Married by Accident

Married by Accident
XXX



Renjani menggeliat menghempas selimut yang menutupi tubuhnya. Matanya terbuka lebar ketika tiba-tiba ingat kejadian semalam, tunggu dulu, apakah itu mimpi? Tidak, merasakan tubuhnya yang hampir remuk sepertinya kejadian semalam bukan mimpi. Itu nyata.


Renjani merosot turun dari tempat tidur, ia menggerutu dalam hati, kapan kakinya sembuh? Ia kesal dengan keadaannya sekarang, merangkak pun tidak bisa.


Akhirnya Renjani ngesot untuk mengambil tongkat yang berada di dekat meja rias. Ah melihat meja rias membuat Renjani kembali mengingat kejadian tadi malam. Pergumulan antara dirinya dan Kelana benar-benar panas dan—sedikit aneh. Memangnya ada yang melakukan hal seperti itu di atas meja rias. Kelana pasti sudah gila.


"Ah serum salmon aku!" Renjani menjerit ketika mendapati serum DNA salmon yang ia beli dengan susah payah pecah berkeping-keping di atas lantai. Padahal Renjani harus nabung berbulan-bulan untuk membeli serum DNA salmon merek highend tersebut. "Ini gara-gara Kelana." Gerutunya kesal.


Pelembap, tabir surya, toner dan beberapa produk lipstik Renjani juga ikut tercecer ke lantai. Renjani membereskan semuanya dan meletakkan kembali ke meja rias walaupun sambil ngesot di lantai. Selamat tidak ada yang melihatnya, Renjani tak masalah. Tapi kemana Kelana?


Renjani bangkit dengan bantuan tongkat, ia mengibaskan tangan sedetik kemudian gorden kamar terbuka menyajikan pemandangan kota Jakarta dipagi—siang hari. Renjani mendelik menyadari bahwa matahari sudah meninggi. Ia melirik jam dingin, pukul setengah sebelas. Jika ada mama nya disini pasti Renjani sudah diteriaki, anak perawan bangunnya siang banget! Tapi tunggu dulu, bukankah Renjani sudah tidak perawan lagi sekarang?


"Rere jam segini belum bangun?"


Suara itu membuat Renjani terkekeh, memikirkan Omelan mama nya membuatnya berhalusinasi. Ia naik ke kursi roda untuk pergi ke kamar mandi. Walaupun sedikit ribet karena Renjani harus mandi tanpa membuat kakinya basah, tapi siang ini ia harus membersihkan diri.


Tanpa mengeringkan rambut, Renjani keluar kamar setelah selesai mengenakan daster merah muda yang biasa ia pakai saat di rumah. Yana telah membelikannya banyak pakaian baru walaupun Renjani tidak memintanya. Renjani sadar bahwa pakaian yang dibawanya dari tempat kos sudah buluk dan tak layak pakai.


"Loh Mama!" Renjani terkejut melihat mamanya, berarti yang tadi itu bukan halusinasi.


"Kamu gimana sih masa jam segini baru bangun, nggak malu sama Kelana, waktu Mama datang tadi dia udah rapi." Lasti mengomel, ia melirik Kelana yang sedang membaca buku. Kelana memang terlihat rapi dengan chinos putih gading dan kemeja berwarna olive. Sangat kontras dengan Renjani yang hanya mengenakan daster.


Renjani terhenyak, setelah lama tidak bertemu apakah hanya ini yang bisa Lasti katakan padanya. Bukannya mengkhawatirkan keadaan Renjani, Lasti justru mengomel.


"Mama kok nggak bilang mau kesini?" Renjani mendekat pada mama nya.


"Percuma ngasih tahu, apa Mama harus lihat TV dulu untuk tahu keadaan anaknya?"


"Aku cuma nggak mau Mama khawatir aja lagian aku udah nggak apa-apa kok." Renjani tahu ia salah karena tidak memberitahu mama nya tentang kecelakaan yang ia alami.


"Seenggaknya kasih Mama kabar, kamu masih punya Mama." Wajah Lasti memerah, ia tahu Renjani berusaha mandiri sejak lulus SMA. Namun itu membuatnya merasa menjadi ibu yang buruk. Ia sudah gagal mempertahankan rumah tangganya, ia tak mau gagal menjadi ibu.


"Mama tenang saja, saya akan selalu menjaga Renjani." Kata Kelana berusaha menengahi perdebatan antara ibu dan anak tersebut. Ia kasihan juga melihat Renjani diomeli seperti itu. "Re, makan gih, kamu melewatkan makan tadi malam."


