Married by Accident

Married by Accident
Galau



"Dasar pemalas!" sindir Erland yang baru saja selesai mengupaskan kepiting bagian dagingnya saja agar bisa dengan mudah dimakan tanpa mengotori tangan seperti yang dikatakan wanita di hadapannya itu.


Ia yang sudah selesai makan, sekalian membantu Floe yang tidak ingin kotor tangannya, baru setelah selesai, mencuci tangannya.


"Biarin!" sahut Floe yang saat ini tengah asyik menikmati daging kepiting yang tinggal dimakannya.


Ia sebenarnya dari dulu sangat suka dengan aneka ragam seafood, tapi benar-benar sangat malas jika harus cuci tangan. Itu karena kehamilannya membuat ia sangat malas melakukan apapun.


Hari ini, nafsu makannya benar-benar meningkat dan sudah menghabiskan tomyam. Bahkan melanjutkan dengan kepiting asam manis yang dinikmatinya. Ia menatap menyelidik ke arah pria yang saat ini seperti tidak berkedip ketika melihat saat makan.


"Kenapa? Pengen? Nih!" ucap Floe yang kini mengarahkan sendok ke mulut Erland agar mau membuka saat ia berbaik hati menyuapi, sebagai ucapan terima kasih karena sudah dibantu agar tidak kotor tangannya.


Refleks Erland menggelengkan kepala karena perutnya sudah kenyang dan hanya ingin menatap Floe saat lahap menikmati makanannya. Ia ikut senang jika ibu dari anaknya tersebut makan banyak dan janin di dalam kandungannya sehat.


"Habiskan sendiri. Aku sama sekali tidak suka dengan kepiting. Apalagi selama ini sangat malas karena ribet makannya, tapi malah kena karma saat kamu menyuruhku melakukannya." Erland ingin menunggu sampai wanita itu selesai makan karena akan membahas tentang resepsi pernikahan.


Tadi ia emang sudah mengirimkan pesan pada ayah dari wanita itu, tapi sampai sore ini pun belum dibalas. Padahal pesannya sudah dibaca, tapi sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun.


Ia masih berpikir positif bahwa ayah mertuanya tersebut sangat sibuk dan lupa membalas pesan darinya, jadi ingin bertanya pada Floe mengenai sang ayah.


Entah sudah berapa kali Floe tertawa karena merasa seperti berhasil mengerjai Erland. Ia bahkan saat ini berpikir jika pria itu benar-benar terkena karma karena malas makan kepiting, tapi malah tidak keberatan membantunya mengambil daging yang banyak tersangkut di dalam cangkang.


"Bukankah itu semua demi baby? Jadi, jangan mengeluh. Salah sendiri sembarangan menebar benih. Kenapa mengeluarkannya di dalam hingga membuatku hamil? Mungkin aku tidak akan menyuruhmu dan kamu tidak akan melakukan hal yang tidak diinginkan jika tidak hamil." Floe sebenarnya tidak tahu menahu tentang masalah keluar di dalam atau di luar.


Hanya saja ia baru mengetahui ketika dirinya hamil. Jadi, ia mencari tahu bagaimana cara untuk mengugurkan kandungan, tapi juga banyak mendapatkan informasi tentang bagaimana cara menunda kehamilan.


Jadi, istilah itu baru diketahui setelah ia banyak menggali informasi mengenai kehamilan. Makanya sekarang tidak ingin disalahkan sepenuhnya karena mengajak pria itu untuk tidur bersama ketika mabuk.


Erland yang seketika menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada yang mendengar perkataan bernada vulgar dari wanita di hadapannya seperti tidak malu pembicaraan mereka didengar.


"Wah ... aku seperti sedang berhadapan dengan orang lain saja. Apa benar kamu adalah Floe yang merupakan wanita polos yang baru pertama kali melakukannya denganku?" Ia bahkan saat ini mengingat kejadian ketika di pantai yang memaksa wanita itu untuk membuatnya mencapai ******* dengan mengunakan mulut.


Bahkan ia sesekali meringis menahan rasa nyeri ketika Floe tidak pandai melakukannya karena terkena gigi. Jadi, ketika mendapatkan sindiran bernada vulgar dari Floe ketika berada di tempat umum, seolah membuatnya tidak percaya sedang berhadapan dengan seorang wanita polos.


Floe yang terlihat sangat santai karena memang ia jadi mengetahui semuanya saat hamil. Jadi, ia menjelaskan semuanya seperti yang terjadi agar tidak dianggap seperti seorang wanita penggoda.


