
The Great Street of Venice dikelilingi oleh gedung-gedung kuno dan istana dari abad ke-13 hingga 18 berarsitektur klasik gabungan Byzantine, Gothic, Renaissance dan Baroque. Kota tersebut tidak memiliki transportasi darat. Semua jalur lalu lintas dilakukan di atas air.
Grand Canal merupakan salah satu lalu lintas utama kota yang terletak di laguna dangkal lepas pantai utara di timur Italia tersebut.
Bulan Mei adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi Italia karena suhu tidak terlalu dingin dan matahari bersinar terang.
Di antara padatnya jadwal persiapan konser Kelana menyempatkan diri untuk mengajak Renjani menjelajahi kota Venezia.
Karena ini pertama kalinya Renjani pergi ke luar negeri, Kelana ingin Renjani mendapatkan pengalaman bagus dan tidak bisa dilupakan selama berada disini.
Hari mereka dimulai dengan sarapan di pinggir kanal berlatar belakang Basilica di San Marco yang berdiri megah. Tak ada yang lebih nikmat dari sarapan Croissant dan secangkir kopi hangat. Sebagai pecinta kopi, selain tujuan utamanya untuk konser Kelana juga ingin menikmati kopi di Italia.
"Apa semua wanita hamil seperti ini?" Kelana menyangga dagu dengan tangan menatap Renjani yang tengah mengikat rambut sebelum mulai makan.
"Kenapa?" Renjani tidak mengerti apa yang Kelana katakan.
"Selalu cantik." Sudut bibir Kelana terangkat melengkung sempurna membentuk senyum, ia memotong Croissant dan melahapnya.
Renjani menunduk ikut memotong Croissant miliknya padahal sebenarnya ia sedang tersipu. Kelana selalu berhasil membuat Renjani salah tingkah hanya dengan kalimat sederhana.
"Kopi disini lebih enak." Renjani mencelupkan Croissant ke dalam kopi sebelum melahapnya. "Mungkin karena setiap hari minum kopi instan di apartemen jadi kerasa bedanya."
"Nanti kita bawa pulang bubuk kopi dari sini walaupun nggak akan sama tapi lumayan bisa jadi obat kalau kangen." Kelana menyesap kopinya perlahan, ia setuju dengan Renjani. Kopi disini memang beda dari yang biasa ia minum.
"Nanti kita naik itu." Renjani menunjuk gondola yang lewat di depan mereka.
"Kita naik taksi." Kelana sudah mencatat semua rencana kegiatan mereka hari ini di ponsel. Kelana menulisnya saat masih berada dalam pesawat. "Habiskan dulu sarapan mu, sayang."
"Perutku udah penuh." Renjani menepuk-nepuk perutnya, ia sudah menghabiskan setengah Croissant dan roti dengan buah-buahan.
Kelana menarik piring Renjani dan menghabiskan sisa Croissant yang tinggal separuh bagian.
"Kita harus makan Pizza dan Spaghetti disini." Renjani menghabiskan jus jeruk lalu menyesap kopinya yang mulai dingin tapi tetap enak.
"Kenapa?"
"Kita harus coba makanan dari negara asalnya."
"Kamu bilang kenyang." Kelana sudah menduga jika Renjani bilang kenyang itu sebenarnya ia sudah bosan dengan makanan tersebut. Tak ada kata kenyang di kamus Renjani.
"Maksudku nanti."
"Baiklah." Kelana terkekeh mengacak rambut Renjani yang sudah ditata sedemikian rupa. Renjani menghabiskan waktu lama untuk mengeringkan lalu mencatok rambutnya. Namun dengan entengnya Kelana mengacak rambut tersebut.
"Jangan diacak." Renjani kembali merapikan rambutnya dengan tangan.
"Jangan terlalu cantik, nanti ada yang suka sama kamu selain aku."
"Siapa yang bakal suka sama wanita hamil dan rambutnya acak-acakan kayak gini?" Renjani memutar bola matanya kesal, Kelana benar-benar tak masuk akal.
"Ada." Wajah Kelana mendadak serius.
"Siapa?" Renjani bertanya acuh.
"Serigala yang waktu itu bawain kamu brownies."
