
Selama Kelana dan Zaneta tampil, Renjani berada di backstage. Segmen berikutnya Valia juga akan berada di depan stage. Sebagai adik Kelana, Valia juga terciprat ketenaran sang kakak. Banyak fans Kelana yang akhirnya juga mencaritahu tentang Valia dan membeli albumnya. Itu sebabnya Valia juga diundang ke acara ini bersama Kelana.
Namun Wira tidak menyadari itu, ia selalu memuji-muji Valia dan merendahkan Kelana. Padahal keduanya berada di level yang berbeda. Kelana lebih dulu terjun di dunia musik dan bermain violin hingga luar negeri.
Renjani tak tahu apa yang harus ia lakukan selama menunggu Kelana. Tak ada yang bisa diajaknya mengobrol.
"Silakan Mbak Rere." Salah seorang crew wanita memberikan nasi kotak untuk Renjani.
"Terimakasih."
Crew tersebut duduk di kursi kosong dekat Renjani dengan napas terengah-engah karena dari tadi sibuk kesana kemari memberikan makanan. Ia menyalakan ponselnya selagi ada kesempatan.
"Kamu author Meet Sunshine?" Renjani tak sengaja melihat layar ponsel crew tersebut yang menampilkan aplikasi menulis novel online. Saat bosan dengan novel fisik, biasanya Renjani membaca novel online. Jadi Renjani tidak asing dengan aplikasi tersebut meski hanya melihatnya sekilas.
Crew itu melotot menoleh pada Renjani, "kok tahu?" Katanya terkejut.
"Aku lagi baca novel itu, jadi beneran kamu author Meet Sunshine?"
"Eh pelan-pelan aja Mbak ngomongnya." Ia merendahkan suaranya takut terdengar crew lain. Selama ini ia diam-diam menulis novel online disela pekerjaannya di stasiun televisi.
"Kenapa?" Renjani ikut berbisik.
"Novel saya nggak populer jadi saya malu."
"Tapi novel kamu bagus loh." Renjani melirik nametag pada dada crew itu—Maia. "Nama asli kamu Maia?"
"Iya." Maia mengulurkan tangan.
"Renjani." Renjani menjabat tangan Maia, ia senang bisa bertemu langsung dengan penulis novel Meet Sunshine. Siapa sangka jika penulisnya adalah seorang crew televisi.
"Saya tahu." Maia tersenyum, bukankah beberapa saat yang lalu ia menyebutkan nama Renjani.
"Jangan patah semangat walaupun di luar sana banyak penulis novel yang jauh lebih terkenal, kamu akan menemukan pembaca mu sendiri, Tere Liye bilang jangan menulis sesuatu yang ingin dibaca banyak orang tapi tulislah sesuatu yang harus dibaca banyak orang."
Mata Maia berkilat-kilat mendengar kalimat Renjani, ia mengucapkan terimakasih karena Renjani telah mengatakan sesuatu yang membangkitkan semangatnya.
"Mbak Rere mau makan dulu?" Yana menghampiri Renjani.
"Saya permisi dulu." Maia undur diri dari sana karena masih ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan. Bertemu Renjani adalah sesuatu yang luar biasa bagi Maia.
"Tunggu Kelana aja."
"Mas Lana biasanya makan di rumah Mbak."
"Ya udah kalau gitu aku makan di rumah juga." Lagi pula Renjani belum lapar karena sore ini telah menghabiskan tiga bungkus roti kukus panggang yang Yana beli di depan swalayan.
"Baik kalau begitu." Yana membawa tiga nasi kotak ke mobil kemudian membereskan barang-barang Kelana. Setelah segmen kedua berakhir, Kelana akan langsung pulang.
Setelah kembali ke backstage, Kelana langsung mencari Renjani. Sebelum Valia mengganggu Renjani lagi, Kelana harus segera pulang. Kelana tak tahu apa yang Renjani dan Valia bicarakan tadi. Yang jelas Kelana tidak suka Valia mengobrol dengan Renjani.
"Valia bilang apa tadi?" Tanya Kelana sesampainya di dalam mobil.
Renjani tak segera menjawab, ia menimbang-nimbang apakah akan mengatakan yang sebenarnya pada Kelana. Bagaimana jika hubungan keduanya semakin buruk setelahnya.
"Aku nggak pernah anggap dia adik, aku tahu dia mengatakan hal buruk sama kamu."
"Dia cuma bilang kalau aku bukan tipe kamu." Renjani tertawa menutupi sakit hatinya, ia tak boleh terlihat marah karena Valia membicarakan fakta. "Tanpa Valia bilang pun, aku udah tahu."
"Kamu nggak tahu apa-apa, Re." Kelana mengalihkan pandangan keluar jendela.