"Jadi, jangan salah paham padaku karena aku mencari tahu semuanya setelah stres begitu mengetahui hamil ketika hanya melakukannya sekali dan itu pun tidak ku ingat. Rasanya hari itu aku ingin bunuh diri karena mengingat semua terjadi akibat perbuatan Rafadhan." Ia menggebrak meja, hingga membuat semua yang ada di atasnya bergetar meskipun tidak kuat melakukannya.


"Kenapa aku harus bertemu dengannya dan jatuh cinta pada pria yang hanya mengincar uangku saja? Aku ingin membalas dendam padanya, tapi tidak ingin melihatnya karena sangat muak. Bisa-bisanya aku jatuh cinta pada bajingan itu." Floe kini tidak menghabiskan kepiting asam manis yang masih tersisa separuh tersebut.


Mengingat mantan kekasih yang ternyata hanya memanfaatkannya, membuat hilang selera makan. Ia pun kini mendorong makanannya ke arah Erland.


"Sayang dibuang. Habiskan itu. Mendadak nafsu makanku hilang ketika mengingat si berengsek itu!" Saat ia menetralkan rasa pedas di mulutnya dengan menekuk air mineral, semakin bertambah kesal mendengar jawaban dari Erland.


"Aku kan sudah bilang jika tidak menyukai kepiting. Biarkan saja tidak habis. Bukankah yang penting aku membayarnya. Ada hal penting yang ingin kukatakan padamu." Erland tadinya berpikir jika penolakannya akan dianggap sebuah hal biasa oleh Floe.


Namun, ia malah mendapatkan tatapan tajam dan juga perintah bernada paksaan.


"Baby ingin melihat daddy-nya menghabiskan sisa makanannya. Jadi, jangan membantah dan makan saja!" Saat ini Floe memiliki keinginan untuk bisa melihat ekspresi pria yang tidak pernah makan kepiting tersebut untuk pertama kalinya.


Jadi, sengaja memaksa agar perintahnya tidak ditolak. Bahkan ia mengambil ponsel untuk merekam momen yang mungkin akan terlihat lucu dan menjadi kenangan.


"Aku rekam biar nanti baby bisa melihatnya saat sudah besar." Ia bahkan saat ini sudah bersiap untuk merekam ketika pria dengan raut wajah masam tersebut seperti ragu-ragu menikmati kepiting yang tadi sudah diambil dagingnya dan memudahkan untuk dimakan.


"Astaga! Apa kamu tidak melihat jika tanganku sudah bersih setelah mencuci tangan?" Erland masih beralasan dan berharap Floe membatalkan perintah.


Ia sebenarnya sangat jijik dengan kepiting, makanya tidak pernah makan. Bahkan tidak pernah terpikirkan sekalipun untuk makan itu, jadi tidak tahu rasanya seperti apa dan ini memang benar pertama kalinya disuruh.


"Bagaimana jika aku nanti muntah?"


"Tinggal ke toilet saja. Aku bahkan sudah terbiasa muntah-muntah. Jadi, jangan protes hanya sekali muntah ketika menikmati kepiting. Ini tuh dagingnya enak dan gurih. Makanya cobain," sahut Floe yang kini mulai menekan tombol pada kamera.


"Seumur hidup, baru kali ini aku menuruti perintah yang paling kubenci," sahut Erland yang saat ini mulai bergerak mengambil daging kepiting dan dan memasukkan ke dalam mulut meski sangat ragu-ragu.


Ia bahkan saat ini bisa merasakan rasa asam manis di mulut dan begitu mengunyah daging kepiting, masih mencoba untuk membiasakan lidahnya dengan rasa asing itu.


Sementara itu, Floe yang merekam sambil tersenyum, kini tidak sabar ingin mendengar pendapat dari Erland ketika pertama kali menikmati kepiting.


"Gimana? Seperti kataku, kan? Rasanya enak dan gurih. Kamu terlalu membayangkan cangkang kepiting, makanya merasa jijik dan tidak ingin memakannya," sahut Floe yang saat ini terkekeh geli melihat reaksi Erland ketika tidak langsung menjawabnya.


Seolah masih terus menikmati rasa gurih khas kepiting yang sebenarnya membuat orang ketagihan menikmatinya. Ia merasa sangat yakin jika pria di hadapannya tersebut pasti akan melanjutkan makannya dan tidak lagi merasa jijik.


