Married by Accident

Married by Accident
XXXIII



Setelah lebih dari satu bulan akhirnya gips di kaki Renjani bisa dilepas. Walaupun masih harus berjalan dengan tongkat tapi Renjani lega karena gips seberat 5 kilogram itu akhirnya terlepas dari kakinya.


Renjani sudah tidak sabar memulai pekerjannya menerbitkan buku. Renjani sudah membuat daftar penulis yang akan ia beri tawaran untuk menerbitkan karya mereka. Renjani juga sudah membuat akun media sosial untuk Asmara Publishing. Ada dua naskah novel yang sudah masuk ke email tapi Renjani merasa itu tidak cocok dengan novel yang ia inginkan untuk diterbitkan.


"Kenapa kamu menamai Asmara Publishing?" Kelana melihat papan di atas gedung penerbit Renjani bertuliskan Asmara Publishing. "Apa kamu cuma menerbitkan buku yang bertema asmara?"


Renjani mendengus, "kamu lupa namaku Asmara Renjani?"


"Ah, benar, kok aku bisa lupa." Kelana mengacak-acak rambutnya.


"Karena di kepala kamu cuma ada nama Elara Adaline." Semprot Renjani seraya pergi dari sana, meski langkahnya tertatih tapi ia sudah cukup terbiasa menggunakan tongkat.


"Kok jadi bahas Elara?" Kelana menyusul Renjani, ia membantu mendorong pintu kaca melihat Renjani sulit melakukannya karena harus memegang tongkat.


Renjani tidak menanggapi pertanyaan Kelana, ia tak mau menyebutkan nama Elara lagi.


"Kamu cemburu sama Lara?" Kelana memegang bahu Renjani dan menatapnya.


Renjani spontan menahan napas, bahkan untuk merasa cemburu pun ia tak berhak. Elara mengisi seluruh ruang di hati Kelana. Renjani hanya butiran debu yang menempel di dinding hati Kelana, sekali hempas ia akan hilang.


"Lagi pula kamu istriku." Pandangan Kelana mengarah pada bibir ranum Renjani yang mengkilap karena liptint yang dipakainya.


"Lalu?"


"Kamu nggak seharusnya cemburu sama orang yang bahkan nggak ada disini."


"Dia disini." Renjani menunjuk dada Kelana, Elara sudah telanjur mengenakan di dalam sana.


Kelana mendekat mengikis jarak di antara mereka. Namun sebelum Kelana berhasil menyambar bibir Renjani, mereka dikejutkan oleh suara ketukan pintu di depan sana.


Renjani langsung merosot dan sedikit mendorong Kelana lalu melangkah ke arah pintu. Hampir saja mereka melakukan hal yang tidak pantas di kantor ini.


"Permisi Kak, saya Manda."


"Oh Manda yang waktu itu kirim email ya?" Renjani mengajak gadis berusia 20 tahunan itu masuk. "Saya sudah baca CV kamu." Renjani duduk di salah satu kursi disana bersiap mewawancarai Manda.


"Loh!" Manda terkejut melihat Kelana berada disitu, ia bahkan mengucek matanya beberapa kali tak percaya jika ia bisa bertemu violinist terkenal disini.


Renjani yang hendak menjatuhkan bokongnyaa di atas kursi spontan kembali berdiri. Rupanya Manda tidak tahu sebelumnya jika perusahaan itu milik Renjani istri Kelana.


Manda melihat Renjani dan Kelana bergantian, "jadi Kakak ini Renjani istrinya Kelana Radiaksa?" Ia masih melongo di tempatnya berdiri.


"Iya." Renjani mengangguk. "Saya lupa mengenalkan diri, saya Asmara Renjani." Ia mengulurkan tangan pada Manda.


"Ya ampun Kak Renjani, saya nggak nyangka bisa ketemu artis disini."


Renjani terkekeh, ia juga tak menyangka bisa menjadi istri artis.


"Pulang gih, aku mau wawancara Manda dulu." Pinta Renjani pada Kelana, keberadaannya disini hanya akan membuat calon pegawainya salah fokus.


"Aku mau menemani kamu disini." Kelana mengambil posisi duduk di kursi yang hendak Renjani tempati barusan. Kelana tak mau jika sampai Renjani salah memilih pegawai untuk perusahaan ini. Renjani si wanita polos itu mungkin akan menerima siapapun yang mendaftar tanpa melakukan seleksi terlebih dahulu.


"Mari duduk." Ajak Renjani.


Manda masih tak bisa mengalihkan pandangan dari Kelana, jika ada kesempatan ia akan meminta Kelana foto bersama.


"Silakan perkenalkan diri kamu." Renjani duduk di samping Kelana berhadapan dengan Manda.


"Perkenalkan saya Amanda Pamela, fresh graduate dari UMB yang suka sekali baca buku, saat kuliah saya pernah menjabat sebagai editor utama di komunitas jurnalistik."


