tanya Leo yang saat ini menatap sang dokter masih terlihat muram wajahnya dan seolah menjelaskan jawaban dari pertanyaannya barusan.


Sang dokter saat ini menyuruh perawat untuk menyerahkan laporan yang dibutuhkan oleh pihak kepolisian untuk kebutuhan pemeriksaan.


"Ini adalah hasil visum dari pasien dan Anda bisa menyerahkan pada polisi guna kepentingan pemeriksaan mengenai perkosaan yang dilakukan oleh rekan kerjanya. Pasien saat ini masih belum melewati masa kritisnya dan kami masih berusaha untuk melakukan yang terbaik," ucap sang dokter yang saat ini seketika mengalihkan pandangannya dari sosok pria di hadapannya begitu mendengar suara seorang laki-laki.


Begitu juga dengan Leo yang sangat hafal dengan suara siapa yang baru saja tertangkap indra pendengaran dan membuatnya sangat terkejut begitu melihat atasannya sudah tiba di rumah sakit.


Ia memang sengaja tidak mengangkat panggilan dari bosnya tersebut karena takut jika ditanya mengenai apa yang terjadi pada sang kekasih. Sementara ia adalah orang yang tidak pandai berbohong, sehingga memilih untuk membiarkan panggilan bosnya.


Hingga ia saat ini membulatkan mata begitu melihat pria dengan raut wajah penuh terkejut tersebut berada di hadapannya.


"Presdir, Anda mendengarnya?" lirih Leo dengan perasaan berkecamuk karena merasa bersalah tidak menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi.


Hingga atasannya tersebut mengetahui dari mulut sang dokter dan membuatnya khawatir jika mendapatkan kemurkaan karena menyembunyikan kejadian yang menimpa sang kekasih.


"Perkosaan? Marcella diperkosa? Bangsat!" teriak Erland yang saat ini mengepalkan tangan meskipun sebenarnya tubuhnya sangat lemas karena tidak pernah terpikirkan sama sekali jika sang kekasih mengalami sebuah kemalangan hingga berakhir bunuh diri.


Padahal ia awalnya merasa sangat yakin jika semua itu adalah karenanya, tapi ternyata semua tidak seperti yang dipikirkan. "Mana bajingan yang telah membuat Marcella berakhir seperti ini di rumah sakit?"


Wajah Erland yang seketika berubah memerah karena dikuasai oleh amarah ketika membayangkan jika sang kekasih mengalami kejadian mengerikan ketika diperkosa. "Ya Allah, kenapa semua ini terjadi pada wanita sebaik Marcella?"


"Kenapa ya Allah!" teriak Erland yang meluapkan semua kemurkaan serta kekecewaan dan kekhawatiran yang dirasakan.


Bahkan bola matanya juga berubah memerah dan berkaca-kaca karena memikirkan nasib malang sang kekasih. Ia saat ini rasanya ingin menghabisi sosok pria yang menjadi penyebab semua kehancuran wanita yang sangat dicintainya.


Jadi, saat ini mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari di manakah sosok pria itu. "Di mana bajingan itu? Aku benar-benar akan membunuhnya!"


Tanpa mempedulikan suaranya yang sangat mengganggu karena memecah keheningan malam di area rumah sakit, Erland saat ini makin murka ketika asistennya mencoba untuk menenangkan dengan menahan lengannya.


"Presdir, Anda harus tenang karena amarah tidak akan menyelesaikan masalah. Pihak kepolisian di sini sudah mengambil alih semuanya dan akan memberikan hukuman yang pantas untuk pelaku jika terbukti bersalah." Saat Leo baru saja menutup mulut, tubuhnya terhuyung ke samping kiri karena didorong oleh bosnya tersebut.


"Menyingkir kau, berengsek! Kau ... kenapa tidak mengatakan semuanya padaku saat di telepon? Bukankah aku sudah bertanya padamu?" Erland yang saat ini secepat kilat berjalan mendekati asisten pribadinya dengan menahan ke arah ke meja yang dipakai Leo.


Ia bahkan tidak memperdulikan suara dokter maupun perawat yang mencoba untuk menenangkannya. "Cepat katakan, bodoh! Jangan diam saja. Apa kau berubah bisu karena takut akan kuhabisi?"


"Tuan, jangan membuat keributan di sini atau Anda diusir dari rumah sakit!" seru sang dokter yang saat ini menyuruh perawat untuk memanggil security karena ruangan ICU akan kacau balau jika mendengar suara teriakan pria di hadapannya.


Sementara itu, Leo yang saat ini merasa bersalah pada atasannya yang masih terlihat murka, bingung harus menjelaskan karena mengetahui jika pria di hadapannya tersebut tengah dikuasai oleh amarah.


