Married by Accident

Married by Accident
Menantu dari keluarga Ismahayana



"Kau pikir aku akan menyerah begitu saja sebelum mendapatkanmu? Tidak! Aku akan membuat orang tuamu segera menentukan tanggal pernikahan kita dan kau tidak akan berkutik lagi. Wanita kampungan itu akan dengan mudah kusingkirkan," seru Camelia yang saat ini sudah tiba di jalan raya karena memang tadi ke sana naik taksi.


Tadinya ia berpikir bisa makan siang bersama dan berduaan dengan calon suami, lalu diantarkan ke bandara karena memang penerbangan nanti pukul 3 sore. Namun, semua rencananya gagal total setelah melihat apa yang dilakukan oleh Dhewa dengan wanita itu.


Dengan kaki jenjangnya yang memakai sepatu hak tinggi, ia kini menghentikan langkahnya untuk segera memesan taksi, agar mengantarkannya ke hotel. "Tunggu saja pembalasanku, Dhewa. Aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku dan memohon-mohon agar aku menerimamu."


Camelia ya saat ini berbicara dengan suara penuh kemurkaan, masih fokus pada ponsel miliknya dan setelah memesan taksi, ia kembali melihat beberapa foto yang tadi diambilnya. Tentu saja seketika tangan kanannya mengepal begitu melihat hasil jepretannya.


"Sialan! Kenapa malah aku bisa mengambil gambar mereka sebagus ini. Wanita itu bahkan tidak berani menampakkan wajahnya. Aku jadi tidak bisa menunjukkannya pada tante Lira, soal wajahnya yang tidak lebih cantik dariku." Camelia terdiam karena merasa jika ia harusnya bisa menunjukkan wajah wanita yang sangat dibencinya tersebut pada calon ibu mertua.


Namun, ia seketika menggelengkan kepala karena menyadari sesuatu. "Aku tidak mungkin kembali ke ruangan Dhewa hanya untuk mengambil gambar wanita kampungan itu. Menyebalkan sekali! Rasanya aku serasa ingin berteriak sekencang-kencangnya di sini, tapi tidak bisa melakukannya karena bisa mencoreng nama baikku."


Camelia saat ini masih memikirkan karirnya sebagai selebgram yang mempunyai follower banyak. Tidak ingin ada gosip buruk mengenai dirinya, sehingga harus menjaga attitude dan tidak mau nama baiknya tercemar.


"Baru kali ini aku menyesal menjadi seorang selebgram karena untuk marah saja harus ditahan sampai tiba di hotel. Aku tidak mungkin berteriak di tempat umum seperti ini karena jika sampai ada wartawan atau pun fans ku yang melihat, bisa-bisa nama baikku tercemar." Camelia saat ini terdiam ketika mengingat wajah wanita yang disukai oleh Dhewa.


"Ayu Ningrum? Kenapa aku seperti tidak asing dengan wanita itu. Apa ...." Camelia seketika terdiam saat mendengar suara klakson mobil yang merupakan taksi dipesannya tadi.


"Mbak Camelia?" tanya seorang pria yang berada di balik kemudi karena dari tadi fokus mencari wanita yang memesan taksinya.


Camelia yang kini seketika menganggukkan kepala dan berjalan menuju ke arah taksi, lalu masuk ke dalam dan langsung mengempaskan tubuhnya di kursi belakang sambil menyadarkan kepala.


Bahkan ia seketika memijat pelipis karena merasa kepalanya benar-benar pusing saat ini ketika memikirkan mengenai kejadian yang baru saja dialaminya. Ia kini memejamkan matanya setelah kendaraan mulai melaju meninggalkan area yang menjadi tempat paling menyebalkan untuknya.


'Apa aku beritahu tante Lira sekarang mengenai perbuatan putranya yang menyebalkan itu? Apa aku kirimkan foto-fotonya saja sekarang?' gumam Camelia nah saat ini masih belum membuka kelopak mata dan tengah memikirkan keputusan apa yang harus diambilnya saat ini.


Ia benar-benar mempertimbangkan apa yang harus dilakukannya karena ingin segera membuat Dhewa berpisah dengan wanita yang telah merebut posisinya sebagai orang paling penting di hati pria datar dan dingin tersebut.