Renjani terdiam sejenak, kapan ia pernah bertemu serigala yang membawakannya brownies. Serigala macam apa yang membawa brownies.
"Sudahlah, jangan bahas serigala itu." Kelana beranjak membuat Renjani semakin bingung. Bukankah Kelana yang mulai duluan membahas serigala.
Renjani menyusul Kelana yang sudah keluar restoran lebih dulu setelah membayar sarapan mereka.
Taksi yang hendak membawa mereka berkeliling Venezia tidak seperti bayangan Renjani. Itu adalah taksi air. Jika gondola menggunakan tenaga dayung maka taksi dijalankan dengan mesin.
"Mau makan gelato." Renjani menunjuk sebuah cafe yang menjual gelato, beberapa orang tampak keluar dari sana dengan membawa gelato di tangan mereka.
"Kamu yakin, kamu bilang udah kenyang." Kelana khawatir Renjani akan muntah jika makan terlalu banyak.
"Yakin." Renjani mengangguk mantap.
"Baiklah." Kelana menarik Renjani menuju cafe tak jauh dari restoran tempat mereka sarapan barusan.
"Kamu mau juga nggak?" Renjani bingung melihat varian gelato yang berwarna-warni.
"Enggak, kamu aja." Kelana menunggu dengan sabar Renjani yang tengah memilih rasa gelato.
Renjani membaca tulisan yang terletak di setiap kotak gelato. Mulai dari Dark Chocolate, Coconut, Hazelnut, Almond, Vanilla Bean, Peach, Pistachio, Mint, Coffee, Banana dan masih banyak lagi.
Karyawan cafe menyodorkan sendok kecil pada Renjani, ia mempersilakan Renjani mencoba beberapa rasa sebelum membeli.
Setelah mencoba sekitar 5 varian rasa akhirnya Renjani memutuskan untuk membeli gelato coklat dicampur mint dengan topping biskuit di atasnya.
"Penjaga tokonya baik banget." Senyum Renjani bermekaran saat keluar dari sana.
"Kalau mencoba terlalu banyak, kamu akan bosan sebelum membeli." Kelana heran karena Renjani justru membeli gelato yang tidak ia coba.
"Hati-hati." Kelana memegang tangan Renjani saat hendak naik ke taksi.
Renjani duduk di bagian depan dengan sedangkan Kelana di belakangnya. Renjani menyodorkan gelato ke mulut Kelana.
Kelana menyambutnya dengan senang hati, meskipun rasanya sedikit aneh tapi ia tetap memakannya. Itu karena Kelana tidak suka rasa mint.
"Eh!" Renjani terkejut merasakan gerakan janinnya.
"Ada apa?" Kelana mencondongkan kepalanya ke depan.
"Kayaknya Nana bahagia naik perahu." Renjani nyengir, mereka memiliki panggilan baru untuk janin di dalam perut Renjani yakni Nana berasal dari kata Renjana.
"Nana bahagia deket Papa nya." Kelana mengusap perutnya Renjani dan sesekali menciumnya. Renjani terkekeh, orang yang bahagia dekat Kelana itu adalah dirinya, mungkin menular pada Nana.
Mereka terdiam menikmati pemandangan gedung-gedung tinggi di sepanjang jalan yang dilalui oleh perahu. Langit biru cerah tanpa awan membuat mereka betah berlama-lama berada disana.
"Kamu bahagia nggak?" Kelana bertanya ketika mereka sudah berada di menara lonceng melihat pemandangan seluruh kota Venezia. Dari atas sini mereka bisa melihat betapa kota itu sangat menawan dengan pemandangan lautnya.
Renjani tak segera menjawab, apakah Kelana tidak bisa melihat ekspresi kebahagiaan di wajahnya. Renjani lebih dari bahagia berada disini apalagi bersama Kelana.
"Bahagia banget." Jawab Renjani akhirnya.
"Aku pernah bilang tolong temani aku sampai aku bisa konser keliling dunia, kamu ingat?"
Renjani mengangguk, ia tak mungkin melupakan ucapan Kelana waktu itu.
"Aku ingin meralatnya."
Alis Renjani terangkat, apa maksud Kelana ingin meralatnya. Setelah mengajaknya pergi ke tempat seindah ini apakah Kelana akan mengajaknya berpisah. Tidak, tidak mungkin. Renjani sedang hamil dan mereka tidak bisa bercerai.
