Married by Accident

Married by Accident
LXXXIII



Antasena Entertainment mengumumkan violinis Kelana Radiaksa akan memulai tur konser dunia bertajuk Love Season.


Berita tersebut menjadi headline dimana-mana, kembalinya Kelana membuat para penggemarnya heboh. Setelah berita tentang pernikahan Kelana dan Renjani sempat membuat penggemar marah. Akhirnya Kelana kembali dengan berita yang terasa seperti hujan di tengah kemarau. Mereka merindukan karya-karya Kelana tak peduli soal pernikahan tersebut. Mereka akan selalu mendukung Kelana dan kembali menerima Renjani sebagai wanita yang Kelana cintai. Akhirnya mereka mengerti bahwa Renjani adalah kebahagiaan Kelana.


Cahaya blitz kamera seketika menyerbu ketika Kelana turun dari mobil bersama Renjani. Para penggemar tak jauh dari sana tak henti meneriakkan nama Kelana. Mereka mengatakan mencintai Kelana dan akan selalu mendukungnya.


Kelana merangkul bahu Renjani melindunginya dari dorongan para wartawan yang memberondongi mereka dengan banyak pertanyaan.


Setelah melewati ratusan wartawan akhirnya Kelana dan Renjani berhasil masuk area depan gedung Antasena. Kelana mengambil mikrofon bersiap menyapa wartawan dan menjawab pertanyaan mereka.


"Selamat siang, terimakasih kepada teman-teman dan wartawan." Kelana menyapa wartawan dan penggemarnya seraya mengedarkan pandangan kepada mereka. Bisa kembali pada dunia yang riuh ini membuat Kelana bersyukur apalagi ketika ia melihat wanita yang berdiri di sampingnya. Kelana mengeratkan genggamannya pada Renjani seolah takut kehilangan.


"Terimakasih sudah bersabar menunggu saya kembali, pasti kalian juga sudah tahu bahwa saya akan melakukan tur konser dunia." Lanjut Kelana.


Penggemar Kelana berteriak riuh mendengar kabar tersebut. Meski mereka telah mendapat bocorannya dari wartawan tapi mendengarnya langsung dari Kelana membuat mereka semakin gembira.


"Saya juga akan membagikan kabar gembira, saat ini istri saya sedang mengandung anak pertama kami."


Kamera langsung menyorot pada Renjani yang berdiri tepat di samping Kelana. Renjani tampak cantik dengan balutan dress putih, ia membiarkan rambutnya tergerai hari ini.


"Apa itu alasan Renjani tidak terlihat selama ini?" Tanya mereka.


"Benar, kehamilannya masih rentan jadi kami menunggu hingga dia stabil untuk membagikan kabar bahagia ini."


Penggemar Kelana dari berbagai belahan dunia juga telah meramaikan media sosial saat Antasena Entertainment mengumumkan konser tersebut.


Para staf Antasena menyambut kembalinya Kelana bahkan mereka membuat pesta kecil-kecilan di dalam kantor sekaligus memberi selamat atas kehamilan Renjani.


"Bintang kita kembali!" Seru CEO Antasena diikuti oleh tepuk tangan riuh dari para staf.


Kelana mengucapkan terimakasih pada semuanya yang sudah bekerja keras selama ia hiatus. Staf bekerjasama untuk merahasiakan kepergian Renjani agar tidak diketahui oleh media. Seluruh artis yang berada di naungan Antasena juga demikian. Karena Kelana dikenal baik dan merupakan artis paling besar di Antasena maka semua orang berusaha menjaga citra Kelana.


"Buka mulutmu." Adam menyuapkan sepotong kue pada Kelana.


Kali ini Kelana tidak menolak, salah satu orang yang paling berjasa dalam karirnya adalah Adam. Meskipun kadang menyebalkan dan terlalu banyak bicara tapi hanya Adam yang bisa menghadapi Kelana.


