Married by Accident

Married by Accident
Dipermainkan oleh takdir



Narnia kini sibuk mengusap lengan sahabatmu ketika sudah tiba di tempat untuk makan hari ini. Tadi sahabatnya sangat kesal dan marah karena tidak mendapatkan respon sesuai dengan keinginan.


Jadi, tidak jadi pergi berbelanja karena langsung mengajak ke tempat makan makanan korea yang super pedas. "Sudah, jangan dipikirkan. Nanti kamu hanya akan bertambah kesal saja. Ambil sisi positifnya karena sepertinya Harry tidak ingin membuatmu capek jika menemani ibunya berbelanja."


Berpikir positif jauh lebih baik saat sedang dipenuhi oleh amarah dan Narnia berusaha untuk meredam semua itu agar sahabatnya tidak berlarut-larut stres karena selalu berusaha menahan diri di depan sang kekasih.


"Lampiaskan semuanya dengan makan makanan pedas hari ini. Itu makanannya sudah datang." Ia kini melihat waiters menaruh makanan pesanan di atas meja.


Berbeda dengan Zeze yang merasa sangat kesal karena sang kekasih tidak peka dengan apa yang diinginkannya agar bisa dekat dengan calon mertua. Hingga ia menuruti perkataan dari sahabatmu dengan langsung menikmati makanan yang baru saja datang tersebut.


Tanpa membuka suara untuk melampiaskan amarah, ia kini langsung mengambil satu sendok makanan dan memasukkan ke dalam mulut. Saat rasa panas serta pedas menyatu di lidahnya, seolah semakin membuat amarah memuncak.


Namun, ia lanjutkan dengan suapan berikutnya setelah meniup terlebih dahulu agar tidak terbakar lidahnya karena masih panas dan mengumpulkan asap.


Ia memesan makanan Korea dengan ciri khas berwarna merah menyala serta kuah yang menggugah selera dan menjadi menu andalan ketika pergi ke restoran itu.


Narnia yang juga mengikuti sahabatnya menikmati makanan, kini mulai mengaduk mie dengan saus hitam yang disebut Jajangmyeon tersebut dan sering dilihat di drama Korea kesukaannya.


Ia tidak kuat makan pedas karena mempunyai asam lambung, sehingga memilih memesan itu setiap pergi bersama dengan sahabatnya tersebut. Hingga ia tidak jadi menyuapkan mie ke dalam mulut saat mendengar suara keluh kesah sahabatnya.


"Rasanya aku ingin mengakhiri hubungan kami. Ternyata sangat lelah menjadi orang lain dan tidak bisa mengungkapkan kecemburuan serta kekesalanku padanya." Zeze berbicara sambil menahan rasa pedas yang terasa membakar lidahnya dan sesekali minum air mineral dari dalam tas miliknya.


Ia tadi memesan jus dan tidak ingin menikmatinya sebelum makanan habis, jadi meredam rasa pedas di lidahnya dengan minum air mineral yang ada di dalam tasnya.


Narnia tahu jika sahabatnya saat ini tengah diliputi emosi dan berbicara asal karena pasti tidak akan melakukannya. Apalagi mengetahui jika sahabatnya sangat tergila-gila dengan sosok mahasiswa paling populer di kampus tersebut, jadi menganggap jika sahabatnya hanya butuh tempat untuk sekedar meluapkan amarah.


"Kamu bisa melakukan apapun yang kamu sukai setelah menghabiskan makanannya. Lebih baik fokus makan dulu, Ze. Setelah itu, kamu bisa langsung memutuskan hubungan dengan Harry nanti," seru Narnia ya saat ini mulai mengangkat sumpit dan menikmati Jajangmyeon pesanannya.


Zeze masih mengomel ke sana kemari sambil mengunyah makanan yang terasa sangat pedas itu. Ia benar-benar butuh tempat untuk mencurahkan semua keluh kesah yang dirasakan.


Jadi, berpikir jika akan merasa lega setelah melampiaskannya pada sahabatnya yang selalu jadi bulan-bulanan ketika marah pada Harry.


Sampai ia pun merasa puas meluapkan semuanya dan beberapa saat kemudian menghabiskan makanan extra pedas pesanannya tersebut. Ia meredakan sensasi terbakar dari lidahnya dengan menikmati desert yang berupa salah satu kue manis khas Korea.


