
Hugo Madison yang masih dikuasai oleh amarah, sama sekali tidak memperdulikan apapun selain meluapkan kemurkaannya pada menantu yang sama sekali tidak disukainya karena merupakan keturunan Felix.
Ia hanya membiarkan sang istri yang masih memarahinya dengan wajah garang ala emak-emak yang khas dan menjadi ciri khas ibu rumah tangga. Bahkan sama sekali tidak takut karena merasa benar. Bahwa ia hanya ingin Floe mendapatkan semua hal terbaik.
"Aku mana mungkin melakukan ini jika tidak ada sebabnya! Lihat dia! Pria yang telah membuat putrimu hampir kehilangan nyawa." Ia menunjuk ke arah Erland yang masih diam saja di hadapannya.
Ia sangat puas karena berhasil membuat Erland babak belur di bagian wajah dan bibir. Meskipun ia tahu jika menantunya itu sama sekali tidak melawan dan membiarkannya memberikan sebuah hukuman.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Jadi, Floe keguguran?" Lestari Juwita menatap suami dan juga beralih pada menantu serta pria yang asing. "Kamu yang menjawab telpon tadi, kan?"
Harry yang dari tadi hanya diam seperti tengah menonton film, juga puas karena Erland dibuat babak belur sebagai bentuk pertanggungjawaban. Meskipun kekerasan memang tidak menyelesaikan masalah, tetap saja menjadi pelampiasan semua orang.
"Iya, Tante. Saya Harry." Mengulurkan tangannya dan langsung mendapatkan tanggapan dari wanita paruh baya yang masih terlihat cantik seperti Floe dan ia menyadari jika gen sang ibu menurun pada putrinya.
Saat ia hendak menjelaskan untuk kesekian kalinya mengenai kejadian sebenarnya, tidak jadi melakukannya karena ayah Floe mengambil alih dengan menceritakan sambil menunjuk ke arah Erland.
Hugo Madison masih tidak mengalihkan tatapan tajam pada Erland karena hanya ada kemurkaan yang ditahannya saat ini. Ia mengatakan penjelasan dari perawat mengenai putrinya yang harus menjalani kuratase akibat pendarahan.
Berbeda dengan Erland yang dipenuhi oleh rasa bersalah dan penyesalan, jadi hanya diam saat ditunjuk-tunjuk oleh mertuanya. Hingga ia menoleh ke arah sang ibu yang mengusap lengannya.
"Aku tidak apa-apa, Ma," ucap Erland yang melihat sang ibu khawatir. Jadi, tanpa menunggu sang ibu bertanya, ia langsung menenangkan.
Meskipun dalam hati dipenuhi oleh rasa bersalah karena membuat calon anaknya tidak bisa dilahirkan ke dunia dengan selamat. Ia menyalahkan diri sendiri karena tadi berpikir jika Floe akan baik-baik saja. Namun, malah kehilangan janin yang ia harapkan bisa menjadi penerusnya.
"Maafkan aku, Dad, Mom. Ini semua memang salahku. Aku benar-benar tidak menyangka jika semua ini akan terjadi. Aku ...." Erland tidak bisa melanjutkan perkataannya karena kembali mendengar suara perawat yang baru saja datang.
"Operasi akan dilakukan. Semua bisa menunggu di depan ruangan operasi, tapi tolong jangan membuat keributan!" Sang perawat yang kini menatap tiga pria di hadapannya, sama sekali tidak tahu apa yang diributkan, harus memberikan ultimatum demi kenyamanan Rumah Sakit yang dipenuhi oleh orang-orang yang bermasalah dalam kesehatan.
"Oh iya, apa sudah ditandatangani syarat-syaratnya tadi?" Ia melihat ke arah pria yang tadi belum dilihatnya dan berpikir jika itu mungkin adalah suami dari pasien. "Akan lebih baik jika suami yang menandatangani surat pernyataan." Ia bahkan melirik sekilas ke arah bibir yang robek dan ada darah sudah mulai mengering.
