Married by Accident

Married by Accident
Kenapa harus terjadi



Erland yang beberapa saat lalu berjalan pintu keluar karena ingin berbicara tanpa didengarkan oleh pegawai ibunya. Ia tidak ingin ada siapapun yang mengetahui pembicaraannya dengan sang asisten mengenai masalah Marcella.


Apalagi di zaman yang serba digital ini lebih sering ada kejadian viral dan sangat cepat tersebar jika sudah sampai menjadi makanan publik. Ia tidak ingin Marcella terkena imbas buruk dari sesuatu hal yang tidak sesuai dengan pemikiran orang lain mengenai pernikahannya dengan Floe.


Begitu ia berada di luar butik, langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara bariton dari seberang telepon yang tak lain adalah asisten pribadinya.


"Maaf, Presdir karena baru menelpon. Saya sudah berusaha untuk mencari tahu tentang nona Marcella, tapi memang baru hari ini mengetahui hal sebenarnya," ucap sang asisten yang saat ini merasa sangat ragu untuk membahas mengenai masalah yang terjadi di London.


Berbeda dengan Erland yang saat ini langsung to the poin karena tidak sabar untuk mengetahui kabar wanita yang sama sekali tidak membalas pesan serta mengangkat teleponnya.


"Aku bisa ngajakin jika saat ini ada sesuatu yang terjadi pada kekasihku. Apa dia sibuk menangis di apartemen hingga tidak mau mengajar di kampus?" Satu-satunya hal yang terlintas di pikirannya hanyalah itu karena mengetahui jika sang kekasih adalah seorang wanita yang sangat setia dan mencintainya dengan tulus.


Ia yakin jika sang kekasih benar-benar sangat terluka dengan apa yang dilakukannya. Meski sebenarnya semua itu dilakukan karena terpaksa demi keturunan yang beberapa bulan lagi akan dilahirkan.


Namun, ia seketika membulatkan bola matanya begitu mendengar sang asisten yang menyampaikan kabar buruk mengenai wanita yang sampai sekarang bahkan tidak pernah lekang dari pikirannya.


"Anda harus bersabar, Presdir. Sebenarnya nona Marcella saat ini sedang berada di rumah sakit dan keadaannya kritis karena perbuatannya untuk bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangan kiri. Saya sudah memastikannya dengan bertanya pada dokter yang menangani," ucap pria di balik telepon yang saat ini masih berada di Rumah Sakit.


Tentu saja saat ini kedua tangan Erland gemetar hebat karena saat ini dipenuhi oleh rasa bersalah sekaligus berdosa pada sang kekasih yang tengah berjuang melawan maut akibat perbuatannya.


Ia tahu jika penyesalan tidak ada gunanya saat ini dan menyalahkan diri sendiri juga tidak menyelesaikan masalah yang terjadi pada Marcella.


Meskipun ia saat ini dipenuhi oleh rasa bersalah, tidak membuatnya menyerah atau putus asa dengan berpikir bahwa sang kekasih mungkin tidak tertolong setelah menyayat pergelangan tangan.


"Aku akan memesan tiket untuk pergi ke London. Kirimkan aku alamat Rumah Sakit agar bisa langsung menuju ke sana setelah tiba." Tanpa menunggu jawaban dari seberang, Erland langsung mematikan sambungan telepon dan tentu saja berlanjut membuka aplikasi untuk memesan tiket.


Saat ia terlihat fokus mengecek penerbangan paling cepat ke London, mendengar suara dari sang ibu, tapi sama sekali tidak diperdulikan karena baru menemukan jadwal keberangkatan dan langsung mengetik nomor identitas untuk membooking.


"Erland, kenapa harus menerima telepon di luar butik? Tingkahmu ini sangat mencurigakan dan Floe juga berpikir seperti Mama sekarang." Ia mengerutkan kening ketika menatap ke arah layar ponsel yang membuat putranya terlihat berkonsentrasi.


Hingga ia seketika membulatkan mata begitu melihat jika putranya membeli tiket ke London untuk penerbangan nanti malam. "London? Apa kamu akan pergi ke London untuk menemui Marcella? Apa sebenarnya yang ada di otakmu saat ini, Erland?"


