
"Wah!" Renjani terperanjat kagum melihat ratusan wartawan berada di depan venue, ia sudah sering melihat kerumunan wartawan tapi ia tak menyangka jika di acara ulang tahun seperti ini juga ada wartawan yang langsung menyalakan lampu blitz ketika tamu undangan turun dari mobil. Renjani lupa jika ini adalah acara ulang tahun salah satu pianis senior terkenal Indonesia yang bahkan seminggu sebelumnya, berita tentang acara tersebut sudah ada dimana-mana.
"Ayo turun."
"Penampilan ku gimana?" Renjani merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi, kalaupun berantakan ia tetap terlihat cantik.
"Harusnya aku nggak ajak kamu." Kelana baru sadar saat ini Renjani terlihat sangat cantik hingga ia tidak rela jika orang lain melihatnya.
"Yah kenapa?" Renjani menekuk bibir bawahnya, ia sudah bersiap selama satu jam dibantu Yana, jika tidak pergi maka sia-sia berdandan.
"Harusnya kamu tinggal di rumah sama Nana."
"Kamu malu?" Renjani sudah berusaha sebaik mungkin tapi apakah penampilannya tidak cukup cantik untuk bersanding dengan para artis di dalam sana.
"Kamu terlalu cantik untuk dilihat banyak orang." Kelana turun lebih dulu ketika salah seorang staf membukakan pintu mobil lalu disusul Renjani.
Gemerlap cahaya lampu kristal mendominasi venue acara ulang tahun Wijaya Kusuma yang dihadiri oleh kalangan artis dan pengusaha. Di depan sana terdapat kue tiga tingkat berwarna putih dan hitam dengan hiasan piano di atasnya. Dari pada acara ulang tahun, ballroom tersebut terlihat seperti venue pernikahan karena dekorasinya yang amat mewah.
Dress code acara tersebut adalah putih dan hitam yang merupakan warna favorit Wijaya. Renjani menahan diri untuk tidak berekspresi berlebihan ketika melihat tamu lain, mereka semua tampak mengagumkan dengan pakaian putih.
Di antara tamu itu Renjani melihat Emma yang baru dibebaskan dari hukumannya. Beberapa artikel menyebut bahwa Emma akan kembali ke dunia hiburan. Renjani tersenyum getir, semua orang sudah melupakan kejahatan yang Emma lakukan. Namun Renjani tak akan pernah lupa, sekarang ia bukan lagi wanita yang bisa ditindas begitu saja. Renjani sudah membuktikan bahwa ia pantas bersanding dengan Kelana.
"Bibirmu terlalu merah." Bisik Kelana ketika ia berjalan menghampiri pemilik acara yakni Wijaya.
Renjani menyikut Kelana agar berhenti mengomentari riasannya. Yana mengatakan lipstik merah tidak akan terlihat mencolok saat menghadiri acara di malam hari. Menurut Renjani riasannya juga tidak berlebihan.
"Ada Papa juga?" Renjani tersenyum lebar menyapa Wira yang sudah hadir lebih dulu.
"Tentu saja." Kelana tidak terkejut melihat Wira disini.
Kelana dan Renjani menyalami Wira sekaligus memberi selamat atas bertambahnya usia pianis senior tersebut.
"Semoga Om Wijaya bisa terus berkarya di industri musik Indonesia." Ucap Kelana.
"Terimakasih Kelana."
"Selamat Om, saya penggemar Om Wijaya." Renjani juga memberi selamat.
"Oh ya? nanti saya kirimkan album saya yang baru ke rumah kalian." Kata Wijaya dengan senyum bermekaran.
Renjani membelalak terkejut tapi ia tetap mengucapkan terimakasih pada Wijaya. Sedangkan Kelana hanya menahan senyum melihat ekspresi Renjani.
"Sejak kapan kamu jadi penggemar Om Wijaya, kamu bahkan nggak bisa menyelesaikan Twinkle Twinkle Little Star dengan baik." Ledek Kelana ketika mereka sudah berjalan menjauh dari Wijaya.