Renjani mengangguk samar, ia melewatkan makan malam juga karena Kelana. Padahal Renjani berniat membersihkan make-up lalu ganti baju sebelum makan. Namun tiba-tiba Kelana menyerangnya tanpa ampun. Pagi ini Renjani merasa kehilangan seluruh energinya. Ternyata seperti ini rasanya bercintaa.


"Mama kok bisa kesini?" Tanya Renjani setelah berada di ruang makan, ia melihat Yana juga duduk disana sembari berkutat dengan laptopnya.


"Tadi sekitar jam 6, Mas Kelana keluar katanya mau jemput Bu Lasti."


"Dia ngasih tahu Kelana tapi nggak ngasih tahu aku?" Renjani tak percaya jika mama nya bisa terlihat begitu dekat dengan Kelana. Lasti selalu bicara lembut pada Kelana tapi pada Renjani justru sebaliknya.


Yana tersenyum, "kan bagus kalau Mas Kelana bisa deket sama mama nya Mbak Rere."


Renjani tak tahu apakah itu hal baik atau sebaliknya karena ia dan Kelana juga tidak mungkin selamanya bersama.


"Kamu bikin sendiri?" Renjani melahap nasi hangat dengan sepotong rendang.


"Itu Bu Lasti yang bawa."


"Masih sempet bawa makanan." Renjani menggumam sembari menikmati sarapannya yang sudah terlambat.


"Re." Kelana muncul dari pintu yang menghubungkan ruang makan dan ruang tengah. "Aku keluar dulu."


Renjani memutar badan, sejak kapan Kelana berpamitan dulu sebelum pergi. Biasanya ia tiba-tiba tidak ada di rumah dan Renjani hanya bisa menunggu Kelana pulang tanpa bertanya apapun.


Renjani mengangguk kikuk karena perubahan sikap Kelana.


Jangan-jangan mama naruh sihir di dalam rendang ini biar Kelana jatuh cinta sama gue. Gila, zaman sekarang emangnya masih ada sihir? Renjani menggeleng menepis pikiran-pikiran buruk di kepalanya.


"Yana, kamu sudah siapkan pakaian ku untuk nanti malam?"


"Sudah Mas."


"Oke kalau gitu aku keluar dulu." Kelana melenggang pergi dari ruang makan.


"Tadi pagi Mas Kelana bangunnya pagi banget Mbak, terus senyum-senyum gitu sambil lari di treadmill." Yana merendahkan suaranya takut jika Kelana masih ada di sekitar sini dan mendengarnya.


"Kesambet apa tuh orang?"


"Saya nggak tahu, yang jelas suasana hati Mas Lana lagi bagus."


******


Ditemani manajernya, Kelana pergi ke kantor polisi untuk bertemu dengan Rehan yang masih ditahan menunggu keputusan darinya. Polisi mengatakan tak ada yang mencurigakan dan menyarankan untuk mengakhiri kasus itu dengan cara kekeluargaan. Sebelum memutuskan kelanjutan kasus ini, Kelana harus menemui Rehan karena setelah memikirkannya ia yakin itu bukan kecelakaan biasa.


"Kamu yakin ada yang nyuruh si Rehan ini?" Entah sudah berapa kali Adam menanyakan hal yang sama Kelana.


Kelana hanya menjawab dengan anggukan samar, ia jengah menanggapi pertanyaan Adam. Mobil yang membawa mereka perlahan bergerak memasuki area kantor kepolisian.


Rehan ditahan karena sempat kabur padahal jika merasa tidak bersalah ia bisa bertanggungjawab mengantar Renjani ke rumah sakit.


"Saya izin bicara berdua dengan Rehan." Kelana menemui polisi yang menginterogasi Rehan.


"Silakan." Polisi itu mengantar Kelana ke salah satu sel dimana Rehan berada.


Saat melihat kedatangan Kelana, Rehan langsung bangkit mendekat ke pintu keluar. Polisi membuka pintu membiarkan Rehan duduk di kursi yang telah disediakan berhadapan dengan Kelana.


Pandangan Kelana begitu mengintimidasi, ia harap Rehan mau bicara jujur. Kelana akan menggunakan cara apapun untuk membuat Rehan mengaku.


"Siapa yang nyuruh kamu?" Kelana menatap Rehan lurus, ia tak mau berbasa-basi.