Bahkan sambil minum minuman yang dipesannya, yaitu Soju. Bahkan yang menuangkan soju ke dalam gelas kecil adalah sahabatnya. Setelah TOS, beberapa kali meneguknya.


"Setelah makan dan minum Soju, rasanya semua kemarahanku jadi sedikit berkurang. Memang ke sini menjadi andalanku untuk melampiaskan kekesalanku pada Harry," ucap Zeze yang saat ini terdiam ketika merasa tertampar dengan kalimat bernada sindiran dari sahabatnya.


"Setelah ini telepon dia dan putuskan hubungan kalian. Daripada kamu capek menjadi orang lain, lebih baik cari seseorang yang bisa menerimamu apa adanya." Sebenarnya Narnia tidak tega melihat sahabatnya yang selalu marah ketika sakit hati, tapi menyembunyikan dari sang kekasih.


Jadi, sekalian saja mengingatkan sahabatnya untuk tidak menyiksa diri hanya karena ingin dianggap menjadi wanita berbeda yang hebat di mata sang kekasih serta para mahasiswa di kampus karena tidak menjalani hubungan singkat seperti yang dipacari oleh Harry.


Meskipun ia tahu jika usahanya tidak akan berhasil karena berpikir jika sosok sahabatnya benar-benar tengah berada di fase kebodohan ketika jatuh cinta.


'Pasti dia akan memilih bertahan dan mengatakan jika tadi hanya sedang diliputi oleh amarah,' gumam Narnia yang saat ini mengunyah kue di mulutnya.


Saat ini, Zeze tidak langsung membuka suara karena jujur saja rasa malu menyeruak di dalam dirinya ketika sahabatnya menjadi korban atas kemurkaannya pada Harry.


"Maaf." Zeze kini kembali mengingat cinta yang begitu besar pada sang kekasih. Apalagi ia berpikir jika kekasihnya merupakan idaman yang memiliki banyak kelebihan dibandingkan pria lain.


Berpikir tidak akan bisa menemukannya di dalam diri orang lain, sehingga memilih untuk tetap bertahan karena berpikir jika manusia tidak ada yang sempurna dan kekurangan dari sang kekasih hanyalah itu saja.


"Issh ... kenapa malah minta maaf padaku? Seharusnya Harry yang melakukannya padamu." Sudah mencium bau-bau jika sahabatnya akan kembali bucin dan bersikap bodoh, tentu saja membuat Narnia kini berwajah masam.


Narnia kini kembali menuang botol soju itu dan langsung meneguk minuman berwarna bening tersebut. "Aaaah ... seharusnya aku tidak menganggap serius perkataan tadi."


Melihat sahabatnya kesal saat suasana hatinya sudah jauh lebih baik, tentu saja membuat Zeze kini tertawa karena seperti melihat diri sendiri dari Narnia. "Jadi, aku tadi seperti ini saat marah?"


"Astaga! Faktanya, jauh lebih parah. Besok-besok aku akan merekam agar kamu bisa melihat sendiri bagaimana tampangmu yang jelek saat marah pada Harry." Narnia kini mengarahkan cubitan pada lengan sahabatnya karena merasa geram atas kebodohan yang disebabkan atas nama cinta.


Saat meringis menahan rasa nyeri pada cubitan pada sahabatnya, kini Zeze malah teringat pada wanita yang tadi pingsan dan ada suami yang sudah menemaninya. "Sudah, jangan mencubitku lagi karena benar-benar sakit ini! Menurutmu, sikap tuan Erland tadi ada yang aneh, tidak?"


Ia merasa jika pria yang tadi marah pada kekasihnya tersebut, seperti sangat berhati-hati ketika menyentuh sang istri.


Narnia yang tidak paham maksud dari pertanyaan sahabatnya, saat ini hanya mengerutkan kening karena menurutnya tidak ada yang aneh dari sikap seorang suami pada istri.


"Aneh bagaimana?"


"Aneh seperti dia sangat berhati-hati ketika menyentuh wanita itu. Atau ini hanya perasaanku saja karena kesal padanya?" tanya Zeze yang saat ini terdiam dan bertanya-tanya apakah wanita itu sudah sadar atau belum.


"Jelas saja berhati-hati karena istrinya tengah hamil," sahut Narnia to the poin. Ia sengaja mengatakan hal itu agar Zeze tidak lagi dikuasai oleh kecemburuan pada wanita yang tengah hamil dan tidak mungkin merebut sang kekasih.


