
"Eh ... itu kan kak Floe. Iya, kan Sayang?" tanya Kirana yang saat ini berbicara pada sang suami.
Ia dan sang suami yang baru saja pulang berbulan madu dari Paris, hari ini tiba di Jakarta dan menunggu supir menjemput. Awalnya sang kakak yang hendak menjemput, tapi entah mengapa tidak jadi dan tiba-tiba mengatakan tidak bisa, sehingga menyuruh supir untuk menjemput.
Sementara itu, pria dengan masih mengenakan baju hangat dan memegang troli berisi beberapa koper yang sudah ditumpuk, mengikuti arah pandang dari sang istri dan seketika menganggukkan kepala membenarkan.
"Iya, Sayang. Itu kakak ipar. Sedang apa kakak ipar di sini? Itu dengan siapa? Apa kamu mengenalnya?" tanya Felix yang saat ini mengerutkan kening ketika melihat interaksi antara tiga orang yang tak jauh dari tempatnya berdiri dan membuatnya makin penasaran.
Kirana yang seketika menggelengkan kepala karena sama sekali tidak mengenal pria yang berada di sebelah sang kakak ipar yang sebentar lagi tidak lagi menjadi istri dari saudara laki-lakinya.
"Aku juga tidak tahu dan belum pernah melihat pria itu. Apa jangan-jangan, itu adalah pengganti kak Erland? Tapi mereka bercerai bukan karena kak Floe memiliki pria idaman lain karena yang bersalah adalah kakakku yang lebih mementingkan kekasihnya. Tapi aku penasaran. Kamu tunggu di sini, Sayang. Aku mau menyapa untuk mencari tahu siapa pria itu." Kirana tidak menunggu jawaban dari sang suami dan langsung melambaikan tangannya.
Ia melihat jika kakak iparnya tersebut juga melihatnya dan berniat untuk berjalan menghampiri, tapi seketika mengerutkan kening ketika melihat tatapan yang seperti memberikan sebuah kode tidak ingin dihampiri.
Kirana yang masih merasa bingung dengan sikap dari sang kakak ipar, kini memperlambat langkahnya. 'Apa kak Floe tidak ingin aku menghampirinya?'
Saat Kirana berniat untuk berbalik badan dan tidak menyapa sang kakak ipar, tidak jadi melakukannya karena mendengar namanya dipanggil.
Floe yang beberapa saat lalu melihat Kirana melambaikan tangannya, tidak ingin jadi darinya terungkap malam itu di depan ibu dan anak tersebut. Ia memutar otak untuk mencari jalan keluar dan akhirnya menemukan sebuah ide di kepala.
Ia refleks berbicara pada wanita yang dari pertama melihatnya, mengamati penampilannya mulai dari ujung kaki hingga kepala dan tentu saja membuatnya risi. "Maaf, Tante karena ada urusan sebentar dengan teman baik saya yang kebetulan akan pergi ke luar negeri."
"Saya pamit sebentar untuk menemui sahabat saya. Tidak lama, hanya beberapa menit saja," ucap Floe yang kini menoleh ke arah pria yang berada di sebelah kanannya dan tentu saja berakting mengikuti apa yang dilakukan Dhewa tadi. "Sayang, aku ke sana sebentar saja hanya untuk menyapa temanku yang akan pergi."
Dhewa refleks menganggukkan kepala sebagai persetujuan. "Iya, Sayang. Aku dan mama akan menunggu di sini. Pergilah, Sayang."
Floe yang tidak ingin membuang waktu karena khawatir jika adik iparnya menghampiri dan memanggil nama aslinya serta mengatakan adik suaminya, sehingga buru-buru berjalan menghampiri.
Berbeda dengan Lira Andira yang dari tadi belum berkomentar apapun saat melihat wanita yang merupakan kekasih dari putranya, seketika mengarahkan cubitan cukup kuat pada lengan.
"Apa yang membuatmu menolak Camelia yang jauh lebih cantik dari wanita itu? Dia terlihat biasa saja dan tidak secantik Camelia lho. Mana tidak sopan pula, pergi saat mama belum berkomentar apapun," sarkas Lira Andira yang saat ini menatap tajam putranya dan beralih menoleh ke arah siluet wanita yang ingin berbicara tak jauh dari tempatnya berdiri.
Dhewa sebenarnya sangat malas menanggapi perkataan sang ibu yang selalu ingin menang sendiri dan tidak mau mendengarkan pendapatnya, tetapi ingin melindungi Floe agar terlihat baik.
"Sudah, Ma. Jangan suka mencari kesalahan orang lain. Tadi dia sebelumnya sudah meminta maaf sebelum ke sana untuk menyapa temannya yang akan berangkat. Lagipula Mama dari tadi juga diam saja saat dia berbicara, tapi sekarang marah protes seperti ini." Ia sebenarnya merasa nyeri saat sang ibu mencubitnya sangat kuat.
Namun, sengaja tidak menunjukkan rasa sakit dan memilih untuk memeluk erat tubuh sang ibu agar tidak terus dipenuhi oleh rasa kesal dan amarah. "Mama tidak boleh marah-marah terus biar awet muda dan tetap cantik. Ayu Ningrum adalah seorang wanita sederhana dan baik. Dia memiliki kelebihan yang hanya bisa dilihat olehku."
