
Satu jam berlalu sejak Renjani duduk di kursi tunggu di studio tv swasta tempat Maia bekerja. Renjani sudah menghubungi Maia bahwa ia akan datang dari ini. Renjani tahu Maia super sibuk jadi ia harus bersabar menunggu lebih lama.
Renjani kagum pada Maia karena disela kesibukannya, ia masih sempat menulis. Penulis hebat seperti Maia yang karyanya begitu Renjani nikmati, novelnya harus diterbitkan di Asmara Publishing.
Sejak pertama kali bertemu Maia, Renjani langsung tertarik untuk menerbitkan novel tersebut. Renjani harus berhasil bernegosiasi dengan Maia.
"Mbak Renjani."
Renjani memutar kepala mendengar suara Maia, ia segera mengembangkan senyum dan beranjak menjabat tangan wanita seusianya itu.
"Maaf udah bikin Mbak Renjani nunggu lama."
"Aku aja yang datangnya kecepetan padahal kamu udah bilang kalau hari ini bakal sibuk banget."
"Kenapa Mbak ngajak saya ketemu?"
Renjani mengajak Maia duduk sebelum ia mengatakan alasan mengapa ia ingin bertemu.
"Aku baru buka perusahaan penerbit dan kalau kamu bersedia, aku pengen banget menerbitkan novel Meet Sunshine." Renjani to the point karena tidak mau menyita waktu Maia lebih lama.
Untuk sesaat Maia terperangah tak percaya pada ucapan Renjani, "saya merasa terhormat atas tawaran tersebut tapi bukannya saya menolak, Mbak tahu sendiri novel itu tidak begitu populer, pembacanya kurang dari 200 ribu."
"Novel kamu bagus."
Maia tersenyum canggung, "saya belum pernah dengar orang bilang begitu sebelumnya."
"Aku nggak mungkin sembarangan pilih novel, aku yakin novel kamu punya pembacanya sendiri—nggak banyak bukan berarti nggak bagus."
"Gimana kalau novel saya tidak laku, saya takut kalau sampai perusahaan Mbak rugi."
"Jangan pesimis." Renjani menyentuh paha Maia. "Aku kasih waktu kamu untuk berpikir, tapi aku berharap besar kamu mau bekerja sama dengan Asmara Publishing."
Maia tersenyum karena Renjani memberi waktu untuknya berpikir sebelum mengambil keputusan.
"Terimakasih Mbak Renjani." Sekarang Maia mengerti mengapa Kelana memilih Renjani untuk menjadi istrinya. Renjani wanita yang ramah dan baik hati.
"Panggil Rere aja."
"Ah iya Re." Maia sedikit kikuk, ia merasa kurang sopan jika memanggil Renjani tanpa embel-embel Mbak.
"Aku permisi dulu, maaf udah menyita waktu kamu." Renjani mengambil satu tongkat dan beranjak dari sana.
"Sama sekali bukan masalah, saya antar ke depan ya?"
"Jangan, kamu juga lagi sibuk." Tolak Renjani.
"Hati-hati Mbak—eh Rere."
Ponsel Renjani bergetar panjang ketika si pemilik memasuki lift yang akan membawanya turun ke lantai satu. Meskipun memakai tongkat Renjani cukup gesit karena ia sudah terbiasa.
Renjani merogoh tasnya untuk mengambil ponsel, ia melihat nama Kelana terpampang di layar ponselnya.
"Halo." Renjani menggapit ponselnya dengan baju.
"Udah selesai?"
"Udah, ini aku mau turun, kamu udah pulang?" Renjani tidak menemani Kelana hari ini karena ia juga memiliki urusan. Kelana juga tak keberatan karena itu.
"Aku di depan."
"Depan mana?"
"Depan studio, jemput kamu."
"Oh, aku pikir kamu udah pulang duluan." Sudut bibir Renjani terangkat.
"Aku tunggu di bawah, jalan pelan-pelan aja."
Renjani memutus sambungan dan memasukkan ponselnya kembali. Rupanya Kelana tahu kalau si pincang ini tidak bisa buru-buru.
Wajah Renjani memanas, rasanya aneh karena ada seseorang yang menjemputnya saat pulang kerja. Walaupun ini bukan kantornya, tapi kedatangan Renjani kesini juga untuk urusan pekerjaan.
Pintu lift terbuka,Renjani bergerak ke dinding memberi ruang untuk tiga wanita yang masuk ke lift.
Salah satu dari wanita itu adalah Emma bersama manajer dan asistennya. Melihat Renjani berada disitu membuat Emma gelisah. Emma takut jika Renjani tahu bahwa sebenarnya ia yang berada di balik kecelakaan itu.
"Kamu disini juga?" Emma menyapa Renjani lebih dulu, hanya untuk menjawab rasa penasarannya.
"Eh, iya." Jika tidak menegurnya lebih dulu pasti Renjani tak sadar jika itu Emma.
"Sendirian?" Emma heran melihat Renjani sendiri, untuk apa Renjani pergi ke stasiun televisi seorang diri.
"Iya."