Renjani memukul lengan Kelana, "memangnya penggemar kamu bisa main violin semua, enggak kan?"
"Bisa, tanya mereka kalau nggak percaya."
"Enggak sih, coba sekarang aku tanya salah satu judul lagu nya Om Wijaya kalau kamu memang penggemar beliau."
"Kilau Embun."
Senyum Kelana lenyap, ia tak percaya Renjani akan menyebutkan lagu milik Devin.
"Bener kan?" Tanya Renjani percaya diri, sebenarnya tak ada satu pun lagu Wijaya yang ia tahu. Renjani hanya asal menyebut lagu yang terlintas di pikirannya.
"Itu lagunya Devin."
Renjani melongo, ia tak tahu jika itu lagu milik Devin. Renjani hanya pernah mendengarnya beberapa waktu lagu.
"Aku nggak tahu itu lagu Devin." Renjani gelagapan melihat sorot mata tajam Kelana, ia tak mau membuat masalah lagi dengan Kelana. "Jangan marah." Renjani memasang wajah memelas.
Kelana mengusap puncak kepala Renjani dan kembali mengembangkan senyum, bagaimana ia bisa marah melihat wajah menggemaskan Renjani.
Kelana mengajak Renjani menyapa teman-teman artis yang hadir hari itu.
Renjani tak pernah bermimpi akan berada di tengah-tengah artis terkenal seperti sekarang, bahkan Renjani terlihat seolah menjadi bagian dari mereka.
"Renjani makin cantik sekarang." Puji salah seorang artis wanita yang Renjani tidak tahu namanya. Renjani sudah bilang jika ia tak terlalu mengikuti dunia hiburan Indonesia. Jika Renjani tahu dirinya akan menikah dengan seorang Kelana maka ia sudah pasti menghafal nama-nama mereka.
"Perawatan di dokter siapa?" Tanya yang lain.
Renjani hanya menjawabnya dengan tawa hambar sambil menyibak rambutnya, apakah semua orang disini melakukan perawatan ke dokter? Renjani tidak tahu soal itu.
"Jangan bilang cuma pakai skincare."
Kenyataannya memang begitu, Renjani memakai banyak produk yang Yana belikan untuknya dan itu sudah termasuk perawatan mahal bagi Renjani. Namun ternyata para artis ini melakukan perawatan yang pasti jauh lebih mahal dari skincare Renjani. Renjani terlalu naif jika menganggap mereka cantik alami.
"Aku tinggal sebentar ya." Kelana melangkah pergi membiarkan Renjani membahas sesuatu yang hanya dimengerti oleh para wanita.
Renjani ingin ikut dengan Kelana karena ia tidak mengenal siapapun meski mereka mengajaknya bicara. Namun Renjani juga tidak mau dianggap sombong. Sekali lagi, jika bukan istri Kelana, Renjani tak akan peduli terhadap penilaian orang lain.
"Kamu beruntung bisa menikah dengan Kelana, jarang-jarang artis menikah dengan kalangan non artis." Seorang wanita berambut panjang sebahu melirik Renjani, jemarinya yang lentik tampak anggun memegang gelas anggur.
"Kami bertemu sebelum Kelana jadi artis." Sahut Renjani dengan senyum lebar, mereka terlihat tidak percaya mendengar itu padahal Renjani tidak berbohong. Mereka memang pernah bertemu ketika Kelana menyelamatkan Renjani di kolam.
"Oh ya? apakah rumor bahwa kamu merusak hubungan Kelana dan Elara itu benar?" Tanya yang lain.
"Tentu saja itu salah, jauh sebelum itu kami sudah bertemu."
Di depan sana Wijaya memberikan sambutan, ia mengucapkan terimakasih kepada semua tamu yang hadir hari ini. Sebelum memulai potong kue, Wijaya meminta Devin memainkan satu lagu untuk semua tamu bersama Kelana.
Kelana terkejut karena tak mengira Wijaya akan memintanya bermain violin dengan Devin.
