
Erland menceritakan semua kejadian yang membuatnya berakhir menghamili wanita tidak dikenal dan akhirnya menikah serta alasan ia mengirimkan pesan kepada Marcella mengenai tidak ingin berkomunikasi keturunannya dilahirkan, sambil melihat respon dari sang kekasih yang tentu saja sudah di bisa diduganya sangatlah terkejut.
Namun, meskipun terlihat beberapa kali membekap mulut dan membulatkan mata, tetap tidak memotong penjelasannya, sehingga bisa mengatakan semua hal yang terjadi mulai dari awal hingga akhir.
"Jadi, aku tidak sebaik yang ada di pikiranmu selama ini, Sayang. Aku bahkan sudah melakukan hubungan intim dengan wanita lain hingga hamil. Apakah semua ini merupakan cobaan pada hubungan kita? Apakah kita sanggup bertahan atau memutuskan untuk berjalan masing-masing?" Saat ia mengakhiri semuanya dengan kalimat yang membuatnya khawatir jika sang kekasih memilih opsi kedua.
Bukan itu yang diinginkan karena saat ini ingin sekali melihat sang kekasih bangkit dari keterpurukan dengan cara iya support dan selalu berada di sisinya.
'Aku akan menerima semua keputusan Marcella, tapi dengan satu syarat ia bisa melanjutkan hidup dengan baik tanpa menganggap dirinya tidak pantas untuk pria manapun setelah diperkosa oleh bajingan itu,' gumam Erland yang seolah pasrah pada semua keputusan sang kekasih yang masih belum membuka mulut untuk menanggapi cerita panjang lebar yang menjadi awal mula ia bertemu dengan wanita lain.
Marcella yang saat ini merasa sangat terkejut sekaligus bingung serta terluka atas kenyataan yang baru saja diketahuinya. Ia bahkan tidak pernah menyangka jika hubungan mereka kini dilanda cobaan luar biasa karena sama-sama mengalami masalah yang hampir serupa tapi tak sama.
Jujur saja ia merasa sakit hati karena Erland telah berhubungan dengan wanita lain tanpa sepengetahuannya hingga hamil. Ia sebenarnya ingin sekali berteriak untuk meluapkan perasaan membuncah yang saat ini membuat dadanya sesak.
Namun, saat memikirkan jika semua itu karena pengaruh minuman beralkohol dan tidak sepenuhnya Erland bersalah karena melakukannya tanpa sadar, sehingga membuatnya berusaha untuk menerima dan tidak menyalahkan.
Ia menelan saliva dengan kasar dan menormalkan perasaannya yang tidak karuan saat menatap raut wajah memelas sang kekasih yang seolah ingin meminta balas kasihan darinya. Padahal ia lah yang seharusnya bersikap seperti itu, tapi sedikit terhibur melihat ketulusan pria di hadapannya tersebut.
"Apakah kita boleh menyalahkan takdir yang telah memporak-porandakan hubungan kita? Kita bahkan tidak pernah sekalipun melanggarnya, tapi kenapa malah berakhir seperti ini?" Marcella saat ini mengingat jika sering melihat berita tentang anak-anak muda zaman sekarang dan membuatnya merasa sangat iri.
"Sementara di zaman sekarang ini banyak anak-anak remaja yang ambil di luar nikah karena pergaulan bebas dan mereka bisa langsung menikah tanpa ada kejadian buruk seperti yang kita alami sekarang." Ia bahkan saat ini tertawa miris ketika dalam hati kecilnya merasa iri pada para remaja yang bisa dengan mudahnya menikah di usia yang terbilang masih terlalu muda.
Sementara ia yang terbilang jauh lebih matang masih punya banyak pertimbangan yang dipikirkan ketika memutuskan untuk mengakhiri masa lajang.
'Ya Allah, untuk sekali saja aku ingin mengungkapkan protes atas takdir kejam dari-Mu pada kami. Sebenarnya apa rencana-Mu untuk hubungan kami yang bahkan bukan dalam hitungan hari atau bulan. Kenapa aku harus mengalami kejadian seburuk ini? Apa salah dan dosaku, ya Allah?' gumam Marcella yang kini tidak bisa menahan bulir air mata yang mewakili kesedihannya membasahi wajahnya.
Hingga saat ia berusaha untuk membesarkan hatinya atas cobaan luar biasa yang dialami saat ini, sebuah pelukan hangat seolah membuatnya sedikit lebih baik.
Erland yang tadinya tidak berani mendekati sang kekasih yang tertawa miris ketika mengungkapkan keluh kesah, seketika bergerak untuk langsung memeluk erat tubuh wanita yang masih telentang di atas ranjang perawatan tersebut dan berharap bisa menenangkannya.
"Menangislah sepuasnya agar beban yang kamu rasakan bisa berkurang, meski tidak sepenuhnya. Manusiawi jika kita menyalahkan takdir buruk ini karena kita hanyalah manusia biasa, bukan malaikat." Ia menegaskan kalimat terakhir agar wanita dengan raut wajah penuh kesedihan itu tidak membebani diri.