'Aku pasti akan babak belur setelah menjelaskan semuanya, tapi jika hanya diam saja malah akan lebih parah,' gumam Leo yang saat ini memberanikan diri untuk membuka suara.


Meskipun suaranya terdengar bergetar karena tergagap saat berbicara ketika dikuasai oleh ketakutan melihat raut wajah memerah dari pria yang sangat dihormatinya tersebut.


"Maafkan saya, Presdir karena tidak langsung memberi tahu mengenai kejadian buruk yang menimpa kekasih Anda. Saya khawatir jika Anda terpukul dan akhirnya terjadi sesuatu yang buruk seperti mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi hingga mengalami kecelakaan dan tidak bisa ke sini untuk melihat nona Marcella." Meskipun lebih dari itu yang dipikirkannya, tatapan tajam dari atasannya tersebut membuatnya menelan saliva dengan kasar.


Ia tidak bisa melanjutkan perkataannya karena atasannya melepaskan kerah kemejanya, tapi berubah meninju wajahnya hingga rasa nyeri dirasakan. Leo meringis menahan rasa sakit yang kini mendominasi bagian kiri pipinya karena pukulan sangat kuat itu benar-benar membuatnya kesakitan.


Ia bisa gila jika memendam semuanya tanpa meluapkan apa yang dirasakan saat ini, sehingga menjadikan asisten pribadinya sebagai pelampiasan tanpa memperdulikan apapun.


Hingga ia tidak bisa berkutik ketika kedua tangannya ditahan oleh dua security yang baru saja datang bersama dengan perawat. Padahal masih berniat untuk kembali meninju perut asistennya.


"Jangan buat keributan di sini karena ini ruangan ICU dan ada banyak pasien yang membutuhkan ketenangan proses saat proses penyembuhan." Salah satu security berbicara dengan wajah garang agar pria di hadapannya tersebut segan dan tidak berani mengulangi perbuatannya.


Bahkan dua security berbadan gempal tersebut menahan dengan kuat lengan pria yang mencoba untuk membebaskan diri.


"Lepaskan!" teriak Erland yang saat ini berusaha untuk menggerakkan tubuhnya agar kuasa dari dua pria yang memiliki badan lebih tinggi besar darinya tersebut lepas.


Hingga ia pun saat ini menatap tajam ke arah asisten pribadinya agar mengatasi situasi saat ini karena yakin jika tidak bisa menghentikan sendiri. Namun, ia mendengar suara seorang wanita yang membuatnya beralih menatap ke arah sahabat dari kekasihnya yang baru saja keluar dari ruangan.


"Erland?" ujar Kyara Stevani yang tadi berada di dalam ruangan menunggu sahabatnya, mendengar suara bising dari luar dan membuatnya langsung mengecek apa yang terjadi.


Ia langsung berjalan keluar dan melihat sosok pria yang merupakan kekasih dari sahabatnya. Dengan wajah sembab karena beberapa hari ini menangis saat menunggu sahabatnya yang masih belum sadarkan diri, kini merasa seperti mendapatkan sebuah harapan begitu melihat sosok pria yang ditahan kedua tangannya oleh security.


Kiara yang mengetahui jika sahabatnya sangat mencintai Erland, sangat berharap jika kedatangan pria itu membuat Marcella sadar dan bebas dari masa kritis.


"Kiara," lirih Erland yang saat ini memberikan kode pada wanita yang berjalan ke arahnya tersebut agar mengatakan siapa dirinya sebenarnya pada semua orang yang tidak tahu ia siapa.


"Tolong lepaskan karena dia adalah tunangan dari pasien." Kiara yang mengerti kode dari Erland, sengaja berbicara seperti itu agar segera dilepaskan.


Benar apa yang dipikirkannya, dua pria berbadan tinggi besar tersebut akhirnya melepaskan dengan satu syarat.


"Kami akan menyuruhnya pergi dari sini jika kembali membuat gaduh. Bukankah begitu, Dokter?" tanya salah satu pria berseragam hitam tersebut.


"Ya, Anda akan diusir dari rumah sakit ini jika kembali melakukan tindakan yang mengganggu para pasien." Sang dokter ini menatap ke arah wanita yang tak jauh dari tempatnya berdiri. "Anda yang harus bertanggung jawab jika pria ini kembali melakukan keributan!"


"Baik, Dokter. Itu tidak akan terjadi," sahut Kiara yang saat ini menganggukkan kepala begitu sang dokter beserta perawat dan juga security berlalu pergi meninggalkan mereka.


Ia bahkan melihat pria yang beberapa hari ini berada di rumah sakit mengalami memar di bagian kiri wajah dan mengetahui siapa penyebabnya. Mungkin jika ia adalah seorang laki-laki, juga akan mendapatkan bogem mentah dari kekasih sahabatnya tersebut.


