
"Menikahlah dengan wanita baik dan lupakan aku."
Wanita berambut hitam pekat bergelombang itu melangkah menembus kerumunan wartawan. Langkahnya mantap tidak ragu sedikitpun, tatapannya lurus ke depan lebih tepatnya ke arah punggung Kelana yang semakin menjauh lalu hilang di balik pintu kaca.
Ada rasa kehilangan, tidak rela dan sedikit sekali bahagia—bahagia karena Kelana akhirnya menemukan tambatan hatinya. Bukankah dirinya lah dulu yang meminta Kelana untuk menikah lalu mengapa ia masih melangkah maju dan ingin menemui Kelana. Ia hanya ingin memastikan Kelana bahagia dengan kehidupannya sekarang meskipun sebenarnya ia tak berhak melakukan itu setelah meninggalkan Kelana dulu.
"Elara ya?" Seorang wartawan mengenali Elara saat melewati kerumunan. Ia menahan tangan Elara memastikan dirinya tidak salah lihat.
Elara tidak bisa menyangkal saat beberapa wartawan juga mengenalinya. Meskipun Elara merasa dirinya telah banyak berubah tapi ternyata masih ada wartawan yang mengenalinya. Elara harusnya tidak tampil mencolok tapi ia ditakdirkan seperti itu sehingga mudah dikenali.
"Iya benar, dia Elara, dia kembali."
Para wartawan mengerumuni Elara dengan cepat, itu akan menjadi berita besar karena Elara datang bertepatan dengan konferensi pers tersebut.
"Apa alasan kamu kembali ke Indonesia?"
"Saya ada pekerjaan disini." Elara tersenyum tipis mengedarkan pandangan, sejujurnya ia merindukan suasana Indonesia meski sudah terbiasa dengan kehidupan di Perancis. Atau ia merindukan seseorang disini, entahlah Elara terlalu malu untuk mengatakannya apalagi setelah tahu Kelana sudah menikah.
Sementara itu Kelana melakukan rekaman untuk lagu berjudul Renjani di studionya di dalam gedung Antasena. Itu akan menjadi lagu pertama yang penyanyinya adalah Kelana sendiri.
"Nggak mungkin itu Elara." Gumam Kelana saat memasuki studio. Mungkin ia berhalusinasi di tengah masalah yang sedang dihadapinya. Tidak mungkin Elara kembali.
"Kelana, ini minumnya." Renjani menyusul membawa sebotol air mineral untuk Kelana.
Produser juga memasuki studio untuk mengawasi proses rekaman.
"Makasih ya." Kelana meneguk air tersebut hingga setengah bagian. "Are you okay?" Tanyanya pada Renjani, "kamu kelihatan pucat."
"Aku nggak apa-apa, cuma agak kaget aja karena wartawannya banyak banget." Renjani tersenyum tipis, selain wartawan ia juga terkejut melihat penggemar Kelana yang menggila. Meski tidak ingin mengingatnya tapi Renjani bisa merekam dengan jelas foto dirinya yang sengaja di dicoret-coret cat merah.
Kelana menyentuh kening Renjani memeriksa suhu tubuhnya. Jika tidak ada produser disini pasti Kelana sudah memeluk Renjani.
"Kamu bisa pulang dulu."
"Enggak, aku mau lihat proses rekamannya." Renjani sudah lama ingin melihat proses rekaman lagu dan sekarang ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
"Ya udah." Kelana mengusap puncak kepala Renjani sebelum beranjak dari sofa untuk memulai proses rekaman.
Gesekan violin mengalun lembut ke seluruh ruangan. Kelana tampak sangat menikmati permainan violin nya seolah sedang melepas rindu. Di dunia ini Kelana memiliki dua kekasih yakni Renjani dan violin.
Senyum Renjani terbit dengan sendirinya, ia terbuai oleh permainan violin Kelana. Apalagi itu lagu yang diperuntukkan untuk Renjani.
"Aku bukan wanita murahan, Ma." Ucap Renjani seolah mama nya berada disini, bagaimana mungkin seorang yang telah melahirkannya tega mengatakan hal seperti itu.
Pintu studio terbuka lalu Yana dan Adam masuk mengalihkan perhatian Renjani.
"Mbak Rere mau makan nggak?" Tanya Yana, ia membawa segelas jus buah untuk Renjani.
"Enggak." Renjani menggeleng, ia tak mau melewatkan proses rekaman lagu Kelana. "Makasih ya." Ia meneguk jus buah berwarna oranye yang Yana berikan padanya.
