Married by Accident

Married by Accident
Tempat ternyaman untuk pulang



Erland yang sebenarnya merasa ragu untuk menjawab pertanyaan wanita yang tidak mengalihkan pandangan walau hanya sedikitpun, ia tahu seperti apa watak dari sang kekasih dan membuatnya tidak ingin ada kecurigaan.


Ia bahkan berusaha berakting layaknya aktor profesional untuk membuat Marcella percaya pada kata-katanya. Dengan perlahan menggenggam erat tangan sang kekasih sambil menatap intens wajah dengan raut penasaran tersebut, ia kini membuka suara.


"Sayang, bukankah bukti dari pertanyaanmu adalah kedatanganku ke sini? Aku bahkan tidak memperdulikan Floe yang baru saja mengalami keguguran dan langsung terbang ke sini hanya demi kamu. Apa kamu sama sekali tidak percaya padaku?" Erland sebenarnya memilih untuk mencari aman dan tidak berniat untuk bersumpah atas nama sang ibu.


Ia bahkan saat ini merapal doa agar sang kekasih mempercayai apa yang baru saja dikatakannya dan terhindar dari kecurigaan.


Berbeda dengan Marcella yang seketika menyadari jika dirinya terlalu egois karena tidak mempercayai sang kekasih yang sudah membuktikan perhatian dan cintanya. Kini ia refleks meraih pergelangan tangan dengan buku-buku kuat tersebut.


"Maaf. Kamu tidak perlu membuktikan apapun karena aku mempercayaimu. Aku mau menikah denganmu dan kembali ke Indonesia. Aku tidak mau berlama-lama di sini," ucap Marcella yang berharap bisa segera menginjakkan kakinya di tanah air dan membuka lembaran baru dengan melupakan kejadian buruk yang mungkin akan membekas sepanjang hidupnya.


Namun, ia akan berusaha agar tidak membuat Erland terbebani dengan traumatis yang dimilikinya karena hanya akan membuat hubungan mereka mengalami masalah.


Erland yang seketika bernapas lega dan juga tersenyum simpul karena seperti beban besar di pundaknya seketika menghilang begitu saja.


'Selamat. Untungnya jawabanku berhasil menyentuh hati Marcella dan tidak menyuruhku untuk bersumpah atas nama mama,' gumam Erland yang saat ini sudah bergerak mengusap lembut punggung tangan dengan jemari lentik itu.


"Kamu tidak perlu meminta maaf karena sama sekali tidak bersalah sedikit pun, Sayang. Lebih baik kamu fokus pada keadaanmu agar segera pulih dan kita bisa pulang ke tanah air. Aku akan menyuruh Leo untuk mengurus semuanya." Ia teringat akan perkataan dari sang ibu saat masuk ke dalam taksi dan kini berharap jika tidak ada lagi masalah yang terjadi pada hubungannya dengan sang kekasih.


'Ma, semua berjalan dengan lancar. Semoga mama tidak mendoakan putramu ini menyesal seperti yang dikatakan saat hendak pulang karena jujur saja semenjak saat itu tidak bisa tenang,' lirih Erland yang saat ini melihat senyuman terbit dari bibir pucat Marcella.


"Ya, aku akan segera pulih, agar kita kita bisa segera kembali ke Indonesia. Aku tidak ingin lama-lama berada di negara ini. Seharusnya saat itu aku menerima lamaranmu, mungkin tidak akan pernah mengalami semua ini." Saat ia dipenuhi oleh penyesalan luar biasa yang diketahuinya sama sekali tidak berguna, mendengar suara ketukan pintu dan beberapa saat kemudian terlihat seorang pria masuk ke dalam.


"Tuan Erland!" seru Leo yang baru saja melangkah masuk dan berjalan mendekat meskipun belum dipersilakan.


Ia tadi sempat berbicara dengan Zack Pieterson yang mengikuti atasannya untuk melihat keadaan wanita malang yang kini sudah sadarkan diri. Dengan menahan pria yang bahkan jauh lebih tinggi dan besar darinya, harus mengeluarkan tenaga sambil menjelaskan panjang lebar agar tidak menampakkan diri di depan Marcella.