Kelana balas menyuapi Adam dan Yana bergantian. Mereka telah bekerja bersama lebih dari 4 tahun ini. Dan selama itu juga mereka telah melalui banyak rintangan. Menjadi publik figur itu sulit tapi dengan adanya mereka, Kelana merasa jalannya lebih mudah untuk dilalui.


Melihat Kelana tertawa lepas membuat Renjani ikut bahagia bahkan matanya berkaca-kaca karena terharu.


"Sepotong kecil kue untuk istriku." Kelana menghampiri Renjani dan menyuapkan kue di tangannya.


"Kamu tahu sepotong kecil ini nggak cukup?" Renjani mengunyah kue itu perlahan merasakan manis pekat yang menyebar ke mulutnya.


"Aku tahu, nanti aku belikan yang ukurannya besar."


Renjani terkekeh melihat Kelana merentangkan tangannya lebar seolah benar-benar ada kue berukuran sebesar itu.


"Aku juga pengen suapin Yana." Renjani melangkah mengambil sepotong kue dengan garpu kecil dan menghampiri Yana yang sedang sibuk mengumpulkan piring kertas bekas.


Senyum Yana mengembang lebar saat Renjani menyuapinya, mereka berpelukan cukup lama. Awalnya Renjani ingin berterimakasih karena Yana selalu menjaga Kelana dan mengurus semua keperluannya. Namun rasanya berterimakasih saja tidak cukup, akhirnya Renjani hanya terdiam sambil memeluk Yana.


Yana selalu bersyukur karena kehadiran Renjani di hidup Kelana. Sejak ada Renjani, Kelana lebih terlihat seperti manusia yang bisa tersenyum dan tertawa. Berbeda dengan Kelana dulu yang selalu memasang wajah datar dan sering marah-marah terhadap Yana dan Adam atau Dayat.


Perhatian beberapa orang teralih ke arah pintu yang terbuka. Tampak Devin memasuki ruangan yang membuat senyum Kelana lenyap seketika berganti dengan wajah datar. Kelana membuang muka, untuk apa Devin kesini. Bukankah ini adalah acara khusus untuk Antasena Entertainment.


Renjani terkejut melihat Devin datang, sejak hari itu mereka tak pernah berkomunikasi apalagi bertemu. Sebenarnya Renjani ingin mengucapkan terimakasih pada Devin karena memperbolehkannya tinggal di villa itu. Namun Renjani lupa menanyakan nomor telepon Devin pada Tumi. Ia juga tidak mungkin meminta nomor telepon Devin pada Kelana. Renjani tak mau memancing kemarahan Kelana.


"Boleh kita bicara sebentar?" Devin menghampiri Kelana.


Tanpa menjawab Kelana melangkah ke ruangan lain diikuti Devin sementara Renjani hanya melihat kepergian dua lelaki itu dengan harapan mereka bisa berdamai. Renjani mengerti sifat keras kepala Kelana akan membuatnya sulit memaafkan Devin.


"Soal hari itu aku minta maaf." Devin membuka pembicaraan lebih dulu.


Kelana memutar badan menatap Devin, sorot matanya yang tajam membuat Devin gentar untuk kembali bicara. Hari itu Devin telah melakukan hal bodoh dengan mengungkapkan perasannya pada Renjani. Meskipun niat awalnya baik, ia tidak tega melihat Renjani harus menjalani kehamilan seorang diri tanpa didampingi suami. Namun Devin tetap salah, ia seolah memanfaatkan keadaan Renjani saat itu.


"Apalagi yang kamu lakukan pada Renjani selain merangkulnya?" Kelana bisa menerima kejadian saat itu, mungkin Devin ingin melindungi Renjani dari hujan. Namun melihat Devin jauh-jauh datang kesini untuk meminta maaf, sepertinya ia melakukan hal lain pada Renjani. Kelana bisa melihat itu, perasannya mengatakan demikian.


"Maaf kalau aku nggak ngasih tahu keberadaan Renjani meski sebelumnya kita ketemu di cafe." Devin ingin meluruskan hal itu lebih dulu.