Apalagi sudah memiliki seorang suami yang menjadi pengusaha sukses di Jakarta dan pastinya incaran banyak wanita. "Kamu tidak perlu buang-buang waktu untuk cemburu pada wanita yang tengah hamil itu karena sepertinya Harry bersikap baik padanya setelah mengetahui tengah berbadan dua."


"Sepertinya begitu. Apa ada yang tahu dia hamil? Sepertinya tidak, kan? Pasti hanya Harry yang mengetahuinya. Makanya tadi di video yang dikirimkan oleh orang tak dikenal itu terlihat jika dia sangat akrab ketika berbicara dengan Floe. Sepertinya orang yang mengirimkan video itu ingin hubunganku berakhir dengan Harry." Ia terdiam karena memikirkan siapa kira-kira orang yang mengirimkan video.


Saat ini, keduanya terdiam karena sibuk dengan pemikiran masing-masing ketika mencari pelaku utama yang mengirimkan video berisi Harry tengah duduk di sebelah Floe dan berbicara sangat akrab.


Bahkan juga melihat jika sang kekasih sempat mengacak rambut wanita itu hingga berantakan dan juga tertawa lepas. Jujur saja melihat itu membuatnya merasa sangat cemburu.


Apalagi selama ini sang kekasih selalu bersikap datar dan tidak pernah tertawa selepas itu saat bersamanya. Itulah mengapa ia sangat cemburu melihat Floe, meskipun sudah mengetahui jika wanita itu tengah hamil dan menjadi istri dari salah satu alumni terbaik di kampus.


"Sepertinya Harry bersikap seperti itu karena iba pada wanita hamil. Itu saja yang ada di pikiranku saat ini, Ze." Narnia berbicara sambil mengusap perutnya yang sudah kekenyangan karena terlalu banyak makan dan juga minum.


Berbeda dengan Zeze yang masih mempertimbangkan perkataan dari sahabatnya sesuai dengan pikirannya sendiri. "Jika Harry bisa tertawa selepas itu saat bersamaku, mungkin aku tidak akan resah seperti sekarang ini."


Ia terdiam selama beberapa saat karena berpikir jika semua hal yang terjadi hari ini sangat berat untuknya. Wajah sang kekasih yang tertawa lepas ketika bersama dengan wanita lain membuatnya tidak tenang.


Bahkan berpikir jika hari ini ia tidak akan bisa tidur nyenyak seperti biasanya karena akan selalu terbayang ketika sang kekasih tertawa lepas dan tidak pernah dilakukan saat bersamanya.


"Apa aku boleh iri pada wanita itu? Apa aku harus hamil agar membuat Harry bersikap seperti itu padaku?" Saat ia baru saja menutup mulut, merasakan kembali rasa panas pada lengannya ketika dipukul cukup kuat oleh sahabatnya.


"Dasar ngelantur! Sudah! Jangan diteruskan lagi karena kamu akan semakin berbicara ngawur nanti. Aku sudah kenyang sekarang. Kita pulang atau kamu jadi shopping?" Narnia yakin jika pembicaraan diteruskan, hanya akan membuat sahabatnya semakin bertambah galau memikirkan sang kekasih.


Jadi, ia memilih bangkit berdiri dari kursi agar sahabatnya kembali menenangkan pikiran dengan hal-hal positif. Bahkan ia mendapatkan berkah jika sahabatnya tersebut berbelanja dan membelikannya pakaian.


"Bilang saja jika kamu saat ini tengah menagih janji agar aku membelikanmu pakaian, bukan?" Raut wajah masam Zeze semakin membuat bibirnya mengerucut karena kesal ketika mengetahui niat dari sahabatnya.


Meskipun ia tahu jika sahabatnya melakukan itu karena peduli padanya, tetap saja kesal. Namun, ia pun ikut berdiri karena tidak ingin sendirian jika sahabatnya pulang.


"Aku ke kasir dulu," ucapnya yang tersenyum sinis ketika melihat Narnia membuat simbol peace dengan jarinya sambil tertawa lebar.


"Kamu memang sahabat terbaikku, Ze!" ucap Narnia berjalan ke arah pintu keluar karena berniat untuk menunggu sahabatnya di sana.