"Apa yang aku nggak tahu, kamu udah cerita semuanya kan, tentang cinta pertama mu Elara, aku juga lihat foto Elara di hp kamu waktu mau telepon Pak Dayat di depan perpustakaan." Suara Renjani bergetar meski ia sudah berusaha bicara sedatar mungkin. Entah kenapa dadanya terasa nyeri mengingat itu semua.
Kelana terdiam, ia memilih melihat titik-titik air yang jatuh mengenai jendela mobil.
"Kamu mau beli sesuatu?" Kelana mengalihkan pembicaraan.
"Ada nasi kotak di belakang."
"Emangnya cukup?"
Renjani mendelik, Kelana pikir ia makan sebanyak apa. Tentu saja nasi kotak itu cukup lagi pula ini sudah malam. Renjani tak mau makan terlalu banyak.
"Mau beli apa Mas?" Yana menoleh ke belakang, ia duduk di jok depan bersama Dayat.
"Enggak, langsung ke apartemen aja." Jawab Renjani.
Yana mengangguk dan kembali menghadap ke depan. Yana heran dua bos nya itu selalu saja bertengkar padahal tadi ia ikut tersentuh mendengar kalimat Kelana di depan stage. Yana berharap cinta Kelana dan Renjani bisa tumbuh subur seiring berjalannya waktu.
******
"Aku melupakan sesuatu." Kelana bergumam setelah turun dari mobil dan menurunkan Renjani tepat di atas kursi rodanya.
"Harus balik lagi dong." Renjani mendongak melihat Kelana, jika barang Kelana tertinggal itu artinya mereka harus kembali ke studio.
"Bukan itu."
"Apa?" Renjani menerima tas nya dari tangan Yana yang menyusul turun dari mobil.
"Aku lupa bilang kalau malam ini kamu cantik." Suara Kelana sangat pelan tapi Renjani bisa mendengarnya dengan baik. Kelana tak mau menyembunyikan pujiannya lagi, terakhir kali ingin memuji Renjani, ia justru keduluan Devin. Kelana tak mau mengulang kesalahan yang sama.
Yana ikut tersenyum mendengarnya, akhirnya Kelana mengakui bahwa Renjani itu cantik. Walaupun terlalu terlambat tapi itu memberikan kemajuan yang berarti bagi hubungan keduanya.
Renjani tak mau tersenyum hanya karena pujian itu. Ia berusaha menahan dan tak mau terlalu larut dalam perasannya.
"Baik Mas." Yana meletakkan barang-barang Kelana dan bergegas pergi ke dapur untuk membuat minuman kesukaan Kelana.
Sementara itu Kelana membawa Renjani ke kamar.
"Aku mau belajar jalan." Kata Renjani saat Kelana hendak mengangkat tubuhnya. "Dokter bilang aku harus belajar jalan pakai tongkat."
"Besok aja." Kelana tetap menggendong Renjani memindahkannya ke tempat tidur dengan mudah.
Kelana pergi ke walk in closet untuk mengganti setelan jasnya dengan piyama. Kelana juga mengambil piyama milik Renjani yang sudah disiapkan oleh Yana tadi.
"Aku bantu kamu ganti baju." Kelana melihat Renjani yang masih mengenakan dress peacock blue dengan taburan manik di seluruh permukaannya. Dress tersebut berlengan panjang transparan berbahan polyester yang memperlihatkan kulit putih Renjani. Terdapat lapisan lain yang menutupi bagian dada hingga lutut. Kelana tidak rela jika Renjani mengganti pakaian. Dress tersebut sangat cantik di tubuh Renjani. Namun tak mungkin Renjani tidur dengan pakaian tersebut, pasti rasanya tidak nyaman.
"Ntar aja, Yana panggil kamu barusan, jeruk perasnya udah jadi katanya." Renjani mengambil alih piyama nya di tangan Kelana.
"Kamu mau nggak?"
"Enggak, aku makan nasi kotak aja sebentar lagi." Renjani ingin menghapus riasannya terlebih dahulu sebelum makan.
"Makasih Yana." Kelana duduk di meja makan, ia meneguk segelas jeruk peras dengan tambahan es batu hingga habis.
"Nasinya mau dipindah ke piring nggak mas?"
"Nggak usah, kamu boleh istirahat." Yana sudah cukup bekerja keras hari ini. Karena Renjani belum bisa berjalan, pekerjaan Yana jadi dua kali lipat lebih banyak.
"Kalau gitu saya ke kamar dulu Mas." Pamit Yana dengan senyum lebar karena ia bisa beristirahat lebih awal.
Kelana membuka kotak nasi di atas meja, terdapat nasi merah, sapi lada hitam dan daging ayam beraroma jahe.
"Renjani pasti suka." Kelana beranjak, ia akan membawa makanan ini ke kamar untuk Renjani.
"Aaahh!"
