
Erland hanya terdiam sambil menatap bepergian sang kekasih yang sudah dibawa oleh orang-orang itu dengan perasaan berkecamuk dan merasa gagal menjadi pria yang bisa melindungi wanitanya.
Ia tertawa miris melihat diri sendiri yang bahkan tidak bisa berbuat apapun saat Marcella dibawa pergi. Bahkan juga mengingat jika ia melakukan hal sama pada Floe karena tidak bisa menjadi suami yang baik saat istri tengah mengalami keguguran dan membutuhkan dukungan.
Erland yang beberapa saat kemudian tertawa terbahak-bahak ketika menyadari jika hidupnya saat ini sama sekali tidak berguna karena pilihannya di hadapan oleh kenyataan yang tidak selaras dengan inginnya.
'Ma, perkataanmu menjadi kenyataan. Kenapa mama berkata seperti itu padaku? Harusnya mama tahu jika apa yang diucapkan bisa menjadi doa. Apalagi pada anak sendiri yang mungkin akan langsung diijabah oleh Allah.' Erland saat ini merasa bingung apa yang harus dilakukan saat sang kekasih sudah menghilang dari pandangan.
Bahkan ia berpikir jika mungkin tidak bisa bertemu hingga melahirkan karena yakin perbuatan Zack akan membuat Marcella hamil seperti yang dilakukannya pada Floe.
"Presdir," lirih Leo yang saat ini membuka suara meski sebenarnya sedikit khawatir akan menjadi pelampiasan atasannya yang sedang dipenuhi oleh kesedihan atas kejadian hari ini.
Erland hanya diam tanpa membuka sepatah kata pun karena jujur saja saat ini seperti tidak mempunyai semangat hidup lagi dan tidak punya arah tujuan pasti. Hingga ia kembali mendengar suara bariton dari sang asisten yang tengah memegang pundaknya.
"Tuan Erland, Anda masih bisa mengetahui kabar nona Marcella melalui ini." Leo yang saat ini menunjukkan dua kartu nama di tangan karena tadi memang Erland tidak mau menerimanya saat diberikan oleh pria itu.
Ia hanya bisa memberikan suntikan semangat meskipun itu mungkin tidak berarti apapun karena tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Tidak mungkin ia hanya diam saja ketika atasannya terlihat terpuruk dengan apa yang dialami karena rencana yang sudah disusun dengan baik tidak bisa diwujudkan.
Meskipun ia merasa bingung dengan pria di hadapannya tersebut karena masih memiliki seorang istri yang tengah hamil, tapi malah sibuk mengkhawatirkan wanita yang kini sudah pergi dibawa oleh keluarga Pieterson.
Berbeda dengan Kyara yang saat ini merasa bingung sekaligus khawatir pada keadaan sahabatnya, tidak tahu harus bagaimana. Ia khawatir jika Marcella akan mengalami kekerasan yang dilakukan orang-orang kaya tersebut dan berusaha untuk berbicara dengan Erland yang terlihat putus asa.
"Erland, coba cari jalan keluar meskipun kondisinya sangat berat seperti ini. Aku saat ini benar-benar tidak bisa berpikir untuk mencari ide menolong Marcella." Ia pun kini terdiam sejenak karena melihat raut wajah murung pria yang sepertinya pasrah dengan apa yang dihadapi.
Ia refleks menuju lengan Erland agar segera sadar dan tidak terus terpuruk serta putus asa karena ia butuh seseorang untuk bekerja sama menolong Marcella keluar dari kekuasaan keluarga Pieterson yang merupakan orang berada di London.
Erland yang bahkan seperti tidak merasakan apapun dengan pukulan Kyara, masih terdiam karena jujur saja ia sadar jika statusnya yang bukan orang pribumi akan sulit mengalahkan keluarga Pieterson yang berkuasa.
"Apa yang bisa kita lakukan sekarang? Kita bahkan hanya pendatang di sini yang bisa kapan saja didepak dari negara ini. Aku bahkan tidak yakin jika menyewa pengacara sekalipun, akan berhasil melepaskan Marcella dari kekuasaan keluarga bajingan itu." Ia bahkan tadi sempat membaca sekilas surat pernyataan yang menyatakan persetujuannya sebagai wali.
Bahwa semua isi dari surat itu lebih tepatnya memihak pada keluarga Pieterson daripada hak asasi manusia seorang korban perkosaan. Itulah mengapa ia tadi langsung menyobek dan tidak mau menandatanganinya.
Embusan napas kasar mewakili semua keluh kesah yang memberatkan pikiran serta hatinya saat ini dan ia hanya terdiam menatap ke arah kartu nama yang ditunjukkan oleh sang asisten.
Saat ruangan yang hanya ada tiga orang itu sama-sama putus asa, terdengar suara pintu yang terbuka dan ada dua orang wanita yang bekerja sebagai cleaning service masuk.
"Kami akan membersihkan ruangan. Tolong keluar dan bawa barang-barangnya," ucap salah satu wanita berseragam biru yang saat ini mendorong troli berisi alat kebersihan.
Memang di sana ada beberapa barang-barang Marcella yang sengaja dibawakan oleh Kyara dan masih berada di dalam tas. Bahkan orang-orang itu pergi tanpa membawanya, sehingga saat ini langsung bergerak untuk membereskan agar tidak ada satupun yang tertinggal.
Leo pun juga melakukan hal sama karena tadi membawakan pakaian ganti serta makanan untuk atasannya, tapi terjadi sesuatu hal buruk seperti ini yang akhirnya tidak sempat dimakan dan pastinya sudah dingin dan juga tidak enak.
Saat Leo dan Kyara membereskan barang-barang, berbeda dengan Erland yang saat ini berjalan keluar dan memilih untuk mendaratkan tubuhnya di kursi karena tenaganya seolah terkuras habis hari ini.
Apalagi ia dari semalam tidak makan dan juga ini hampir siang, belum sarapan. Sementara tadi mengerahkan seluruh tenaganya untuk membuat perhitungan pada Zack dan tentu saja membuatnya lemas sekarang.
Namun, ia yang belum bisa berpikir jernih untuk memutuskan apa yang akan dilakukannya, mendengar suara ponsel miliknya yang berdering. Awalnya ia membiarkan saja karena malas untuk berbicara dengan siapapun ketika suasana hatinya sedang tidak baik.
Berpikir jika yang menelpon adalah sang ibu atau sang ayah, sehingga masih membiarkan suara dari teleponnya berbunyi. Namun, lama kelamaan merasa risi karena panggilan terus berdering meskipun sudah mati berkali-kali.
Akhirnya ia terpaksa merogoh benda pipi di saku celana dan mengerjakan mata begitu melihat nomor yang ada di layar ponsel miliknya.
"Floe? Kenapa Floe menelponku?" lirih Erland yang saat ini terdiam karena bingung harus melakukan apa ketika perasaannya tidak baik-baik saja, istri yang disia-siakan malah menghubungi.
'Apa Floe menelpon karena rasa bersalahnya pada Marcella? Atau ada sesuatu hal yang terjadi padanya?' gumam Erland yang saat ini merasa penasaran dan akhirnya menggeser tombol hijau ke atas.
Namun, ia tidak berani membuka suara dan mendengar Floe yang berbicara padanya.
"Halo," ucap Floe dari seberang telepon.
"Floe?" Erland yang bertanya-tanya, tidak berani berbicara banyak karena hanya ingin tahu apa yang diinginkan oleh wanita di seberang telepon tersebut karena jujur saja rasa bersalah menyeruak di dalam hatinya saat ini.
To be continued...