Married by Accident

Married by Accident
Panggilan sayang Ayu Ningrum



Beberapa saat lalu, Dhewa yang masih menggenggam erat telapak tangan Floe saat berlalu pergi meninggalkan pria yang ia ketahui merupakan suami dan sedang dalam proses perceraian.


Namun, masih berpura-pura tidak tahu apapun mengenai status wanita di sebelahnya tersebut. "Dia siapa?" tanya Dhewa yang ingin mengetahui apa alasan Floe padanya.


Sementara itu, Floe yang sebenarnya merasa risih saat tangannya digenggam erat Dhewa, tapi tidak bisa berbuat apapun karena ingin membuat Erland kesal. Ia yang masih melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah sebelah kiri, sebenarnya sangat malas menjelaskan.


Namun, karena berpikir jika Dhewa akan terus bertanya jika tidak dijawab, akhirnya asal berbicara. "Itu tadi teman kampusku yang perempuan dan pria itu kakaknya. Ehm ... sebenarnya dia selama ini mengejar-ngejarku, tapi aku sama sekali tidak menanggapi karena sadar diri hanyalah seorang wanita miskin yang berbeda kasta dengannya."


"Oh ... jadi cinta terhalang kasta rupanya." Dhewa yang tidak ingin bertanya lebih banyak lagi karena hal yang baru saja didengarnya seolah membuatnya ingin sekali tertawa terbahak-bahak.


Namun, menahan diri untuk tidak melakukannya dan terus mengikuti akting Floe. "Kamu tunggu di sini karena aku akan mengambil mobil. Mama pasti juga sebentar lagi ke sini."


Floe hanya mengangguk perlahan dan melihat pria dengan bau lebar tersebut berlalu pergi meninggalkannya sendirian menjaga koper milik wanita paruh baya yang dari tadi belum berkomentar apapun.


"Semoga mamanya Dhewa masih lama berada di toilet karena aku sangat tidak nyaman jika hanya berdua saja saat berinteraksi. Mana wajahnya tadi sangat sinis padaku. Seperti menganggap aku adalah bakteri jahat yang harus dihindari dan dijauhkan dari putranya." Floe berbicara sambil melihat ke arah toilet untuk memastikan jika wanita yang ditunggunya tidak keluar.


Bahkan ia sibuk merapal doa agar tidak berinteraksi tanpa adanya Dhewa. Tentu saja perasaannya saat ini bercampur aduk ketika mengingat bagaimana respon dari Erland tadi saat melihatnya pamer kemesraan dengan Dhewa.


'Rasain! Kamu pikir aku tidak bisa bermesraan dengan pria lain apa! Kau bisa bersama dengan wanita itu saat masih berstatus sebagai suami, begitu juga dengan aku yang bisa melakukan hal serupa karena mudah bagiku.' Floe saat ini bahkan tertawa ketika mengingat ekspresi wajah kesal Erland beberapa saat lalu.


Ia benar-benar merasa puas dan merasa di atas angin karena berhasil membuat pria itu tidak berkutik dan tidak mampu berkomentar apapun mengenai apa yang dilakukannya. "Pasti Kirana sudah menceritakan pada kakaknya mengenai apa yang ku ceritakan tadi. Meskipun hanya sebentar saja berhasil membuat Erland, tapi aku sangat puas hari ini."


Floe merasa sangat lega karena melihat mobil yang berhenti tepat di hadapannya dan Dhewa keluar menghampirinya.


"Mama belum balik juga?" Dhewa mengerutkan kening karena merasa heran saat sang ibu terlalu lama berada di toilet.


Ia juga merasa khawatir terjadi sesuatu hal yang buruk dan berniat untuk menyusul ke toilet setelah melihat Floe hanya menggelengkan kepala.


"Aku periksa ke sana dulu." Dhewa berniat untuk menuju ke arah toilet, tapi tidak jadi melakukannya saat melihat sang ibu baru saja keluar dan berjalan ke arah mereka. "Aaah ... itu Mama."


Floe mengikuti arah pandang Dhewa dan merasa lega karena doanya terkabulkan. "Syukurlah tante sudah kembali."


