
"Pasien saat ini tengah hamil muda, Dokter. Selamatkan janinnya karena tadi setelah terjatuh mengalami pendarahan," seru Harry yang saat ini merasa sangat khawatir dan terlihat jelas dari wajahnya saat ini.
Ia bahkan merasa seperti tengah mengalami Dejavu karena dulu pernah mengalami hal yang sama ketika mengantarkan sepupu yang akhirnya keguguran. Bahkan selama perjalanan menuju ke rumah sakit tadi, tidak sedetik pun mengalihkan perhatiannya dari wajah pucat wanita yang berada di pangkuannya.
Tadi begitu Floe pingsan, ia hanya menunggu sebentar setelah sopir taksi membantunya untuk memanggil rekannya yang berada dekat di area yang terjadi kecelakaan. Hingga dibantu masuk ke dalam taksi dan terus menopang beban tubuh wanita yang kehilangan kesadaran dan juga membuatnya bersimbah darah.
Harry bahkan sama sekali tidak merasa jijik ketika pakaiannya penuh dengan darah karena yang dipikirkan hanyalah keselamatan ibu dan anak tersebut.
Sementara itu, sang dokter dan juga perawat yang langsung menangani pasien baru datang tersebut, memang sudah bisa mengetahui jika tengah hamil.
"Kami akan melakukan semua yang terbaik untuk pasien. Apa Anda adalah suaminya?" tanya dokter yang saat ini mulai mengecek seluruh tanda vital dari pasien yang masih kehilangan kesadaran tersebut.
Tentu saja Harry seketika menggelengkan kepala karena tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman. "Saya adalah teman kampusnya, tapi akan menghubungi suaminya agar segera datang ke Rumah Sakit karena memang belum mengetahui keadaan istrinya."
"Oh ... baiklah. Kalau begitu, setelah menghubungi suaminya, langsung ke ruang pendaftaran untuk mengurus semuanya karena tidak mungkin menunggu suaminya datang dan pastinya membutuhkan waktu perjalanan." Sang perawat menyahut karena melihat sang dokter sudah sibuk untuk menangani, jadi ia yang mewakili.
"Anda bisa menunggu di luar karena bukan merupakan suaminya, agar kami bisa segera menangani pasien." Sang dokter yang tadinya memeriksa menggunakan stetoskop, sekilas beralih pada pria yang terlihat sangat khawatir itu, sehingga membuatnya mengingatkan.
Dengan mengangguk lemah tanpa menjawab karena pikirannya saat ini benar-benar dikuasai oleh rasa khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada ibu dan janinnya.
Dengan langkah gontai ia berjalan keluar sambil membawa tas milik Floe. Kemudian ia mengambil ponsel di dalamnya dan menghubungi kontak Erland.
Ia mengerutkan kening karena beberapa detik sudah tersambung dan tidak ada jawaban dari seberang telepon. "Ke mana dia? Apa dia tidak membawa ponselnya karena sedang meeting atau menggunakan mode silent saat bekerja di kantor?"
Masih tidak menyerah, ia kembali menelpon dan menunggu. Namun, seperti yang pertama tadi, tidak mendapatkan jawaban dan membuatnya menyerah.
"Mungkin dia sedang meeting, makanya tidak bisa mengangkat telepon. Nanti pasti menelpon setelah selesai. Aku urus aja semuanya dulu." Harry kini mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari ruang pendaftaran.
"Semoga Floe dan janinnya baik-baik saja," ucapnya sambil melangkahkan kaki menuju ke sebelah kiri, di mana anak panah menunjukkan ruang pendaftaran berada.
Saat ia sudah masuk ke dalam dan mengambil kartu tanda pengenal milik Floe dari dalam tas untuk mendaftarkan, lalu duduk di kursi yang disediakan setelah diberikan lembaran formulir untuk diisi.
Saat ia mengisi data diri Floe, ponsel yang ada di dalam tas berbunyi dan membuatnya berpikir jika itu adalah Erland. Buru-buru ia langsung mengambil dan memeriksa apakah benar yang dipikirkan, tapi wajahnya berubah murung begitu melihat kontak mommy sedang memanggil.
