Married by Accident

Married by Accident
LI



Coba tebak aku ada dimana.


Kening Kelana berkerut membaca pesan dari Valia bersama sebuah foto dengan latar belakang violin dan piano. Kelana mendekatkan ponselnya untuk melihat lebih jelas. Ruangan itu sangat familiar bagi Kelana, beberapa hari yang lalu ia mendatanginya bersama Renjani.


Kelana mendial nomor Valia dengan emosi yang sudah memuncak, siapa yang mengizinkan Valia masuk ke studio itu. Tiba-tiba Kelana ingat ucapan papa nya yang mengatakan ia akan menyesal karena memberikan lagu sulit untuk Valia semalam. Kelana tak menyangka jika papa nya berbuat sejauh itu. Kelana pikir itu hanya gertakan dari Wira. Dari semua kekejaman yang Wira lakukan, Kelana masih berpikir bahwa papa nya itu sebenarnya peduli padanya. Namun sekarang Kelana menepis semua pikiran itu, Wira benar-benar tak peduli padanya. Studio itu adalah satu-satunya tempat yang membuat Kelana merasa dekat dengan sang mama. Dari dulu Kelana tak mengizinkan siapapun masuk bahkan ia membersihkan sendiri tempat tersebut karena ingin menjaganya sama seperti ketika mama nya masih hidup.


"Siapa yang mengizinkan mu masuk kesana?" Suara berat Kelana terdengar menakutkan saat Valia menjawab teleponnya.


"Papa yang buka buat aku, dia merusak pintunya supaya aku bisa masuk"


"Kalau kamu berani sentuh barang yang ada disana, aku nggak bakal segan-segan hancurin kamu bersama karir mu yang nggak seberapa itu."


"Mas, acaranya sudah mau dimulai." Yana menjemput Kelana di ruangannya, ia memasang clip on pada kemeja Kelana.


Kelana beranjak dari sofa mengikuti Yana melewati koridor menuju lantai bawah, ia akan syuting disana bersama Jazylin yang merupakan bintang tamu hari ini.


"Kita pakai tangga Mas, lift nya penuh." Ucap Yana meski ia tak yakin apakah Kelana mendengarkannya. Yana tidak tahu dengan siapa Kelana berbicara. Ia melihat wajah Kelana memerah begitupun dengan sepasang matanya. Yana ikut merasakan kemarahan itu terpancar dari tubuh Kelana.


"Aku cuma mau main violin yang di atas meja sebentar, aku juga pengen tahu seperti apa rasanya main violin punya Mama nya Kak Kelana."


"Aku bilang jangan sentuh apapun!" Sentak Kelana hingga Yana dan beberapa orang yang berada di tangga terkejut.


"Lagi pula Mama Kak Kelana kan udah meninggal, arwah nya nggak mungkin kesini kan?" Valia tertawa.


Kelana mengepalkan tangannya, Yana segera mengambil alih ponsel Kelana sebelum benda tipis itu hancur di tangan Kelana. Yana memutus sambungan dan memasukkan ponsel itu ke dalam saku jaketnya. Kelana bisa menghancurkan apapun saat marah, ia sudah menghabiskan banyak gelas di apartemen.


"Tenang Mas." Yana mengusap bahu Kelana takut-takut.


Kelana menghentikan langkah memejamkan mata berusaha menstabilkan emosinya. Kalimat terakhir Valia terus menggema di telinga Kelana, apalagi tawanya yang seperti duri bagi Kelana. Mengapa Valia tertawa, ia sama sekali tidak menghargai Kelana sebagai kakak nya. Tidak, ia memang tak punya sopan santun persis seperti Ratih.


"Kamu boleh menggunakan semua alat musik disini setelah besar nanti, ingatlah Mama setiap kali kamu memainkannya."


Wira begitu tega merusak pintu studio demi Valia. Kelana tak akan peduli apapun yang Valia perbuat tapi jika ia menyentuh alat musik itu, ia tak bisa memaafkannya. Valia sudah keterlaluan.


Pandangan Kelana berkunang-kunang saat membuka mata. Ruangan itu serasa berputar, Kelana tak bisa berpikir jernih, ia ingin segera pergi ke rumah itu dan menghajar Wira habis-habisan.


Kelana kembali melangkah menuruni anak tangga tapi karena pandangannya kabur, ia salah berpijak.


"Mas!" Yana memekik ketika tubuh Kelana tiba-tiba terpeleset dan jatuh berguling-guling lalu berakhir di lantai. Yana berlari menuruni tangga dan mengguncang tubuh Kelana.


Para staf yang berada di sekitar situ mengerumuni Kelana. Mereka memanggil nama Kelana sembari menghubungi ambulan.


"Jangan asal menggerakkan tubuhnya, dia bisa saja mengalami cedera tulang." Tukas salah satu staf yang berada disana.


"Tidak ada darah, tapi ini justru bahaya."