Lira Andira yang saat ini mengusap perutnya sambil meringis menahan mulas, kini langsung mengarahkan dagunya pada pintu mobil. "Belikan Mama obat di apotik nanti. Entah ini kenapa tiba-tiba Mama mulas. Sepertinya masuk angin. Mana tidak bawa minyak angin, pula. Nanti sekalian kamu belikan, Dhewa."


"Iya, Ma. Nanti aku mampir ke apotik. Sepertinya Mama masuk angin karena belum makan." Dhewa yang sudah hafal dengan sang ibu karena sering menunda makan, kini merasa iba dan langsung membukakan pintu belakang.


Lira Andira yang saat ini langsung masuk ke dalam mobil dan mendaratkan tubuhnya di kursi belakang, sama sekali tidak menjawab putranya karena memang kenyataannya seperti itu. Jadi, tidak bisa mengelak perkataan putranya.


Floe yang berniat untuk duduk di kursi depan dengan membuka pintu mobil, tidak jadi melakukannya begitu mendengar suara wanita paruh baya tersebut.


"Kamu duduk di sebelahku."


"Iya, Tante." Floe menelan saliva dengan kasar dan berjalan memutar mobil.


Pintu mobil Kakak sudah dibukakan oleh Dhewa yang membuatnya malah merasa tidak enak di depan wanita yang seperti hendak memangsanya. Saat masuk ke dalam, ia mencoba untuk menormalkan perasaannya agar tidak gugup dan berusaha untuk bersikap biasa.


Ia bahkan sesekali melirik ke arah spion untuk melihat Floe yang duduk di belakang bersama sang ibu dalam suasana penuh keheningan. 'Mama pasti saat ini tengah menyusul kalimat untuk menyerang mental Kanjeng Ratu Widodariku. Tapi aku yakin jika dia mampu menghadapi mama karena adalah seorang wanita yang hebat.'


'Aku percaya padamu, Kanjeng Ratu Widodariku. Bahwa kamu pasti bisa menghadapi mama yang sangat cerewet,' lirih Dhewa yang saat ini bisa mendengar sang ibu mulai bertanya pada Floe dan memasang telinga lebar-lebar untuk mendengarkan pembicaraan dua wanita berbeda usia tersebut.


"Jadi, kamu kerja di tempat putraku? Kamu masuk karena koneksi atau atas usahamu sendiri? Atau kamu masuk setelah berhubungan dengan putraku? Oh ya, berapa usiamu sekarang?" tanya Lira Andira yang dari tadi ingin segera mengetahui semua hal tentang wanita yang disukai oleh putranya.


Sambil menahan rasa mulas pada perutnya, ia kini tidak mengalihkan perhatiannya dari wanita yang memakai gaun selutut berwarna putih itu. Sebenarnya saat pertama kali melihat wanita itu, ada sebuah hal yang membuatnya merasa tertarik.


Penampilan sederhana yang sangat bertolak belakang dengan Camelia yang selalu seksi dan cetar membahana, seolah sedikit membuatnya tertarik. Namun, memang tidak menampakkan sikapnya dan ingin semakin menyelami seperti apa wanita di sebelahnya tersebut.


Berbeda dengan Floe yang saat ini merasa bingung menjawab karena dari daftar pertanyaan yang tadi dicatat oleh Dhewa, sama sekali tidak ada itu dan bingung harus bagaimana. Bahkan ia sempat sekilas melihat ke arah spion dan bersitatap dengan Dhewa, seolah ingin meminta jawaban pria itu, tapi tidak mungkin mendapatkannya.


Akhirnya ia menjawab sesuai dengan apa yang ada di pikirannya saat ini. "Saya bekerja sebelum mengenal putra Anda, Tante. Mengenai bagaimana bisa bekerja di sana, melihat ada lowongan pekerjaan dan iseng melamar karena membutuhkan uang untuk biaya kuliah. Satu tahun lagi saya lulus, Tante. Sekarang sudah 21 tahun."


