Married by Accident

Married by Accident
Ingin mencicipi



Suara musik DJ serta lampu remang-remang menjadi ciri khas klab malam yang menjadi tempat banyak orang bersenang-senang melupakan semua masalah yang dirasakan. Bahkan sudah terlihat banyak orang kini menggerakkan tubuhnya mengikuti alunan musik DJ yang menggema di ruangan berukuran sangat luas tersebut.


Sementara itu, terlihat 4 orang yang baru saja masuk ke dalam klab malam dan mencari tempat duduk kosong terlebih dahulu.


Bagi, tiga orang itu merupakan sebuah hal yang biasa karena sudah sering datang ke tempat yang berhubungan dengan dunia malam tersebut.


Namun, berbeda bagi Marcella yang merupakan pengalaman pertama baginya dan sebenarnya merasa tidak nyaman berada di tempat yang notabene sangat berisik dan menurutnya suara musik DJ tersebut memekakkan telinga.


Jika biasanya ia hanya melihat semua itu di film-film yang ditonton, kini melihat dengan mata kepalanya sendiri dan merasakan telinganya benar-benar tidak nyaman dengan suara memekakkan tersebut.


Bahkan untuk berbicara saja harus berteriak agar lawan bicara mendengar. Ia saat ini hanya diam dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk melihat bagaimana orang-orang menikmati waktu di sana demi menghilangkan kepenatan serta beban pikiran setelah berkutat dengan banyaknya pekerjaan.


Bahkan ada banyak orang yang bekerja di sana dan pastinya para wanita yang melayani pelanggan juga memenuhi tempat itu. Ia sebenarnya merasa malu melihat keintiman dari beberapa orang yang akhirnya membuatnya memalingkan wajah.


Ia menoleh ke arah sahabatnya ketika berbicara dengan waiters ketika memesan minuman. "Aku tidak minum alkohol. Bukankah kamu tadi mengatakan ada minuman tanpa mengandung?"


"Iya, Sayang. Aku tidak melupakannya. Jadi, tenang saja dan percaya padaku, oke!" Lidya mengedipkan mata agar sahabatnya tersebut lebih santai karena dari tadi melihat wajah cantik itu tegang dan seperti dipenuhi oleh kekhawatiran.


Refleks Marcella mencubit tangan Lidya karena tidak ingin dianggap penyuka sesama jenis. "Jika berbicara seperti itu lagi, aku benar-benar akan menarik rambutmu!"


Daniel hanya tertawa karena merasa puas atas perbuatan Marcella pada kekasihnya yang memang dianggap sangat berlebihan. "Biar sadar dia. Bisa-bisanya dengan sangat santai memanggilmu sayang saat aku berada di sebelahnya. Astaga, sabar ... sabar."


Ia bahkan sudah mengusap dadanya karena berharap kekasihnya tidak lagi berbuat hal konyol di hadapannya. Sementara yang bersangkutan malah hanya tertawa dan tentu saja membuat ia kesal.


"Kalian terapi butuh terapi canda agar tidak selalu serius dengan semua hal yang terjadi karena itu hanya akan membuat gila jika terlalu dipikirkan berlarut-larut." Lidya kini beralih menoleh ke arah Zack untuk mencari teman agar membenarkan apa yang disampaikannya.


"Bukankah begitu, Zack? Kamu pasti sering ke sini untuk melepas stres dan menikmati hidup, kan? Apalagi kau adalah orang pribumi yang pastinya sudah menjelajah banyak tempat seperti ini dan melihat ada berbagai macam orang dengan cara berbeda menghabiskan waktu saat bersenang-senang." Saat ia baru saja menutup mulut, seketika wajahnya berubah masang karena sama sekali tidak diperdulikan oleh Zack.


"Sebentar, tiba-tiba perutku sakit. Aku ingin pergi ke toilet sebentar." Zack bangkit berdiri karena dari tadi sudah melihat ke seluruh area club' malam tersebut.


Ia memang pernah pergi ke tempat itu, tapi tidak sering karena bukan menjadi favoritnya. Club' malam favoritnya berada di pusat kota dan menjadi salah satu club' terbesar di London. Sementara sekarang tempat yang dikunjunginya menurutnya sangatlah biasa.


Jadi, masih butuh menyesuaikan diri untuk bisa membayar beberapa orang yang akan membantunya untuk melaksanakan rencana yang sudah terekam di otaknya.


"Ya sudah pergi sana!" Lidya yang merasa sangat kesal karena pembela satu-satunya juga tidak mendukung karena sakit perut. Ia sudah mengibaskan tangan agar pria itu segera pergi dan kembali lagi.


Zack kini berlalu pergi tanpa memperdulikan raut wajah penuh kesalahan dari wanita itu karena satu-satunya yang dipikirkan saat ini adalah mencari seseorang yang bisa memberikannya sesuatu.


