
Pagi-pagi sekali Kelana mengantar Renjani ke kantor bahkan sebelum karyawannya datang, Renjani sudah sampai disana. Mereka meninggalkan Nana di apartemen bersama Yana.
"Ini buku-buku yang dikirim kemarin, belum sempet diapa-apain." Renjani menunjuk tumpukan buku di dekat pintu yang nanti akan dipacking dan dikirim ke pemesan. 100 pemesan pertama akan mendapat buku dengan tandatangan penulis. "Nanti penulis favorit aku bakal kesini." Renjani bersemangat, rasanya belum percaya jika Asmara Publishing bisa menerbitkan buku milik penulis favoritnya.
"Penulis favorit kamu banyak, yang mana?"
"Bara Efendi."
"Aku nggak pernah dengar nama itu."
"Dia penulis baru, buku pertamanya yang aku baca terbit tahun 2020, banyak banget yang suka apalagi anak-anak remaja karena memang ceritanya tentang anak muda."
Pantas saja Kelana tidak pernah mendengar nama itu karena ia tak menyukai novel-novel percintaan remaja. Walaupun Kelana pernah mengatakan ia bisa membaca buku apapun sebenarnya ia lebih menyukai buku yang serius.
Kelana mengikuti Renjani ke lantas atas yang juga terdapat banyak buku dari penulis lain.
"Sepertinya kamu butuh karyawan lagi."
"Iya, kerjaan kami makin keteteran apalagi aku nggak bisa setiap hari ke kantor." Renjani membuka gorden hingga ruangan di lantai dua menjadi terang berkat sinar matahari yang masuk.
"Jendela itu?" Kelana menunjuk jendela kaca di salah satu sisi ruangan, sepertinya ia melihat jendela itu semalam. "Aku melihatnya semalam."
"Tadi malam kita nggak disini." Renjani mengambil satu kaleng kopi dari lemari pendingin dan memberikannya pada Kelana.
"Jendela itu ada di foto profil cowok yang telepon Yana." Kelana membuka kaleng tersebut lalu kembali memberikannya pada Renjani.
"Bukannya kamu ada janji ketemu dia, ini buat kamu." Renjani tertawa karena Kelana mengira ia meminta untuk membukakan kaleng tersebut.
"Iya, sekitar jam 9 sekalian sarapan, makasih ya." Kelana meneguk kopi dingin tersebut, ia tidak terlalu suka kopi dingin tapi karena Renjani telanjur memberikannya jadi mau tak mau Kelana meminumnya.
"Maaf ya aku nggak bisa bikin sarapan hari ini." Renjani tidak sempat membuat sarapan karena Nana bangun lebih awal.
"Its okay baby, kamu jangan lupa beli sarapan di sekitar sini."
"Iya nanti sekalian makan sama yang lain." Renjani menarik kursi meminta Kelana duduk selagi meminum kopi.
Renjani membuka laptopnya untuk mencetak resi pemesan yang jumlahnya ratusan dan akan terus bertambah hingga besok.
"Kamu mencetak resi sendiri?"
"Iya, lebih awal lebih baik." Renjani mencetaknya sekarang agar saat yang lain datang, mereka bisa langsung membungkus buku-bukunya.
"Kamu memang pekerja keras." Kelana tahu Renjani bisa saja menyuruh karyawannya tapi ia memilih untuk mengawalinya. Lagi pula itu bukan pekerjaan yang sulit.
"Hasil didikan kamu ini." Renjani selalu melihat semangat Kelana saat bekerja padahal Kelana sudah punya segalanya. Namun Kelana selalu bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaik
"Ini foto siapa?" Kelana mengacungkan selembar foto lelaki yang tersenyum lebar di atas meja.
"Itu foto Bara yang aku omongin barusan."
Kelana tertegun, ia pikir penulis bernama Bara itu sudah berusia tiga puluh atau empat puluh tahunan ternyata dilihat dari fotonya Bara tampak masih ABG. Kenapa Renjani menyukai penulis ABG seperti itu.
Kelana beranjak setelah menghabiskan satu kaleng kopi, ia melangkah menghampiri Renjani.
"Jangan lupa pumping." Kelana berbisik di dekat telinga Renjani.
"Iya, aku nggak mungkin lupa." Renjani mendongak menatap Kelana.
"Dan jangan telat sarapan." Kelana mengecup bibir Renjani, ia tak ingin pulang tapi ia juga punya pekerjaan di rumah.
"Maaf!"
Renjani spontan melepas tautannya dengan Kelana mendengar suara seseorang. Tampak Fatan berdiri salah tingkah lalu menganggukkan kepala dan membalikkan badan panik
"Kamu sih." Renjani memukul lengan Kelana pelan.
Kelana tersenyum jahil melihat wajah Renjani memerah.