"Jadi kamu menginginkan posisi editor disini?"


"Posisi apapun saya siap."


"Kenapa kamu berminat bergabung dengan Asmara Publishing padahal ini perusahaan baru?"


"Itu alasannya saya sulit beradaptasi dengan orang lain jadi jika melamar di perusahaan baru maka saya akan memiliki rekan kerja yang lebih sedikit."


"Karena ini perusahaan baru, saya akan merangkap jadi pimpinan redaksi sekaligus editor,kamu akan menempati posisi sebagai redaktur pelaksana dan editor, bagaimana?"


"Saya mau." Manda mengangguk semangat.


"Selamat bergabung dengan Asmara Publishing." Renjani menjabat tangan Manda.


"Terimakasih Kak eh Bu Renjani."


"Kakak aja."


"Terimakasih Kak Renjani." Manda tersenyum lebar, matanya berbinar-binar tidak sabar ingin bekerja disini. "Kalau boleh, saya izin berfoto dengan Kak Kelana." Lirihnya. Manda sangat mengidolakan Kelana, ini adalah mimpinya bertemu langsung dengan Kelana. Selama ini ia ingin datang ke konser Kelana tapi tak pernah punya uang lebih.


"Mau nggak?" Renjani bertanya pada Kelana.


"Boleh." Kelana beranjak dari duduknya disusul Manda.


Renjani mengambil foto Kelana dan Manda beberapa kali. Manda tampak gembira karena dua mimpinya tercapai sekaligus.


"Terimakasih Kak Renjani, Kak Kelana." Manda pamit undur diri dari sana dengan perasaan berbunga-bunga.


"Kamu langsung terima dia?" Tanya Kelana setelah Manda tidak terlihat.


"Ya, aku suka dia."


"Kenapa? karena dia suka baca seperti mu?"


"Aku suka aja, nggak ada alasan." Renjani mengedikkan bahu. Ia masih ada tiga wawancara lainnya hari ini.


Kelana tetap mendampingi Renjani di gedung itu. Ada dua calon pegawai laki-laki dan satu perempuan yang sudah Renjani tentukan posisinya. Setelah ini Renjani bisa mulai menghubungi penulis.


*******


Suara klakson bersahut-sahutan di tengah kemacetan sore itu. Renjani duduk gelisah di kursi penumpang, sesekali ia melirik Kelana yang juga mulai tidak sabar menghadapi kemacetan ini. Kelana biasa duduk di belakang, Yana atau Dayat yang akan menyetir untuknya. Namun kali ini Kelana harus menyetir sehingga ia tak bisa bersabar.


"Sorry ya, harusnya aku minta antar Pak Dayat aja tadi." Renjani merasa tidak enak pada Kelana. Ia sudah membuat Kelana menemaninya seharian ini bahkan mereka masih harus pergi ke percetakan untuk menemui papa Renjani.


Renjani ingin mengetahui biaya cetak di perusahaan tempat papa nya bekerja. Ia ingin mempersiapkan semuanya dengan matang.


"Kita belum makan siang."


"Kamu makan roti aja dulu." Kelana merogoh dashboard mencari makanan disana, biasanya Yana meletakkan makanan ringan dan roti di dalam dashboard. Kelana menemukan sebungkus Whoppie Pie, itu adalah roti kesukaannya tapi ia harus merelakannya untuk Renjani.


"Buat kamu aja, aku nggak laper kok." Renjani menolak dengan terpaksa padahal perutnya keroncongan dari tadi, ia berharap Kelana tidak mendengarnya.


"Nggak mungkin, kamu bahkan makan empat kali sehari sedangkan hari ini kamu baru makan satu kali."


Renjani segera menyambar roti dengan isian marshmallow tersebut dari tangan Kelana. Apakah Kelana tidak bisa pura-pura tak tahu jika Renjani makan empat kali sehari. Renjani tak bisa jaga image di depan Kelana.


Sebungkus roti doang mana cukup!


Renjani membagi roti itu menjadi dua bagian, ia memberikan bagian yang lebih besar pada Kelana.


"Enak banget." Gumam Kelana tidak terlalu jelas karena mulutnya penuh dengan roti.


"Pantes kamu nggak mau roti yang di pinggir jalan itu, ternyata kamu biasa makan yang kayak gini." Renjani memakannya pelan-pelan karena tak rela jika roti lembut itu cepat habis.


Renjani meneguk air mineral yang juga ada di dashboard, lumayan untuk mengganjal perutnya paling tidak sampai mereka sampai di tempat percetakan.


"Minum." Kelana menengadah tangan pada Renjani.


"Ini bekas aku."


"Memangnya kenapa, kita bahkan sudah sering berciuman." Kelana mengambil air mineral itu lalu meneguknya hingga habis.


Renjani mendelik, Kelana mengucapkan kalimat sensitif tersebut dengan santai seolah-olah mereka memang sering melakukan itu. Padahal menurut Renjani itu masih bisa dihitung dengan jari—jari tangan dan kaki mereka.


