Married by Accident

Married by Accident
Pergi



Zack Pieterson yang tadinya keluar lagi dari dalam lift setelah diberitahu jika ia tidak perlu datang ke ruangan IGD, sehingga saat ini berjalan dengan langkah kaki panjangnya menuju ke arah taman depan rumah sakit.


Bahkan ia masih membawa buket bunga di tangannya dan menatapnya saat berjalan. "Jika biasanya kamu langsung menolak bunga pemberianku dengan membuang ke tempat sampah, sepertinya nanti ini akan dihancurkan oleh kekasihmu yang sangat kau banggakan itu."


"Aku ingin melihat apa respon kekasihmu setelah aku yang berhasil mendapatkan kesucianmu. Apa dia akan membunuhku dan tetap mau menerimamu? Atau dia tidak akan mau lagi padamu karena kamu sudah tidak lagi perawan?" Zack sebenarnya merasa sangat senang sekaligus bahagia karena menjadi orang pertama untuk wanita yang dicintai.


Jadi, sangat berharap bisa mendapatkan Marcella dengan menikahinya untuk sebuah pertanggungjawaban atas perbuatannya. Meskipun ia sadar jika tidak mungkin akan diterima oleh yang bersangkutan karena pastinya hanya kebencian yang dirasakan setelah perbuatannya.


Namun, ia sama sekali tidak menyerah karena ingin menunjukkan bahwa bukan hanya nafsu yang dimilikinya saat mengincar Marcella hingga rela melakukan apapun untuk bisa tidur dengannya. Bahwa ia benar-benar sangat mencintai sosok wanita yang merupakan rekan kerjanya tersebut.


Tidak ingin buket bunga mawar merah yang di bawanya rusak, ia kini memilih untuk menitipkannya pada salah satu security yang berjaga dan memberikan sejumlah uang agar menyimpan di tempat aman.


"Aku yakin jika dia pasti akan menghancurkannya. Bunga itu adalah lambang cintaku untuk Marcella dan tidak boleh dihancurkan oleh pria itu," ucapnya saat kembali berjalan menuju ke arah taman dan berdiri di dekat tanaman rimbun sambil menunggu kedatangan pria yang mungkin akan meluapkan kemurkaan padanya.


Sementara itu di tempat yang berbeda, ya itu di dalam lift, terlihat Erland yang kini menatap angka digital yang bergerak turun menuju ke lantai dasar. Dengan wajah memerah yang dipenuhi oleh angkara murka dan tangan mengepal, ia tidak sabar ingin segera menghancurkan sosok pria yang terdengar sangat percaya diri di telepon tadi.


Hingga ia pun kini segera berjalan keluar dari ruangan kotak besi tersebut begitu pintu terbuka. Langkah kaki panjangnya kini menyusuri mobil Rumah Sakit menuju ke taman yang berada di depan agak sebelah kanan.


"Sayang, aku akan membalaskan dendammu. Aku akan menghancurkan bajingan itu," seru Erland yang berbicara dengan suara dipenuhi oleh emosi yang meletup-letup di dadanya.


Amarah yang dirasakan saat ini seperti gunung berapi yang akan memuntahkan lahar panasnya dan membuatnya kini beberapa kali mengepalkan tangan kanan. Seolah gejolak amarah yang dirasakan terkumpul di sana dan ingin segera disalurkan pada pria yang telah memperkosa sang kekasih.


Beberapa saat kemudian ia tiba di taman depan rumah sakit dan mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok pria yang sangat ingin dihancurkannya. Saat indra penglihatannya mencari, seketika merasa yakin lihat sosok pria yang kini jika tengah menatapnya berdiri agak jauh darinya.


"Pasti dialah bajingan itu," sarkas Erland yang saat ini berjalan mendekati pria tersebut.


Hal berbeda kini dirasakan oleh Zack Pieterson ketika tadi menunggu dan sudah menebak dengan sangat yakin jika pria yang terlihat mencari seseorang tersebut adalah kekasih Marcella. Ia hanya menatap dengan tidak berkedip pria yang berjalan semakin mendekat ke arahnya.