Sementara itu Fatan menuruni tangga, ketika melihat Jeno datang ia segera menariknya keluar.
"Ngapain keluar?" Jeno kebingungan saat Fatan justru menariknya keluar bukannya mereka harus segera masuk ke kantor sesuai titah Renjani kemarin.
"Jangan masuk dulu." Gumam Fatan.
"Muka lo kenapa merah?" Jeno menunjuk semburat merah di pipi Fatan, "ada siapa sih di dalam?"
"Selamat pagi." Suara Kelana mengalihkan perhatian Fatan dan Jeno.
"Selamat pagi Kak Kelana." Balas Jeno ramah.
"Maaf atas kejadian barusan, kalian boleh masuk sekarang." Ujar Kelana pada Fatan dan Jeno, meskipun itu bukan kesalahan tapi Kelana meminta maaf karena membuat Fatan serba salah.
"Saya juga minta maaf." Balas Fatan, "kalau gitu kami permisi."
Kelana masuk ke mobil sementara Fatan dan Jeno segera masuk ke kantor.
Jeno bertanya-tanya apa yang terjadi baru saja hingga Fatan mengajaknya keluar. Sebagai lelaki dewasa Jeno mencoba memahami situasinya tapi Fatan tidak memberi bocoran sedikitpun.
******
Jam menunjukkan pukul 9 tepat setelah Kelana menyelesaikan sarapan di restoran lantai satu apartemen. Kelana menunggu kedatangan cowok yang mengaku suka pada Yana. Kelana tidak suka orang yang datang telat, ia memberi nilai minus bahkan sebelum mereka bertemu.
Kelana menoleh pada Nana di dalam stroller. Nana memasukkan dua tangannya ke dalam mulut sedangkan kakinya menendang-nendang aktif. Setelah minum susu bukannya tidur, Nana justru makin aktif bermain.
"Jangan makan tangan mu sayang." Kelana mengeluarkan tangan Nana, sebagai gantinya Kelana memberi mainan karet berbentuk strawberry.
Nana merengek sepertinya ia mulai bosan sehingga Kelana harus mengangkatnya dari dalam stroller. Kelana menggendong Nana membawanya berdiri berjalan-jalan di sekitar restoran. Jika dalam waktu 15 menit cowok itu tidak datang maka Kelana akan pergi dari situ. Kelana bukan orang yang tidak punya pekerjaan, setiap menit waktunya sangat berharga.
"Lihat Ibu mu, dia sedang bersama laki-laki yang lebih muda dari Papa." Kelana melihat foto yang baru saja Renjani posting di Instagram. Tampak Renjani sedang bersama penulis bernama Bara yang ia ceritakan pada Kelana tadi. "Siapa yang lebih tampan, dia atau Papa?" Kelana menunjukkan layar ponselnya pada Nana. "Tentu saja Papa." Ia menjawab sendiri pertanyaan tersebut.
"Katanya sibuk tapi masih sempat posting foto." Kelana menggerutu.
Kelana memutuskan untuk pergi dari restoran tersebut tanpa menunggu lebih lama lagi. Ditambah Nana sudah bosan berada disana.
"Papa kerja ya." Kelana meletakkan Nana di stroller yang ia letakkan di samping piano. Kelana bisa mengawasi Nana selagi membuat lagu.
Biasanya Nana akan tidur dengan sendirinya sembari mendengarkan denting piano yang Kelana mainkan.
Kelana baru saja membuka partitur miliknya ketika suara ketukan pintu terdengar. Kelana menoleh ke arah pintu lalu beranjak dari kursinya.
Tampak Yana berdiri dengan tatapan penuh tanya.
"Mas Lana udah ketemu sama orangnya?" Yana tidak bisa menahan rasa penasarannya pada seseorang yang meneleponnya semalam.
"Dia nggak datang."
"Oh." Yana mengangguk samar. Ini bukan pertama kalinya ada seseorang yang naksir Yana tapi mereka selalu terang-terangan mendekatinya secara langsung.
"Sudah lah nggak perlu dipikirin, dia cuma cowok pengecut yang nggak pantas untuk kamu."
Yana nyengir, ia juga tidak berniat memiliki pacar. Yana hanya penasaran siapa cowok yang sudah berhasil mendapatkan nomor teleponnya. Padahal setahu Yana hanya orang-orang terdekat yang mengetahui nomor tersebut.
"Kalau gitu saya permisi, maaf sudah merepotkan Mas." Yana merasa tidak enak karena harus menyita waktu Kelana hanya untuk bertemu dengan cowok misterius itu.
"Jangan bilang begitu, kamu adik aku." Kelana tak memiliki adik lagi di dunia ini kecuali Yana. Ia tak akan pernah menerima Valia sebagai adiknya walaupun terakhir kali bertemu Valia meminta maaf pada dirinya dan Renjani. Namun Kelana tak sudi memaafkan Valia.