"Renjani memintamu melakukan itu." Kelana bisa memahami Devin yang tidak memberitahunya tentang keberadaan Renjani.


"Iya, sebenarnya aku juga menyatakan perasaanku hari itu pada Renjani." Devin memejamkan mata bersiap menerima amukan Kelana, ia pasrah karena memang dalam hal ini dirinya bersalah. Devin menyukai wanita yang sudah memiliki suami ditambah Kelana adalah temannya sendiri.


Tangan Kelana terkepal kuat, ia sudah menduga Devin menyukai Renjani sejak mereka pertama berkenalan waktu itu.


"Berani kamu!" Dengan langkah lebar Kelana mendekat pada Devin lalu mencengkram kerahnya. "Kamu berharap bisa punya kesempatan untuk mendekati Renjani karena waktu itu aku lagi nggak ada disana?"


"Maafkan aku, aku lagi berusaha menyingkirkan perasaan ini." Devin merasa udara di sekitarnya menipis karena Kelana mencengkram kerahnya begitu kuat.


"Kelana!" Renjani muncul dari balik pintu. "Lepasin."


Teriakan itu membuat Kelana mengalihkan perhatian pada Renjani yang tengah berlari menghampirinya.


"Cukup Kelana, bekas luka waktu itu belum hilang." Renjani meraih tangan Kelana lalu menurunkannya dengan susah payah. "Aku milikmu." Bisiknya.


Manik mata Devin berkaca-kaca, bisikan Renjani terasa seperti pisau yang menggores dadanya, perih sekali. Namun itulah kenyataannya, Renjani memang milik Kelana.


"Pergi dari sini atau aku akan memberimu pelajaran seperti waktu itu." Nada suara Kelana terdengar dingin yang membuat Devin tidak memiliki pilihan selain keluar dari ruangan itu.


"Nggak peduli Devin punya perasaan sebesar apapun sama aku, aku tetap milikmu, aku istrimu, aku mencintaimu." Renjani berkata dengan lembut meredakan kemarahan Kelana.


Kelana mengerjap, ia mengembuskan napas keras lalu menjatuhkan dirinya di atas sofa.


"Sebentar," Renjani keluar untuk mengejar Devin, ia tak ingin membuat Devin dan Kelana jadi canggung, dulu mereka berteman baik dan sering berkolaborasi di atas panggung.


Langkah Devin terhenti urung masuk ke dalam lift ketika mendengar suara ketukan kaki di ujung koridor. Ia mendengar Renjani memanggilnya.


"Maaf soal Kelana." Ucap Renjani terengah-engah.


"Wajar dia marah." Devin berusaha tersenyum menelan kembali air mata yang tadinya hendak luruh.


"Aku cuma mau bilang terimakasih karena kamu udah bolehin aku tinggal di villa."


"It's okay, lagi pula itu nggak gratis." Tawa Devin terdengar sumbang, ia benci berusaha terlihat baik-baik saja padahal hatinya terluka.


"Kamu juga baik sama aku." Renjani tidak mau melupakan kebaikan Devin selama dirinya tinggal di villa tersebut. Devin sering membawa banyak makanan ketika berkunjung setiap akhir pekan.


"Aku harap kamu dan Kelana selalu bahagia, semoga bayi kalian lahir sehat dan sempurna."


Renjani mengangguk samar, ia juga berharap Devin menemukan wanita baik yang bisa membuatnya jatuh cinta. Namun kalimat itu hanya tertahan di tenggorokannya. Kalimat itu hanya akan membuat Devin semakin terlihat menyedihkan.


"Aku pergi." Devin mengulas senyum tipis dan menatap Renjani untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke dalam lift.


Mereka memang memiliki peluang untuk bertemu lagi karena Kelana selalu membawa Renjani di setiap acara. Namun setelah ini mungkin Devin tak akan bisa menatap Renjani lagi.




Mau membagikan visual tokoh lain nih


Yana si imut-imut yang bisa segalanya



Jesi si sahabat paling care sama Rere



Ada yang penasaran sama visual lain nggak?