"Tapi aku yakin jika seiring berjalannya waktu, kita bisa menerima semua garis tangan yang sudah ditentukan ini." Erland masih tidak melepaskan kuasanya pada tubuh wanita yang dipeluknya itu untuk kesekian kalinya menangis tersedu-sedu dan menghiasi ruangan dengan tangisan menyayat hati.
Semenjak ia memutuskan untuk tidak memperdulikan Floe, entah mengapa hati kecilnya seperti ingin memberontak, tapi berusaha untuk mengedepankan logikanya agar tidak dipenuhi oleh rasa bersalah pada wanita yang hampir saja melahirkan keturunannya.
Jujur saja ia mengalami kebimbangan luar biasa ketika memikirkan jika perbuatannya akan membuatnya mendapatkan sebuah karma. Bahwa hukum tabur tuai berlaku di dunia dan apa yang ditanam pasti akan membuahkan hasil.
Jika itu berlaku baginya, akan ada masanya ia menghadapi pembalasan atas perbuatannya pada wanita yang tidak diperdulikan saat baru saja mengalami kemalangan saat kehilangan janin yang merupakan buah hati mereka.
'Ya Allah, apakah karma buruk sedang menantiku? Kenapa aku sangat takut jika suatu saat nanti mengalami kehancuran yang lebih buruk dari hari ini,' lirih Erland yang saat ini merasakan pergerakan dari tangan Marcella yang membalas pelukannya dan tentu saja berbanding terbalik dengan tanggapan beberapa saat yang lalu.
Saat hatinya dipenuhi oleh kekhawatiran serta kebimbangan dari lubuk hatinya yang paling dalam, seketika sedikit terobati dengan perbuatan sang kekasih yang seolah bisa berdamai dengan semua yang terjadi di antara mereka.
"Aku tidak kuat menghadapi ini sendirian. Aku merasa tidak pantas untukmu setelah semua yang terjadi, tapi sepertinya ini sudah menjadi takdir kita. Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku butuh kamu. Apa kita bisa melanjutkan hubungan kita yang dihancurkan oleh takdir?" Marcella berbicara dengan suara serak dan tentu saja masih sesenggukan serta bersimbah air mata di wajahnya.
Bahkan matanya saat ini berubah sembab menangis tersedu-sedu tanpa henti semenjak sadar jika ia gagal meninggalkan dunia yang dianggap merupakan tempat paling tidak adil untuknya.
"Bisa, tentu saja bisa, Sayang. Anggap kita membuka lembaran baru dan melupakan semua kejadian buruk yang menjadi ujian hubungan kita. Aku tetap akan menikahimu jika kamu mau menikah sekarang." Erland mengakhiri semuanya tanpa janji palsu karena berpikir bahwa keputusannya sudah bulat.
Ia berpikir jika sang kekasih yang selalu saja menolak lamarannya akan langsung menerimanya. "Bagaimana? Apa kamu mau menikah denganku?"
Erland kini melepaskan pelukannya dan menarik diri hingga membuatnya kembali berdiri tegak di samping ranjang perawatan sang kekasih yang masih terdiam seolah bingung untuk menjawab.
"Aku akan menunggu hingga kamu pulih, baru kita menikah. Lebih baik kamu pulang ke Indonesia dan membuang semua kenangan buruk di London ini. Lupakan semua kejadian yang membuatmu bersedih dan kita buka lembaran baru di Jakarta. Bagaimana?" Erland dengan perasaan gugup menunggu keputusan dari sang kekasih.
Sementara itu, Marcella saat ini merasa ragu akan lamaran dari Erland atas dasar kasihan padanya. Ia lagi-lagi dihadapkan kebimbangan meskipun ingin sekali langsung mengiyakan karena berpikir tidak akan ada kesempatan kedua untuknya jika sampai menolak.
"Kamu tidak sedang kasihan padaku, kan? Kamu tidak merasa jijik padaku karena aku sudah tidak suci lagi, kan? Bagaimana jika nasibku sama seperti wanita bernama Floe itu? Apa kamu bisa menerima kenyataan jika aku hamil? Aku ingin kamu menjawab dengan jujur atas nama mamamu," ucap Marcella yang saat ini ingin mendengar jawaban dari sang kekasih untuk memantapkan hatinya mengenai lamaran tersebut.
Saat ini Erland merasa tertampar dengan perkataan dari Marcella yang saat ini menatapnya dengan sangat tajam seolah ingin memangsanya hidup-hidup.
'Apa lagi ini? Kenapa harus ada pertanyaan itu? Aku bahkan tidak tahu jawaban dari pertanyaannya,' gumam Erland yang jujur saja dipenuhi oleh kebimbangan saat memutuskan untuk melamar sang kekasih agar tidak terus-menerus terpuruk dalam kesedihan saat mengingat kenyataan tragis yang menimpanya
To be continued...