Erland refleks berjalan ke depan untuk menanggapi karena memang baru datang, tapi sudah harus mendapatkan hukuman dari mertua yang murka padanya. "Baik, Suster. Saya yang akan mengurusnya karena suaminya."
Erland memberikan kode dengan mata pada sang ibu agar menunggu di depan ruangan operasi bersama yang lain. Ia juga menatap ke arah Harry yang sama sekali belum sempat ditanya olehnya. Sebenarnya ia heran, kenapa Floe selalu saja bertemu dengan Harry akhir-akhir ini.
Namun, berpikir jika semua itu mungkin hanya kebetulan dan karena mereka adalah teman satu kelas, sehingga tidak ingin memikirkan tentang hal yang mengganggu pikirannya.
'Semua sudah terjadi dan tidak bisa diubah. Mungkin ini adalah takdir kami. Keturunanku tidak bisa lahir ke dunia, sedangkan Marcella bunuh diri dan masih kritis. Apa Floe akan baik-baik saja?' Erland yang sudah tiba di ruangan dengan beberapa perawat baik laki-laki maupun perempuan duduk di depan komputer, kini mendaratkan tubuhnya di kursi saat dipersilakan.
"Tolong diisi, Tuan." Sang perawat menyerahkan formulir pernyataan.
"Apa istri saya akan baik-baik saja setelah dioperasi, Suster? Tidak akan ada dampak buruk yang dialaminya, kan?" Erland yang masih belum mengisi kertas di tangannya, belum tenang saat memikirkan keadaan Floe.
Ia memang merasa sangat bersalah, tapi sekaligus menyadari jika harus mengejar waktu. Jadi, sekilas melirik jam tangan mahal yang dipakainya. "Saya harus tahu keadaan istri karena akan pergi ke London malam ini."
Erland melihat respon perawat yang seolah enggan untuk menjelaskan padanya, jadi sengaja mengatakan hal itu.
"Semuanya bisa dijelaskan oleh dokter nanti setelah selesai operasi, Tuan. Tapi yang jelas, jika penanganan tidak terlambat dan tepat, istri Anda akan baik-baik saja dan segera pulih." Sang perawat awalnya terkejut karena heran jika seorang suami akan meninggalkan istri pada saat kondisi paling buruk dan menyedihkan karena harus kehilangan darah daging yang dikandung.
Namun, ia berpikir jika mayoritas orang-orang kaya super sibuk harus mengorbankan sesuatu untuk mengejar materi. 'Seperti filosofi yang pernah kudengar. Bahkan air laut pun tidak akan bisa menyembuhkan haus seseorang jika sudah terobsesi dengan dunia.'
Materi memang harus dikejar, tapi jika dalam prakteknya mengorbankan kebahagiaan, maka tidak akan ada ketenangan jiwa dari yang menjalaninya. Itulah yang dipikirkan sang perawat kala melihat pria di hadapannya sudah bernapas lega dan mengisi formulir yang diberikannya.
"Terima kasih, Suster karena saya sekarang sangat lega." Erland yang kini fokus mengisi surat pernyataan, sambil berpikir jika ia harus berpamitan pada mertuanya sebentar lagi.
'Bagaimana aku menjelaskan pada mereka? Khususnya pria diktator yang sangat arogan itu? Apa aku akan mendapat pukulan lagi nanti? Bisa-bisa aku babak belur dan menjadi pusat perhatian di dalam pesawat. Atau aku diam saja dan langsung pergi?' gumam Erland yang merasa bahwa poin terakhir menegaskan jika ia adalah seorang pengecut sekaligus pecundang.
Hingga ia bangkit berdiri setelah menandatangani surat pernyataan tersebut dan menyerahkan pada perawat. "Saya akan langsung ke ruangan operasi, Suster."
Sang perawat hanya mengangguk perlahan sambil melihat siluet pria yang mulai berjalan menjauh. "Jika aku punya suami yang tidak menjadikan istri prioritas, akan langsung minta cerai. Ternyata kehidupan orang-orang kaya itu jauh lebih menyesakkan dan membingungkan."
To be continued...