Bahwa wanita malam itu mungkin akan semakin mengalami traumatik melihat pria yang telah menghancurkan hidupnya. Hingga akhirnya ia berhasil melakukannya dengan menyerang kelemahan pria itu, yaitu mengatakan jika Marcella bisa saja gila jika melihatnya.


Ia sebenarnya melihat cinta yang begitu besar dari sorot mata pria dengan rambut keemasan dan juga iris kebiruan itu. Hanya saja, cara yang salah dilakukan demi mendapatkan wanita yang menolaknya.


Jadi, sekarang pria itu tengah menunggu di depan ruangan dengan satu syarat, yaitu ingin berbicara baik-baik dengan atasannya untuk membahas sesuatu.


Erland yang saat ini mengerutkan kening melihat sang asisten sudah berdiri di hadapannya. Namun, ia sama sekali tidak bertanya karena ingin mendengar apa yang hendak disampaikan.


"Tuan, dokter ingin membicarakan sesuatu hal yang penting karena Anda sebagai wali dari nona Marcella. Biar saya yang menjaga nona di sini saat anda berbicara dengan dokter." Ia sebenarnya tadi sudah mengirimkan pesan pada atasannya dan berharap akan dibaca saat keluar.


Ia tidak mungkin menjelaskan jika saat ini pria yang tadi dibuat babak belur sudah menunggu di kursi depan ruangan ICU.


"Baiklah. Aku akan ke sana sekarang." Berpikir padahal penting yang berhubungan dengan kesehatan sang kekasih, kini Erland mengusap lembut pipi putih itu. "Sayang, aku temui dokter dulu. Dia yang kumaksud tadi. Leo adalah asisten pribadiku yang sengaja aku kirim ke sini untuk mencari tahu semua tentangmu karena kamu sama sekali tidak membalas pesan."


Marcella yang memang baru pertama kali melihat pria muda itu, hanya tersenyum simpul sebagai salam perkenalan. "Baiklah, tapi nanti katakan padaku mengenai semua yang disampaikan oleh dokter. Aku tidak ingin ada sesuatu yang tidak kuketahui."


Ia merasa khawatir jika ada sesuatu hal yang membuatnya harus berlama-lama di rumah sakit itu karena ingin segera pergi dari sana untuk kembali ke tanah kelahirannya.


Erland hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum dan kemudian berlalu pergi setelah memberikan kode pada Leo agar tidak membiarkan siapapun masuk.


Leo saat ini hanya membungkuk hormat ketika atasannya berjalan menuju ke arah pintu keluar dan berani menoleh ke arah sosok wanita yang membuatnya sangat terkejut begitu mendengar suaranya.


"Apa kau pernah bertemu dengan wanita bernama Floe yang dinikahi oleh bosmu? Apa kamu bisa memperlihatkan padaku seperti apa wajah wanita itu?" Marcella sebenarnya merasa cemburu sekaligus kecewa serta terluka ketika mengetahui kenyataan bahwa pria yang sangat dicintainya pernah melakukan hubungan intim dengan seorang wanita hingga hamil.


Ia merasa penasaran meskipun mengetahui jika rasa ingin tahu itu akan memercikkan sebuah luka yang mungkin merongrongnya, tapi tetap saja berniat untuk mengetahuinya agar tidak sibuk bertanya-tanya sendiri dan malah tersiksa.


Leo sama sekali tidak menyangka jika respon pertama kali wanita itu malah membuatnya seperti tersudut karena khawatir mendapatkan kemurkaan dari atasannya untuk kesekian kali.


'Mati aku! Aku harus bagaimana sekarang? Apakah aku harus memberitahu nona Marcella tentang nona Floe? Apa semua wanita seperti ini? Selalu ingin tahu tentang sesuatu yang sebenarnya membuat mereka sakit hati. Leo yang saat ini bingung menjawab dan masih terdiam untuk memikirkan jawaban, kembali disudutkan oleh suara Marcella.


Marcella mengetahui posisi seorang asisten pribadi dan memberikan pengertian sesuai dengan apa yang ia inginkan. "Aku tidak akan memberitahu bosmu karena mengetahui bagaimana wataknya. Jadi, tenang saja dan katakan padaku tentang wanita bernama Floe itu. Aku tidak akan bisa lagi bertanya padamu saat ada dia."