Erland yang baru saja menelan daging kepiting, kini merasa jika apa yang dikatakan Floe benar. "Jadi, seperti ini rasanya kepiting? Gurih juga rupanya."


"Nah, kan apa kubilang!" Floe kembali terkekeh dan mengarahkan dagunya pada makanan dengan warna merah tersebut. "Ya sudah cepat habiskan kalau begitu!"


Ia bahkan masih merekam karena ingin kembali melihat ekspresi wajah yang lucu ketika pertama kali pria itu mengetahui jika rasa dari daging kepiting itu sangat gurih.


Hingga ia pun kini kembali mengunyah makanan ke dalam mulut dan berniat untuk menghabiskannya. Tanpa memperdulikan Floe yang merekam sambil sesekali tertawa. "Oh iya, ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu."


Floe kini mematikan ponselnya setelah dirasa rekamannya sudah cukup dan merasa penasaran dengan hal penting yang dimaksud. "Mau bicara tentang apa?"


"Tentang resepsi pernikahan yang diinginkan daddy-mu." Kemudian Erland menceritakan tentang apa yang disampaikan oleh sang ayah dan juga saat ia mengirimkan pesan pada ayah mertuanya yang sampai sekarang tidak dibalas.


Floe kini terdiam karena sama sekali tidak tahu tentang hal itu. Ia berpikir jika sang ayah tengah marah padanya. Jadi, tidak membahas dengannya. "Kenapa aku sama sekali tidak diberitahu oleh daddy? Daddy selama ini tidak suka ada yang mengirimkan pesan padanya mengenai hal penting."


"Telpon saja dan jangan mengirimkan pesan karena itu tidak akan dibalas," ucap Floe yang selama ini jarang mengirimkan pesan karena sudah mengetahui sifat sang ayah.


Erland saat ini juga merasa bingung ketika ternyata Floe tidak tahu apa-apa. Ia hanya menghentikan bahu karena tidak tahu jawaban atas pertanyaan wanita itu.


"Padahal aku berusaha sopan untuk tidak mengganggu waktu daddy-mu. Makanya bertanya kapan ada waktu untuk bertemu. Nanti saja kita telepon sama-sama karena biar kamu sekalian tahu mengenai keinginan daddy-mu. Jadi, menurutmu gimana?" Ia sebenarnya sangat ingin wanita itu menolak acara resepsi.


Dengan harapan tidak ada pihak media yang meliput dan akhirnya kabar pernikahannya diketahui oleh semua orang, khususnya sang kekasih di London.


Apalagi selama ini mengetahui jika sang kekasih selalu melihat media sosial dan mengecek tentang dirinya, jadi sangat yakin jika wanita yang sangat dicintainya akan salah paham dan terluka.


Hanya hal itulah yang mengganggu pikirannya ketika sang ayah membahas mengenai resepsi pernikahan yang diinginkan mertua.


Saat ia menunggu jawaban Floe selama beberapa menit, seketika terdiam ketika apa yang diinginkan tidak sama.


"Lebih baik resepsi dilakukan agar tidak ada yang menghujat aku hamil tanpa suami. Lebih cepat lebih baik," sahut Floe yang kini menoleh ke arah sebelah kanan ketika mendengar suara bariton Harry yang memanggil namanya.


"Aku duluan, Floe!" Awalnya Harry ingin pergi tanpa menyapa Floe, tapi tidak jadi melakukannya karena sang ibu mengingatkan untuk berpamitan.


Itu karena tadi sang ibu mengetahui jika Floe adalah teman kampusnya dan tadi menyerahkan buku yang menjadi hadiah untuk wanita itu karena membayarnya.


Floe kini tersenyum dan membalas dengan melambaikan tangan. "Iya, hati-hati di jalan. Sekali lagi terima kasih bukunya."


Bahkan ia juga sempat tersenyum pada wanita yang memiliki paras cantik di sebelah Harry. Ia kini mengerti jika paras rupawan pria itu menurun dari gen sang ibu.


Bahkan senyuman wanita yang sudah tidak lagi muda tersebut masih memesona dan sudah menebak jika ibunya Harry adalah orang yang baik dan humbel.


Begitu melihat ibu dan anak tersebut sudah menjauh dan menghilang dari pandangan, ia beralih menatap pada Erland yang baru saja menghabiskan kepiting tersebut.


