
Renjani tidak menyangka jika permintaan costumer novel Meet Sunshine akan mencapai angka 1000 hanya dalam hitungan 24 jam. Renjani berpikir mungkin inilah buah dari promosi yang mereka lakukan selama ini. Ternyata hasilnya di luar dugaan meskipun Renjani sempat putus asa dan akan menutup Asmara Publishing. Bahkan Renjani berpikir untuk melamar pekerjaan kembali di perpustakaan edelweis.
Hal tersebut membuat kantor kewalahan setelah seminggu libur. Namun kerja hingga larut malam tak akan terasa jika perasaan mu sedang bahagia.
Renjani mengembuskan napas merentangkan tangannya ke belakang, menatap langit-langit ruangan kerjanya dengan perasaan berbunga-bunga. Saat ini Renjani benar-benar dipenuhi bunga, bunga yang bisa diliat dengan mata dan bunga yang hanya bisa dirasakan dengan hati.
Renjani merasa bersalah pada Kelana karena mereka harus pulang dari Bandung lebih cepat dari rencana. Namun Kelana mengatakan sama sekali tidak masalah. Mereka bisa kembali ke Bandung kapanpun.
Renjani kembali menegakkan tubuhnya dan meraih ponsel di atas meja. Ia mengetik nama Asmara Publishing pada kolom pencarian instagramnya.
"Udah lama nggak stalking ig sendiri " Renjani membuka postingan terakhir Asmara Publishing berupa foto novel Meet Sunshine dengan latar belakang gedung pencakar langit kota Jakarta waktu senja. Itu adalah foto yang Renjani ambil saat pertama kali Meet Sunshine selesai dicetak.
"Wah ada dua ribu komentar." Renjani menggulir komentar pada postingan tersebut.
Baru tahu kalau Asmara Publishing punya istrinya Kelana, auto beli
Walaupun nggak suka novel, beli aja lah sebagai bentuk dukungan gue buat suami yang lagi sakit.
Beli aja dulu, baca belum tentu.
Senyum di wajah Renjani seketika pudar membaca komentar tersebut. Pantas saja ia merasa tidak beres ketika Manda memberitahu jika jumlah pemesanan Meet Sunshine melebihi 500. Ternyata ini karena penggemar Kelana.
Selama ini Renjani tak pernah menyebutkan bahwa Asmara Publishing berhubungan dengan dirinya apalagi Kelana karena ia tidak mau selalu bergantung pada nama besar Kelana.
"Manda." Renjani menghampiri Manda yang masih berada di kursi kerjanya.
"Iya Mbak?" Manda menegakkan tubuhnya melihat Renjani.
"Kok mereka bisa tahu kalau Asmara Publishing punya saya?" Renjani menunjukkan komentar yang ia baca barusan.
"Oh, saya tidak tahu pasti tapi mungkin karena ada yang melihat foto saya dan Mas Kelana waktu saya pertama kali diterima kerja Mbak, foto itu sudah lama diupload tapi mereka harus notice apalagi di bio Instagram saya mencantumkan pekerjaan saya, netizen pandai melakukan cocoklogi Mbak."
Renjani menghela napas berat, ia tak tahu apakah harus senang atau sebaliknya. Semesta hanya mengizinkannya merasa bahagia sesaat. Ternyata kebahagiaan itu semu, ia tak akan bisa sukses tanpa nama besar Kelana. Baru beberapa saat yang lalu Renjani bangga pada dirinya. Namun semua itu bukan karena dirinya melainkan berkat kepopuleran Kelana. Maia juga pasti kecewa mengetahui ini, kalaupun ada dari pembaca yang benar-benar menyukai Meet Sunshine, Maia tetap akan berpikir jika itu berkat Kelana bukan karena kerja kerasnya.
"Kenapa Mbak?"
"Nggak apa-apa." Renjani tidak mungkin marah pada Manda karena telah memposting fotonya bersama Kelana. Itu sepenuhnya hak Manda. Lalu pada siapa Renjani bisa marah. Pada Kelana yang sangat populer atau penggemar yang begitu hebat karena menemukan sesuatu yang telah Renjani sembunyikan sejak pertama ia memutuskan untuk memiliki perusahaan penerbit. Renjani tak mau kesuksesannya berada di balik bayang-bayang Kelana.
Pada akhirnya Renjani hanya bisa marah dan kecewa pada dirinya sendiri karena ia tak dapat meraih mimpi tanpa Kelana. Renjani tak bisa berdiri dengan kakinya sendiri.
"Cukup hari ini, udah malem juga." Renjani melihat jam di ponselnya menunjukkan pukul 21:03, ia meraih tas kerjanya dan turun ke lantai satu.