Bahkan saat ini Marcella terlihat memelas wajahnya agar pria di hadapannya tersebut segera mengatakannya. Hingga ia tersenyum begitu melihat anggukan kepala penuh keterpaksaan dan sama sekali tidak dipedulikannya karena satu-satunya yang diinginkan hanyalah ingin segera mengobati rasa ingin tahunya.


Leo yang merasa tidak punya pilihan lain untuk menolak, akhirnya mulai menceritakan mengenai Floe seperti yang diketahuinya dan tentu saja tidaklah banyak.


Tentu saja tidak sulit baginya untuk mencari foto wanita yang masih muda tersebut karena ada media sosial yang memudahkan semua orang untuk mengakses informasi. Kemudian ia menunjukkan pada wanita yang masih terbaring lemah di atas ranjang itu.


"Di situ ada banyak foto nona Floe. Anda tidak boleh terlalu lama melihatnya karena saya tidak ingin tuan Erland mengetahuinya." Saat ponselnya baru saja berpindah dari tangannya, kini melihat Marcella sudah fokus pada layar dan sama sekali tidak menanggapinya.


Marcella bahkan tidak berkedip menatap satu persatu foto-foto wanita yang hampir saja melahirkan keturunan sang kekasih. Ia akan menggigit bibir bawahnya ketika menyadari wanita di foto tersebut jauh lebih muda dan lebih cantik darinya.


Tentu saja gen kalau berat juga mendominasi dan membuat wanita itu terlihat semakin cantik serta anggun karena memakai semua barang-barang mahal dan mewah di tubuhnya. Sementara ia hanyalah seorang wanita sederhana yang sangat perhitungan dalam hal membeli barang-barang bermerk.


Itu karena selama ini berjuang sendiri dan ingin mengangkat derajat orang tuanya, sehingga membuatnya menyadari bahwa mencari uang tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Harus jungkir balik dengan penuh perjuangan dari awal hingga akhir dan harus hidup hemat di negeri orang agar bisa sering memberikan keluarga kemewahan.


Sementara nasib para anak-anak konglomerat sudah dijamin oleh orang tua mereka dan tidak perlu membanting tulang karena semuanya sudah diatur dan hanya akan meneruskan bisnis turun-temurun.


"Dia seperti bunga yang sedang mekar dan pada masa cantik-cantiknya. Pasti ada banyak pria yang mengincarnya. Ternyata percintaannya tidaklah seberuntung nasibnya." Marcella yang saat ini masih scroll media sosial Floe, seketika mengerjapkan mata ketika melihat postingan terbaru yang baru saja ada.


Ia membaca caption yang dituliskan pada postingan berupa video menunjukkan merekam awan saat berada di dalam pesawat.


#Jika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, biarkan doamu menentukan takdir untukmu, tanpa harus memaksakan sesuai dengan inginmu. Karena Tuhan tak tahu apa yang terbaik untukmu#


Marcella yang baru saja membaca caption penuh dengan banyak makna tersirat di sana, membuatnya mengerti jika saat ini hati wanita bernama Floe tersebut tidak sedang baik-baik saja.


"Ternyata dia memiliki perasaan pada Erland dan berkeluh kesah dengan cara menuliskan caption ini. Apa saat tinggal bersama membuatnya jatuh cinta pada Erland? Lalu, apakah Erland juga merasakan hal yang sama?" Ia beralih menatap ke arah sang asisten pribadi yang masih setia berdiri di sebelahnya.


"Menurutmu bagaimana?" tanya Marcella yang asal bertanya karena tidak tahu harus berekspresi seperti apa.


"Apa, Nona?" Leo sebenarnya bisa mendengar dengan jelas apa yang baru saja ditanyakan oleh wanita yang terlihat sangat terluka, tapi mencoba untuk kuat di hadapannya.


Namun, berpura-pura untuk tidak mendengar karena berharap wanita itu tidak mau mengulangi pertanyaannya. Tapi semua tidak seperti apa yang diinginkan karena kembali mendapatkan pertanyaan yang membuatnya seperti makan buah simalakama.