Ia kini berjalan menuju ke belakang dan bertanya pada salah satu orang yang dicurigainya merupakan penjual obat-obatan. Itu Karena orang itu hanya bersandar pada dinding di tempat yang dilalui banyak pengunjung.


"Apa kau bisa memberiku obat tidur?" tanya Zack yang kini seperti dikejar waktu karena tidak ingin terlambat ketika memberikannya pada tiga orang tersebut.


Ia berpikir tidak mungkin hanya memberikan pada Marcella saja karena dua orang itu akan mengganggu dan menggagalkan rencananya. Jadi, berencana untuk membuat 3 orang tersebut tidak sadarkan diri.


Kini, seorang pria dengan tato naga di tangannya tersebut mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana. "Butuh berapa? Mau yang tahan lama atau sebentar?"


"Tiga, tapi hanya dua yang tahan lama. Satunya biasa karena aku ingin kekasihku sadar ketika melakukannya bersamaku," ucap Zack yang kini mencari orang untuk memberikan obat tersebut ke dalam minuman yang dipesan oleh mereka.


Tadi ia tidak memesan minuman karena tidak ingin salah meminumnya dan malah tidak sadarkan diri. Jadi, beralasan hanya ingin menjadi bodyguard malam ini.


"Ini. Jangan sampai salah maupun tertukar." Pria bertato tersebut seketika berbinar wajahnya begitu melihat uang yang diterimanya.


Kemudian Zack berlalu pergi dan melewati banyak orang yang memenuhi koridor tersebut. Tentu saja ia mengincar seseorang untuk melakukan perintahnya dan menepuk pundak seorang pria berseragam hitam yang baru saja membereskan meja.


"Aku akan memberikan uang untukmu jika membantuku."


"Membantu apa, Tuan?" tanya waiters yang saat ini menerima uang muka ketika pria di hadapannya mengeluarkan dompet dan memberikan beberapa lembar padanya.


Kini, Zack menunjukkan obat di tangannya. "Cepat masukkan ini ke dalam minuman yang dipesan meja nomor 75. Pastikan yang berwarna putih ini diberikan di minuman non alkohol. Sementara dua ini berikan pada minuman yang mengandung alkohol."


"Apa kau paham?"


"Ya, Tuan. Saya sudah paham. Sekarang saya akan melaksanakannya dengan mengambil alih untuk mengantarkan." Pria berseragam tersebut bergerak cepat untuk menghampiri meja bartender.


Ia bertanya pada salah satu orang yang meracik minuman itu tentang pesanan meja nomor 75. Begitu mengetahui jika minuman masih dalam proses pembuatan oleh bartender, ia kini menunggu dan menyuruh temannya yang lain membersihkan meja dan memberikan sebagian uang yang tadi diterimanya.


Tentu saja tidak sulit baginya untuk membuat rekannya tersebut melakukan apa yang ia suruh. Jadi, bisa fokus untuk melaksanakan tugas tambahan yang menghasilkan tips besar.


Hingga ia menerima 3 minuman yang merupakan pesanan meja nomor 75 dan diam-diam memasukkan obat yang dari tadi digenggamnya. Kemudian setelah memastikan larut, mengantarkannya.


Ia bahkan melihat pria yang tadi menyuruhnya sudah duduk di sana dan menatapnya, seolah memberikan kode bahwa tugasnya sudah dilakukan.


Saat menjelaskan minuman pesanan yang tentu saja non alkohol pertama disebutkan agar mengetahui siapa yang meminumnya. Hingga ia mengerti jika wanita dengan paras cantik tersebut yang menjadi incaran pria itu.


Ia pun terlalu pergi setelah wanita cantik tersebut mengucapkan terima kasih dan ini adalah pertama kalinya ia mendengar di tempat itu. Tempat yang lebih sering dipenuhi oleh orang-orang yang tidak peduli dengan orang lain.


Jangankan kata terima kasih, melakukan kesalahan pun tidak pernah meminta maaf dan selalu menyalahkan pekerja rendahan sepertinya. Meskipun kesal dan terkadang marah, harus menahan diri dengan menerima semuanya agar bisa mendapatkan uang.


Sementara itu, Zack saat ini menatap minuman yang berada di hadapan Marcella. Ia kita akan melihat wanita itu seperti ragu meminumnya. "Itu benar-benar tidak mengandung alkohol sedikit pun. Jadi, jangan kuatir."


Berbeda dengan Lidya dan Daniel yang langsung mencicipi minumannya sedikit demi sedikit.


"Minum dan coba kasih tahu pendapatmu tentang minumannya. Aku sangat suka ketika dulu pertama kali menikmatinya. Tapi ke sini selalu mencoba sesuatu yang baru agar bisa merasakan semuanya." Lidya kini menunjukkan minuman berwarna merah miliknya.