Dengan mengarahkan pukulan cukup keras pada lengan kekar putranya yang mengenakan setelan kemeja berwarna biru yang serasi dengan Floe untuk acara resepsi beberapa hari lagi.


Ia kini menatap ke arah sang ibu dengan mata yang berkaca-kaca karena rasa bersalah membuatnya tidak bisa tenang sebelum bertemu dengan sang kekasih.


"Marcella bunuh diri karena aku, Ma. Aku harus melihatnya untuk memastikan jika dia selamat. Ini semua terjadi karena salahku." Erland takkan berbicara dengan suara serak karena menahan gejolak perasaan yang membuncah.


Sebagai seorang laki-laki yang tentu saja tidak diperbolehkan untuk menangis tersedu-sedu seperti seorang wanita, membuatnya berusaha untuk kuat meski hatinya hancur bagaikan pecahan kaca.


Apalagi saat ini berada di tempat umum yang pastinya bisa siapa saja melihatnya dan merekam jika sampai menangis. Ia bisa melihat jika sang ibu saat ini tengah membulatkan mata sambil membekap mulut.


"Apa, Erland? Marcella bunuh diri? Lalu, bagaimana dengan keadaannya sekarang? Mama ikut merasa berdosa karena sudah menganggapnya seperti putri sendiri." Saat dipenuhi oleh rasa bersalah serta kekhawatiran, tetap saja sebagai seorang ibu, mengetahui jika perasaan putranya jauh lebih buruk darinya.


Ia refleks langsung memeluk putranya untuk menenangkan dan menyalurkan aura positif. Bahkan beberapa kali mengusap lembut punggung putranya yang masih terdiam, seolah tidak bisa menjawab pertanyaannya.


"Tenanglah. Marcella pasti akan baik-baik saja. Semoga Tuhan melindunginya dan segera pulih. Kamu boleh pergi untuk melihatnya sebagai bentuk pertanggungjawabanmu karena menyebabkan Marcella bunuh diri," lirih wanita paruh baya yang saat ini masih terus menenangkan perasaan putranya.


Erland merasa suaranya tercekat di tenggorokan karena dadanya yang bergemuruh hebat. Seolah saat ini semua penyesalan tidak bisa mewakili apa yang dirasakan.


Ia masih mencari ketenangan di balik pelukan sang ibu. "Aku benar-benar takut, Ma. Jika aku tidak mengirimkan pesan padanya agar tidak berkomunikasi lagi sementara waktu, mungkin semua ini tidak terjadi."


Saat ini, sang ibu mengerutkan kening karena baru mengerti apa yang dilakukan putranya. Ia kini menarik diri dan menatap ke arah Erland yang masih memerah matanya tersebut.


"Jadi, kamu hanya mengirimkan pesan itu saja pada Marcella?" Ia makin dibuat heran begitu melihat putranya menganggukkan kepala. "Belum sampai menceritakan jika sudah menikah dengan wanita yang kamu hamili?"


Kini, Erland menggelengkan kepala karena memang tidak pernah tega mengatakan hal itu pada sang kekasih. Ketakutannya saat ini seolah terjawab sudah dengan kejadian yang menimpa Marcella.


"Jika aku mengatakannya, mungkin benar-benar akan kehilangan Marcella selamanya, Ma. Kenapa cuma ini harus terjadi pada hubungan kami?" Erland mengajak frustasi rambutnya hingga berantakan untuk melampiaskan semua keluh kesah yang dialami.


"Aku bahkan sangat yakin jika dia adalah jodohku karena sangat mencintainya, tapi kenapa aku harus mabuk malam itu karena bertengkar dengannya hingga menghamili Floe?" Saat Erland baru saja menutup mulut, ia bersitatap dengan wanita yang ternyata baru disadarinya sudah berdiri tak jauh dari tempatnya.


"Floe?" lirihnya yang kini ingin berbicara baik-baik dengan wanita yang tengah hamil benihnya tersebut.


To be continued...