Yana melangkah mendekati Kelana, "ada yang mau ketemu Mas Lana " bisiknya.
Kelana meletakkan violin nya mendongak melihat Yana, "siapa?"
"Saya juga nggak tahu Mas, saya sudah bilang kalau Mas Lana lagi rekaman dan nggak bisa diganggu tapi dia mau menunggu."
Kelana mengerutkan kening, itu berarti orang yang ingin menemuinya bukan staf Antasena karena Yana tidak mengenalnya.
Kelana tidak peduli siapa yang hendak bertemu dengannya, ia tetap melanjutkan rekaman. Setelah selesai memainkan violin, Kelana juga bermain piano lalu terakhir merekam suara. Sedangkan tambahan melodi lain akan diselesaikan oleh produser.
Karena ini pertama kalinya Kelana bernyanyi serius, ia cukup kesulitan dan beberapa kali harus merekam ulang. Namun bagi Kelana ini adalah wujud perasaannya untuk Renjani sehingga menghabiskan waktu seharian tidak masalah baginya.
******
Sudut bibir Kelana terangkat membentuk senyum lebar ketika mendapati Renjani tertidur meringkuk di atas sofa setelah ia selesai rekaman. Saking asyiknya bermain musik Kelana lupa jika mereka melewatkan makan siang. Biasanya Renjani akan memesan makanan sendiri selama menemani Kelana tapi kali ini ia justru tidur.
"Re." Kelana mengusap rambut Renjani yang menjuntai menutupi sebagian wajahnya.
Renjani mengerjapkan mata lalu bangun dari posisi tidur.
"Udah selesai?" Suara Renjani serak khas orang bangun tidur. Ia melihat studio itu sudah kosong.
"Udah, kamu mau makan apa?" Kelana harus membelikan banyak makanan untuk Renjani sebelum mereka sampai di apartemen.
"Aku nggak lapar."
"Tumben." Kelana menguncir rambut Renjani agar tidak terlihat berantakan setelah bangun tidur. Ia selalu menyimpan tali rambut di sakunya karena Renjani sering kehilangan benda itu.
"Nggak tahu, tiba-tiba hari ini nggak pengen makan."
"Kalau gitu aku bikinin toast aja ya di apartemen, walaupun nggak pengen makan kamu harus tetap makan."
Renjani mengangguk meski sebenarnya ia hanya ingin tidur setelah sampai di apartemen nanti.
"Atau kita ke dokter aja."
"Enggak, aku cuma kecapekan aja, besok juga udah enakan."
"Mau aku gendong?"
Kelana ikut tertawa dan mencium bibir Renjani dengan gemas. Ia heran kenapa ada makhluk yang sangat menggemaskan seperti Renjani di dunia ini.
"Terimakasih sudah menemaniku melalui hari yang berat ini, kamu hebat Re."
"Aku nggak ngelakuin apa-apa, kamu luar biasa." Renjani balas mencium bibir Kelana singkat, hanya satu detik karena jika lebih dari itu mereka mungkin akan berada lebih lama disini atau bahkan menghabiskan waktu semalaman di dalam studio.
"Aku mencintaimu, Re."
"Apalagi aku."
Mereka menaiki lift menuju lobi yang sudah sepi, hanya ada beberapa staf yang masih berjaga disana.
"Kamu mau toast apa?"
"Mmm?" Renjani berpikir, "alpukat atau coklat juga boleh, nanti aku bikinin jeruk peras buat kamu."
"Baiklah." Kelana menggenggam tangan Renjani saat mereka keluar dari lobi berjaga-jaga jika ada yang melempar sesuatu lagi ke arah mereka. Meski ini sudah larut malam tapi para penggemar itu bisa saja masih ada disini menunggu Kelana keluar.
"Kelana."
Kelana dan Renjani menghentikan langkah mendengar panggilan seseorang. Mereka sama-sama menoleh ke sumber suara.
Alis Renjani terangkat melihat seseorang yang sekarang berada di hadapannya berjarak sekitar 2 meter.
Elara?
Meskipun belum pernah bertemu Elara secara langsung tapi Renjani bisa mengenali wanita itu karena dulu ia sering melihat foto-fotonya di internet.
"Elara?" Kelana tertegun, jika tadi siang ia berpikir mungkin dirinya berhalusinasi karena melihat Elara kali ini ia yakin. Elara benar-benar ada disini—di hadapannya.