"Oh ... jadi dialah pria yang kau banggakan itu?" ucapnya yang saat ini merasa yakin jika ia akan beradu kekuatan dengan pria yang makin terlihat dekat dengannya.


Hingga suara bariton bernada penuh emosi tertangkap indra pendengarannya saat ini, tapi masih bersikap tenang dan datar.


"Apa kau bajingan yang bernama Zack Pieterson?" seru Erland begitu berdiri di hadapan pria yang memiliki tinggi lebih darinya dan perkataan dari sang asisten memang benar karena badan pria di hadapannya terlihat jauh lebih besar


darinya.


"Kau kekasih Marcella, bukan?" Zack yang sama sekali tidak merasa takut meskipun melihat tatapan berkilat penuh amarah dari sosok pria yang berdiri di hadapannya.


Ia bahkan sengaja mengulurkan tangannya sebagai bentuk perkenalan saat pertama kali bertemu, meski menyadari jika usahanya akan sia-sia dan tidak akan mendapatkan tanggapan.


Hingga apa yang diyakininya benar-benar terjadi begitu melihat respon pria yang seolah ingin memaksanya hidup-hidup.


"Bangsat! Aku datang bukan ingin memperkenalkan diri pada bajingan sepertimu!" sarkas Erland yang saat ini langsung mengempaskan tangan yang menggantung di udara tersebut.


Bahkan ia saat ini langsung mengarahkan tangannya yang dari tadi mengepal dan mengincar wajah pria yang memiliki postur tubuh tinggi besar tersebut.


"Aku akan menghabisimu, berengsek!" Sambil berusaha untuk meninju dan tidak memperdulikan suaranya yang membuat beberapa orang di sekitar taman menoleh ke arahnya.


Satu-satunya hal yang ingin dilakukannya adalah menghancurkan wajah pria bule dengan rambut keemasan tersebut.


Zack yang sudah menduga tanggapan dari kekasih Marcella itu, langsung bergerak mundur dan menoleh ke kanan untuk menghindar dari pukulan. Ia tidak ingin membalas dan hanya ingin menghindar saja.


Apalagi saat ini masih ditetapkan sebagai tersangka, jadi tidak ingin menambah hukuman untuknya jika sampai membuat pria di hadapannya babak belur.


"Kupikir kau adalah seorang pria yang luar biasa karena dicintai begitu besar oleh Marcella, tapi ternyata hanyalah seorang pria kekanakan yang tidak berguna!" seru Zack yang kini bergerak secepat kilat untuk menangkap tangan yang mengepal dan mengincar wajahnya.


Ia bahkan tersenyum menyeringai karena raut wajah pria di hadapannya tersebut makin memerah dan juga tatapan kebencian terlihat jelas ditunjukkan padanya.


"Lepaskan tanganku, berengsek! Kau hanyalah pria pecundang yang beraninya hanya pada wanita lemah. Pria sepertimu harusnya membusuk di neraka." Erland berteriak sambil berusaha untuk melepaskan tangannya yang dicengkeram sangat kuat oleh Zack.


Bahkan ia sama sekali tidak memperdulikan ponsel miliknya yang kini kembali berdering. Ia benar-benar merasa sangat geram melihat raut wajah pria yang seperti meremehkannya, sehingga berusaha dengan mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan diri dan beberapa saat kemudian berhasil.


Ia bahkan secepat kilat mengarahkan kakinya untuk menendang bagian paling vital seorang pria karena mengetahui jika itu adalah sebuah kelemahan. Bahkan pria sehebat dan sekuat apapun tidak akan sanggup menahan kesakitan jika diserang pada titik terlemahnya.


"Rasakan ini, berengsek!"


Zack yang tadinya sengaja melepaskan cengkraman tangannya karena ingin melihat seberapa kuat pria dengan tatapan berkilat penuh kilatan api tersebut. Namun, ia sama sekali tidak pernah menyangka jika ternyata kekasih dari Marcella akan melakukan sebuah cara curang hingga membuatnya meringis kesakitan.