"Makasih Mas." Yana undur diri dari sana.
Kelana melanjutkan pekerjaannya, ia hendak menyelesaikan satu lagi hari ini dengan harapan Nana tidak rewel. Ia mendapatkan inspirasi lagu tersebut saat berada di Venesia bersama Renjani. Ketika mereka berada di pinggir kanal sembari menikmati pemandangan gondola yang hilir mudik tiada henti. Itu akan menjadi lagu romantis yang disukai banyak orang. Bukan hanya untuk mereka yang baru jatuh cinta tapi juga bagi pasangan lama, mereka akan jatuh cinta lagi untuk kesekian kalinya.
******
Kelana menjemput Renjani di kantor bersama Nana. Kantor Asmara Publishing sudah sepi ketika Kelana sampai disana. Renjani menjadi orang yang terakhir keluar.
Awalnya wajah Renjani kusut karena padatnya pekerjaan hari ini tapi begitu melihat Nana di gendongan Kelana, senyumnya langsung mengembang lebar. Melihat Renjani, Nana tertawa sedangkan kakinya menendang-nendang tidak sabar digendong ibunya.
"Ibu juga kangen banget sama Nana, hari ini nggak rewel kan di rumah sama Papa?" Renjani mengambil alih Nana dari gendongan Kelana.
"Enggak dong." Kelana sudah mengatakan jika Nana jarang rewel jika bersamanya. Meski begitu mengurus bayi di rumah ternyata lebih melelahkan dibanding bekerja di luar. Itu yang Kelana rasakan saat harus mengurus Nana sendiri. Walaupun Kelana jarang melakukan itu karena Renjani lebih sering berada di rumah, tapi Kelana merasa kesusahan. Menjadi seorang ibu bukan perkara mudah, itu sebabnya Kelana sangat menghargai Renjani karena ia mengerti kesulitan menjadi ibu dan istri yang harus bekerja sekaligus.
"Hari ini sibuk ya?" Kelana menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang di jalanan yang padat. Tentu saja Jakarta tak pernah sepi.
"Banget."
"Tapi kamu sempet foto-foto sama si arang."
"Arang?" Renjani melihat Kelana, ia tak mengerti apa yang Kelana bicarakan sekarang. Kapan Renjani berfoto dengan arang.
"Yang katanya penulis favorit kamu."
"Oh Bara." Renjani bingung karena Kelana mengubah nama Bara jadi arang, itu aneh sekali.
"Dia lebih pantas disebut arang." Kelana geram karena di salah satu foto yang Renjani posting, Bara si ABG itu tampak merangkul bahu Renjani.
"Ih kenapa, itu sesuai dengan semangatnya yang selalu membara, diusia 20 tahun dia udah menghasilkan belasan buku."
"Aku nggak ngerti kenapa kamu suka buku-buku percintaan remaja yang aneh itu."
"Kok tahu kalau aneh, kamu kepoin bukunya Bara ya?"
Ah Kelana keceplosan, sejujurnya setelah melihat foto-foto Renjani bersama Bara tadi ia sempat mencaritahu tentang Bara dan karya-karyanya.
"Jangan bilang kamu cemburu sama Bara." Renjani menyipitkan matanya menggoda Kelana.
"Iya, aku cemburu." Kelana tak mau membohongi dirinya sendiri, ia tak suka jika Renjani memposting foto dengan laki-laki lain meskipun Bara masih ABG.
"Padahal aku nggak pernah cemburu kalau kamu foto sama cewek-cewek di luar sana, bahkan mereka terang-terangan genit sama kamu tapi aku berusaha untuk mengendalikan perasaanku." Jika bicara soal cemburu maka seharusnya Renjani yang lebih sering mengalami perasaan itu. Namun Renjani selalu berusaha menyembunyikannya, sejak awal ia sudah paham jika pekerjaan Kelana akan membuatnya berinteraksi dengan banyak wanita di luar sana.
"Tapi aku nggak pernah posting foto dengan wanita lain, coba kamu cek apa ada foto wanita selain kamu di akun media sosial ku."
"Itu karena yang handle akun kamu admin, bukan kamu sendiri." Renjani tak mau kalah.
"Bukan berarti aku nggak bisa buka akun ku sendiri."
Renjani mengembuskan napas kasar, ia tak percaya mereka akan meributkan hal seperti ini di jalan. Mereka sudah menikah hampir dua tahun dan memiliki anak, mereka bukan remaja lagi. Tahun depan Kelana akan berusia 30 tahun tapi kadang ia masih seperti anak kecil.
"Foto mana yang kamu nggak suka, aku bakal hapus." Renjani mencoba menekan rasa egonya dan mengalah pada Kelana.
