
Floe yang terlihat baru saja selesai menaburkan bunga pada pusara tanpa sekalipun menoleh ada kepergian pria yang membuatnya semakin membenci. Ia berusaha untuk menandakan perasaannya saat bergejolak hanya karena melihat pria yang dibenci.
Kemudian mengusap batu nisan itu dan berusaha untuk mengambil napas teratur agar berbicara dengan lembut dan tidak dipenuhi oleh angkara murka seperti beberapa saat yang lalu.
"Sayang, Mama datang. Maaf karena kamu harus melihat apa yang seharusnya tidak terjadi hari ini. Jika tadi Mama awal datang, pasti tidak akan seperti ini. Kamu pasti sangat membencinya, kan? Mama tidak salah, kan?" Ia kini sudah meletakkan buket bunga yang tadi dibawa dan membuat pusara tampak jauh lebih cantik.
Indra pendengarannya menangkap suara deru mobil yang baru saja melaju dan lama-kelamaan menghilang ditelan angin. "Syukurlah pecundang itu sudah pergi."
Saat ini ia terdiam sambil menatap ke arah buket bunga mawar putih yang dibawanya, kini teringat sesuatu hal yang membuatnya terdiam, yaitu foto kenangan dari hasil USG yang dulu disimpan di laci kamar.
"Sayang, kenapa Mama selama ini melupakan sesuatu hal yang sangat penting? Gara-gara ingin fokus kuliah dan melupakan kesedihan karena kamu pergi, sampai melupakan fotomu. Mama bisa sedikit terhibur jika setiap hari bisa melihat, bukan?" Floe yang terdiam karena berpikir jika mengambil di rumah yang dulu sempat ditinggalinya, akan bertemu dengan Erland yang diusirnya.
Ia pun kini tengah memikirkan sebuah cara untuk bisa mendapatkan foto itu tanpa harus datang ke rumah dan bertemu dengan pria yang sangat tidak ingin ditemuinya.
"Sepertinya aku harus menyuruh kepala pelayan untuk mengambilnya di rumah pecundang itu." Ia kini beralih menatap ke arah pusara sambil menepuk jidat karena melupakan sesuatu.
"Ponsel Mama ketinggalan di mobil, Sayang. Sepertinya memang Mama harus fokus menemanimu di sini dan memikirkan masalah foto nanti saat pulang." Floe kini sudah mengajak bicara usaha yang menjadi tempat bersemayam anaknya yang tidak sempat dilahirkan di dunia.
Jika biasanya ia datang seminggu dua kali, tapi semenjak hari ini, akan datang dua hari sekali untuk memastikan jika Erland tidak akan lagi terlihat di sana. Meskipun akan menyuruh penjaga makam yang bekerja di sana, ia masih belum yakin sepenuhnya karena khawatir jika pria itu menggunakan uang untuk menyuap sebagai tutup mulut ketika datang.
Saat ia merasa yakin jika Erland mungkin akan kembali datang, kini mengatur rencana demi menghentikannya. "Kamu lebih berpihak pada Mama daripada dia, kan Sayang?"
Floe yang kini merasa yakin jika anaknya berada di pihaknya, sama sekali tidak merasa bersalah atas perbuatannya yang barusan mengusir dan juga mengungkapkan kemurkaan tanpa memperdulikan raut wajah muram itu.
"Bisa-bisanya dia datang ke sini saat terpuruk. Bukankah pecundang itu hanya menjadikanmu pusat pelampiasan kesedihan? Tidak, Mama tidak akan tinggal diam, Sayang. Kamu tenang saja dan beristirahat tenang di sana karena Mama yang akan mengurusnya." Floe kini terlihat jauh lebih baik saat tersenyum karena ketika berada di makam anaknya selalu jauh lebih tenang.
Tentu saja sangat berbeda dengan pertama kali datang ke sana setelah keluar dari rumah sakit karena hanya ada air mata yang menganak sungai mewakili perasaan kehilangan yang luar biasa.
Namun, semenjak sering dinasehati sang ibu jika mengikhlaskan orang yang sudah tiada jauh lebih baik agar bisa tenang di atas sana, akhirnya kini mulai bisa menerima semuanya dan waktu lah yang menjadi pengobat hatinya.
Seperti sekarang ia sudah terlihat lebih tenang dan bisa berbicara tanpa air mata. Beberapa menit telah berlalu dan merasa sudah cukup menjenguk anaknya, ia pun kini bangkit berdiri setelah sebelumnya berpamitan.
"Lusa Mama akan datang lagi untuk memastikan pecundang itu tidak akan datang ke sini mengganggumu, Sayang. Bahagia di sana, ya. Sampai kita bisa bertemu di sana suatu saat nanti. Kamu yang harus menyapa Mama karena pasti sudah dewasa saat kita bertemu," ucapnya yang kini mulai berlalu pergi meninggalkan area pemakaman setelah mengucapkan salam.
Ia yang kini langsung menuju ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari pandangannya, kembali teringat akan foto yang merupakan kenang-kenangan untuknya.
"Semoga tidak ada yang mengambil foto itu dan tetap membiarkannya di laci. Jangan sampai Erland menyimpannya karena mungkin akan sulit jika sampai dia sudah mengetahuinya. Hanya itu kenangan yang kumiliki," ucapnya yang saat ini memencet remote dan langsung masuk ke dalam mobil.
Begitu ia mengemudikan kendaraan keluar dari area pemakaman, tidak melihat penjaga yang biasa berada di pos. Padahal ia tadinya ingin berbicara mengenai perintahnya untuk melarang Erland datang.