Renjani spontan melepaskan pegangan Kelana di tangannya dan mundur selangkah. Matanya memanas memikirkan kalimat Kelana selanjutnya.
"Aku ingin kamu menemaniku sampai konser ini berakhir, sampai anak kita lahir dan tumbuh dewasa, sampai kita menua bersama sampai rambut mu yang indah ini memutih, walaupun saat itu penglihatan ku mungkin sudah kabur tapi aku akan mengenang mu sebagai wanita paling cantik di hidupku."
Renjani tak bisa berkata-kata, pandangannya berkabut tapi bukan karena kesedihan. Renjani terlalu terharu dengan ucapan Kelana.
"Re, kamu bukan hanya istriku, kamu penguat ku disaat paling terpuruk dalam hidup aku, kita mengunjungi tempat-tempat indah yang bisa mengobati kerinduanku pada Mama, kamu akan segera menjadi Ibu dari anak-anak ku."
"Kamu bikin aku kaget." Renjani menghambur ke pelukan Kelana, ia pikir Kelana akan meninggalkannya di negara asing ini.
"Memangnya kamu pikir aku akan bilang apa?"
"Aku pikir kamu mau ninggalin aku."
"Aku nggak gila." Kelana mengusap air mata Renjani lalu kembali memeluknya.
******
Pergi berlibur selain mencoba makanan khas daerah tersebut, membeli beberapa kerajinan juga merupakan suatu hal yang harus dicoba. Pulau Murano tampak berbeda, jika tempat sebelumnya didominasi gedung berwarna putih maka bangunan di pulau tersebut memiliki beragam warna yang cerah memanjakan mata.
Seperti gedungnya yang berwarna-warni, pernak-pernik dari kaca juga memiliki warna beragam.
"Ini bagus dipajang di dapur." Renjani memilih satu gelas berwarna biru terang. Selain gelas dan piring terdapat pajangan berbentuk burung, bunga hingga lampu kristal.
Menurut Kelana gelas yang Renjani pegang akan kontras dengan interior apartemen mereka yang dominan putih. Begitupun dengan perabotan yang hampir semuanya berwarna putih. Kelana sangat memperhatikan desain interior apartemennya termasuk memilih barang.
"Ini lebih bagus." Kelana mengambil gelas bening.
"Biru cantik, kayak warna langit sekarang."
"Ya sudah, tapi jangan dipajang, letakkan di dalam kabinet dapur."
"Kenapa?"
"Warnanya kurang cocok."
"Ya udah kita beli yang ini." Renjani mengambil gelas bening di tangan Kelana. Karena selama ini Kelana lebih sering mengalah maka Renjani harus menekan egonya sesekali. Ini adalah hal sepele tapi Renjani tak mau mereka sering bertengkar setelah badai besar menimpa rumah tangganya.
Perjalanan hari ini berakhir di Piazza San Marco, mereka memilih salah satu cafe untuk makan malam. Sebenarnya kemarin mereka sudah berjalan-jalan di sekitar situ tapi Renjani ingin makan Pizza dan Spaghetti di pusat kota Venezia tersebut.
Setelah sampai di hotel Renjani langsung menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Ia kekenyangan dan benar-benar lelah setelah seharian menjelajahi Venezia.
"Bersih-bersih dulu yuk." Kelana menyentuh lengan Renjani.
"Capek!" Rengek Renjani, ia bahkan sudah tidak sanggup membuka mata.
"Kita seharian belum mandi lho Re."
"Besok pagi aja." Renjani menutup tubuhnya dengan selimut.
Kelana hanya geleng-geleng melihat Renjani, ia tak mau memaksa. Saat sebelum hamil, Kelana pasti akan menyeret Renjani dari tempat tidur dan menggendongnya ke kamar mandi. Namun sekarang Kelana tidak bisa melakukannya lagi.
Kelana melangkah ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelahnya Kelana tidak langsung tidur, ia membersihkan riasan Renjani lalu duduk di sofa sambil membuka laptop. Kelana mengecek persiapan panggung konsernya dengan menghubungi Adam melalui panggilan video.