Kelana terkejut mendengar pekikan Renjani dari dalam kotak, ia spontan meletakkan kotak makanan itu kembali dan berlari menghampiri Renjani.
"Re!" Kelana melihat Renjani tersungkur di atas lantai.
Renjani meringis kesakitan karena dahinya membentur lantai, barusan ia mencoba berjalan dengan tongkat. Renjani pikir itu mudah tapi baru satu langkah turun dari tempat tidur, ia sudah terjerembab ke lantai. Gips di kaki kiri Renjani cukup berat hingga membuatnya sulit bergerak.
"Aku mau bersihin make-up." Suara Renjani terbata.
Kelana menekan dahi Renjani yang membiru. Ia memindahkan Renjani ke kursi meja rias. Pandangannya meneliti seluruh tubuh Renjani.
"Besok aja belajar jalannya." Kelana ingin memarahi Renjani tapi ia tak kuasa melakukannya setelah melihat wajah menyedihkan wanita itu.
"Aku cuma mau ambil kapas barusan."
"Kamu bisa panggil aku."
Renjani menggigit bibirnya, ia terlalu malu untuk menangis merasakan dahinya yang berdenyut-denyut. Rupanya Renjani memang tak boleh bahagia. Baru dua jam yang lalu Renjani berbunga-bunga karena ucapan Kelana tapi sekarang ia harus kesakitan lagi
"Dimana lagi yang sakit?"
Hatiku lebih sakit.
"Nggak ada." Renjani menggeleng, percuma memberitahu Kelana, itu tak akan mengobati sakitnya.
"Kenapa resleting kamu terbuka?" Kelana hendak menaikkan resleting dress Renjani yang sedikit terbuka.
"Emang mau dibuka, tolong bantu aku turunin."
Dengan gerakan sangat pelan, Kelana menurunkan resleting dress itu hingga ia bisa melihat punggung mulus Renjani. Tahan Kelana, bukankah kamu sendiri yang menawarkan bantuan pada Renjani tadi.
Kelana berdeham mengalihkan pandangan ke arah dinding kamar. Kemanapun itu asal tidak pada dada Renjani yang terlihat menyembul melalui pantulan cermin.
Kenapa dadanya tampak menyembul, sepertinya Renjani mengenakan bra yang kekecilan.
Stop melihatnya Kelana!
Tidak, bukankah dia istriku?
Jemari Kelana menelusuri sepanjang punggung Renjani. Renjani yang sedang mengusap wajahnya dengan kapas pembersih spontan berhenti, bulu kuduknya meremang. Mengapa Kelana melakukan ini?
"Kelana?" Renjani mendongak melihat Kelana.
Kelana tak dapat menahannya lagi, ia meraih dagu Renjani lalu mengecup bibirnya. Kapas di tangan Renjani terlepas jatuh ke lantai.
Renjani memejamkan mata, tak seperti saat di rumah sakit kali ini ciuman Kelana jauh lebih dalam. Dari jarak sedekat ini Renjani bisa mencium aroma lavender, sandalwood dan jahe yang memberikan kesan panas serta manly. Itu mengingatkan Renjani pada kejadian di perpustakaan.
Kelana meraih rambut Renjani yang masih tertata rapi, ia memiliki misi untuk membuatnya berantakan. Dengan sesekali gerakan, Kelana melepas kunciran Renjani.
Renjani memekik tertahan ketika Kelana menaikkannya ke meja rias. Ia mendelik, apa yang hendak Kelana lakukan.
Kelana mengikis jarak di antara mereka, ia memperhatikan setiap lekuk wajah Renjani tanpa riasan. Itu menguntungkan bagi Kelana karena ia bisa melihat rona merah jambu di wajah Renjani. Sepasang alis melengkung tak terlalu lebat membingkainya mata Renjani yang bewarna kecoklatan. Lalu hidung mungilnya yang membuat Kelana gemas. Perhatian Kelana tertumbuk pada bibir Renjani yang ranum dan basah akibat kecupannya barusan.
Renjani membuka mulut hendak menyadarkan Kelana tapi sebelum itu terjadi, Kelana lebih dulu menyambar bibirnya.
Api gairah memercik antara keduanya menghasilkan hawa panas ke seluruh kamar. Kelana tak bisa lagi menahan diri kali ini, ia sudah berada di tepi jurang, terlalu terlambat untuk berbalik apalagi berjalan mundur.
Renjani mendesah lalu menggeram membuat Kelana benar-benar jatuh ke dalam jurang penyatuan hanya dengan sekali dorongan.
Setelahnya mereka tak bisa lagi berpikir sehat, meja rias yang menjadi tumpuan itu berguncang dan menimbulkan bunyi derit samar. Barang-barang di atasnya berguling berjatuhan mengenaskan ke lantai.