Married by Accident

Married by Accident
XLVIII



Tumpukan novel bersampul jingga dengan gambar bunga matahari tertata rapi di atas meja. Setelah melalui proses yang panjang akhirnya Meet Sunshine hadir dalam versi cetak dengan sampul yang amat cantik hasil karya Jeno sang ilustrator berbakat Asmara Publishing.


Renjani tidak salah menerima Jeno dan tim nya yang lain. Mereka bisa bekerja sama untuk Asmara Publishing yang masih sangat baru.


Ada empat puluh buku yang telah dicetak dan akan dikirimkan kepada 35 orang yang telah melakukan pre order. Sisanya diberikan kepada Maia yang merupakan penulis Meet Sunshine. Sedangkan Renjani menyimpan satu buku cetakan pertama tersebut sebagai dokumentasi. Meskipun hanya sedikit yang melakukan pre order Meet Sunshine tapi Renjani sudah merasa senang dengan pencapaian tersebut. Renjani tidak boleh patah semangat demi semua tim yang telah bekerja keras demi novel tersebut.


"Kita semua sudah bekerja keras, beri tepuk tangan untuk diri kita sendiri." Renjani berseru setelah selesai membungkus semua novel bersama semua tim nya. Novel tersebut siap dikirim kepada pemesannya hari ini.


"Semangat semuanya!" Eve juga berseru memberi semangat.


"Semangat!" Manda, Jeno, Ervin dan Fatan menyahut sambil mengangkat tangan mereka.


"Maaf dan terimakasih karena kalian harus tetap bekerja di akhir pekan, saya sudah kirim gaji kalian ke rekening masing-masing." Renjani tersenyum lebar mengedarkan pandangan pada mereka semua.


"Wah, makasih Mbak." Eve langsung memeriksa ponselnya untuk mengecek gaji pertamanya.


Satu bulan telah mereka lalui dengan tidak mudah karena Renjani belum memiliki pengalaman soal mengelola perusahaan. Namun berkat kerja sama semua tim mereka bisa mencetak novel pertama.


"Saya, Jeno dan Ervin akan memindahkan bukunya ke bawah, kurir sudah menunggu di depan." Ujar Fatan.


"Oke." Renjani bergegas membereskan alat packing bersama Manda dan Eve.


Tim laki-laki memindahkan novel yang sudah dikemas ke lantai satu.


"Gimana kalau kita makan bareng Mbak, kita belum pernah makan malam bareng di luar." Eve memberi usul, mereka sudah sering makan bersama di kantor tapi belum pernah makan di luar. "Hitung-hitung perayaaan satu bulan Asmara Publishing."


"Kita tanya yang lain dulu mereka bisa apa nggak." Renjani setuju jika mereka ingin makan bersama. Ia selalu punya waktu senggang untuk makan.


"Aku tanya anak cowok dulu." Manda turun ke lantai satu menghampiri Ervin, Fatan dan Jeno.


Renjani membereskan barang-barangnya dan ikut turun ke lantai satu begitupun dengan Manda.


"Mereka setuju." Seru Manda saat melihat Renjani dan Eve menuruni tangga.


"Kalian nggak ada rencana keluar sama pacar?" Renjani melihat karyawannya bergantian. Biasanya anak-anak muda seperti mereka menunggu akhir pekan untuk kencan.


"Kebetulan nggak ada Mbak." Jawab mereka.


"Apa semua yang disini belum punya pacar?"


Mereka saling berpandangan enggan menjawab pertanyaan Renjani lebih dulu.


"Belum ssih." Manda menjawab lebih dulu lalu melihat Eve agar ikut menjawab pertanyaan Renjani.


"Saya juga belum punya." Jawab Eve.


"Kami bertiga juga belum punya pacar jadi kami bisa pergi kapanpun." Jeno mewakili tim laki-laki menjawab.


"Oke kalau gitu kita bisa pergi bersama." Renjani menyalakan ponselnya mencari restoran yang bisa mereka datangi.


"Eh Mbak Rere ajak Mas Kelana nggak?" Manda mendekat, ia ingin sekali bertemu dengan Kelana. Bekerja di Asmara Publishing membuatnya memiliki peluang besar untuk bertemu Kelana.


