Married by Accident

Married by Accident
LXIV



Renjani merapikan pakaiannya sebelum masuk ke restoran tempat ia dan Elara akan bertemu. Elara memilih salah satu restoran steak yang berada di dalam Mall dekat apartemen Kelana.


Bertepatan dengan makan siang restoran itu dipenuhi oleh pengunjung. Hampir tidak ada meja kosong ketika Renjani sampai, ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru mencari keberadaan Elara.


Renjani melangkah ketika melihat seseorang melambaikan tangan padanya, itu pasti Elara.


"Maaf aku terlambat."  Renjani duduk di kursi kosong di hadapan Elara, untuk beberapa saat ia terkesima melihat kecantikan Elara. Semalam ia tidak melihat wajah Elara dengan jelas karena penerangan yang minim. Namun kali ini Renjani bisa melihat wajah Elara dengan lebih jelas. Elara terlihat jauh lebih cantik dibandingkan fotonya. Kini Renjani semakin mengerti mengapa Kelana sulit berpindah ke lain hati.


Renjani jadi tidak percaya diri bertemu Elara seperti ini. Lihatlah Elara bahkan menggunakan riasan yang tipis tapi ia tampak menawan.


"Aku aja yang datangnya kecepetan." Elara mengulas senyum. "Perkenalkan aku Elara." Ia mengulurkan tangan pada Renjani untuk memperkenalkan diri secara resmi.


"Renjani." Renjani ikut tersenyum membalas uluran tangan Elara.


"Kamu datang sendiri?"


"Iya." Dengan siapa lagi? kamu harap aku membawa Kelana kesini?


"Nama kamu cantik sekali, nama gunung di pulau Lombok." Elara memberikan buku menu pada Renjani, karena belum pernah kesini maka ia akan meminta saran Renjani.


"Nama mu nggak kalah cantik, satelit paling besar ke delapan planet Jupiter."


"Kamu tahu?"


"Kelana yang memberitahuku saat aku bertanya kenapa dia membuat lagu berjudul Jupiter."


Elara tersenyum tertahan, apakah Kelana banyak menceritakan tentang dirinya pada Renjani?


"Aku belum pernah kesini, kira-kira menu apa yang enak menurutmu?"


"Aku juga pertama kali datang kesini." Meski dekat dengan apartemen tapi Renjani belum pernah makan di tempat ini.


Elara memanggil waiter dan meminta rekomendasi menu yang paling banyak dipesan. Akhirnya mereka memesan Prawn Pepper Rice dan Classic Beef Pepper Rice.


"Renjani, terimakasih karena kamu sudah ada di sisi Kelana."


"Kenapa kamu berterimakasih untuk Kelana?" Perkataan Elara membuat Renjani tersinggung, ia bersikap seolah Kelana adalah miliknya. Renjani melakukan itu bukan untuk Elara.


"Karena dulu aku tiba-tiba meninggalkan Kelana saat kami masih saling mencintai."


"Lantas?"


"Maaf Renjani, aku harap kamu nggak tersinggung."


Renjani tersenyum memperlihatkan giginya yang berderet tapi, rupanya Elara tahu jika perkataannya akan membuat Renjani tersinggung tapi ia tetap melakukannya.


"Kelana sama sekali nggak berubah, aku menyadari itu saat bicara dengannya semalam."


"Perasannya yang berubah." Sahut Renjani cepat, ia akan berusaha mempertahankan Kelana semampunya. Setidaknya Renjani harus membuktikan bahwa ia mencintai Kelana.


Raut wajah Elara berubah tapi ia berusaha menutupinya dengan senyuman. Elara adalah orang yang selalu yakin terhadap keputusannya tapi sekarang ia menyesal karena dulu meninggalkan Kelana. Tentu terlalu terlambat jika Elara menyesal sekarang. Kelana sudah menjadi milik orang lain.


"Aku minta Kelana datang ke konser ku Minggu depan, semoga kamu mengizinkannya datang, hanya satu hari."


Renjani tak menjawab, ia tahu posisi Elara di hati Kelana. Kelana bahkan tidak menanyakan apapun pada Renjani. Kelana pasti akan datang apapun yang terjadi.


Pesanan mereka datang. Setelahnya mereka menikmati makanan masing-masing tanpa banyak bicara.


"Aku baca Meet Sunshine yang diterbitkan perusahaan mu." Ujar Elara memecah keheningan. Ia baru selesai membaca novel berjudul Meet Sunshine terbitan Asmara Publishing.


"Oh ya? terimakasih Lara." Balas Renjani.


"Aku suka bagian akhir nya, setelah melalui banyak hal akhirnya Dion kembali bersatu dengan Sinar."


"Maia memang luar biasa." Renjani sudah menjadi penggemar Maia sejak lama, ia senang karena bisa bekerjasama dengan penulis favoritnya.


"Menurutmu apa aku bisa seperti Sinar?"


"Hm?" Renjani hampir saja tersedak mendengar pertanyaan Elara. Apakah Elara masih berharap akan kembali bersatu dengan Kelana meskipun ia tahu Kelana telah menikah.


"Aku hanya bercanda, jangan dipikirkan." Elara mengibaskan tangan.


"Kamu masih mengharapkan Kelana?" Renjani bertanya meski ia bisa melihat jawabannya dengan jelas di wajah Elara.


"Entah lah, bukankah kalian sudah sepakat untuk berpisah setelah satu tahun?"


Renjani terdiam, kemarin Kelana mengatakan bahwa terlepas dari perjanjian itu mereka akan terus bersama. Namun Kelana mengatakan itu sebelum tahu Elara telah kembali. Sekarang mungkin keputusan Kelana akan berbeda setelah bertemu dan bicara dengan Elara.