Emma manggut-manggut, dilihat dari reaksi Renjani sepertinya Kelana tidak memberitahu tentang kecelakaan itu. Renjani bisa saja marah-marah begitu melihat Emma tapi saat ini ia tampak tenang.
Setelah sampai di lobi, Renjani melihat Kelana berdiri di depan pintu. Rasanya Renjani ingin berlari dan memeluk tubuh kekar itu. Namun tentu saja itu hanya ada di dalam khayalan Renjani. Ia tak mungkin melakukan itu, disini—saat ini.
Begitu melihat Renjani, kelana melebarkan senyumnya tanpa sadar bahwa saat ini ia sedang memakai masker. Senyum yang sia-sia.
"Kamu udah nunggu lama disini?"
"Baru aja." Tangan Kelana yang tadinya bersembunyi di belakang punggung, terulur menyodorkan buket bunga Peony merah muda pada Renjani.
"Bunga lagi?" Renjani melongo, ia merasa ada yang aneh dengan Kelana. Bahkan bunga mawar kemarin belum layu, Kelana sudah membeli bunga lagi. "Kamu lagi suka bunga?"
"Ambil aja." Kelana sedikit mendorong buket tersebut ke tubuh Renjani, ia malu karena orang-orang di sekitar mereka mulai melihat. Untung saja Kelana memakai masker.
"Ayo cari makan, aku laper banget." Renjani melangkah lebih dulu.
"Makan apa?" Kelana menyusul.
Renjani tidak segera menjawab, ia masuk mobil dan mengeluarkan ponselnya. Saat menunggu Maia tadi, Renjani melihat foto makanan di pinterest yang tampak menggiurkan.
"Ayo makan ini." Renjani menunjukkan foto sepiring nasi dengan salmon berwarna kecoklatan, kacang polong, dan potongan alpukat yang ditaburi wijen hitam. "Lihat fotonya aja udah ngiler banget."
"Pan Seared Salmon, aku tahu restoran yang menjual menu itu, Pak Dayat tolong berhenti di restoran depan setelah pertigaan."
"Baik Mas." Ujar Dayat.
Renjani tersenyum lebar dan mengucapkan terimakasih pada Kelana.
"Gimana Maia?"
"Dia masih belum kasih jawaban."
"Aku mau Maia jadi penulis pertama yang karyanya diterbitkan Asmara Publishing."
"Iya tapi kamu nggak bisa maksa dia."
"Iya tapi aku bisa rayu dia."
"Keduanya sama."
"Beda lah."
"Apa bedanya?"
"Kamu ngajak aku nikah itu maksa, kalau rayu itu kamu bikin lagu buat Elara, udah tahu bedanya kan?"
Kelana mengembuskan napas keras, perdebatan mereka selalu berujung pada Elara. Kelana menyandarkan kepalanya pada kursi, ia tak mau bicara lagi.
Keduanya terdiam hingga mereka sampai di restoran. Kelana memesan menu yang Renjani tunjukkan padanya tadi untuk 4 orang. Kebetulan Yana dan Dayat juga belum makan jadi sekalian mereka makan bersama di restoran tersebut.
"Silakan." Seorang waiter mengantar pan seared salmon dan orange squash.
"Mas Lana lupa pesan tanpa alpukat?" Yana melihat piring Kelana, bosnya itu tidak suka alpukat.
"Kamu nggak mau alpukat?" Tanya Renjani.
Kelana mengangguk.
"Aku mau." Renjani mendekatkan piringnya pada Kelana agar memindahkan alpukat kesana. Ia bisa makan apapun bahkan jika ada belalang di depannya pasti akan ia makan juga.
Kelana memindahkan semua potongan alpukat miliknya ke piring Renjani.
"Mau daging juga?" Kelana hendak memindahkan potongan salmon.
"Terus kamu makan apa?" Renjani segera menarik piringnya kembali, bagian paling enak di piring itu adalah daging salmon yang tampak coklat mengkilap. Meski begitu Renjani tak mau makan milik Kelana.
"Makan nasi sama kacang."
Renjani mencibir, ia tak boleh membiarkan Kelana hanya makan nasi dan kacang padahal Kelana yang membayar semua ini.
Setelah mereka lebih banyak terdiam, hanya terdengar gesekan antara sendok dan piring. Mereka menikmati makanan masing-masing.
Renjani memesan Palmier untuk dibawa pulang meski perutnya sudah terisi penuh. Renjani berjaga-jaga jika ia kelaparan tengah malam. Ia juga akan memberikan pastry tersebut pada Desty karena mereka akan pergi ke perpustakaan.
*******
Aroma buku-buku membangunkan kembali memori lama Renjani saat bekerja disini dua tahun yang lalu. Perpustakaan Edelweiss adalah tempat bekerja paling nyaman untuk Renjani. Akhirnya hari ini ia bisa mengunjunginya meski dengan alasan menemani Kelana melakukan aktivitas rutin membaca buku di Rabu sore.