Yana makin panik apalagi melihat bibir Kelana membiru dan tidak merespon panggilan orang-orang. Air mata Yana mengalir deras, ia merapalkan doa berharap Kelana tidak mengalami sesuatu yang buruk.


Beberapa menit kemudian ambulan datang, empat orang petugas memindahkan Kelana ke brankar dan memasuki lift menuju lantai dasar.


Sekujur tubuh Yana bergetar meski ia telah berada di dalam ambulan bersama Kelana. Ia tidak berhenti berdoa agar Kelana bisa diselamatkan.


Yana mengeluarkan ponselnya, ia kesulitan memegang dengan tangan yang gemetar. Namun akhirnya ia berhasil menghubungi Renjani.


"Halo Mbak, Mas Lana jatuh dari tangga, sekarang kami lagi di jalan menuju rumah sakit." Hanya itu yang sanggup Yana katakan. Yana menjatuhkan ponselnya ke sembarang arah.


Yana menunduk dalam menangis tersedu-sedu seraya menggenggam erat tangan Kelana. Ia tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Kelana adalah satu-satunya orang yang Yana miliki, lebih dari sekedar atasan—Kelana adalah kakak dan orangtua bagi Yana.


Kelana adalah orang yang menyelamatkan Yana dari atasan galak nya di cafe. Sejak saat itu Yana berjanji pada diri sendiri untuk mengabdikan hidupnya pada Kelana.


Empat orang perawat sudah menunggu di depan UGD ketika ambulan yang membawa Kelana sampai di rumah sakit. Mereka bergegas mendorong brankar masuk ke UGD agar Kelana segera ditangani oleh dokter.


"Yana!"


Yana memutar badan mendengar suara Renjani. Pandangan Renjani penuh tanya tapi Yana tidak bisa menjelaskan apapun. Yana hanya bisa memeluk Renjani, ia terlalu terkejut dengan kejadian ini.


"Mas Lana tadi terima telepon dari seseorang," Yana mulai bercerita setelah sedikit tenang.


Mereka duduk di ruang tunggu di depan UGD.


"Dia marah-marah lalu terpleset dan jatuh."


Renjani kembali memeluk Yana, ia berharap tak ada sesuatu yang buruk pada Kelana. Semua kejadian ini terlalu tiba-tiba, Renjani bahkan baru meninggalkan kantor itu 15 menit yang lalu. Jika tahu ini akan terjadi, Renjani tidak akan pergi dari sana. Mungkin ia bisa menyelamatkan Kelana saat itu.


"Kami turun lewat tangga karena lift penuh." Yana menyesal telah mengajak Kelana melewati tangga, harusnya mereka menunggu lift. Tak apa jika terlambat asal Kelana tidak jatuh. "Maaf Mbak, harusnya saya menjaga Mas Lana."


Renjani menggenggam erat tangan Yana, walau bagaimanapun ini adalah kecelakaan. Yana sudah menjaga Kelana dengan baik.


Entah sudah berapa lama Renjani duduk di samping brankar memandangi wajah pucat Kelana. Dibandingkan saat kecelakaan beberapa waktu lalu, Renjani merasa jauh lebih hancur melihat Kelana terbaring tak berdaya di atas brankar seperti ini. Renjani ingin menggantikan posisi Kelana sekarang.


Kelana sudah siuman sejak 30 menit yang lalu tapi ia enggan bicara. Bibirnya tertutup rapat begitupun dengan matanya, ia tidak benar-benar tidur, hanya saja ia tak mau membuka mata.


Kelana sempat berbicara pada dokter yang menanganinya. Dokter mengatakan Kelana mengalami cedera tulang selangka akibat benturan keras. Kelana amat hancur saat dokter menyatakan butuh waktu paling singkat 2 bulan untuk dirinya sembuh. Itupun Kelana harus menjalani fisioterapi untuk memulihkan tulangnya.


Hidup ini sedang bercanda. Candaan yang sama sekali tidak lucu bagi Kelana. Lagi pula Kelana bukan orang yang suka bercanda.


Wira menghancurkan Kelana begitu hebat, ia merusak pintu agar Valia bisa masuk ke studio musik Karalyn.


Mengapa harus sekarang ketika Kelana memiliki kesempatan untuk datang ke kompetisi musik bergengsi dunia di Atlanta, ia harus mengalami ini. Datang ke kompetisi itu adalah impian Kelana sejak usianya belasan tahun tapi takdir begitu kejam padanya. Kelana tidak mungkin mendapat kesempatan ini dua kali.


Kelana tidak mengharapkan kebahagiaan karena ia memang tak akan pernah mendapatkannya. Mama nya meninggal saat usianya 7 tahun. Hidup dengan papa yang mendidiknya begitu keras. Satu tahun setelahnya Ratih dan Valia datang—menyalakan api di dunia Kelana yang seperti neraka. Kelana harus berlatih tanpa henti demi memenuhi keinginan Wira yakni menjadi violinist.


