Married by Accident

Married by Accident
Menghirup udara yang sama



"Kenapa kau marah? Apa karena kau merasa tidak punya muka lagi di hadapanku karena aku mengetahui semua rahasia kehidupanmu?" Harry masih mencoba untuk menahan diri agar tidak membalas perbuatan yang dianggapnya sangat kekanakan karena mengandalkan emosi.


Ia sebenarnya sangat marah dan ingin membalas, tapi sengaja menahannya untuk menjadi seorang pria yang jauh lebih baik dari Erland yang mempunyai usia jauh di atasnya.


"Diam atau kurobek mulutmu sekarang juga!" sarkas Erland yang makin merasa murka melihat tampang pria di hadapannya sangat santai dan masih terus mengejeknya.


Harry seketika tertawa terbahak-bahak karena ia berhasil menjadi seorang pria yang jauh lebih bijak daripada Erland. "Pantas saja mertua sangat tidak menyukai menantu yang tidak bisa menahan amarah."


"Pergilah sekarang juga atau kau akan menyesal karena ketinggalan pesawat. Kembalilah kepada kekasihmu itu dan ikhlaskan istrimu padaku!" Harry sengaja mengatakan itu karena ingin melihat seperti apa reaksi dari pria yang tidak menginginkan wanita secantik Floe.


Apalagi ia tahu jika Floe adalah seorang wanita polos dan tidak pernah berhubungan dengan pria lain yang mengkhianatinya hingga berakhir menghancurkan diri sendiri karena pergi ke klab dengan minum-minuman keras.


Tentu saja Erland merasa sangat terkejut dengan kalimat terakhir yang seolah menusuk gendang telinganya karena tidak menyangka jika tuduhannya benar. Bahwa sosok pria di hadapannya tersebut benar-benar mengincar Floe.


"Ternyata semua yang kukatakan benar. Kau hanyalah seorang pria munafik yang bersembunyi di balik kebohongan. Pasti kau sudah membuntuti Floe dan mengatur semua ini agar terjadi, kan? Jadi, sekarang kau merasa di atas angin karena rencanamu berhasil. Jangan pernah bermimpi karena Floe tidak akan masuk dalam jebakanmu." Erland kini meraih kerah kemeja Harry dan menatap tajam pria yang menurutnya sangat manipulatif tersebut.


Ia merasa khawatir jika Floe jatuh dalam jebakan pria di hadapannya karena sang mertua sudah mempercayai seorang Harry dan membuatnya seperti orang paling buruk sedunia.


"Jangan pernah macam-macam pada Floe! Meskipun aku sudah bukan lagi berstatus sebagai suaminya, tidak akan membiarkannya jatuh pada pria berengsek sepertimu. Aku yakin orang tua Floe belum mengetahui jika kau mempunyai kekasih di kampus. Mereka tidak akan bersikap sebaik itu jika mengetahuinya." Saat ia meluapkan amarah yang memuncak dan seperti membakar habis tubuhnya, semakin kesal karena tanggapan Harry.


Pria di hadapannya hanya tersenyum simpul, seolah ingin mengeceknya. Juga seperti tidak mempunyai rasa takut sama sekali padanya. Hal itu benar-benar membuatnya seperti seorang pecundang di hadapan pria yang mempunyai jarak usia lebih mudah darinya.


Harry hanya membiarkan Erland berbuat sesuka hati karena yakin jika pria dengan raut wajah memerah dan dipenuhi oleh amarah tersebut tidak akan membunuhnya di tempat umum.


Apalagi ia menatap ke arah sekeliling dan melihat beberapa orang yang melintas juga memperhatikannya. Meskipun belum berusaha untuk memisahkan atau melerai karena memang tidak ada baku hantam.


Semuanya didominasi dengan ancaman dan juga tatapan tajam, sehingga sama sekali tidak membuatnya merasa takut karena yakin jika kata-katanya jauh lebih berhasil melukai harga diri seorang Erland.


