Married by Accident

Married by Accident
Bertabrakan



Beberapa saat lalu, Floe bersama sang ibu baru saja menikmati mie instan yang dibuat oleh pelayan. Bahkan ibu dan anak tersebut makan sambil berbincang dan juga menunggu kabar dari kepala pelayan yang tadi disuruh untuk pergi ke rumah Erland.


Floe yang baru saja meneguk minumannya berupa jus jeruk, sesekali melirik ke arah ponsel yang sengaja diletakkan di sebelah kanannya agar bisa mengetahui jika kepala pelayan menghubungi.


"Kenapa bibik lama sekali memberi kabar? Padahal tadi sudah kuberi tahu jika begitu tiba di sana harus memberitahuku," ucapnya yang kini beralih membuka ponsel miliknya untuk memastikan tidak ada notifikasi yang terlewat.


Melihat putri semata wayangnya saat ini tengah mengenakan pakaian santai berupa dress selutut berwarna biru dan rambut dijebol ke atas, serta penampilan natural karena sama sekali tidak memakai make up, Lestari Juwita hanya geleng-geleng kepala karena melihat ketidaksabaran yang ditunjukkan.


"Nanti juga bibik menelpon. Kamu ini, tidak sabaran sekali sih. Pasti bibik akan mendapatkan foto hasil USG-mu dulu karena tidak mungkin dibuang atau disingkirkan oleh pelayan yang membersihkan ruangan mu." Saat ia baru saja berhenti berbicara, kebetulan mendengar suara ponsel putrinya yang mendapatkan notifikasi.


Floe yang sudah dari tadi menunggu pesan dari kepala pelayan, seketika membuka notifikasi yang baru masuk dan wajahnya berubah memerah begitu membacanya.


Nona, kata pelayan di sini, fotonya sudah diberikan oleh tuan Erland. Bahkan tuan Erland sudah tidak tinggal di sini lagi karena kembali ke rumah utama.


Refleks ia seketika bangkit berdiri dari kursi dan mengepalkan tangan kanan serta wajahnya berubah memerah karena dikuasai oleh amarah. "Sialan! Sepertinya dia sengaja melakukannya agar aku tidak mendapatkan kenangan terakhir dari anakku."


"Ada apa, Sayang?" tanya sang ibu yang kini ingin memastikan pikirannya karena wajah putrinya seolah sudah menunjukkan jawaban atas pertanyaannya. Namun, tetap saja ia ingin mengetahui hal yang sebenarnya.


Floe yang saat ini seketika mengingat pria paling dibenci olehnya, tidak memperdulikan sang ibu yang ingin sebuah penjelasan karena langsung memencet tombol panggil pada ponselnya.


Ia menelpon nomor Erland dan menunggu panggilannya diterima. Namun, ia sudah beberapa detik menunggu, tetap tidak mendapatkan jawaban dan akhirnya sambungan terputus.


"Berengsek!" Floe yang masih merasa sangat marah, kini hanya mengajak prestasi rambutnya yang dicepol ke atas untuk melampiaskan apa yang saat ini membuncah di hatinya. Hingga ia menoleh ke arah sang ibu yang menatapnya tajam.


"Floe, cepat jelaskan pada Mommy!" Merasa ada yang tidak beres, ia merasa iba pada putrinya dan ingin membantu sebisanya.


Floe yang saat ini merasa sangat marah bercampur kesal, mulai menjelaskan apa yang tadi dikatakan oleh pelayan melalui pesan singkat. "Sepertinya dia sengaja melakukannya, Mom. Aku malas sekali ke kantornya ataupun ke rumahnya untuk menanyakan masalah foto anakku."


Saat ini, sang ibu seolah tiba-tiba mendapatkan sebuah ide cemerlang ketika kalimat terakhir dari putrinya membuatnya mengingat perkataan dari sang suami yang tadi membahas mengenai sosok pria dengan nama yang menurutnya cukup aneh didengar.


'Kebetulan sekali. Aku bisa menyuruh putriku untuk datang ke perusahaan karena di sana masih ada pria yang disukai oleh suamiku itu.' Ia saat ini berjalan mendekati putrinya dan langsung menepuk pundak.


"Kamu minta bantuan daddy-mu saja biar membereskannya. Mommy juga tidak suka kamu bertemu dengan pria labil itu. Oh ya, tadi daddy-mu bilang Tengah rapat dan pastinya tidak menjawab telepon. Lebih baik kamu sekarang ke perusahaan saja untuk menceritakan semuanya." Ia berharap pria yang dijodohkan oleh sang suami tersebut masih berada di perusahaan.