"Jadi, kamu kuliah sambil kerja? Memangnya orang tuamu bekerja apa? Hingga tidak bisa membiayai kuliahmu?" Lira Andira yang saat ini mengingat mantan kekasih putranya saat bertanya seperti itu karena sekarang seperti mengalami Dejavu.


Ia pun menunjuk ke arah putranya yang masih fokus mengemudi dan tidak sepatah kata pun berbicara. "Aku mengintrogasimu karena dia pernah diporotin pacarnya dulu yang juga masih kuliah dan orang tuanya hanyalah seorang petani. Jangan-jangan orang tuamu juga petani. Bahkan berselingkuh dengan pria lain saat masih menjadi pacar putraku."


Floe seketika menatap ke arah pria di hadapannya tersebut dan sangat terkejut dengan apa yang baru saja diketahuinya. Bahwa kehidupan pribadi yang selama ini ditutupi oleh pria itu, sekarang bisa diketahuinya dengan mudah karena sang ibu.


Ia sekarang sedikit paham kenapa Dhewa tidak ingin menikah. Berpikir bahwa alasannya bukan karena Camelia yang sangat cantik dan seksi, tapi karena masih belum sembuh dari luka masa lalu.


'Oh ... jadi seperti itu ceritanya rupanya. Seorang Dhewa Adji Ismahayana pernah terluka karena mencintai dengan tulus seorang wanita. Tapi dia bilang jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang wanita. Lalu siapa wanita itu yang berhasil membuatnya move on dari masa lalu?' Saat Floe bergumam sendiri di dalam hati, tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara bariton pria yang mengungkapkan kekesalannya pada sang ibu.


"Mama apa-apaan sih membahas hal yang tidak penting dan tidak perlu! Apa tidak bisa jika tidak membahas tentang itu di depan Kanjeng Ratu Widodariku?" seru Dhewa yang saat ini sangat kesal pada sang ibu dan malah ditertawakan begitu ia menutup mulut.


"Apa, Dhewa? Kamu panggil dia apa tadi? Kanjeng Ratu Widodariku? Astaga! Kenapa kamu bisa berubah menjadi pria lebay seperti ini?" Lira Andira seketika tertawa terbahak-bahak karena merasa jika putranya sangat berlebihan mengungkapkan perasaannya melalui panggilan sayang pada wanita di sebelahnya tersebut.


Sementara itu, Floe hanya menggigit bibir bawah bagian dalam karena merasa malu. Meskipun itu hanyalah sebuah akting dan panggilan itu sebenarnya bukan ditujukan padanya, tetap saja merasa sangat malu karena saat ini asyik ditertawakan oleh wanita paruh baya di sebelahnya.


'Kenapa dia memanggil seperti itu di depan mamanya sih? Memalukan sekali. Lebay banget panggilannya. Rasanya aku ingin menangis sekarang karena saking malunya,' gumam Floe yang seketika menelan saliva dengan kasat ketika kembali diinterogasi seperti layaknya seorang narapidana.


"Kenapa kamu hanya diam saja dan tidak menjawab? Apa kamu tidak tertawa mendengarnya memanggilmu sekonyol itu? Lalu, kamu memanggil putraku dengan sebutan apa, Ayu Ningrum?" Ia masih memegangi perutnya karena dari tadi asik tertawa dan seolah melupakan perutnya yang sakit perut beberapa saat lalu.


Ia sebenarnya ingin menarik rambut putranya karena merasa geram saat sikap lebay ditunjukkan di depan wanita yang disukai. Tapi tidak ingin melakukannya di depan kekasih putranya.


Floe yang seketika menggaruk tengkuknya karena merasa bingung harus menjawab bagaimana ketika sama sekali tidak terpikirkan panggilan sayang untuk Dhewa. 'Apa ya panggilan yang cocok untuk pacar pura-pura ini? Aah ... aku benar-benar bingung kan sekarang.'


Saat ia memutar otak untuk mencari jawaban yang paling tepat, seketika mengingat sesuatu yang tadi dikatakan oleh Dhewa sesuatu yang berhubungan dengan Jawa.


"Saya biasanya memanggilnya ...."


To be continued...