Married by Accident

Married by Accident
C



Gedung pemberian Wira difungsikan sebagai studio balet sejak Faralyn serius menekuni hobi barunya yakni menari balet. Renjani tidak tahu dari mana Faralyn mengenal balet karena ia tak pernah menunjukkan gambar atau apapun tentang balet. Renjani juga tidak berpikir jika Faralyn akan tertarik pada balet. Tidak disangka Faralyn mahir dalam menari, sepertinya bakatnya memang menari khususnya balet yang merupakan tarian yang berasal dari Italia dan berkembang di Perancis pada tahun 1581. Darah seni mengalir di darah Faralyn dari Kelana dan Karalyn.


Bernama Renjana Dance Academy, sekolah balet tersebut berada di bawah naungan Wira Music dan telah memiliki 20 orang murid termasuk Faralyn.


Sepulang sekolah Faralyn biasanya langsung pergi ke studio balet bersama Renjani atau Kelana. Hari ini Renjani menemani Faralyn sedangkan Kelana memiliki jadwal padat hari ini Kelana memang jarang memiliki waktu senggang. Jadi Renjani sebisa mungkin menggunakan waktunya lebih banyak untuk bersama Faralyn. Renjani bisa bekerja sembari menunggu Faralyn selesai.


"Selamat siang Bu Rere." Mei-Guru ballerina Faralyn menyapa Renjani di depan pintu, ada beberapa anak yang sudah hadir lebih dulu di dalam.


"Siang Kak Mei, maaf Fara telat." Renjani tidak enak karena datang terlambat, itu karena ia telat menjemput Faralyn di sekolah tadi. Jika Kelana tahu pasti ia akan mengomel pada Renjani.


"Tidak apa-apa Bu, kami belum mulai." Mei membimbing Faralyn ke ruang ganti untuk segera mengenakan baju balet nya.


Biasanya mereka akan latihan tiga kali dalam seminggu tapi karena bulan depan ada pementasan, latihan menjadi lebih sering.


Renjani memotret Faralyn setelah anak itu berganti pakaian balet berwarna merah muda lengkap dengan sepatunya. Faralyn tampak menggemaskan dengan pakaian tersebut. Renjani mengirimkan foto tersebut pada Kelana, ia bisa membayangkan bagaimana ekspresi Kelana begitu melihat foto tersebut. Renjani yakin Kelana tidak akan tahan untuk pulang cepat setelah melihat foto Faralyn yang begituan menggemaskan. Renjani punya senjata ampuh untuk membuat Kelana pulang cepat. Sejauh ini mengirim foto-foto Faralyn selalu berhasil membuat Kelana kembali ke apartemen lebih cepat.



Renjani ingat betapa dulu Kelana tidak ingin memiliki anak dan menolak kandungannya. Namun setelah Faralyn lahir, Kelana langsung jatuh cinta pada sang buah hati. Kelana selalu mengatakan ia sangat bahagia karena memiliki dua Renjani di dunia ini. Itu karena Faralyn sangat mirip Renjani.


Latihan dimulai setelah semua murid hadir, Renjani memperhatikan mereka bersama tiga mama lain yang juga mengantar anak-anak kesini.


Renjani bangga melihat gerakan gemulai Faralyn, untungnya Faralyn menurun pada Kelana yang menyukai musik dan tarian. Jika menurunkan sifat Renjani, mungkin Faralyn hanya akan tinggal di perpustakaan seharian tanpa melakukan hal lain.


Sejak bayi Kelana membiasakan Faralyn mendengarkan musik dari piano atau violin yang ia mainkan. Kelana seolah sudah mencetak Faralyn menjadi seniman setelah besar nanti. Namun ternyata Faralyn lebih menyukai balet tapi Kelana tetap bangga pada sang buah hati.


"Semoga pementasan nanti berjalan dengan baik ya Mom." Kata salah seorang mama yang duduk di dekat Renjani.


"Iya, mereka sudah bekerja keras untuk pementasan tersebut." Balas Renjani, mereka sudah mengobrol sejak latihan dimulai. Pembahasan ngalor ngidul yang kadang tidak Renjani mengerti, ia hanya ikut-ikutan nimbrung sesekali.


"Katanya violinis di acara itu dari luar negeri loh Mom."


"Padahal disini ada violinis terkenal juga, Papa nya Fara."


"Kenapa mereka nggak undang Pak Kelana Mom?"


Itu karena Papa nya Fara harus ada di bangku penonton untuk melihat penampilan pertama anaknya.


"Pasti violinis luar negeri itu jauh lebih bagus dibandingkan Kelana Mom." Apakah mereka berpikir Kelana satu-satunya violinis di dunia. Tentu ada banyak violinis luar biasa lainnya di berbagai penjuru dunia.