Ia terdiam ketika melihat beberapa pengunjung yang fokus pada seseorang yang tengah menggendong seorang wanita dan membuatnya membulatkan mata begitu melihat siapa mereka.


Kini, seketika menoleh ke belakang untuk memastikan apakah sahabatnya sudah selesai membayar atau belum. "Refleks ia melambaikan tangannya agar sahabatnya segera melihat apa yang dilihatnya."


Saat Zeze baru saja menaruh dompet di dalam tas, mengerutkan kening ketika melihat sahabatnya melambaikan tangan untuk memanggilnya. "Ada apa?"


Ia katanya lirih sambil terus berjalan dan begitu berada di sebelah sahabatnya, ini melihat ke arah yang dituju dengan jari telunjuk.


"Lihatlah!" ucap Narnia yang saat ini menunjuk ke arah Erland yang Tengah menggendong ala bridal style sang istri. Hal tersebut menjadi pusat perhatian dari seluruh pengunjung yang ada di dalam Mall.


Saat melihat aksi keromantisan dari seorang suami yang menggendong istri, Zeze merasa sangat iri karena berpikir jika wanita yang berhasil membuatnya cemburu tersebut sangatlah beruntung mendapatkan seorang pria yang sangat perhatian dan mencintai.


"Seandainya Harry juga seperti itu padaku ketika aku sakit nanti, pasti aku akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini karena dicintai begitu besar oleh pasangannya. Kenapa dia sangat beruntung?" Saat baru saja menutup mulut, seketika mengerjakan mata begitu melihat seseorang yang tak lain adalah sang kekasih bersama dengan ibunya tengah berada di esklator.


"Itu Harry dan ibunya mau ke mana? Kenapa mereka naik ke sini dan ada wanita itu juga."


"Sepertinya mereka mau pergi makan pernah lihat di sini pusat kuliner." Narnia berbicara tanpa mengalihkan perhatian dari apa yang ditunjukkan oleh sahabatnya.


Ia kita akan melihat ke mana food court yang dituju oleh pasangan suami istri tadi karena ingin tahu apakah kekasih dari sahabatnya tersebut juga ke sana atau memilih tempat lain.


"Jika Harry dan ibunya pergi ke food court yang sama, apakah bisa dibilang jika kebetulan ini terlalu berlebihan?" Ia bahkan kini berjalan ke depan untuk memastikannya sendiri.


Hal yang sama kini dipikirkan oleh Zeze dan membuatnya hanya bisa meremas kedua sisi pakaiannya karena tidak ingin menjawab pertanyaan dari sahabatnya tersebut.


Ia bahkan berpikiran sama dengan sahabatnya dan tentu saja membuatnya kesal sekaligus marah atas kebetulan yang terjadi diantara sang kekasih dengan wanita bersuami dan tengah hamil muda tersebut.


'Rasanya sekarang aku seperti dipermainkan takdir di depan mata kepalaku sendiri. Apa sebenarnya rencana Tuhan padaku?' gumam Zeze yang seketika merasa sangat lemas begitu pemikiran dari sahabatnya benar benar terjadi.


Ia melihat jika sang kekasih beserta ibunya masuk ke dalam food court yang sama dengan pasangan suami istri tersebut. "Kenapa di antara banyak tempat, mereka bisa makan di tempat yang sama? Kenapa tidak bertemu denganku di sini saja saat makan tadi?"


Narnia seketika menoleh ke arah sahabatnya yang menampilkan wajah masam. Ia tidak bisa menjawab sebuah kebetulan yang dirancang oleh takdir dan sekaligus merasa iba karena amarah yang tadinya sudah sirna kini kembali lagi memenuhi diri.


"Sabar, Ze."


"Sabarku sudah habis. Lebih baik kita pulang saja karena aku hanya akan bertambah kesal jika melihat semua kebutuhan yang terjadi di antara Harry dan wanita itu." Zeze kini berbalik badan karena berjalan menuju ke arah eskalator menuju ke lantai bawah.


Akhirnya Narnia berjalan mengekor sahabatnya dan menyayangkan kegagalan dibelikan pakaian oleh sahabatnya tersebut.


'Anggap saja ini bukan rezeki. Takdir yang mempermainkan perasaan sahabatku juga membuatku tidak beruntung karena gagal dibelikan pakaian oleh Zeze,' gumam Narnia yang kini sudah berada di eskalator di belakang sahabatnya.


To be continued...