"Aku tanya dulu dia bisa apa nggak." Renjani mendial nomor telepon Kelana, ia hendak menempelkan ponsel tersebut di telinganya tapi ia lebih dulu melihat mobil Kelana berhenti di depan sana.


Renjani menurunkan ponselnya melangkah keluar kantor. Ia melihat Kelana menurunkan kaca jendela mobil dan melambaikan tangan.


"Udah selesai?" Tanya Kelana.


"Udah, anak-anak ngajak makan bareng, kamu pulang aja duluan." Tadinya Renjani ingin mengajak Kelana makan sekalian tapi wajah Kelana tampak begitu lelah hingga ia tidak tega untuk mengajaknya.


"Ya udah aku ikut." Kelana tidak mungkin membiarkan Renjani keluar tanpanya, terakhir melakukan itu Renjani mengalami kecelakaan. Kelana tak mau kejadian seperti itu terjadi lagi.


"Tapi kamu kelihatan capek, nggak apa-apa nanti aku pulangnya naik taksi, sekarang aku bisa bonceng Fatan." Renjani bisa numpang motor Fatan yang kosong.


"Aku juga belum makan."


"Beneran nggak apa-apa?"


"Kalian sudah menentukan restorannya?"


"Belum sih."


"Biar Yana yang pilih restorannya, dia jago soal itu."


Kelana terkekeh, apakah Renjani lupa kalau ia adalah istri seorang Kelana. Mengapa Renjani merisaukan soal uang.


"Semuanya, ayo pergi, saya yang akan pilih restorannya!" Seru Kelana pada karyawan Renjani yang menunggu di depan gedung.


Mereka tersenyum lebar mendengar perkataan Kelana. Mereka segera berkemas dan menuju tempat parkir siap untuk pergi. Mereka sudah mencium aroma traktiran sejak mobil Kelana berhenti di depan kantor.


Kelana meminta Yana untuk reservasi restoran steak yang biasa mereka datangi. Kelana harus memilih restoran tertutup sehingga ia tak perlu khawatir jika bertemu dengan banyak orang. Itu juga bisa mengganggu teman-teman Renjani.


"Ini buat kamu." Renjani memberikan satu novel Meet Sunshine pada Kelana. "Terserah mau dibaca apa enggak tapi aku harus kasih buat kamu, walau bagaimanapun kamu yang sudah mewujudkan ini semua, terimakasih Kelana Radiaksa."


Sudut bibir Kelana terangkat dengan sendirinya mendengar Renjani menyebutkan nama lengkapnya.


"Walaupun cerita romantis bukan genre yang aku suka tapi aku akan membacanya sampai habis." Kelana bisa memberikan kritik dan saran pada Renjani setelah membacanya.


"Nggak usah dipaksain." Renjani tak meminta Kelana membacanya, itu sebagai rasa terimakasih karena Kelana telah memberinya fasilitas untuk mewujudkan perusahaan impiannya. "Tangan kamu kenapa?" Renjani mengangkat tangan Kelana yang terlihat kebiruan.


"Nggak sengaja kejatuhan violin, udah dikompres air dingin tadi."


"Pasti sakit banget, nanti sampai apartemen dikompres lagi." Renjani melepas tangan Kelana dengan hati-hati. "Kamu harus hati-hati, tangan kamu berharga."


Ucapan Renjani membuat Kelana tak bisa menahan senyumnya. Ini pertama kalinya ada yang mengkhawatirkan Kelana selain Yana. Dada Kelana terasa hangat dan nyaman. Ia nyaman bersama Renjani.


"Jangan sampai sakit."


"Aku lagi latihan untuk menghadiri undangan IYMC, itu kompetisi musik internasional yang diadakan di Atlanta."


"Kamu violinis yang hebat, kenapa harus latihan sekeras itu?"


"Saat usia 16 tahun aku menjadi peserta IYMC tapi nggak berhasil jadi juara karena saingan ku lulusan sekolah bergengsi kayak Juilliard dan Berkle."


"Wajar banget kamu masih muda waktu itu."