"Contohnya ini. Sekarang ini menjadi minuman favoritku." Lidya masih menunggu sahabatnya segera minum minuman yang dipesannya tadi. "Minum dan nikmati sensasinya."


Kini, Marcella akhirnya bergerak mengambil gelas yang menurutnya sangat cantik tersebut dan sedikit demi sedikit mencicipi minuman berwarna hijau tersebut.


Saat ia masih membiasakan diri dengan rasa asing di lidahnya, kembali ditanya pendapat dan masih belum bisa mengatakannya. Akhirnya kembali meneguk minuman jenis mocktail tersebut.


"Enak juga rasanya, seperti buah murni." Ia pun kini sudah menghabiskan minumannya karena merasa jika isi dalam gelas kecil tersebut sangat sedikit. "Apa boleh pesan lagi?"


"Astaga, sahabatku. Kamu polos banget sih! Beruntung sekali pria yang nanti akan mendapatkanmu." Lidya mencubit pipi sahabatnya karena merasa sangat gemas.


"Issh ... apaan sih! Sakit, tahu!" seru Marcella yang kini mengusap pipinya karena terasa nyeri.


Zack saat ini bangkit berdiri dari posisinya karena ingin langsung memesan minuman lagi untuk Marcella. "Kebetulan aku haus dan ingin memesan minuman juga. Jadi, sekalian saja aku ke sana."


"Iya," sahut Marcella yang merasa jika minuman tadi sangat enak.


"Cie ... ciee yang diperhatiin Zack. Sepertinya dia sangat perhatian padamu. Tidak apa-apa mengisi kekosongan dengannya." Sebenarnya Lidya ingin membahas tentang Erland, tapi tidak jadi melakukannya karena sadar jika akan membuat Marcella bersedih dan tidak jadi bersenang-senang.


Di sisi lain, Daniel kini bangkit berdiri dari posisinya saat sudah menghabiskan minumannya. "Aku juga akan memesan lagi agar bisa dikatakan perhatian."


"Iya, Sayang. Kamu memang kekasihku yang paling pengertian dan penyayang. Pesankan aku lagi agar tidak iri pada sahabatku." Lidya kini juga melakukan hal sama dengan menghabiskan minuman yang tersisa.


Sementara itu, Marcella hanya geleng-geleng kepala melihat sikap sahabatnya yang sangat lebay menurutnya. "Dasar!"


Namun, beberapa saat kemudian tangannya ditarik dan membuatnya mengerutkan kening.


"Ayo, kita ke sana agar kamu bisa merasakan sensasi bergerak di bawah lampu remang-remang serta menikmati alunan musik DJ bersama dengan yang lain." Lidya ini sudah menarik sahabatnya agar ikut berbaur bersama orang-orang yang sudah sibuk dance on the floor.


Awalnya Marcella merasa sangat ragu untuk ikut karena mengetahui jika dua pria itu belum kembali dan khawatir jika nanti ada pria tidak bertanggung jawab yang mencuri-curi kesempatan padanya.


"Apa tidak menunggu mereka kembali saja?"


"Nanti mereka juga menyusul. Daniel pasti tahu jika kita sedang di sini." Kini, Lidya mulai mengajari sahabatnya agar perlahan menggerakkan tubuhnya mengikuti alunan musik DJ seperti orang-orang yang ada di sekitarnya tersebut.


Marcella yang tidak terbiasa, masih merasa kaku ketika mengikuti pergerakan dari sahabatnya. Apalagi seumur hidup tidak pernah berjoget dalam versi apapun. Lebih banyak menutup diri dan jarang bergaul dengan orang lain merupakan ciri khasnya.


Jadi, hari ini benar-benar pertama kali ia melakukannya. "Rasanya sangat aneh."


Ia berbicara dengan berteriak di dekat telinga sahabatnya karena tidak mungkin mendengar jika lirih.


"Ikuti saja musiknya dan biarkan tubuhmu mengikuti alurnya!" Lidya juga melakukan hal sama saat memberitahu sahabatnya agar menikmati malam ini.


Marcella yang kini mencoba untuk melakukan apa yang dikatakan oleh sahabatnya dan perlahan menikmati alunan musik DJ yang mulai membuatnya menggerakkan tubuh.


Hingga ia pun berhasil melakukannya saat mulai menikmati alunan musik dan suara dari DJ di atas sana. Bahkan ia seolah ingin membebaskan semua beban di pundaknya dan juga trauma yang dihadapinya.


'Aku boleh menikmati semua usahaku dan melupakan sejenak semua masalah yang kuhadapi,' gumamnya yang kini lebih lincah saat menggerakkan tubuhnya bersama dengan sahabatnya tersebut.