Genggaman Renjani menguat secara otomatis, entah kenapa perasaan takut menyergap kala melihat Elara—wanita yang dulu pernah menempati seluruh ruang di hati Kelana atau mungkin hingga sekarang. Renjani tidak pernah tahu isi hati Kelana sebenarnya.
"Aku mau bicara." Pungkas Elara, ia sudah menunggu Kelana sejak tadi siang tapi itu tidak masalah karena Kelana telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menunggunya meski sekarang tidak lagi. Namun setidaknya Elara harus menemui Kelana.
"Kamu masuk mobil dulu." Kelana melepaskan genggamannya di tangan Renjani.
Renjani menatap Kelana tak percaya, ia pikir Kelana akan menolak tapi ternyata lelaki itu bersedia tanpa harus diminta dua kali. Renjani mengangguk kaku melangkah meninggalkan Kelana dengan berat hati.
"Kamu disini sejak tadi siang?" Kelana melangkah mencari tempat duduk di sekitar situ. Ia berusaha mengkondisikan diri agar keterkejutannya tidak terlalu kentara.
Dulu, tahun-tahun sebelum Kelana bertemu Renjani, ia selalu membayangkan Elara tiba-tiba pulang dan datang menemuinya. Kelana akan menceritakan semua kesedihannya selama menunggu kepulangan Elara. Kelana akan memarahi Elara karena telah tega meninggalkannya seorang diri. Namun sekarang Kelana hanya bisa diam, ia tak tahu harus beraksi seperti apa.
"Iya." Elara duduk di samping Kelana. "Aku ada proyek kolaborasi sama musisi-musisi disini, itu alasan aku ke Indonesia barangkali kamu ingin tahu."
Wajah Kelana datar, ia melempar tatapan ke pot bunga tak jauh dari tempat mereka duduk.
"Kenapa baru sekarang, maksudku dari dulu banyak tawaran kerja sama tapi kamu nggak pernah mau."
"Karena kamu." Aku merindukanmu, Kelana.
Kelana memutar kepala menatap Elara, perasaan rindu menelusup ke dalam rongga dadanya. Kerinduan yang sudah lama tidak Kelana rasakan. Kelana benci perasaan ini.
"Kamu menepati janji mu, Kelana."
"Janji apa?"
"Menikah, kamu terlihat menyayanginya walaupun pada awalnya alasan kalian menikah bukan karena cinta "
"Kamu mengawasiku?"
Selalu, setiap hari.
Elara ingin kembali ke Indonesia sejak tahu Kelana menikah tapi ia tidak mau merusak kebahagiaan Kelana dan istrinya. Sekarang Elara nekat kembali setelah mendengar berita bahwa pernikahan antara Kelana dan Renjani hanya lah untuk menutupi insiden di perpustakaan.
"Dia juga terlihat baik."
"Kamu nggak perlu menilai dia dan alasan ku menikah sama sekali bukan untuk menepati janji itu lagi pula aku nggak pernah mengatakan janji seperti itu."
"Aku tahu."
Mereka terdiam, hanya keheningan yang menyelimuti suasana antara Kelana dan Elara. Terlalu banyak kata yang ingin Kelana ucapkan hingga ia tidak mampu melakukannya. Lagi pula sekarang semua kata-kata itu tidak penting lagi.
"Aku senang karena kamu bisa menjalani hidup dengan baik setelah kepergian ku."
"Kamu nggak tahu seberapa menderitanya aku, berapa banyak malam yang aku habiskan untuk menangisi kepergian mu, kamu nggak pantas bicara seperti itu."
"Maafkan aku Kelana, dulu aku masih muda dan labil, aku terlalu berambisi meraih impian ku." Setitik kristal bening luruh dari mata Elara, ia menyesal telah meninggalkan Kelana dulu. Sekarang semuanya sudah terlambat. Kelana sudah memiliki wanita lain di sisinya.
"Nggak ada gunanya kamu membicarakan hal itu sekarang."
"Perasaanku nggak pernah berubah, aku mencintaimu, Kelana." Elara memeluk Kelana, ia tidak bisa menahannya lagi. Kerinduan yang selama ini ia rasakan teramat berat. "Aku pikir seiring berjalannya waktu aku akan terbiasa tanpa kamu tapi sebaliknya aku makin merindukanmu."
Rahang Kelana mengeras, kalimat itu terdengar sangat menjijikkan baginya. Kelana enggan membalas pelukan Elara tapi juga tidak bisa membalasnya sebab dalam relung hatinya yang paling dalam ia juga merindukan wanita itu.