"Foto yang paling banyak mendapat like."
Renjani memposting tiga foto dengan gaya berbeda bersama Bara tadi pagi, ia menemukan salah satu foto yang mendapatkan like lebih dari 700. Itu adalah saat Bara merangkul bahu Renjani.
"Udah aku hapus." Renjani menunjukkan layar ponselnya pada Kelana setelah ia menghapus foto tersebut di akun Instagram nya.
Renjani melempar ponselnya dengan kasar ke dashboard lalu menyandarkan kepala pada jendela dan memejamkan mata. Ia baru pulang kerja tapi Kelana justru mengajaknya berdebat hanya karena hal sepele seperti ini.
"Mau beli sesuatu nggak?" Tanya Kelana ketika mereka melewati kawasan restoran.
Tadinya Renjani ingin mendiamkan Kelana sampai besok tapi ia ingat belum makan sejak tadi siang. Renjani bisa saja menahan lapar sampai besok tapi ia harus menyusui Nana.
"Dibungkus aja." Kata Renjani tanpa membuka mata.
"Baiklah, aku akan turun." Kelana tersenyum lebar, Renjani tak akan pernah menolak makanan, sejauh ini makanan adalah senjata paling ampuh untuk merayu Renjani saat marah.
"Mau makan apa?"
"Apa aja."
"Makanan Indonesia?"
"Mesir!" Renjani menjawab asal.
Kelana turun dari mobil sambil terus memikirkan makanan apa yang berasal dari Mesir. Renjani memang paling mahir membuat Kelana bingung.
15 menit kemudian Kelana kembali membawa satu paper bag berisi dua kotak makanan untuknya dan Renjani.
"Yang mana punya ku?" Renjani mengeluarkan kotak tersebut.
"Yang atas, kamu mau makan sekarang?"
"Iya." Aroma roti panggang menyebar ketika Renjani membuka kotaknya, terdapat dua potong roti dengan smashed avocado dan salad sayur.
"Aku menunda makan malam supaya bisa makan bareng kamu, tapi kamu justru makan duluan."
"Bukannya dulu aku sering nungguin kamu tapi setelah sampai apartemen ternyata kamu udah makan di luar."
Kelana kalah telak, ia hanya bisa menelan ludah melihat Renjani menikmati makan malamnya.
"Itu Sourdough, 1500 tahun sebelum Masehi, roti Sourdough nggak sengaja tercipta di Mesir karena pembuatnya lupa dan membiarkan adonan rotinya mengembang."
Renjani berhenti mengunyah mendengar cerita Kelana, ia tak percaya jika Kelana benar-benar membelikannya makanan Mesir padahal ia hanya asal bicara.
"Enak, makasih ya." Meskipun masih kesal pada Kelana tapi Renjani tidak lupa berterimakasih.
"Sama-sama sayang, eh itu bukannya karyawan kamu?" Kelana tak sengaja melihat Fatan di depan gedung apartemennya.
"Iya, ngapain dia kesini?"
Kelana menghentikan mobilnya tepat di depan Fatan.
"Fatan!" Renjani menurunkan kaca jendela mobil.
"Mbak Renjani." Fatan mengulas senyum.
"Ada urusan apa disini?"
"Saya mau ketemu Kak Kelana."
Renjani mengerutkan kening, ia pikir Fatan ada urusan dengannya tapi ternyata justru ingin bertemu Kelana.
"Mau ketemu kamu katanya."
"Aku?" Kelana tidak merasa memiliki urusan dengan Fatan, selama ini mereka juga tak pernah mengobrol.
"Temuin gih, biar aku yang masukin mobilnya ke basemen."
Akhirnya Kelana keluar dari mobil sedangkan Renjani berpindah duduk di kursi kemudi. Renjani ingin segera merebahkan diri di kasurnya yang luas. Nana juga sudah tidur pulas di carseat nya.
"Kita ada janji ketemu sebelumnya?" Tanya Kelana.
"Kemarin Kak Kelana bilang kita ketemu di restoran apartemen jam 9 tapi ternyata restorannya sudah tutup."
Kelana terdiam berusaha mencerna perkataan Fatan.
"Jadi kamu?" Kelana melongo tak percaya.
"Saya yang bicara dengan Kak Kelana di telepon."
Kelana berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya, "aku bilang jam 9 pagi, sepertinya kamu salah paham tapi itu nggak penting, jadi kamu suka sama Yana."
Fatan mengangguk pelan, ia tak tahu dari asal keberanian dalam dirinya untuk menemui Kelana malam ini. Fatan tahu jika mendekati Yana tidak akan mudah karena ada Kelana yang selalu berada di depan gadis itu.
Author: please Kelana nggak usah cemburu sama arang karena kamu itu api