"Akhirnya kali ini aku dapat kesempatan menjadi tamu undangan, aku harus menunjukkan penampilan terbaik ku, kan nggak lucu kalau pesertanya justru lebih bagus dari aku."


"Iya tapi jangan kayak gini lagi." Renjani menempelkan kaleng softdrink yang ia bawa dari kantor ke punggung tangan Kelana. Ia yakin pasti rasanya nyeri dan berdenyut-denyut, terlihat dari warnanya yang membiru. "Nama kamu udah terdaftar jadi violinist terkenal di dunia, jangan terlalu khawatir."


"Iya." Kelana menyandarkan kepalanya ke lengan Renjani, ia ingin tidur sebentar sebelum sampai di restoran.


Renjani melirik Kelana, ia mengusap kepala Kelana pelan-pelan. Renjani tidak kuasa melihat Kelana seperti ini. Sebelumnya Renjani berpikir kehidupan publik figur yang penuh kemewahan itu sangat menyenangkan. Namun setelah tahu Kelana harus bekerja keras untuk mencapai ini semua, Renjani merasa lebih baik tidak jadi publik figur. Bahkan mereka harus tetap tersenyum di depan kamera meski kelelahan atau sakit.


"Hidup itu kejam ya?" Lirih Renjani, Kelana tak banyak berbeda darinya. Mereka sama-sama menjalani kehidupan yang keras dan penuh tangis. "Kamu nggak perlu takut, ada aku, walaupun aku nggak bisa apa-apa tapi seenggaknya aku bisa obatin dan pijitin bahu kamu."


Renjani tak bisa membayangkan betapa menyedihkan hidup Kelana selama ini. Tak ada keluarga yang mendukung dan mempedulikan keadaannya. Hanya Yana yang mengurus Kelana tapi tentu itu berbeda dengan dukungan batin yang biasanya diberikan oleh keluarga.


Langit sudah gelap ketika mereka sampai di restoran. Seorang waitress mengarahkan mereka memasuki ruangan yang sudah disiapkan.


Karyawan Renjani tidak bersuara sejak mereka memasuki restoran. Mereka tak menyangka jika Kelana akan mengajak makan di restoran mewah seperti ini. Bahkan membayangkannya saja mereka tidak pernah.


Salah satu waiters membakar daging langsung di depan mereka, itu seperti pertunjukan yang menjadi ciri khas restoran tersebut. Biasanya Kelana memesan steak yang sudah siap dimakan tapi karena kali ini ia mengajak teman-teman Renjani, proses memanggang daging menjadi hiburan tersendiri.


"Silakan Pak Kelana." Waiters tersebut meletakkan potongan daging tipis yang sudah matang di piring Kelana.


"Berikan pada istri saya lebih dulu." Kelana menunjuk piring Renjani, ia tahu sejak sampai Renjani sudah menahan air liurnya ketika melihat potongan daging yang dibakar di atas api.


"Terimakasih." Renjani tersenyum lebar mendapat giliran makan lebih dulu.


Manda berusaha mengkondisikan dirinya berada sedekat ini dengan Kelana apalagi melihat perlakukan Kelana terhadap Renjani. Meski bukan dirinya yang mendapat perlakuan manis Kelana tapi ia ikut berbunga-bunga.


Selama ini banyak kabar miring tentang Kelana dan Renjani karena pernikahan mereka yang mendadak. Manda juga sempat curiga terhadap hubungan mereka tapi setelah bertemu langsung, ia bisa melihat cinta di mata Kelana terhadap Renjani. Itu hanyalah kabar yang tidak benar. Sebagai penggemar Kelana, Manda ikut bahagia.


Potongan berikutnya matang dengan cepat, semua orang menikmati potongan daging panggang lembut yang dibumbui dengan garam, lada hitam dan rosemary.


"Coba deh, yang ini rasanya beda, lebih enak." Renjani menyuapkan sepotong daging pada Kelana.


Kelana mengunyahnya perlahan, menurutnya semua daging disini memang enak. Ia tak mungkin memilih restoran yang tidak enak untuk Renjani dan teman-temannya.