Tiba-tiba Renjani merasa mual, ia buru-buru berlari menuju toilet dan memuntahkan semua makanannya. Perutnya saja mengerti bahwa saat ini Renjani sudah muak dengan obrolan itu. Renjani ingin segera pulang tak peduli seenak apa makanan yang belum ia habiskan di meja.


"Renjani, kamu kenapa?" Elara memperhatikan perubahan raut wajah Renjani, "maaf kalau aku bikin kamu tersinggung."


Maaf itu tak ada artinya bagi Renjani. Elara tahu benar apa yang dikatakannya. Ia tidak sepenuhnya merasa bersalah.


"Sebelum kesini aku memang nggak enak badan, maaf ya aku harus pulang."


"Mau aku antar?"


"Nggak usah, aku minta Yana jemput." Tolak Renjani, "izinkan aku membayar makanannya." Ia melangkah menuju kasir untuk membayar makan mereka.


Elara hendak mencegah tapi Renjani sudah lebih dulu membayar padahal ia yang mengajak Renjani bertemu.


"Kasihan Renjani, bagaimana jika Kelana kembali padaku?" Elara bergumam sembari mengaduk potongan daging di piringnya.


******


Alih-alih minta jemput Yana, Renjani memilih berjalan kaki dari Mall ke apartemen karena jaraknya cukup dekat. Hanya sekitar 15 menit dengan berjalan kaki.


"Sia-sia gue makan steak." Gerutu Renjani, ia memuntahkan semua makanan yang belum tercerna sempurna mungkin baru melewati kerongkongan. "Kayak orang hamil tapi nggak mungkin lah gue hamil."


Renjani berusaha mengingat kapan terakhir kali ia datang bulan dan berapa kali ia dan Kelana berhubungan tanpa pengaman. Entahlah Renjani pelupa, ia tak bisa mengingat itu semua.


Pandangan Renjani tiba-tiba gelap setelah berusaha mengingat itu. Tubuhnya mendadak limbung, ia hampir saja terjatuh jika tidak ada seseorang yang menahan badannya.


"Re, kenapa kamu nggak minta jemput Yana?" Untung saja Kelana datang tepat waktu jika tidak pasti Renjani sudah pingsan di tengah jalan.


"Kenapa kamu disini?"


"Lara bilang kamu pulang duluan karena nggak enak badan jadi aku kesini."


"Kamu datang karena Elara?"


"Bukan begitu Re." Kelana membimbing Renjani masuk mobil, "kenapa kamu jadi sensitif?"


"Aku?" Renjani menunjuk dirinya sendiri.


"Iya."


Perempuan mana yang nggak sensitif lihat suaminya berpelukan sama cewek lain. Renjani hanya bisa menjawab pertanyaan itu dari dalam hati. Ia malas berdebat dengan Kelana. Toh semua itu sudah terjadi.


"Aku mau cek tekanan darah mu." Kelana melingkarkan alat tensi darah di pergelangan tangan Renjani. "90, kamu harus makan lebih banyak."


"Kamu mau datang ke konser Elara?" Renjani mengabaikan tekanan darahnya yang turun drastis, menurutnya itu tidak penting.


"Iya."


"Tanpa aku?"


Kelana melepas alat tensi darah tersebut dan menatap Renjani. Elara memang hanya mengundang Kelana.


"Hanya satu hari."


Renjani mengalihkan pandangan keluar jendela, air matanya meleleh melewati pipi. Ia tak harus menangis hanya karena Kelana hadir di konser Elara. Namun entah kenapa air mata itu luruh dengan sendirinya.


"Aku antar sampai atas." Tukas Kelana ketika mereka sampai di depan apartemen, ia harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan proses pembuatan lagu nya.


"Nggak usah, aku bisa sendiri." Renjani keluar dari mobil.


Tubuh Renjani seperti melayang saat ia melangkah memasuki lobi apartemen. Mungkin itu karena tekanan darahnya yang rendah.


Kelana tetap mengikuti Renjani diam-diam hingga ia memastikan istrinya itu masuk ke apartemen mereka dengan selamat. Mungkin Renjani sedang datang bulan itu sebabnya ia lebih sensitif apalagi saat mereka membahas Elara. Padahal Kelana sudah memberitahu Renjani secara jelas bahwa ia mencintainya. Namun Renjani tetap khawatir Kelana akan kembali pada Elara.


Renjani menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya dengan baju rumahan. Saat memilih pakaian ia tak sengaja melihat stok pembalut nya yang masih penuh.


Perasaan Renjani tidak enak, mungkin saking lamanya ia sampai lupa kapan terakhir kali datang bulan. Ia baru ingat beberapa hari yang lalu ada bercak darah di underwear nya.


"Tapi kenapa gue belum datang bulan juga?" Renjani panik, jantungnya berdegup kencang. Bagaimana jika ia hamil. Tidak Re, jangan berpikir macam-macam dulu sebelum memastikan kebenarannya. Ia dan Kelana tak pernah membahas soal anak. Renjani takut jika sampai ia benar-benar hamil dan Kelana menolaknya.


Dari pada penasaran Renjani memilih keluar menuju apotek dekat situ untuk membeli test pack.


"Lagian nggak bakal positif, tenang aja Re." Renjani menenangkan dirinya sendiri saat memilih test pack, ia mengambil satu test pack yang menurutnya akurat karena harganya paling mahal dibandingkan jenis lain.


Renjani tidak akan menggunakan alat tersebut sekarang, ia takut hasilnya tidak sesuai harapan meski sisi lain ia juga penasaran. Renjani harus menyiapkan mental sebelum menggunakan alat tes kehamilan tersebut.