
"Sepertinya kamu salah paham."
Kelana mengangkat wajahnya mendengar suara seseorang, ia melihat sepasang kaki berada tepat di hadapannya. Pandangan Kelana semakin naik dan mendapati seorang wanita paruh baya yang menyodorkan handuk padanya.
"Saya mendengar semuanya." Ia adalah Tumi yang dari tadi melihat dari jauh saat Kelana dan Devin terlibat perkelahian. Tumi ingin mencegah tapi ia juga tahu jika Devin sebenarnya menyukai Renjani. Devin pernah memberitahu hal tersebut pada Tumi.
"Kamu suami Renjani?" Tanya Tumi.
Kelana menjawabnya dengan anggukan.
Tumi mengajak Kelana masuk terlebih dahulu sebelum ia menceritakan hal yang sebenarnya. Tadi Kelana datang dengan penuh emosi, Renjani juga pasti terluka karena dituduh sengaja tinggal disini dengan Devin.
Tumi meletakkan teh hangat di atas meja untuk Kelana. Namun Kelana sama sekali tidak berniat meminum teh tersebut meski kedinginan hingga bibirnya membiru. Ia tak lagi terlihat seperti Kelana yang dipuja banyak orang karena ketampanannya.
"Empat bulan yang lalu Renjani menelepon ke villa ini dan mengatakan ingin tinggal karena harganya murah, saya sudah mendapat izin dari Mas Devin untuk menyewakan satu kamar supaya pekerjaan saya lebih ringan dan ada yang menemani saya dan suami di villa besar yang sepi ini, seminggu kemudian Mas Devin datang, mereka sama-sama terkejut setelah bertemu saya juga baru tahu kalau mereka saling kenal."
Kelana tertegun mendengar penjelasan Tumi sebab yang dilihatnya tadi Devin merangkul Renjani di bawah hujan dengan jaket sebagai pelindungnya. Itu seperti adegan romantis dalam film padahal Kelana tidak pernah seperti itu pada Renjani. Kelana juga tahu Devin membelikan brownies sebelum kesini tadi.
"Harusnya kamu tidak menuduh Renjani seperti itu, dia memang tidak menceritakan semuanya tapi saya tahu kalau kesalahan kamu tidak sepele yakni tidak mau menerima anak di kandungan Renjani, dia perempuan dan hal yang paling membuatnya terluka adalah ketika kamu menolak keberadaan anak kalian, harusnya kamu minta maaf terlebih dahulu bukannya menuduh Renjani seperti itu, toh kalaupun benar Renjani sengaja tinggal disini untuk bertemu Devin, itu karena kamu tidak bisa menjaganya dengan baik."
Kalimat Tumi seperti pedang yang menusuk tepat ke jantung Kelana. Ucapan itu menampar Kelana berkali-kali jauh lebih sakit dibanding tamparan Renjani di pipinya.
"Dia berjuang sendirian, dia mengalami morning sickness yang cukup parah, seharusnya ada suami yang menemani istri dimasa-masa berat kehamilannya tapi kamu tidak ada disini."
Kelana menunduk dalam menutup wajahnya dengan tangan, ia malu karena berbuat gegabah tadi.
"Saya tidak menyangka jika suami Renjani adalah orang yang sangat egois."
Kelana tidak mampu menyangkal semua ucapan itu benar.
"Maaf karena menghakimi mu padahal ini pertama kalinya saya melihat mu secara langsung.". Tumi beranjak dari sana, ia meninggalkan kotak P3K di atas meja agar Kelana membersihkan lukanya sendiri. Pukulan itu tentu tidak ada apa-apanya dibandingkan sakit yang Renjani rasakan selama ini.
Pandangan Kelana nanar, kini ia semakin hancur mendengar semua cerita Tumi. Kelana membiarkan dirinya tersulut emosi saat melihat Renjani bersama Devin.
Setelah menahan rindu berbulan-bulan Kelana justru mendapati Renjani bersama orang yang ia kenal. Pikiran Kelana semakin kalut tadi.
Sekarang bagaimana caranya Kelana meminta maaf atas kesalahan yang begitu besar terhadap Renjani.
Benar ucapan Yana, Kelana selalu memikirkan tentang pengorbanan yang ia lakukan untuk Renjani. Ia sibuk memikirkan rasa sakitnya karena merindukan Renjani. Ia tak pernah berpikir seberapa menderitanya Renjani hidup seorang diri dengan kondisi hamil.
Kelana melangkah keluar villa, tadi ia melihat Renjani masuk ke kamar yang jendelanya menghadap ke halaman.
Kaca jendelanya yang besar membuat Kelana bisa melihat bagian dalam kamar tersebut. Renjani pasti berada di balik gumpalan selimut di atas tempat tidur itu.
Jemari Kelana menyentuh permukaan kaca, "maafkan aku Re." Liriknya dengan suara tercekat. Ia benar-benar telah mengacaukan semuanya. Kelana, kamu sangat bodoh. Tidak ada yang lebih bodoh dari kamu di dunia ini. Kalaupun ada, orang itu adalah Wira yang memilih selingkuh dari Karalyn—wanita cantik dan berhati lembut yang telah melahirkan Kelana.
Kelana menegakkan tubuhnya melihat selimut itu bergerak, setelahnya Renjani menyembul dari balik gumpalan selimut tebal tersebut masih dengan pakaian yang sama.
Menyadari keberadaan Kelana, Renjani turun dari tempat tidur dan berjalan mendekat.
"Re, aku minta maaf, aku udah salah paham." Kelana bersuara meski ia tidak tahu apakah Renjani mendengarnya.