"Mommy Floe menelpon? Apa yang harus kukatakan? Pasti mommy-nya akan merasa sangat syok dan bersedih begitu mengetahui putrinya mengalami sesuatu yang buruk hingga pendarahan." Harry benar-benar merasa bingung harus bagaimana, tapi karena memang membutuhkan pihak keluarga Floe, akhirnya menggeser tombol hijau tersebut ke atas.
Ia kini mendengar suara dari wanita di seberang telepon yang membuatnya menelan ludah dengan kasar.
"Halo, Sayang. Kamu jadi pulang, kan? Kenapa tidak sampai juga? Bukannya tadi kamu bilang sudah dalam perjalanan?" ucap wanita paruh bayangan saat ini berdiri di teras rumah sambil menatap ke arah pintu gerbang untuk menunggu kedatangan putri kesayangan yang sangat dirindukan.
Tadi begitu putrinya mengatakan ingin pulang ke rumah karena merindukan masakannya, ia merasa sangat senang dan bergerak cepat untuk memasak menu makanan kesukaan Floe. Bahkan juga membuat minuman serta salad buah karena mengetahui jika wanita yang hamil muda membutuhkan makanan yang segar-segar.
Hingga ia mengerutkan kening karena bukan suara putrinya yang menjawab, tapi malah seorang lelaki yang asing di telinga.
"Halo, Nyonya. Maaf karena saya harus memberitahu sesuatu. Saya adalah kampusnya Floe dan saat ini sedang berada di Rumah Sakit." Mau tidak mau, akhirnya Harry menjelaskan semua yang dialami Floe tadi.
Meskipun berbicara dengan gugup karena khawatir jika disalahkan karena membuat teman sekampusnya tersebut jatuh terhempas dengan sangat kuat saat ia menariknya untuk menyelamatkan dari laju kendaraan yang menuju ke arah Floe.
Hingga ia bisa mendengar suara dengan nada terkejut dari seorang ibu dan bisa ia mengerti bagaimana perasaannya, sehingga ada rasa bersalah yang kini merongrong jiwanya.
"Apa, putriku pendarahan? Di Rumah Sakit mana sekarang? Aku akan segera ke sana. Putriku baik-baik saja, kan?" Dengan suara serak dan bola mata berkaca-kaca, sang ibu dari Floe tersebut langsung berjalan cepat masuk ke dalam untuk mengambil tas.
Hingga ia pun berteriak agar pelayan yang berada di rumah mengetahui putrinya tengah mengalami sesuatu hal yang buruk. Berharap semua pelayan yang mengetahuinya, mau mendoakan keadaan putri dan janinnya agar selamat.
"Cepat suruh supir untuk bersiap mengantarkanku ke Rumah Sakit. Aku ingin melihat keadaan putriku dan calon cucuku," serunya pada wanita paruh baya yang merupakan kepala pelayan di rumah.
Tentu saja beberapa pelayan yang tadinya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, seketika menghentikan semua kegiatan dan berjalan mendekat pada sang majikan yang tengah berduka karena keadaan putrinya.
"Semoga nona Floe dan janinnya baik-baik saja, Nyonya." Kepala pelayan yang saat ini mendekati sang majikan sambil mengusap lembut lengan untuk menyalurkan aura positif.
Ia adalah orang paling lama bekerja di rumah keluarga Madison dan mengetahui jika wanita yang merupakan majikannya tersebut adalah orang yang sangat baik dan memperlakukan pelayan layaknya keluarga sendiri.
Bahkan beberapa pelayan lain langsung mengaminkan doa yang baru saja ia panjatkan.
"Aku juga berharap seperti itu, Bik. Aku harap kalian semua mendoakan putriku agar baik-baik saja. Aku akan berangkat sekarang." Dengan mengusap kasar bulir air mata yang kini membasahi wajahnya, ia berjalan dengan diantarkan semua pelayan ke depan untuk menuju ke mobil, di mana sang sopir sudah bersiap dengan menyalakan mesin.
To be continued...