"Ehh!" Beberapa orang memekik melihat Faralyn terjatuh mengenai lantai hingga menimbulkan suara keras.


Renjani langsung beranjak menghampiri Faralyn. Menari balet itu tidak mudah, sebelumnya Faralyn juga beberapa kali terjatuh tapi ia tak pernah menyerah. Renjani ingin sekali meminta Faralyn melakukan hal lain tapi Kelana selalu mengatakan bahwa semua orang harus terjatuh untuk mencapai kesuksesan.


"Apanya yang sakit?" Renjani membantu Faralyn bangun. Ia mengusap keringat yang membasahi wajah Faralyn.


Faralyn hanya menggeleng, ia merapikan anak rambut yang menghalangi pandangannya lalu berdiri tegap, ia siap berlatih lagi padahal orang-orang di sekitar masih mengkhawatirkan keadaannya.


"Kamu okay sayang?"


"Aku nggak apa-apa Bu." Kata Faralyn yakin.


"Fara yakin?" Tanya pelatih sekali lagi pada Faralyn, "kita bisa istirahat dulu, ayo." Ia mengajak semuanya duduk untuk beristirahat sebentar.


Renjani sedikit mendongak, tanpa terasa air mata meleleh di pipinya melihat semangat Faralyn yang tidak pernah padam. Renjani terharu melihat sang buah hati sudah tumbuh besar dan tidak cengeng lagi. Renjani sudah bangga bahkan sebelum menyaksikan penampilan Faralyn di atas panggung.


******


"Kita mau kemana Bu?" Faralyn melihat ibunya melalui pantulan cermin, Renjani tengah menguncir rambutnya menjadi dua di kanan dan kiri.


"Mau ketemu Oma." Renjani dan Kelana akan membawa Faralyn ke makam Karalyn di Bandung untuk pertama kalinya.


"Oma?" Faralyn tampak berpikir, kemarin mereka baru saja bertemu dengan opa dan oma nya setelah latihan balet.


"Oma Karalyn."


"Mama nya Papa?" Faralyn ingat Renjani pernah bercerita soal oma nya yang sudah meninggal. Oma yang namanya mirip dengan Faralyn.


"Iya betul sayang." Renjani selesai menguncir rambut Faralyn, kini giliran dirinya merias wajah. "Udah siap, Fara tunggu di depan dulu ya."


Faralyn menurut, ia keluar kamar menuju ruang tengah dan menyalakan televisi sembari menunggu mama nya bersiap-siap.


Sementara itu Kelana memasukkan berbagai makanan ringan untuk Faralyn selama perjalanan agar tidak bosan. Sebenarnya tak hanya untuk Faralyn karena Renjani juga suka makan.


"Itu Papa ya?" Faralyn menunjuk layar televisi yang menayangkan penampilan Kelana di panggung. Itu adalah tayangan ulang acara award di salah satu stasiun televisi.


Kelana memasukkan camilan terakhir ke dalam tas sebelum ikut melihat layar televisi.


"Iya." Jawab Kelana. "Gimana penampilan Papa?"


"Papa selalu luar biasa."


Kelana terkekeh, Faralyn memang pandai memuji orang lain.


"Kamu malu nggak punya Papa yang dikenal banyak orang, setiap keluar kita selalu dikerubungi wartawan bahkan di sekolah ada yang foto kamu diam-diam."


Faralyn terdiam mencerna kalimat Kelana, dulu ia selalu menangis ketika banyak wartawan mengerubunginya. Faralyn akan bersembunyi di pelukan sang ibu. Namun sekarang sepertinya ia sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu.


"Kadang takut kalau tiba-tiba ada yang ajak foto tapi aku nggak malu, Papa kan hebat."


Kelana tersenyum bangga mendengar jawaban Faralyn. Sekarang Kelana selalu mengatakan pada wartawan untuk tidak mengambil foto Faralyn diam-diam karena itu membuatnya takut. Namun ada saja wartawan yang akan mengambil foto Faralyn lalu mengunggahnya di media sosial.


"Maafin Papa karena kamu nggak bisa seperti anak lain."


"Pa, Ibu selalu bilang aku harus bangga karena punya Papa terkenal jadi Papa nggak perlu minta maaf."


"Ibu."


"Kalau gitu Papa harus berterimakasih sama Ibu."


Renjani keluar setelah selesai bersiap, ia hanya menggunakan celana jeans dan sweater putih senada dengan baju Faralyn.


"Kamu terlihat seperti gadis dengan topi itu." Kelana mengomentari penampilan Renjani, topi biru yang bertengger di kepala Renjani sangat cocok dengan penampilannya hari ini.


"Bagus dong." Renjani mengerlingkan mata menggoda Kelana.