Kelana pernah bahagia saat dirinya bertemu dengan Elara. Kelana dan Elara menjalin hubungan manis yang penuh gelora. Kelana jatuh begitu dalam pada Elara, ia menyandarkan hidup pada gadis itu. Namun tiba-tiba Elara mengatakan harus pindah dan mengakhiri hubungan itu. Kelana ditakdirkan untuk selalu kehilangan sandaran hidup.


Sekarang Kelana hancur, ia tak tahu bagaimana menyatukan hatinya yang rapuh setelah terluka berkali-kali. Adakah yang berpihak pada dirinya? tak ada, bukan Wira apalagi Elara atau bahkan para penggemarnya. Kelana harus berdiri dengan dua kakinya sendiri yang lemah dan tak berdaya. Siapakah yang benar-benar mencintainya? tak ada.


"Aku disini."


Kelana membuka mata mendengar suara itu, meski pandangannya berkabut tapi ia tahu bahwa seseorang yang dari tadi duduk di samping ranjang adalah Renjani.


"Selalu disini."


Kelana merasakan tangan dingin Renjani menggenggamnya. Kelana kembali memejamkan mata bersama setetes kristal bening yang lolos dari matanya melewati pelipis.


"Aku mencintaimu, Kelana."


Kelana membuang muka, ia tak mau mendengar apapun sekarang. Cinta tak akan pernah bertahan lama bukan? Renjani sendiri yang mengatakan mereka akan berpisah dalam waktu 7 bulan dan setelah itu kemanakah cinta itu akan pergi. Kelana akan patah hati untuk kesekian kalinya.


"Kamu adalah laki-laki misterius yang selalu datang ke perpustakaan di Rabu sore, sebelum tahu kalau kamu Kelana, aku selalu puji kamu dalam hati, siapakah laki-laki yang selalu memakai masker itu, dia tampan—masker sama sekali nggak bisa menyembunyikan ketampanannya." Renjani menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Kelana.


"Kamu mau makan?" Tanya Renjani, "kamu belum makan apapun dari tadi." Ia terdiam beberapa saat tapi Kelana bergeming.


Akhirnya Renjani beranjak dari sana, ia membaringkan tubuhnya di sofa. Jam dingin menunjukkan pukul 9 malam. Renjani akan tidur sebentar.


Yana dan Adam belum kembali karena harus mengurus beberapa hal di luar. Mereka juga harus memberikan keterangan pada publik tentang kecelakaan yang menimpa Kelana. Para penggemar pasti bertanya-tanya tentang keadaan Kelana saat ini.


"Saya mau masuk!"


Renjani baru saja hendak berpindah ke dunia mimpi tapi suara itu kembali menariknya ke dunia nyata.


Renjani melirik Kelana sebelum keluar karena mendengar keributan di depan ruangan.


"Ada apa?" Renjani melihat dua security yang ditugaskan menjaga di depan ruangan Kelana tengah menahan seseorang. "Papa?"


"Re, Papa mau lihat keadaan Kelana." Wira berusaha melepas tangan security yang menahannya.


"Maaf Pa, Kelana tidak mau menemui siapapun." Mengetahui kondisi Kelana saat ini pasti ia tak akan mau bertemu Wira apalagi mereka sempat bertengkar kemarin. Renjani tak mau keadaan Wira membuat keadaan Kelana semakin buruk.


"Saya Papanya." Tegas Wira.


"Mungkin lain kali Papa bisa kesini tapi untuk sekarang saya mohon, Papa jangan memaksa untuk melihat Kelana, dia benar-benar tidak mau bertemu dengan siapapun." Renjani berusaha bicara baik-baik agar tidak membuat Wira tersinggung.


"Saya cuma mau lihat keadaan Kelana."


"Tolong biarkan Kelana istirahat." Renjani memohon, jika Wira peduli pada keadaan Kelana seharusnya ia tak memaksa untuk masuk apalagi setelah menyebabkan masalah dengan Kelana.


"Kamu siapa berani melarang saya bertemu Kelana?" Bentak Wira tak terima.


"Saya istrinya dan Kelana tidak mau bertemu siapapun terutama Papa nya." Nada bicara Renjani ikut meninggi, ia tak mau kalah pada seseorang seperti Wira yang hanya peduli pada dirinya sendiri. Sedikitpun Wira tak peduli pada Kelana, ia sibuk memanjakan anak tirinya.


"Kenapa kamu bicara begitu?"


"Bukankah Papa yang menyebabkan ini semua?"


"Jaga bicara mu!"


"Pak, tolong usir Pak Wira dari sini." Ujar Renjani pada security dan kembali masuk ke ruang rawat Kelana.


Meskipun terkesan tidak peduli tapi Kelana mendengar semua pembicaraan Renjani dan Wira barusan. Kelana ingin berterimakasih karena Renjani mengerti perasannya meski ia belum bercerita apapun.