Floe yang membenarkan perkataan sang ibu karena jujur saja malas bertemu ataupun berinteraksi yang hanya akan menimbulkan perdebatan. Ia menatap ke arah sang ibu.


"Mommy benar. Daddy pasti bisa membuat si berengsek itu mengembalikan milikku karena dia sama sekali tidak berhak memilikinya." Refleks Floe kini langsung bergerak mencium tangan sang ibu sebelum berangkat.


"Ya udah, Mom. Aku berangkat sekarang." Ia bahkan sama sekali tidak berniat untuk mengambil tas miliknya yang berada di dalam kamar karena buru-buru berjalan menuju ke garasi.


"Floe, tunggu!" Lestari Juwita yang tadinya berjalan mengikuti putrinya, seketika mengerutkan kening karena melihatnya menuju ke arah pintu keluar dan berjalan ke garasi.


Floe yang baru saja mengambil kontak mobil di garasi, tidak jadi masuk ke dalam mobil begitu melihat sang ibu mendekatinya dan menatap dengan penuh rasa heran yang membuatnya malah bingung.


"Iya, Mom. Ada apa?"


"Kamu tidak salah ke kantor dengan penampilan seperti itu? Lihatlah, kamu sangat berantakan. Bahkan tidak memakai riasan sama sekali lho." Lestari Juwita merasa khawatir jika pertemuan pertama putrinya dengan pria itu malah akan membuat ilfeel.


Floe yang seketika merasa jika perkataan sang ibu sama sekali tidak penting karena berpikir jika saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan penampilan.


Satu-satunya yang ada di pikirannya hanyalah ingin segera mendapatkan foto anaknya karena merupakan satu-satunya kenangan yang dimiliki dan tidak berhak direbut oleh seorang ayah karena sama sekali tidak memperdulikan keadaannya dan calon keturunan.


"Buat apa memikirkan penampilan di situasi genting seperti ini, Mom. Lagipula tanpa aku make up pun, semua orang sudah mengenaliku. Aku berangkat dulu, Mom." Kini Floe langsung masuk ke dalam mobil dan tidak membuang waktu untuk menginjak pedal gas setelah menyalakan mesin.


Tanpa memperdulikan sang ibu yang seperti kecewa dengan jawabannya, ia kini sudah mengemudikan mobil kesayangannya menuju ke arah pintu gerbang. Meskipun sebenarnya merasa aneh melihat raut wajah sang ibu.


Sepenjang perjalanan menuju ke perusahaan, Floe bahkan tidak berhenti mengumpat sambil memukul kemudian karena hanya itu yang bisa dilakukan untuk sekedar melampiaskan kekesalannya.


"Awas saja jika dia tidak mau memberikan foto itu padaku. Biar daddy yang turun tangan untuk membereskannya karena aku tidak ingin berurusan dengannya." Ia yang saat ini mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi karena jalanan tidak terlalu macet, sesekali menatap ke arah spion untuk melihat wajahnya.


"Aku hanya ingin menemui daddy saja dan diam di ruangannya. Jadi, tidak masalah berpenampilan seperti ini." Ia bahkan merasa jika penampilannya seperti baru saja bangun tidur.


Bahkan rambutnya juga hanya di cepol ke atas dan berantakan, tapi sama sekali tidak memperdulikan itu karena ingin segera tiba di perusahaan keluarga.


Hingga beberapa saat kemudian, ia sudah membelokkan mobil berwarna merah miliknya dan langsung parkir di tempat khusus petinggi perusahaan dan tentu saja tidak campur dengan staf lain.


Buru-buru ia beranjak keluar dari mobil dan berjalan sambil menelpon Erland karena saat ini masih berusaha untuk mengecek apakah pria itu tidak akan mengangkat teleponnya.


"Dasar pengecut!" sarkas Floe yang saat ini memilih untuk mengirimkan pesan.


Ia kini mengetik pesan untuk pria yang tidak mau mengangkat telepon darinya dan tentu saja sangat fokus tanpa melihat ketika berjalan menuju ke lobby.


Hei, pecundang! Kembalikan apa yang merupakan milikku. Kau tidak pantas memilikinya.


Floe yang baru saja mengetik pesan yang mewakili kemurkaannya, lalu berniat untuk memencet tombol kirim. Namun, ia bertabrakan dengan seseorang dan membuat ponsel miliknya jatuh ke tanah.


"Astaga!" seru Floe yang seketika menunduk ke arah ponsel miliknya yang tergolek lemah di bawah dan beralih menatap pria yang baru saja ditabraknya.


To be continued...