"Oh ****!" seru Zack yang saat ini benar-benar mendapatkan sebuah rasa sakit luar biasa pada bagian vital miliknya.


Ia bahkan sudah membungkuk sambil memegangi bagian paling penting baginya. Namun, tidak hanya itu saja karena saat ini mendapatkan serangan secepat kilat dan membuatnya tersungkur ke tanah.


"Matilah kau, bajingan! Bahkan hukuman penjara tidak akan bisa membayar apa yang kau lakukan pada kekasihku! Aku akan membunuhmu sekarang juga!" Erland merasa meluapmu puas melihat pria tersebut meringkuk di atas tanah dan terlihat masih memegangi bagian paling vital.


Ia tak akan bergerak untuk duduk di atas tubuh pria itu dan kembali menyerang, tapi saat hendak meninju wajah yang membuatnya sangat muak tersebut, tubuhnya terhubung ke belakang ketika mendapatkan sebuah tendangan hingga terempas ke tanah.


"Bangsat!" Saat baru bangkit berdiri, ia melihat jika pria yang masih meringis kesakitan tersebut juga sudah berdiri lagi.


"Kau pikir aku takut padamu!" seru Zack yang tengah menahan rasa sakit luar biasa pada bagian intinya, tapi tidak ingin kalah telak dan kini ingin membalas. Jadi, ia yang sudah mengepalkan tangan, secepat kilat bergerak meninju bagian wajah sebelah kanan kekasih dari wanita yang dicintainya tersebut.


Ia yang mempunyai postur tubuh lebih tinggi dan besar dari pria itu, membuatnya mudah untuk menyerang dan seketika tersenyum menyeringai begitu berhasil membuat sudut bibir sebelah kanan robek.


Erland yang terhubung ke belakang beberapa langkah, kini mengusap bibirnya yang robek dan mengeluarkan darah. Ia memang merasakan rasa pedih di sana, tapi tidak membuatnya berhenti untuk kembali menyerang karena berpikir jika sang kekasih merasakan kesakitan yang luar biasa lebih dari apa yang ia alami saat ini.


"Kau memang pria bajingan yang sama sekali tidak punya nurani. Kau seperti binatang yang tidak punya akal!" teriak Erland yang kini kembali berjalan cepat menuju ke arah Zack.


Meskipun Zack berkali-kali menghindar dari pukulannya yang bertubi-tubi, tidak membuatnya berhenti untuk kembali menyerang. Ia mengincar wajah pria yang bergerak ke kanan dan ke kiri untuk menghindar darinya, jadi menggunakan sebuah tipuan untuk meninju perut.


Hingga usahanya berhasil saat mengelabui pria yang kini hendak menahan tangannya yang ingin menyerang bagian perut, tapi secepat kilat ia meninju wajah sebelah kanan dan berhasil melakukannya.


Apalagi tadi mengerahkan seluruh kemampuannya untuk memukul rahang pria itu hingga terhuyung ke belakang beberapa langkah. Meskipun belum puas, tapi setidaknya ia telah berhasil memberikan sedikit pelajaran.


Saat ia melihat pria di hadapannya mengusap wajah yang kini berubah memar, berniat untuk menyerang lagi. Bahkan juga melihat Zack seperti hendak menyerangnya.


"Apa kau pikir aku hanya akan diam saja? Cukup sudah aku mengalah dan membiarkanmu merasa di atas angin karena sekarang aku akan menghabisimu. Itu adalah sebuah bentuk pertahanan diri," seru Zack yang hendak membalas, tapi saat hendak berjalan mendekat, mendengar suara bariton dari seseorang yang sangat tidak asing dan melihat seseorang yang kini berjalan ke arah mereka.


"Aku tidak takut, berengsek!" Erland yang siap untuk melakukan apapun, seketika menoleh ke arah belakang begitu mendengar suara teriakan dari sang asisten yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Hentikan!" Leo yang tadinya berada di dalam taksi, mendapatkan telepon dari Kyara jika berapa beberapa saat yang lalu Marcella sadar dari masa kritis dan kini sedang diperiksa oleh tim dokter yang menangani.