"Sepertinya dia tidak mempermasalahkan dekat dengan istri orang yang tengah hamil. Oh iya, di mana pacarnya tadi? Zeze namanya karena aku sangat hafal dengannya yang sering menjadi perwakilan kampus." Erland sebenarnya tidak terlalu mengetahui semua itu.


Hanya saja tadi langsung mencari tahu semuanya setelah sahabatnya menceritakan tentang Harry. Bahwa pria yang tadi duduk di sebelah Floe itu memiliki seorang kekasih bernama Zeze.


"Dia jadi model di kampus, sedangkan Harry jadi duta kampus yang sering diajukan beberapa olimpiade." Erland selama ini sering menjadi pembicara untuk memberikan semangat pada para mahasiswa agar bisa sukses sepertinya, jadi berpikir jika Floe menganggap ia adalah orang yang serba tahu.


Floe yang yang baru saja mengetahui semua informasi tersebut, memang tadinya sudah menduga jika Harry adalah salah satu mahasiswa cerdas dan jenius.


Apalagi melihat pertama kalinya saat membuka buku pria itu. Refleks ia menepuk jidat dan bangkit berdiri ketika mengingat sesuatu. "Sebentar! Ada sesuatu yang terlupa!"


Floe berniat untuk mengejar Harry karena tadi ingin meminjam buku pria itu, tapi malah lupa dan baru ingat sekarang. Namun, iya tidak bisa melangkah ketika pergelangan tangan kirinya ditahan oleh Erland.


"Mau ke mana? Cepat duduk! Jangan sampai kamu pingsan lagi dan tidak ada yang melihatmu!" sahut Erland yang ikut berdiri dengan cepat menghentikan Floe.


"Aku ingin meminjam bukunya. Tadi sudah mengatakannya dan malah lupa. Ada banyak sekali hal yang belum kuasai dan tertinggal di kelas. Makanya ingin mencuri kecerdasannya dengan meminjam kata tanya agar ketularan jenius." Saat baru mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, kembali merasa kecewa ketika pria itu menyuruhnya untuk kembali duduk.


"Biar pengawas aja yang meminta bukunya." Kemudian ia beralih menatap ke arah sang pengawal dan memberikan perintah agar mengejar Erland.


"Baik, Bos." Sang pengawal tadinya berniat untuk kembali lagi, tapi tidak jadi melakukannya karena disuruh langsung pulang dan membuatnya membawa paper bag berisi buku tersebut.


Erland yang kini kembali duduk bersama Floe, kembali membahas mengenai keinginan wanita itu. "Apa ada konsep yang kamu inginkan? Biar nanti disesuaikan atau ngikut saja numpang di pernikahan Kirana."


Dulu Floe memang memiliki wedding dream ala-ala princess. Namun, semua impiannya tersebut sirna begitu mengetahui jika ia hamil diluar nikah. Jadi, sekarang memilih pasrah karena acara itu hanyalah sebuah formalitas saja.


"Terserah saja karena yang penting semua orang mengetahui jika aku punya suami saat hamil. Itu saja sudah cukup. Lagipula ini semua hanya sandiwara, kan? Karena semuanya akan berakhir setelah bayi ini dilahirkan." Ada nada kegetiran defensive dari kalimat Floe.


Ia tidak tahu ke mana takdir membawanya karena hanya memilih pasrah dan menjalani semuanya seperti air mengalir.


'Semoga suatu saat nanti aku menemukan seseorang yang mencintaiku dengan tulus dan menerima semua kekuranganku,' gumam Floe yang kini bisa melihat raut wajah Erland berubah dan tidak biasa.


"Ya, kamu benar. Jadi, resepsi ini hanyalah sebuah sandiwara di depan semua orang, kan? Kalau begitu numpang saja di acara pernikahan adikku tanpa harus berpikir banyak hal mengenai persiapannya. Hanya tinggal menambah ukuran singgasana serta catering saja." Erland kini paket berdiri dari kursi, hendak membayar makanan yang dipesan.


Entah mengapa ia merasa sangat aneh ketika perkataan Floe yang terdengar sangat santai itu mengganggu sudut terdalam hatinya. Bahwa ia memikirkan tentang keturunannya nanti tidak bisa ditemuinya setiap hari setelah bercerai.


'Belum lahir saja sudah membuat daddy-mu ini galau, nak,' gumam Erland yang kini sudah berjalan meninggalkan Floe dan berbicara dengan kasir untuk membayar semua makanan.


To be continued...