"Perutmu masih kosong?" Kelana meraba perut langsing Renjani.


"Kan udah sarapan tadi."


"Maksudku anak kedua kita." Kelana merendahkan suaranya, mereka sedang menjalankan program kehamilan tapi tidak ingin memberitahu Faralyn terlalu cepat.


"Kayaknya aku telat tapi belum tes." Renjani berbisik.


"Ayo berangkat!" Faralyn sudah berjalan mendahului papa dan ibunya, ia menenteng tas camilan tidak sabar hendak pergi.


"Jalan duluan sayang." Seru Kelana. "Kita akan menginap satu malam di Bandung, siapa tahu berhasil."


"Berhasil apa?"


"Berhasil bikin adik untuk Fara."


Renjani tertawa, kenapa buru-buru sekali ingin memiliki anak kedua. Dulu saja Kelana enggan punya anak.


******


Setiap mengunjungi Bandung, Kelana pasti menyempatkan diri untuk datang ke makam mama nya dengan atau tanpa Renjani. Kelana selalu menceritakan kehidupannya saat ini meskipun belum tentu Karalyn bisa mendengarnya. Itu adalah cara Kelana mengobati rasa rindunya yang tidak berujung.


"Itu makam Oma." Renjani menuntun tangan Faralyn melangkah menuju pusara Karalyn yang selalu bersih dan terawat. "Yang fotonya sering Ibu tunjukin."


"Oma ini aku," Fara menyentuh batu nisan Karalyn. "Faralyn, Ibu bilang nama ku terinspirasi dari nama Oma."


"Berdoa dulu untuk Oma yuk."


Faralyn mengikuti ibu dan papa nya mengangkat tangan lalu memanjatkan doa. Faralyn berdoa agar oma nya mendapat tempat tidur yang nyaman di bawah sana.


Meskipun sering kesini tapi kerinduan Kelana pada sang mama tidak berkurang sedikitpun. Dahulu seperti ada rongga besar di dada Kelana setelah kehilangan Karalyn tapi semenjak kedatangan Renjani, rongga tersebut perlahan tertutup. Renjani menutupnya dengan sempurna menyembuhkan luka Kelana.


"Papa jangan sedih." Faralyn mengusap punggung papa nya.


"Papa udah nggak sedih kok." Kelana tersenyum untuk membuktikan bahwa ia tidak sedang sedih sekarang. "Ada Ibu, ada kamu jadi Papa nggak akan sedih lagi."


Mereka menabur kelopak mawar di atas pusara Karalyn hingga tanahnya tidak terlihat.


"Terimakasih." Ucap Kelana pada Renjani ketika mereka telah berada di dalam mobil. Mereka akan menginap satu malam di Bandung.


"Untuk apa?" Renjani bingung karena Kelana tiba-tiba berterimakasih.


"Terimakasih sudah menjadi istriku."


"Apa untungnya punya istri kayak aku?"


"Cantik dan doyan makan."


Renjani mendelik, jadi hanya itu keunggulan yang ia punya.


"Bukan hanya itu, kamu juga punya perusahaan besar yang terkenal."


Saat ini Asmara Publishing menjadi perusahaan penerbit paling populer di Indonesia mengejar perusahaan lain yang lebih dulu berada di dunia percetakan.


Renjani terkekeh, jika bukan karena Kelana, ia hanya cewek lulusan analis kesehatan yang nyasar ke perpustakaan.


"Jadi kamu bisa menafkahi keluarga juga." Canda Kelana.


"Di antara kita, yang harusnya berterimakasih itu aku, terimakasih sudah bersama-sama dengan ku meraih mimpi-mimpi yang bahkan dulu terasa mustahil."


"Misalnya?"


"Misalnya punya suami artis."


"Itu mimpi kamu?"


"Enggak, bercanda." Renjani mengibaskan tangannya, ia tak pernah punya mimpi seperti itu.


"Jadi kamu sudah mengincar ku dari awal?" Kelana menyipitkan matanya.


"Bercanda ih!" Renjani memukul lengan Kelana, tentu saja ia tidak serius soal itu.


"Tapi dulu kamu sering diam-diam lihat aku." Kelana bukannya tidak tahu jika dulu Renjani sering memperhatikannya di perpustakaan. Sebenarnya bukan hanya Renjani, sebagian besar cewek-cewek di Edelweiss memang suka curi-curi pandang pada Kelana.


"Itu karena kamu ganteng, normal kalau aku lihatin terus tapi bukan berarti aku ngincer kamu buat jadi suami."


"Bu, Pa, stop!" Faralyn tidak tahu apa yang diperdebatkan oleh papa dan ibunya tapi ia berusaha menghentikan mereka.


"Maaf sayang." Kata Renjani dan Kelana berbarengan.