Ia bisa mengerti bagaimana posisi Floe begitu melihat raut wajah khawatir beberapa saat lalu ketika menatap wanita yang melambaikan tangan padanya.
'Pasti Kanjeng Ratu Widodariku sedang berusaha untuk tidak membuat wanita itu membuka penyamarannya sebagai Ayu Ningrum. Itulah kenapa buru-buru ke sana untuk menghentikan wanita itu. Aku seperti pernah melihatnya, tapi di mana ya?' gumam Dhewa yang mencoba untuk mengingat wanita yang tadi hendak berjalan mendekat, tapi tidak jadi melakukannya.
"Kau ini selalu saja membantah Mama jika berhubungan dengan seorang wanita. Mama tidak ingin kamu bernasib sama hanya karena salah memilih pasangan. Itulah mengapa Mama selalu berusaha untuk mencarikan yang terbaik untukmu. Bukankah kamu pernah memilih seorang wanita dan berakhir nahas karena dikhianati?" Ia sebenarnya tidak ingin mengungkit masa lalu, tapi selalu khawatir jika putranya mengalami hal yang sama.
"Bisa saja dia melakukan hal yang sama padamu dan hanya mengincar uangmu saja." Lira Andira berbicara sambil melihat interaksi antara kekasih putranya dengan sahabatnya.
Satu-satunya hal yang saat ini diinginkan adalah ingin memisahkan putranya dengan wanita pilihannya karena berpikir akan kecewa seperti dulu. Ia bahkan tidak bisa melupakan bagaimana putranya terpuruk saat baru saja dikhianati oleh sang kekasih yang sangat dicintai.
Hal itulah yang membuatnya sudah tidak respect pada wanita yang kastanya berbeda dengan keluarga Ismahayana. Apalagi dulu kekasih putranya hanyalah anak seorang petani dan malah memanfaatkan putranya untuk bisa membelikan apapun yang diinginkan.
Namun, ia mengerutkan kening ketika melihat sosok wanita yang merupakan sahabat kekasih putranya seperti keturunan konglomerat saat mengamati penampilannya.
"Ma, Kanjeng Ratu Widodariku bukanlah wanita seperti itu karena aku sangat mengenalnya. Dia benar-benar sangat berbeda dengan wanita sialan itu. Percaya padaku untuk kali ini saja, Ma." Dhewa yang saat ini berbicara, tapi dicueki oleh sang ibu karena dari tadi mengamati Floe yang berbicara dengan wanita itu dan membuatnya merasa khawatir.
'Mama tidak akan curiga, kan? Apa mama saat ini tengah memperhatikan penampilan wanita itu? Mana dia pakai outfit yang identik dengan orang-orang kaya pula. Bagaimana ini?' Dhewa seketika menelan saliva dengan kasar begitu mendengar sang ibu yang menunjuk ke arah Floe.
"Dia punya teman teman kaya, ya? Apa dia sengaja memanfaatkan orang-orang kaya untuk bisa didekati dan membelikan apapun yang diinginkan? Lihatlah, dia terlihat sangat akrab dengan wanita yang terlihat berasal dari keluarga berada. Apa kamu mengenal wanita itu?" tanya Lira Andira yang saat ini masih tidak mengalihkan perhatiannya karena merasa aneh dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Saat ia ingin mendengar jawaban dari putranya, tapi setelah beberapa menit tidak kunjung menanggapi, refleks langsung menoleh dan mengerutkan kening. "Kenapa? Apa kamu juga berpikir seperti itu? Dia berteman dengan orang-orang kaya untuk bisa dimanfaatkan?"
Ia seketika menoleh begitu mendengar suara bariton seorang pria yang tengah memanggil sebuah nama dan berjalan mengarah kepada 2 wanita yang dibicarakan.
Floe!" seru Erland yang saat ini baru saja datang dan berjalan mendekati Floe serta pasangan suami istri yang baru saja pulang berbulan madu.
Dhewa yang seketika menoleh ke arah sebelah kiri dan melihat seorang pria yang tadi dilihatnya dari media sosial karena masih sangat hafal dengan wajahnya, seketika terdiam dan merasa bingung dengan apa yang harus dilakukannya saat ini.
Antara perkataan sang ibu yang membuatnya kesal dan sekarang ditambah oleh kedatangan pria yang merupakan suami Floe, sehingga saat ini berpikir jika wanita yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri adalah saudara ipar. Ia baru menyadari jika wajah wanita itu mirip dengan suami Floe yang tadi dilihat di mesin pencarian.
'Sialan! Kenapa pria bernama Erland itu datang ke sini sih! Semuanya jadi rumit seperti ini. Pasti Kanjeng Ratu Widodariku makin bertambah stres dengan kedatangan pria yang sangat dibenci. Aku harus membantunya, tapi mama tidak boleh tahu jika itu adalah suaminya,' gumam Dhewa yang saat ini menoleh ke arah sang ibu dan memutar otak untuk mencari sebuah ide.
To be continued....