"Kelana?" Renjani mempercepat langkah melihat Kelana berdiri di samping mobil. "Kamu disini?" Renjani menghambur memeluk Kelana, tadinya ia ingin marah tapi setelah melihat Kelana, emosinya langsung mereda dalam hitungan detik. Lagi pula ia tak memiliki alasan untuk marah pada Kelana. Satu-satunya orang yang berhak dimarahi Renjani adalah dirinya sendiri.
"Aku sengaja jemput kamu, bosan di apartemen sendiri." Kelana mengusap kepala Renjani.
"Bukan karena kangen?" Renjani mendongak menatap Kelana.
Kelana terkekeh, "kelihatan banget ya?" Ia memang merindukan Renjani karena tadi Renjani pergi ke kantor lebih pagi dari biasanya bahkan mereka tidak sempat sarapan bersama. "Kamu kenapa?" Kelana melihat raut kesedihan di wajah Renjani. Ia pikir kantor sudah baik-baik saja setelah mendapat permintaan novel cukup banyak.
"Nggak apa-apa." Renjani mundur selangkah mengurai pelukan.
Kelana tak percaya, bukankah perkataan perempuan berarti sebaliknya.
"Baiklah, aku nggak bakal maksa kamu buat cerita." Kelana membuka pintu untuk Renjani.
"Are you okay?" Kelana bertanya sekali lagi.
Pertanyaan itu membuat dinding pertahanan Renjani runtuh, ia hanya bisa menutup wajahnya dengan tangan dan menangis tanpa suara. Dari awal Renjani memang tak memiliki kelebihan apapun bahkan Lasti sering berkata demikian.
Kelana mendekap Renjani berharap bisa menenangkannya. Kelana tahu saat seperti ini Renjani hanya butuh pelukan. Setelah tenang pasti Renjani akan bercerita dengan sendirinya.
******
Dua buah burger sudah ada di atas meja makan. Sebelum pergi tadi, Kelana meminta Yana memesan burger karena ia yakin Renjani belum makan malam. Kalaupun sudah makan pasti Renjani tak akan bisa menolak burger dengan tiga lapis keju tersebut.
"Aku bersih-bersih dulu." Renjani melangkah ke kamar mandi setelah meletakkan tas kerjanya.
Sekarang Kelana tak perlu memaksa Renjani agar membersihkan badan setelah pulang kerja. Renjani sudah terbiasa dengan aturan Kelana.
Kelana menunggu Renjani di ruang makan. Meski Kelana tak akan makan tapi ia ingin menemani Renjani, semua burger itu memang untuk Renjani.
Renjani datang dengan kimono satin merah muda, ia sudah siap tidur tapi tak bisa melewatkan burger yang sudah Yana beli untuknya.
"Pesanan Meet Sunshine sudah dicetak?"
"Udah." Renjani menggigit sedikit burger dan mengunyahnya perlahan. "Kamu udah baca?"
"Hari ini baru selesai."
"Gimana pendapat kamu?"
"Ceritanya lumayan menarik dan enak dibaca tapi karena bukan genre yang aku suka jadi bacanya agak lama, buat pecinta novel romantis pasti bisa selesai dalam sekali duduk."
Renjani berterimakasih karena Kelana mau membaca novel tersebut meski tidak menyukai genrenya. Kelana berperan besar dalam hidup Renjani.
"Berterimakasih aja nggak cukup, apa yang bisa aku lakuin buat membalas kebaikan kamu Kelana?"
"Kenapa tiba-tiba ngomong gitu?"
"Kemarin aku seneng banget waktu denger pesanan Meet Sunshine meningkat jauh, aku pikir ini hasil kerja kerasku promosi sana sini dan edit naskah sampai larut malam tapi ternyata—mereka yang membeli buku itu adalah para penggemar mu." Renjani menunduk meletakkan burger nya yang masih tersisa setengah. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan nya, ia tak bisa melanjutkan makan.
"Tentu saja ini hasil kerja keras mu dan tim Asmara Publishing." Kelana menggenggam tangan Renjani.
"Aku nggak bisa apa-apa tanpa kamu." Renjani tersenyum getir di sela sesak yang menghujam dadanya.
"Kamu bisa, tanpa kalian novel ini nggak mungkin terbit, jangan berkecil hati."
"Mereka belum tentu membaca novel itu."
"Mereka akan menyesal kalau nggak baca Meet Sunshine." Kelana mengusap pipi Renjani yang basah oleh air mata. "Mata mu bisa bengkak kalau nangis terus."
"Mau peluk."
Kelana langsung menarik Renjani ke pelukannya, ia akan terus mendukung Renjani. Selama ini Renjani selalu ada di saat-saat tersulit Kelana dan memberi kekuatan.