"Aku sama sekali tidak khawatir jika kau mengatakan pada mantan mertuamu bahwa aku memiliki seorang kekasih. Lagipula mereka hanya berpikir jika aku adalah seorang teman yang baik untuk Floe. Kau saja yang terlalu over thinking dan menganggap berlebihan." Kemudian ia menepuk beberapa kali pundak Erland dengan senyuman penuh seringai.


"Kau tidak perlu khawatir karena aku akan menjaga Floe sebagai seorang teman baik seperti perintah dari orang tuanya yang juga menyuruhku untuk sering-sering datang ke rumah." Saat ia baru saja menutup mulut, tubuhnya terhuyung ke belakang beberapa langkah ketika didorong dengan kuat.


"Entahlah kau dari hadapanku!" sarkas Erland yang menyadari jika ia dikuasai oleh amarah karena perkataan Harry yang berusaha memancingnya.


Ia juga sadar jika harus mengejar waktu agar tidak ketinggalan pesawat. 'Aku akan banyak membuang waktu jika meladeni cecunguk ini. Lebih baik aku segera pergi dari sini agar tidak terlambat karena keadaan Marcella yang kritis jauh lebih membutuhkanku.'


Erland saat ini berbalik badan dan berjalan meninggalkan pria yang dari tadi memancing amarahnya. Tanpa mempedulikan suara tawa Harry yang merasa menang karena ia pergi terlebih dahulu.


Harry yang saat ini menatap siluet belakang Erland, melambaikan tangannya dan tersenyum lebar. "Semoga selamat sampai tujuan dan tidak mengalami hal-hal buruk karena durhaka pada istri yang tengah berjuang di ruangan operasi."


Ia makin merasa puas karena berhasil membuat Erland pergi. Hingga ia tersenyum pada beberapa orang yang dari tadi memperhatikannya, seolah ingin mengatakan jika semuanya telah selesai dan tidak akan terjadi pertikaian dengan saling baku hantam di depan area rumah sakit.


"Sok-sok'an bertingkah seperti seorang pria paling baik di dunia ini di depanku, padahal aslinya jauh lebih buruk daripada aku. Aku tidak akan mungkin menyakiti hati seorang wanita yang sudah aku nikahi karena janji di depan Tuhan dan penghulu serta orang tua jauh lebih berat dibandingkan janji pada kekasih." Harry seketika terdiam karena menyadari perkataannya.


"Hanya saja, manusia hanya bisa berencana dan berusaha, mengenai hasil akhirnya, serahkan saja pada yang lebih berkuasa." Harry yang belum sempat memesan taksi, kini mengambil ponsel miliknya dan langsung membuka aplikasi.


Ia menunggu di pinggir jalan raya agak taksi yang datang tidak perlu masuk ke area rumah sakit. Hingga saat ia baru saja memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana, sekilas melihat sosok pria yang tak lain adalah Erland baru saja melintas menaiki motor sport berwarna merah.


Bahkan langsung menggeber motor sport hingga membuat area sekitar sangat bising dan tentu saja ia sadar jika itu ditujukan padanya.


"Dasar pria kekanakan!" Harry hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah pria yang baru saja menghilang dari pandangan.


Sementara di tempat berbeda, Erland yang saat ini masih mengendarai motor cepat miliknya menuju ke bandara, masih memikirkan semua perkataan dari Harry.


'Kenapa aku bisa sesal ini pada cecunguk itu? Harusnya aku fokus pada tujuanku untuk kembali pada Marcella dan juga berdoa untuk kesembuhannya. Marcella akan sembuh dan baik-baik saja, kan?' gumam Erland yang saat ini hanya bisa bergumam di dalam hati ketika fokus mengemudikan motor sport miliknya.


Hingga saat tiba di lampu merah, ia menunggu dengan banyaknya kendaraan yang lain di kanan kiri serta belakangnya karena berada di barisan paling depan.