Hingga ia menyadari ada seseorang yang berada di belakangnya dan membuatnya menoleh karena berpikir jika itu adalah pria hidung belang yang ingin mencari kesempatan.


Ia seketika merasa lega begitu melihat Zack dan Daniel yang ternyata sudah datang dan benar-benar menjaga mereka.


Kemudian kembali melanjutkan aksinya untuk bergerak bersama dengan Lidya sambil sesekali bersorak seperti yang lain.


Hingga beberapa saat kemudian memijat pelipis karena merasa pusing. Bahkan pandangannya tiba-tiba blur dan beberapa kali mengerjapkan mata. "Apa yang terjadi padaku?"


Kemudian ia ingin bertanya pada sahabatnya, tapi tiba-tiba pandangannya gelap dan tubuhnya terhuyung ke belakang.


Refleks Zack yang memang dari tadi sudah berjaga di belakang Marcella karena sudah mengetahui jika wanita itu dalam beberapa menit akan kehilangan kesadaran.


Ia sebenarnya tadi bukan memesan minuman, tapi menyuruh dua orang untuk membereskan pasangan kekasih tersebut dengan membawanya ke taksi.


Tentu saja sudah memesan taksi yang mengantarkan mereka ke hotel bersamanya. Bahkan ia juga sudah membooking dua kamar agar tidak terlalu banyak membuang waktu.


Kini, pasangan kekasih tersebut juga kehilangan kesadaran dan langsung digendong oleh orang yang tadi disuruhnya.


Sementara ia sudah menggendong sosok wanita incarannya. Dengan tersenyum menyeringai karena akhirnya usahanya berhasil dan rencananya hari ini tidak boleh gagal untuk bisa memiliki wanita yang sudah tidak sadarkan diri tersebut.


'Akhirnya aku bisa menaklukkanmu dan pasti setelah ini, kamu akan memintaku untuk terus bersamamu dan tidak pergi meninggalkanmu,' gumam Zack yang saat ini berjalan menuju pintu keluar klab malam dan tentu saja taksi sudah menunggu.


Ia memang memesan dua taksi dan menyuruh sopir untuk menuju ke hotel yang berada tak jauh dari klab tersebut. Dengan memeluk erat tubuh wanita yang masih memejamkan mata tersebut, ia bahkan sesekali mengusap wajah cantik yang selama ini dipujanya tersebut.


"Aku melakukan ini karena menyukaimu. Jika kamu tidak berkali-kali menolakku, mana mungkin melakukan dengan cara ini." Zack saat ini berharap jika wanita diperlukannya tersebut akan menuntut pertanggungjawaban darinya, sehingga bisa memilikinya.


Beberapa saat kemudian, taksi sudah tiba di hotel dan ia menyuruh orang untuk membantu menggendong Daniel dan Lidya Dengan mengatakan jika mereka tidak sadarkan diri karena banyak minum dan merupakan temannya.


Apalagi ia juga menggendong Marcella dan langsung menuju ke arah lift karena kamar yang di booking berada di lantai 5.


Tentu saja ia sudah menyewa kamar terbaik di hotel itu karena menganggap jika malam ini akan menjadi malam tak terlupakan untuknya ketika menikmati tubuh wanita di gendongannya tersebut.


Ia tidak berhenti tersenyum ketika menatap ke arah Marcella. "Aku akan melakukannya saat kamu mulai perlahan sadar. Nikmati semuanya karena aku akan memberikan sensasi kenikmatan yang belum pernah kamu rasakan, Sayang."


Begitu pintu kotak besi tersebut terbuka, ia melangkahkan kaki panjangnya dan tentu saja dengan bersusah payah mulai menempelkan kartu dan beberapa saat kemudian pintu terbuka.


Begitu masuk ke dalam, ia merebahkan tubuh Marcella ke atas ranjang dan berdiri di dekatnya dengan tidak berkedip menatap ke arah tubuh molek yang kini telentang.


Ia bahkan saat ini menelan saliva dengan kasar ketika hasratnya mulai bangkit hanya dengan melihat tubuh di balik pakaian lengkap tersebut.


"Aku bahkan belum melepaskan pakaianmu, tapi sudah bisa segila ini," ujar Zack yang akhirnya melepaskan pakaian yang dikenakan karena merasa panas.


Ia bergerak untuk menyalakan AC agar tubuhnya tidak semakin panas karena terbakar gairah yang seolah mencekiknya. "Sepertinya aku tidak akan menunggumu sadar."


Kini, ia pun mulai naik ke atas ranjang dan tentu saja ingin mencicipi setiap sudut kulit putih mulus itu. "Aku sudah tidak tahan, Sayang."


Kemudian mulai sibuk dengan kegiatannya untuk menyalurkan hasrat terpendam yang selama ini ditahan ketika menginginkan wanita yang merupakan rekan kerjanya tersebut.


To be continued...