'Seharusnya aku yang dipeluk Dhewa, bukan wanita kampungan itu. Harusnya tadi aku langsung menarik rambutnya saja untuk memberikan pelajaran.' Camelia seketika membuka mata dan beralih menatap ke arah benda pipih yang dari tadi masih dipegangnya


karena belum dimasukkan kembali ke dalam tas.


Setelah mengirimkan pesan berupa beberapa foto yang diambilnya, Camelia menunggu respon dari wanita paruh baya yang selama ini sangat menyukainya dan ingin segera menjadikannya seorang menantu perempuan di keluarga Ismahayana.


"Ke mana tante Lira? Biasanya selalu gercep membalas pesanku, tapi kenapa hari ini tidak langsung membacanya?" Ia bahkan masih menatap ponsel miliknya untuk menunggu pesan yang dikirimkan berubah centang biru.


Hingga ia pun kini langsung tersenyum menyeringai begitu ponsel miliknya berdering setelah pesan berubah menjadi centang biru karena menunjukkan telah dibaca oleh calon mertua.


'Akhirnya tante menelpon juga,' gumamnya yang kini tanpa membuang waktu langsung menggeser tombol hijau dan mendengar suara dari seberang telepon tengah dipenuhi oleh amarah.


"Halo, Sayang. Apa benar apa yang dilakukan Dhewa saat ini? Siapa wanita yang dipeluk oleh Dhewa? Tante saat ini benar-benar ingin sekali menjewer telinganya," seru Lira yang dipenuhi oleh amarah begitu membaca pesan dari calon menantu.


Bahkan membulatkan kedua mata begitu melihat foto putranya saat memeluk seorang wanita yang bahkan tidak terlihat wajahnya sama sekali dan tentu saja amarahnya seketika memuncak karena tadi tidak diberitahu apapun.


Sementara itu, Camelia yang berniat membalas dendam pada Dhewa dan wanita yang ingin sekali dihancurkan, kini tersenyum menyeringai dan mulai menceritakan kejadian dari awal hingga akhir.


"Jadi, seperti itu ceritanya, Tante. Sepertinya perjodohan ini harus dibatalkan saja karena Dhewa sama sekali tidak menginginkannya dan lebih memilih wanita itu." Saat ia baru saja menutup mulut, seketika bersorak kegirangan begitu mendengar suara wanita paruh baya itu.


"Maafkan Tante dan juga Dhewa, Sayang. Kamu cancel saja penerbanganmu hari ini untuk kembali ke Kalimantan karena Tante akan ke Jakarta untuk menemui Dhewa. Anak itu sepertinya harus merasakan telinganya dijewer karena telah membuatku murka. Sekarang tante cari tiket dulu, kamu tenangkan pikiran dulu hari ini, Sayang. Tunggu Tante di Jakarta." Kemudian langsung mematikan sambungan telepon karena ingin segera memesan tiket pesawat ke Jakarta.


Di sisi lain, Camelia yang saat ini tengah merasa di atas angin karena akhirnya bisa membalas dendam, seketika bersorak kegirangan. "Yes! Aku tidak sabar ingin melihat Dhewa hancur karena perbuatannya sendiri. Lihat saja nanti, aku yang akan bertepuk tangan saat dia tidak bisa berkutik ketika mendapat kemurkaan dari mamanya."


Ia yang saat ini bernapas lega, berharap bisa segera melihat bagaimana Dhewa menghadapi sang ibu. "Semoga tante nanti juga memberikan pelajaran pada wanita kampungan itu. Biar kapok sekalian dan tidak bermimpi bisa menjadi istri seorang pengusaha sukses dari keluarga terpandang di Kalimantan."


"Mungkin dia mau merubah nasib dengan menikahi seorang pria kaya karena bosan hidup miskin. Makanya mengincar bosnya sendiri agar bisa hidup mewah tanpa harus membanting tulang." Ia kini akhirnya merasa sangat lega dan memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas.


Bahkan raut wajah kesal penuh kemurkaan beberapa saat lalu seketika berubah menjadi sebuah rasa puas karena wajahnya kini berubah berbinar.


"Baiklah, kita lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin besok tante Lira sudah berada di Jakarta dan menarik rambut wanita kampungan nan miskin itu untuk memberikan pelajaran agar tidak bermimpi menjadi menantu dari keluarga Ismahayana." Camelia yang saat ini mengingat wajah wanita yang dianggapnya tidak jauh lebih cantik darinya, seketika mengepalkan tangannya.


To be continued...