"Aku suruh saja pengawal untuk datang ke sini nanti sore." Ia pun kini kembali fokus mengemudi begitu berada di jalan raya dan langsung pulang ke rumah untuk menyuruh kepala pelayan agar datang ke rumah Erland.
Beberapa saat kemudian ia sudah tiba di rumah dan langsung berjalan masuk melalui pintu utama sambil mengedarkan matanya mencari.
"Bik!" teriak Floe yang kebetulan bertemu dengan sang ibu yang baru saja menuruni anak tangga.
Namun, melihat raut wajah serius dari putrinya, membuatnya mengerutkan kening. "Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu? Ada apa?"
Floe kini tidak membuang waktu untuk menceritakan apa yang terjadi di pemakaman dengan raut wajah kesal karena setiap kali mengingat Erland, selalu ada bara api yang seolah menganga di hatinya.
"Sepertinya aku perlu memperketat pemakaman anakku, Mom. Aku tidak ingin pecundang itu datang lagi ke sana. Pasti dia akan kembali. Aku yakin itu." Floe kini juga menceritakan niatnya untuk mengambil foto USG.
Sementara itu, Lestari Juwita yang bisa melihat putrinya sangat kesal, malah merasa senang karena setiap kali mengingat Erland, ekspresi putrinya membuatnya semakin yakin jika tidak akan membuka pintu hatinya lagi.
"Lakukan semua yang menurutmu benar karena Mommy sudah percaya sepenuhnya padamu, Sayang. Kamu sekarang lebih dewasa dan bisa memakai logika tanpa harus menjadi bodoh karena cinta. Oh ya, Mommy ingin makan mie instan, kamu mau sekalian?" tanya Lestari Juwita yang hendak pergi ke dapur untuk menyuruh pelayan.
Kebetulan Floe yang memang tadi hanya makan bubur kacang hijau serta ketan hitam di kantin, sekarang lapar. Ia menganggukkan kepala dan berniat untuk berganti pakaian terlebih dahulu.
"Sekalian Mommy katakan pada bibik untuk segera pergi ke rumah Erland agar segera mengambil foto anakku. Aku gerah, sekalian mandi saja. Nanti aku turun setelah selesai dan kita makan bersama." Floe kini melangkahkan kaki menaiki anak tangga setelah sang ibu mengiyakan.
Sementara itu, wanita yang masih melihat putrinya, kini meraih ponsel miliknya yang ada di saku rok selutut yang dikenakan. Ia mengirimkan pesan pada sang suami agar mengetahui semuanya.
Semenjak apa yang terjadi pada Floe, mereka sekarang benar-benar menjaga putrinya dengan baik dan selalu mengawasi apa yang dilakukan dan siapa yang dekat dengannya.
Niatnya adalah mendekatkan Floe dengan pria bernama Harry, tapi semua tidak seperti yang direncanakan karena hubungan dengan sang kekasih sampai sekarang masih berjalan dengan lancar.
Saat ia mendapatkan pesan balasan dari sang suami, mengerutkan kening karena di bawahnya ada sebuah video. Ia tanpa pikir panjang langsung memencet tombol play.
"Siapa ini?" Ia melihat seorang pria yang sangat tampan memakai setelan jas lengkap berwarna hitam tengah melakukan presentasi di depan orang-orang yang seperti berada di ruangan meeting.
Saat hendak bertanya pada sang suami, tidak jadi melakukannya karena sudah membaca pesan. "Ini adalah seorang pengusaha yang hari ini resmi bekerja sama dengan perusahaan kita. Menurutmu dia cocok tidak jika didekatkan dengan Floe?"
Lestari Juwita hanya geleng-geleng kepala begitu membaca pesan dari sang suami yang berniat untuk menjodohkan putrinya ketika baru saja berhasil menyembuhkan luka di hati.
"Jika Floe tahu ini, pasti akan sangat kesal." Namun, ia kini masih menatap ke arah layar ponsel yang menunjukkan visual pria dengan kulit putih dan berbadan tinggi proporsional itu.
"Tapi, dia tampan juga. Memang sepertinya sangat serasi jika dijodohkan dengan putriku yang cantik." Ia kini memutar otak untuk mempertemukan pria itu dengan Floe agar terlihat secara kebetulan dan tidak seperti dijodohkan.
"Sepertinya semua bisa diatur," ucapnya yang saat ini tersenyum simpul dan berjalan menuju ke arah dapur untuk menyuruh pelayan membuatkan mie instan dengan rasa terbaru yang sedang viral di media sosial.
Ia kini berharap putrinya bisa membuka hati pada pria lain dan tidak terpaku pada dendamnya dengan Erland karena jujur saja khawatir jika kebencian yang terlalu berlebihan malah akan membuat putrinya tidak mau menjalin hubungan lagi dengan lawan jenis.
'Semoga putriku cocok dengan pria yang tadi karena sepertinya dia adalah pria yang baik setelah mendapatkan lampu hijau dari suamiku,' gumamnya yang gini sudah tidak sabar untuk mengatur rencana mempertemukan putrinya dengan pria yang direkomendasikan oleh sang suami.
Saat ia berbicara dengan pelayan di dapur, kembali mendengar suara notifikasi yang merupakan pesan dari sang suami yang menyebutkan nama pria tersebut dan menurutnya sangat sulit dan juga sedikit aneh.
"Dhewa Aji Ismahayana?"
To be continued...