"Kau lebih banyak menghabiskan waktu di kantor bersama dengan atasanmu. Pasti terkadang dia membahas tentang wanita ini karena merupakan sebuah hal yang wajar jika seorang suami membahas tentang istri. Lalu, menurutmu apakah Erland jatuh cinta pada Floe?" Tanpa mempedulikan apapun, Marcella hanya ingin kejujuran yang didengarnya.


Ia berpikir ingin hancur sekalian dan bangkit setelahnya meskipun harus tertatih-tatih dan berdarah-darah sendiri dengan luka yang semakin dalam.


Jadi, hari ini memutuskan untuk menerima luka itu tanpa memperdulikan perasaannya yang hancur lebur ketika memikirkan jika pria yang selama ini hanya mencintainya, tertarik pada wanita lain setelah tinggal bersama sebagai sepasang suami istri.


"Aku ingin jawaban jujur, bukan sebuah penghiburan!" Suara bernada tegas tersebut mengisyaratkan sebuah luka mendalam yang bersembunyi di balik tatapan tajam.


"Nona, saya tidak tahu. Saya bukanlah seorang peramal yang bisa menembus isi hati tuan Erland. Lebih baik Anda menanyakan sendiri ada yang bersangkutan dan jangan jadikan saya berada di tengah-tengah seperti ini." Leo sebenarnya merasa sangat sesak dan ingin melarikan diri dari sana agar tidak terus-menerus diinterogasi.


Bahkan merasa seperti tercekik tenggorokannya hanya karena sebuah pertanyaan. "Maafkan saya jika menyinggung perasaan Anda. Seharusnya saya memikirkan kesehatan Anda dengan tidak berbicara lancang seperti ini."


Kemudian ia membungkuk hormat sebagai bentuk permohonan maaf karena tidak mau menjawab pertanyaan yang bahkan tidak diketahuinya. Ia hanya tahu jika atasannya tersebut sangat perhatian pada wanita yang tengah hamil benihnya tersebut.


Jadi, tidak tahu seperti apa isi hati atasannya yang memiliki sifat arogan.


Marcella seketika merasa tertampar dengan jawaban sang asisten dan membuatnya kini memilih untuk mengembalikan ponsel di tangannya.


"Seharusnya aku yang meminta maaf padamu. Terima kasih karena sudah mau menjawab pertanyaanku. Sebenarnya aku sudah mengetahui jawabannya semenjak melihatnya tidak langsung menjawab pertanyaanku." Marcella sangat mengenal pria yang sudah lama menjalin hubungan dengannya.


Jadi, mengetahui jika sang kekasih tadi terlihat ragu dan berkelit. Namun, ia membuang ibunya dan menerima tawaran dari pria yang sangat dibutuhkannya untuk menyembuhkan luka yang dirasakan saat ini, sehingga membuatnya pura-pura percaya dan tidak lagi menyuruh bersumpah seperti perintahnya.


'Aku tidak ingin kehilangan Erland karena hanya dia satu-satunya yang bisa mengerti aku. Aku butuh dia karena menjadi tempat ternyaman untukku pulang,' gumam Marcella yang saat ini mengerutkan kening ketika mendengar suara teriakan dari luar ruangan.


"Erland?" Ia bersitatap dengan sang asisten yang kini terlihat gugup. Apalagi ia juga mendengar suara dari pria yang sangat dibenci karena telah menghancurkan hidupnya.


"Apa bajingan itu ada di luar? Jawab!" teriak Marcella yang saat ini memerah wajahnya.


Sementara itu, Leo yang tadinya juga sangat terkejut dengan suara teriakan dua pria di luar, kini merasa bingung untuk menjawab. Namun, tatapan penuh kilatan amarah membuatnya tidak bisa lagi mengelak, sehingga hanya menganggukkan kepala untuk membenarkan.


'Apa mereka sama sekali tidak bisa mengontrol emosinya untuk tidak membuat nona Marcella mengetahuinya? Seharusnya mereka sadar jika perbuatan kekanakan malah akan menyakiti perasaan nona Marcella yang baru saja sadar,' umpat Leo yang saat ini merasa bingung harus bagaimana.


To be continued...