"Floe pasti juga akan baik-baik saja setelah menjalani kuratase. Dia pasti akan menyalahkanku atas semua yang terjadi padanya. Mungkin hanya kebencian yang tersisa dan dia tidak akan lagi mau bertemu denganku." Saat ia berbicara dengan diri untuk mengungkapkan keluh kesah yang dirasakan, beberapa saat kemudian lampu lalu lintas berubah hijau.


Dengan menginjak pedal gas, ia kembali melajukan kendaraan dengan menambah kecepatan agar tidak terlambat tiba di bandara. Bahkan suasana petang yang berangsur gelap karena memasuki malam, menghiasi perjalanannya saat ini.


"Aku harap Tuhan memberikan semua yang terbaik untuk Marcella dan Floe. Aku akan menerima kebencian Floe padaku karena memang ini semua adalah salahku yang telah membiarkannya pulang naik taksi. Floe, semoga kamu hidup berbahagia suatu saat nanti." Erland yang saat ini memecah lalu lintas ibukota, masih fokus ketika mengemudi.


Meskipun jauh di lubuk hati terdalam, dipenuhi oleh rasa penasaran serta bersalah pada wanita yang kehilangan janin saat kecelakaan, tidak bisa membuatnya menghentikan niatnya untuk berangkat ke London.


"Floe, kamu harus tahu jika Marcella sangat penting bagiku. Aku harap kamu bisa mengerti bagaimana posisiku hingga memutuskan untuk pergi ke London di saat kamu berakhir di rumah sakit. Maaf." Saat ia masih dipenuhi oleh penyesalan, kembali menambah kecepatan agar bisa segera tiba di bandara.


Ia sangat yakin jika Marcella jauh lebih membutuhkannya karena tidak mempunyai siapa-siapa di London. Sementara Floe memiliki keluarga lengkap di Jakarta dan akan memberikan perhatian penuh serta penghiburan setelah sadar nanti.


Meskipun ia saat ini mengingat perkataan dari sang ibu seolah memojokkannya dan juga menyalahkannya, tetap saja tidak bisa mengurungkan niat untuk pergi ke London.


"Bahkan mama pun seolah menyumpahiku ketika tadi mengucapkan selamat ada pilihanku yang lebih mengutamakan Marcella. Harusnya mama bisa mengerti perasaan putranya, tapi malah seperti mau mengutukku saja," gumam Erland yang saat ini masih berkutat dengan lalu lintas kendaraan ibukota di malam hari yang menampilkan kerlap-kerlip lampu di kanan kiri jalan.


Jujur saja ia merasa sedikit khawatir karena tahu jika perkataan dari seorang ibu bisa saja menjadi kenyataan. Hanya saja, ia masih berusaha untuk berpikir positif dan tidak ingin memenuhi pikirannya dengan hal-hal negatif.


"Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan bahagia hidup bersama Marcella, sedangkan Floe suatu saat nanti juga akan menemukan pasangan hidup yang membuatnya merasakan hal yang sama." Entah mengapa kalimat terakhir yang baru saja diungkapkannya malah membuat sedikit keraguan terbersit.


Erland merasa bingung dengan apa yang saat ini mengganggu pikirannya, tapi berusaha membuangnya dan fokus menuju ke arah bandara setelah melihat jam tangan mahal miliknya sudah mendekati jam boarding.


"Aaah ... sial! Semoga aku tidak terlambat sampai ke bandara. Semua ini gara-gara cecunguk itu!" sarkas Harry yang saat ini kembali menambah kecepatan tanpa memperdulikan keselamatan karena satu-satunya yang dipikirkan adalah segera tiba dan tidak terlambat.


"Semoga aku tidak ketinggalan pesawat. Marcella, tunggu aku. Aku datang, Sayang." Dengan suara lirih sambil menambah kecepatan, Erland kembali fokus mengemudi dan berharap esok hari sudah berada di London dan menghirup udara yang sama dengan sang kekasih pujaan hati.


To be continued...