Tanpa mempedulikan keberadaan Kelana, Renjani menutup gorden hingga Kelana tak bisa melihatnya lagi.
Suara ketukan pintu terdengar disusul panggilan Tumi dari luar kamar. Renjani yang hendak pergi ke kamar mandi, urung melakukannya dan memilih membuka pintu untuk Tumi.
"Saya boleh masuk?" Tumi tak pernah datang dengan tangan kosong, ia membuat mie rebus untuk Renjani. Mie yang ia buat sendiri mulai dari mencampur tepung dan telur, menggilingnya hingga direbus dengan tambahan dumpling ayam dan sayur.
"Boleh Bi." Renjani mundur selangkah membiarkan Tumi masuk.
"Ini mie yang tadi kamu giling, udah bisa dimakan, kamu belum makan siang kan?"
"Nih, habisin ya." Tumi sengaja membuat mie sendiri karena mie instan tidak sehat apalagi untuk Renjani yang sedang hamil. "Kamu belum ganti baju?" Ia baru menyadari jika Renjani masih mengenakan baju yang sama.
"Saya baru mau mandi."
"Ya udah mandi dulu biar nggak masuk angin."
"Saya mandi sebentar aja, mie nya keburu dingin." Renjani bergegas pergi ke kamar mandi.
Tumi duduk di sofa yang berada di kamar tersebut, kalaupun dingin ia bisa membuat yang baru untuk Renjani. Walaupun tidak memiliki hubungan darah tapi Tumi sangat menyayangi Renjani, ia senang karena keberadaan Renjani disini bisa membuat suasana villa lebih ramai.
Tumi ikut prihatin melihat apa yang terjadi pada Renjani dan suaminya.
"Mie nya udah dingin, saya bikinin yang baru ya?" Tumi melihat Renjani keluar dari kamar dengan bathrobe yang membalut tubuhnya.
"Saya suka mie dingin." Renjani mengulas senyum, ia tak mungkin menyia-nyiakan mie yang tampak lezat tersebut meski tak lagi mengepulkan asap. Mie dingin tetap enak, memasuki trimester kedua ia kembali menjadi Renjani yang banyak makan bahkan lebih rakus dari pada sebelum hamil.
"Mana ada orang makan mie dingin Re."
"Ada Bi, orang Korea makan mie dingin waktu musim panas, bahkan ditambah es batu." Renjani duduk di samping Tumi menikmati mie yang memiliki kuah gurih dan sedikit pedas.
Tumi mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambut Renjani. Ia sudah biasa melakukan ini untuk Renjani. Awalnya Renjani merasa sungkan karena tak pernah diperlakukan seperti ini bahkan mama nya sendiri tidak pernah menyisir apalagi mengeringkan rambutnya. Sekarang Renjani sudah terbiasa dan menerima kebaikan Tumi dengan senang hati.
"Tangan kamu kenapa?"
Renjani melihat telapak tangannya yang memerah bahkan masih gemetar sampai sekarang.
"Saya menamparnya terlalu keras." Tangan Renjani masih terasa nyeri, bagaimana dengan wajah Kelana yang ditamparnya. Tiba-tiba ia merasa kasihan pada Kelana. "Saya hampir tidak mengenalinya tadi."
"Suami mu berubah?"
"Iya Bi, biasanya Kelana mencukur kumis dan jenggotnya, rambutnya juga nggak pernah panjang, dia rajin olahraga hingga badannya berotot tapi sekarang dia kurus dan berantakan."
"Pasti berat juga untuknya sejak kamu meninggalkan rumah."
Renjani terdiam, ia melahap mie kuah tanpa bicara apapun lagi hingga mangkok di tangannya bersih, tidak ada sehelai mie yang tersisa.
Suara jangkrik terdengar di luar sana beradu dengan nyanyian kodok yang bersahut-sahutan seolah ingin menghibur kesedihan Renjani.
"Istirahat lah, Re kamu pasti capek hari ini." Tumi beranjak dari sana mengambil alih mangkok kosong di tangan Renjani.
"Bibi juga, terimakasih Bi mie nya enak banget." Renjani tak pernah tidak memuji masakan Tumi. Ia selalu menyukai semua jenis makanan yang Tumi buat.
"Besok bisa rebus lagi, masih banyak di kulkas."
"Bi terimakasih ya." Renjani memeluk Tumi, ia amat beruntung bertemu Tumi disini. Ia jadi merasakan memiliki sosok seroang ibu yang penuh kehangatan dan kelembutan. Ibu yang membuat Renjani selalu merasa tenang.
Tumi mengusap rambut Renjani, ia juga berterimakasih karena Renjani mau tinggal di villa terpencil ini.
"Renjani, saya tahu kamu wanita yang kuat dan bisa membesarkan anak ini sendirian buktinya kamu berhasil melalui masa-masa sulit tanpanya tapi ingat anak mu juga membutuhkan sosok Ayah, pikirkan lagi apa kamu memang nggak mau memaafkannya."
Setelah hujan udara semakin dingin menusuk kulit. Renjani bersembunyi di balik selimut, bukannya tidur ia justru memikirkan ucapan Tumi. Kepalanya juga sibuk memutar kembali kejadian siang ini.
Jika Kelana banyak berubah itu artinya ia sangat menderita sejak Renjani pergi. Meski sering mendengarkan cerita tentang Kelana dari Manda atau Eve tapi Renjani tak menyangka jika Kelana berubah drastis. Kelana tidak terawat, wajahnya kusam, tubuhnya ringkih tapi tetap saja ia mampu membuat Devin tersungkur hanya dengan sekali pukulan.
Apakah kamu juga menderita tanpaku Kelana?