'Erland tidak akan pernah memaafkanku karena mengajak Marcella ke klab malam dan berakhir seperti ini,' gumam Kiara yang saat ini menelan saliva dengan kasar karena khawatir jika mendapatkan kemurkaan dari kekasih sahabatnya.


Erland yang baru saja lepas dari kuasa 2 security, melemaskan lengannya karena tadi sangat kuat ditahan hingga membuatnya sedikit merasakan nyeri. Ia saat ini merasa ada sesuatu hal yang membuatnya curiga pada sosok wanita dengan raut wajah pucat itu.


"Kau pasti mengetahui semuanya. Ceritakan padaku dan jangan ada yang terlewat!" seru Erland dengan tatapan tajam mengintimidasi.


Suara Erland yang mendominasi ruangan di depan ICU itu berhasil membuat bulu kuduk meremang. Kiara dan Leo sama-sama merasakan kekhawatiran ketika hendak menceritakan apa yang terjadi.


Khawatir jika kemurkaan pria di hadapannya tersebut membuat rumah sakit porak poranda jika sampai melempar apapun untuk memecahkan kaca karena seseorang yang dikuasai oleh angkara muka tidak akan bisa menahan diri untuk melakukan sesuatu yang buruk.


Dengan berawal menormalkan napasnya, Kiara kini kini menyuruh Erland untuk duduk karena tidak mungkin menceritakan panjang lebar dengan posisi berdiri.


"Ceritanya panjang, Erland. Kau juga pasti lelah karena sudah melakukan perjalanan jauh dari Jakarta ke London." Ia pun memberikan contoh terlebih dahulu untuk menjalankan tubuhnya di salah satu kursi tunggu di depan ruangan ICU.


Erland sebenarnya tidak mempermasalahkan tubuhnya yang lelah, tapi karena merasa ingin segera tahu semua yang terjadi pada sang kekasih, sehingga memilih untuk menurut dengan duduk di sebelah kiri sahabat kekasihnya tersebut.


Berbeda dengan Leo yang saat ini mengamankan memperbesar milik atasannya karena ditinggalkan oleh sang pemilik, ia tidak berani duduk di antara mereka dan memilih untuk tetap berdiri.


'Sabarkanlah hati tuan Erland, ya Allah karena pasti sangat terpukul begitu mengetahui wanita yang sangat dicintainya telah diperkosa oleh pria lain,' gumam Leo yang memilih untuk mengunci mulut rapat-rapat dan memasang indra pendengaran lebar-lebar ketika sahabat dari Marcella mulai membuka suara untuk menjelaskan apa yang terjadi.


Erland yang saat ini fokus mendengarkan semua penjelasan dari Kiara sambil sesekali mengepalkan tangan kanan untuk menahan diri agar tidak meninju dinding di belakangnya.


Ia yang awalnya merasa marah pada wanita di sebelahnya tersebut karena berani mengajak kekasihnya yang sangat polos ke sebuah klab malam, tetapi kemudian menyadari jika itu semua dilakukan akibat Marcella bersedih setelah membaca pesan darinya.


'Marcella-ku yang malang. Kenapa semua hal buruk ini terjadi padamu, Sayang? Kenapa hubungan kita berakhir runyam seperti ini?' gumam Erland yang saat ini diam-diam mengingat perbuatannya pada Floe begitu mendengar tentang sosok pria yang telah merenggut kesucian sang kekasih.


Ia berpikir bahwa semua yang terjadi mungkin adalah karma dari perbuatannya dan sang kekasih harus kehilangan kesucian seperti yang dirasakan oleh Floe.


'Sebenarnya apa rencanamu pada kami ya Allah? Aku memang sangat berdosa karena telah membuat Floe hamil dulu hingga berakhir keguguran, tapi apakah Marcella juga harus mendapatkan hal yang sama? Kekasihku adalah seorang wanita yang baik. Kenapa dia harus mengalami hal seperti ini?' lirih Erland yang saat ini seperti membalikkan keadaan ketika mengingat sosok wanita yang baru saja mengalami keguguran.


'Floe juga gadis yang baik dan tidak pernah macam-macam, tapi juga berakhir kehilangan kesucian karena perbuatanku saat itu ketika mabuk.' Erland makin dikuasai oleh rasa bersalah ketika masih memikirkan Floe saat berada di London.


'Kenapa aku selalu mengaitkan semuanya dengan Floe?' Erland seketika bangkit berdiri dari kursi dan mengacak frustasi rambutnya.


Ia saat ini sebenarnya ingin berteriak sekencang-kencangnya untuk melampiaskan perasaan memuncak yang dirasakan, tapi mengingat ancaman dari security dan juga dokter yang akan mengusirnya dan melarang untuk berada di sana, sehingga berusaha menahan diri meski semuanya terasa berat.


To be continued...