"Maksud Pak Kelana apa?" Rehan pura-pura memasang wajah bingung, ia sudah berjanji untuk tidak menyeret nama Emma di kantor polisi. Ia telah menerima uang dalam jumlah yang cukup besar untuk tutup mulut.


"Saya tahu ada seseorang yang menyuruh kamu untuk mencelakai Renjani." Kelana mengenakkan tubuhnya dan menghentak meja untuk membuat Rehan ciut.


Rehan tersentak, ia menelan salivanya dengan susah payah karena tiba-tiba tenggorokannya tercekat.


"Ini murni kecelakaan, saya juga sudah menjelaskannya waktu itu." Jawab Rehan akhirnya setelah mengumpulkan tenaga.


"Kamu berbohong."


"Tidak, Pak, saya mengatakan yang sebenarnya."


"Apakah itu seseorang yang saya kenal?"


"Saya tidak mengerti apa yang Pak Kelana katakan."


"Kalau kamu nggak mau ngaku, saya akan menyelidikinya sendiri."


Rehan terdiam, ia menunduk dalam menatap ubin menghindar dari tatapan Kelana.


"Saya bisa saja menyogok polisi dan meminta mereka menahan mu disini."


"Jangan Pak, saya tidak bisa bilang karena dia sudah membayar untuk ini, saya berada di situasi yang sulit sekarang."


"Saya akan memberikan dua kali lipat kalau kamu mau jujur."


"Tidak Pak, saya tidak bisa mengkhianatinya, saya juga tidak mau karirnya hancur jika kasus ini terungkap ke publik."


Kelana menaikkan alisnya, ia semakin mendapat banyak petunjuk.


"Saya nggak akan mengungkapnya ke publik."


"Saya tidak mungkin mempercayai Pak Kelana begitu saja."


"Dia perempuan kan?" Kelana sudah mendapatkan nama di kepalanya. "Catat nomor rekening mu dan sebutkan angkanya." Kelana menyodorkan ponselnya ke dekat Rehan.


Rehan mendorong kembali ponsel Kelana, ia tidak mau mengkhianati Emma.


"Dia Emma Cleorana?" Kelana memiringkan kepala.


Rehan mendelik saat Kelana menyebutkan nama Emma. Ia kembali menelan salivanya walaupun itu sama sekali tidak mengurangi rasa tegangnya.


"Terimakasih sudah menunjukkan pada ku." Kelana menarik ponselnya kembali dan beranjak dari sana. "Kalau kamu berani melakukan itu lagi pada Renjani, kamu akan membusuk di penjara bersama wanita itu."


"Tolong bebaskan saya."


Kelana melenggang pergi tanpa mengucapkan apapun lagi. Ia menemui polisi dan meminta untuk membebaskan Rehan karena ia sudah mendapatkan sesuatu yang dibutuhkannya.


Sebenarnya Kelana menyebutkan nama itu dengan asal, tapi setelah melihat ekspresi Rehan, ia jadi yakin kalau tebakannya benar. Jika dipikir selama ini Emma lah yang paling keukeh mendekati Kelana. Namun Kelana tidak menyangka bisa Emma berbuat sejauh ini.


"Kenapa ekspresi mu begitu?" Adam mengerutkan kening melihat ekspresi Kelana yang terlihat marah. "Akhirnya kamu mau membebaskannya."


"Itu bukan berarti dia nggak salah."


"Lalu?"


Kelana tidak mau memberitahu Adam karena Emma berada di manajemen yang sama dengannya. Yang terpenting adalah Kelana sudah mengetahui orang di balik Rehan.


"Kenapa kamu bersikeras menyelediki ini?"


Kelana melirik Adam, apa maksud dari pertanyannya itu? Renjani adalah istrinya, wajar jika ia melakukan semua ini.


"Saya masih ingat kamu menikahi Renjani hanya karena insiden itu."


"Bukannya Pak Adam sendiri yang bilang kalau Renjani mungkin punya musuh setelah menikah dengan saya." Kelana bertanggungjawab terhadap hidup Renjani saat ini karena ia lah yang menyeret Renjani ke kehidupannya.


"Kamu mulai menyukainya?"


Kelana terdiam, bukan ia tak mengerti pertanyaannya Adam hanya saja ia masih bingung mencari jawaban di dalam kepalanya. Kelana yakin seluruh jiwa dan pikirannya telah menyimpan cinta pada Elara dalam waktu yang sangat lama dan ia terbiasa akan hal tersebut. Jika Kelana mencintai Renjani, kemana perasannya pada Elara pergi? Kelana tak mungkin mencintai dua orang sekaligus.