Awalnya ia merasa heran karena pihak rumah sakit mengatakan tidak ada orang di ruangan ICU, sehingga menelpon bosnya beberapa kali untuk mencari tahu di mana berada.


Namun, teleponnya tidak diangkat dan membuatnya makin yakin jika atasannya tengah bergulat dengan pria bule yang menjadi penyebab kemurkaan.


Ia yang baru saja tiba di rumah sakit pun mendengar dan juga melihat beberapa orang seperti tengah melihat pertunjukan di taman dan sudah bisa menduga jika bosnya berada di sana saat membuat perhitungan dengan pria pribumi itu. Tidak ingin membuang waktu dan bertele-tele, sehingga segera menghentikannya.


"Tuan, nona Marcella baru saja sadar beberapa menit yang lalu. Saya mendapatkan telepon dari Kyara yang dihubungi oleh pihak rumah sakit dan memberikan informasi." Ia yakin jika atasannya yang tidak bisa dihentikan tersebut akan langsung mengakhiri prosesi hukuman yang dilakukan.


"Apa, Marcella sudah sadar?" Erland berteriak sambil membulatkan mata karena merasa sangat terkejut sekaligus senang dan lega saat mendapatkan sebuah kabar baik.


Ia merutuki kebodohannya karena tadi tidak memperdulikan ponselnya yang berdering karena berpikir tidak penting dan hanya ini menghancurkan pria yang menjadi penyebab kemalangan sang kekasih.


Tanpa kupikir panjang ataupun menunggu jawaban dari sang asisten dan juga pria yang berhasil ia berikan sedikit pelajaran, meski belum puas, Erland buru-buru berjalan cepat menuju ke arah lobi karena tidak sabar ingin melihat sang kekasih yang saat ini sudah sadar.


Ia bahkan tidak berhenti mengucap syukur ketika melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah lift dan masuk ke dalam ruangan dengan pintu kotak besi tersebut.


"Sayang, syukurlah kamu sudah sadar. Semua akan baik-baik saja. Kita akan kembali bersama," ucapnya dengan suara lirih sambil memencet tombol pada lift.


Ia saat ini berdebar sangat kencang ketika akan bertemu dengan sang kekasih karena takut dengan respon wanita yang mungkin mengalami depresi.


"Semoga tanggapan Marcella tidak seburuk apa yang kupikirkan," ucapnya yang kini berlalu keluar begitu pintu kotak besi di hadapannya tersebut terbuka.


Ia berjalan cepat dan beberapa saat kemudian berhenti sejenak di depan pintu untuk mengambil napas teratur agar tidak terlihat amarahnya saat tadi berkelahi dengan Zack Pieterson.


Hingga ia pun saat ini langsung membuka pintu setelah mengetuknya. Ia berjalan masuk dan melihat dokter serta perawat tengah memeriksa wanita yang masih belum terlihat olehnya.


Hingga ia berjalan semakin mendekat dan bisa melihat dengan jelas raut wajah wanita yang kini juga bersitatap dengannya dan merasa terkejut.


"Sayang," lirihnya yang saat ini merasa gugup ketika berjalan mendekati sang kekasih yang masih belum mengeluarkan suara karena respon dari sang kekasih sudah diduganya.


'Semoga tidak seperti yang kupikirkan,' gumam Erland yang berniat untuk menggenggam erat telapak tangan sang kekasih yang masih terlihat syok melihatnya untuk pertama kali.


Namun, di saat bersamaan, ia sangat terkejut dan berjenggit kaget mendengar suara teriakan dari wanita yang sudah melewati masa kritis dan sadar itu seperti tidak senang melihatnya.


Bahkan para tim medis saat ini seketika bersitatap begitu melihat pasien seperti diliputi oleh angkara murka.


"Pergi! Aku tidak ingin melihatmu!"


To be continued...