Kelana butuh waktu lama untuk mengusir rasa takutnya saat masuk ke perpustakaan ini setelah kejadian kebakaran beberapa bulan yang lalu. Ia harus melawan ketakutannya jika tidak mau dihantui rasa trauma seumur hidupnya. Ini tidak mudah tapi keberadaan Renjani membuat Kelana yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Mbak Rere!" Desty memekik melihat Renjani dan Kelana membuat orang-orang yang sedang serius membaca sontak melihat ke arahnya. Saat sadar, Desty langsung membekap mulutnya.
"Gimana kabar kamu?" Renjani memeluk Desty setelah cukup lama tidak bertemu.
"Baik, aku seneng banget lihat Mbak udah sembuh."
Renjani tersenyum, ia meletakkan bungkusan di atas meja berisi Palmier yang ia beli di restoran tadi.
"Buat kamu, makan di rumah tapi ya." Renjani tidak lupa pada peraturan perpustakaan yakni tidak boleh membawa makanan atau minuman apapun.
"Wah, makasih Mbak." Desty tersenyum lebar, sekilas ia tampak mengagumi ketampanan Kelana di balik maskernya. Renjani adalah wanita paling beruntung karena bisa menikah dengan Kelana. Itu adalah impian banyak wanita.
Renjani mengisi daftar nama pengunjung pada tablet yang telah disediakan.
"Mau baca apa?" Tanya Renjani pada Kelana setelah menulis namanya dan nama Kelana pada daftar pengunjung.
"Novel yang waktu itu belum selesai."
"Aku udah baca semua serinya lo."
"Karena kamu bekerja disini." Kelana melangkah lebih dulu mencari buku yang akan ia baca hari ini.
Renjani melangkah ke bagian novel karya penulis Indonesia. Ia mengambil satu buku bersampul merah dengan gambar seorang gadis berambut panjang. Novel berjudul Tokyo dan Perayaan Kesedihan itu sudah ada dalam daftar novel yang harus dibaca sejak pertama kali dirilis 2 tahun lalu. Namun karena saking banyaknya buku yang masuk ke perpustakaan tersebut, Renjani jadi lupa.
Kelana dan Renjani duduk berhadapan di kursi dekat jendela. Instrumen lagu Dancing in the Rain terdengar ke seluruh penjuru. Perpustakaan Edelweiss sudah lekat dengan lagu-lagu Kelana.
"Kelana, tokoh laki-lakinya sama kayak kamu, pemain violin juga." Bisik Renjani pada Kelana yang tampak serius membaca.
Kelana hanya melirik Renjani sesaat tanpa membalas apapun. Ia harus menggunakan waktu 2 jam di perpustakaan untuk membaca novel tersebut hingga selesai. Kelana malas membawa pulang buku karena ia tak akan sempat membaca.
Kelana mengalihkan pandangan dari buku di tangannya saat mendengar Renjani mengesang ingus beberapa kali.
"Kenapa?" Kelana mengerutkan kening melihat Renjani berderai air mata. Mereka hanya membaca buku tapi kenapa Renjani bisa menangis seperti itu. "Kaki kamu sakit?"
Renjani menggeleng, ia mengusap air matanya kasa. Harusnya Renjani tidak membaca novel itu disini, ia malu karena Kelana melihatnya menangis.
"Ceritanya sedih banget."
Kelana menahan napas, ia pikir ada sesuatu yang begitu menyakitkan hingga membuat Renjani menangis.
"Ayo pulang." Kelana mengambil novel itu di tangan Renjani dan mengembalikannya ke tempat semula.
"Aku belum selesai."
"Lanjut Minggu depan aja, aku lagi nggak mau lihat kamu nangis." Kelana masih trauma melihat Renjani saat terbaring di ranjang rumah sakit dan menangis kesakitan hingga tengah malam. Sekarang Renjani menangis hanya karena sebuah buku, itu membuat Kelana kesal.
Langit sudah gelap saat mereka sampai di apartemen. Selama perjalanan Renjani ketiduran karena kekenyangan dan menangis. Kelana tak punya pilihan selain menggendong Renjani sampai lantai atas. Kelana tidak tega membangunkan Renjani yang baru tidur.
"Mas Lana yakin mau gendong Mbak Rere sampai atas?" Yana bertanya ragu ketika mereka masuk ke dalam lift pribadi.
"Anggap aja lagi nge-gym, kamu lupa? dia pernah menimpa tubuhku jadi menggendong seperti ini nggak jadi masalah."
"Setiap malam juga kamu yang nimpa badan aku." Renjani bicara seperti orang mengigau, ia berada dalam keadaan sadar dan tidak tapi ia bisa mendengar perkataan Kelana.
Kelana mendelik, setiap malam? Renjani sungguh berlebihan.
Yana yang berdiri di samping Kelana menahan tawa, ia jadi ikut malu karena tak sepantasnya mendengar hal seperti ini.
Kelana membekap mulut Renjani agar tidak bicara lagi. Apalagi mengatakan hal memalukan seperti itu.
Kelana menghempaskan tubuh Renjani ke tempat tidur, lumayan pegal juga menggendong Renjani dari basemen ke lantai 25. Kelana harus mengajak Renjani olahraga bersamanya untuk menurunkan berat badannya. Biasanya saat Kelana pergi ke tempat gym yang masih berada di gedung itu Renjani masih tidur.