"Putar lagu ya biar nggak terlalu suntuk." Renjani memutar lagu untuk mengurangi rasa canggungnya. "Ini lagu kamu?" Tanyanya ketika alunan violin terdengar dengan irama santai dan menyenangkan.


"Iya." Wajah Kelana berubah muram mendengar instrumen lagu tersebut. Setiap kali mendengarnya Kelana akan teringat kembali pada alasan mengapa ia membuat lagu itu.


"Kok aku nggak pernah denger?"


"Itu lagu pertama ku yang udah ditarik kembali." Kelana memutuskan untuk menarik lagu tersebut setelah Elara pergi.


"Kenapa? lagunya bagus kok, nggak kayak kebanyakan lagu kamu yang sedih dan galau, apa judulnya?"


"Jupiter."


"Kenapa Jupiter?"


"Jupiter itu planet yang dikelilingi 79 satelit dan salah satunya bernama Elara." Saat membuat lagu tersebut Kelana berharap Elara selalu berada di dekatnya seperti halnya satelit Elara yang senantiasa mengelilingi Jupiter.


"Oh." Wajah Renjani berubah masam mendengar jawaban Kelana. Harusnya ia tidak bertanya tentang hal itu.


Renjani menyandarkan kepalanya pada jendela dan memejamkan mata. Minum setengah botol air dan mendengarkan musik membuatnya ngantuk.


Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu setengah jam itu jadi lebih lama karena kepadatan kendaraan.


Mobil Kelana akhirnya berhenti di depan tempat percetakan. Kelana melirik Renjani yang masih tertidur, ia tidak tega membangunkannya. Namun mereka harus bergegas sebelum tempat itu tutup.


"Re, kita sudah sampai." Kelana mengusap rambut Renjani yang sedikit berantakan lalu menyisipkan di belakang telinga. "Rere." Ia mengecup pelipis Renjani, cara itu selalu berhasil untuk membangunkan Renjani.


Benar saja, tak sampai tiga detik kemudian Renjani membuka mata terkejut merasakan kecupan di pelipisnya.


"Kita sudah sampai."


Renjani melihat sekeliling sebelum membuka pintu dan keluar dari mobil mendahului Kelana.


"Kamu udah telepon Papa?" Kelana menyusul Renjani.


Renjani menempelkan ponsel di telinganya untuk memberitahu papa nya bahwa ia sudah sampai.


"Itu Papa." Renjani menunjuk ke arah seorang pria yang berdiri di depan pintu masuk.


Aji terkejut melihat Renjani melangkah menggunakan tongkat, ia setengah berlari menghampiri Renjani dengan pandangan khawatir.


"Kamu kenapa?"


"Nggak apa-apa Pa, habis jatuh dari tangga." Dusta Renjani, ia tak mau membuat papa nya khawatir lagi pula kakinya sudah jauh lebih baik.


"Maaf Pa, harusnya saya menjaga Renjani lebih baik." Ucap Kelana.


"Papa tenang aja, aku udah sembuh." Renjani beruntung karena papa nya tak pernah menonton TV ataupun bermain media sosial sehingga berita kecelakaannya tak sampai ke telinga papa nya.


"Ayo duduk." Aji mengajak Renjani dan Kelana masuk.


Mereka bertemu dengan salah seorang yang bertanggungjawab terhadap percetakan tersebut. Renjani bertanya soal kisaran harga cetak dan lamanya waktu untuk mencetak buku. Dengan begitu Renjani sudah memiliki pertimbangan mengenai biaya produk yang disesuaikan dengan harga buku. Kelana siap memberikan bantuan finansial pada Renjani. Ia sudah berjanji untuk mewujudkan impian Renjani memiliki perusahaan penerbit. Kelana juga akan selalu mendampingi Renjani dan memberi motivasi.


"Siapa penulis yang akan kamu hubungi?" Tanya Kelana setelah mereka berada di mobil dalam perjalanan pulang.


"Maia."


"Maia?"


"Maia itu crew TV yang kita pernah datang ke acara talk show nya."


Saat tahu Maia adalah penulis novel yang sering Renjani baca karyanya, Renjani langsung berpikir Meet Sunshine akan menjadi novel pertama yang akan diterbitkan oleh Asmara Publishing.


"Kok kamu nggak cerita sebelumnya?"


"Karena masih abu-abu, setelah lebih jelas aku baru bisa cerita."


Kelana menggeleng, "kalau aku nggak tanya mungkin kamu nggak akan ngasih tahu aku."


Renjani terdiam, ia belum terbiasa memberitahu Kelana segalanya. Itu karena Kelana juga masih penuh rahasia bagi Renjani.


"Kamu harus cerita entah itu abu-abu atau bahkan putih, kamu harus cerita sama aku."


Jika Renjani melakukan itu, perpisahan mereka akan terasa semakin berat karena Kelana akan mengetahui segala hal tentangnya.