"Om harap kamu berkenan." Tukas Wijaya membuat Kelana tidak kuasa menolak apalagi ini adalah hari ulang tahunnya.
"Baik Om." Kata Kelana akhirnya.
Wijaya tersenyum lebar, ia sengaja meminta mereka satu panggung lagi setelah acara award waktu itu. Wijaya merasa Kelana dan Devin tidak seakrab dulu bahkan mereka tak pernah terlihat mengobrol lagi. Wijaya tidak tahu apa yang terjadi pada mereka, ia hanya ingin Kelana dan Devin kembali akrab seperti dulu.
"Papa mau kita bawakan lagu Cloudy Night."
Kelana mengangguk mengiyakan, ia langsung mengambil violin yang sudah disediakan. Jika bukan karena permintaan Wijaya, Kelana tak akan mau memainkan lagu secara mendadak seperti ini apalagi dengan Devin.
"Kamu belum memaafkan ku?" Devin menatap Kelana, ia sudah meminta maaf beberapa kali tapi tak ada jawaban dari Kelana. Devin mengatakan ia sangat menyesal atas perbuatannya hingga merusak pertemanan mereka.
"Sudah."
Devin tersenyum, "syukurlah kalau gitu—"
"Hanya agar Renjani nggak merasa bersalah lagi."
"Maksud kamu?"
"Dan kita nggak akan pernah bisa berteman seperti dulu lagi." Kelana melenggang menjauh dari Devin, ia mulai memainkan intro lagu Cloudy Night mencuri perhatian seluruh tamu.
Kelana tahu Renjani memiliki perasaan bersalah karena hubungannya dengan Devin tak seperti dulu. Namun ini bukan salah Renjani, ia tak seharusnya merasa bersalah karena hal tersebut. Itu sebabnya Kelana bersikap seolah-olah sudah memaafkan Devin walaupun pada kenyataannya ia tidak akan pernah bisa melakukannya.
"Bukan kamu yang beruntung tapi Kelana yang beruntung karena menikah dengan mu." Zaneta menyentuh lengan Renjani.
Renjani sempat terkejut mendengarnya tapi setelah tahu itu Zaneta, ia tersenyum. Sejak pertama bertemu Zaneta memang ramah sehingga Renjani bisa bergaul dengannya.
"Tidak, mereka benar."
"Aku yakin kehidupan Kelana jauh lebih baik setelah kehadiran mu, kamu seperti lampu untuk hidupnya yang gelap."
Renjani berbinar, kata-kata Zaneta sangat indah.
"Semua orang tahu itu, hanya saja mereka enggan mengakuinya."
"Aku hanya lilin bukan lampu."
Zaneta menggeleng, "walaupun bukan artis, kamu lah yang paling bersinar di antara kami."
"Kenapa kamu memuji ku begitu padahal kamu lebih cantik."
Zaneta tertawa mendengar pujian Renjani, "ayo makan sesuatu." Ajaknya karena dari tadi ia lihat Renjani tidak menyentuh apapun di atas meja.
Setelah acara berakhir wartawan mengerubungi Kelana dan Renjani yang hendak keluar menuju tempat parkir.
"Izinkan kami melakukan wawancara dengan Renjani." Ujar mereka.
"Lain kali saja." Tolak Kelana.
"Hanya sebentar."
"Baiklah, dimana?" Kelana hendak menarik Renjani menjauh dari tempat itu agar tidak menghalangi tamu lain.
"Hanya Renjani." Kata mereka.
"Hanya Renjani?" Kelana terperangah, kenapa hanya Renjani?
"Kami hanya ingin mewawancarai Renjani."
Kelana tertawa kecil, apakah sekarang ia sudah tidak laku. Wartawan lebih tertarik pada Renjani.
"Baiklah, 10 menit, aku tunggu di mobil." Kelana mengusap bahu Renjani sesaat sebelum pergi ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.
Renjani tidak memiliki kesempatan menolak karena para wartawan itu langsung memberinya mikrofon dan kursi.