Married by Accident

Married by Accident
XXXVII



"Re bangun Re." Kelana menepuk-nepuk punggung Renjani untuk membangunkannya.


Renjani tidak berkutik meskipun Kelana telah memanggil namanya berkali-kali. Padahal Kelana sengaja mengulur waktu olahraganya dengan minum kopi bahkan membersihkan ruangan.


"Renjani." Kelana menyingkap selimut yang membalut tubuh Renjani tapi cara itu tetap tidak berhasil, akhirnya ia membuka gorden sehingga sinar matahari masuk menerangi kamar. Kelana melangkah ke kamar mandi mencuci muka untuk yang kedua kalinya. Ia punya ide untuk membangunkan Renjani.


Kelana menjatuhkan tubuhnya ke ranjang lalu menciumi wajah Renjani yang masih terlelap.


"Duh apa sih?" Renjani menggeliat, ia berusaha menyingkirkan Kelana dari hadapannya tapi karena tenaganya belum terkumpul, Kelana sama sekali tak berkutik.


"Pantas Mama mu sering marah, anaknya selalu bangun kesiangan." Kelana tetap mencium pipi Renjani dengan bibirnya yang basah setelah mencuci muka.


"Nggak ada Mama ini, mau ngapain sih?" Akhirnya Renjani membuka mata menatap Kelana. Gila ya, wajahnya bahkan belum tersentuh air, pasti sekarang ia terlihat jelek tapi kenapa Kelana menciuminya.


"Ayo olahraga."


"Olahraga?" Renjani mengerutkan kening, olahraga adalah hal yang tidak pernah ia lakukan seumur hidup kecuali saat mengikuti pelajaran penjaskes di sekolah. "Nggak mau ah."


"Olahraga bagus buat kesehatan."


"Aku nggak sakit."


"Ayo Re." Kelana menarik tangan Renjani agar segera turun dari ranjang.


"Kaki ku kan masih sakit, masa disuruh olahraga sih?"


"Katanya barusan nggak sakit."


Renjani menjerit kesal, ia terpaksa bangun dari tempat tidur.


"Kenapa sih tiba-tiba ngajak aku olahraga?"


"Semalam aku habis gendong kamu dari basemen kesini dan tanganku lumayan pegel setelahnya."


Renjani menahan napas kesal, ia bahkan tidak ingat apa-apa semalam. Namun jika dipikir siapa yang membawanya keluar dari mobil jika bukan Kelana. Itu berarti secara tidak langsung Kelana mengatakan Renjani berat.


"Ya udah aku cuci muka dulu." Renjani menghentakkan kakinya masuk ke kamar mandi.


Kelana tersenyum lebar, akhirnya ia berhasil mengajak Renjani pergi olahraga.


Renjani sudah siap mengenakan pakaian olahraga yang tiba-tiba saja ada di tempat tidur saat ia selesai cuci muka. Rupanya Kelana sudah mempersiapkan segalanya untuk mengajaknya olahraga.


Kelana membelalak melihat pakaian Renjani. Baju olahraga itu memperlihatkan perut dan dada Renjani yang membuat Kelana terkejut. Semalam Kelana meminta Yana membeli baju olahraga untuk Renjani tapi ia tak tahu jika baju tersebut sangat sexy.


"Ayo, dimana tempatnya?" Renjani menguncir rambut panjangnya sebelum melangkah keluar mendahului Kelana.


"Pakai ini." Kelana menempelkan tisu di dada Renjani.


"Apaan nih?" Renjani hendak menyingkirkan tisu tersebut tapi Kelana mencegahnya.


"Dada mu kelihatan."


"Emang disana banyak orang ya?"


"Seharusnya enggak." Kelana menarik tangan Renjani masuk lift, mereka akan naik ke lantai 27  tempat gym berada.


"Emang aku gendut ya?" Tanya Renjani.


"Untungnya kamu nggak gendut walaupun makan banyak."


Mereka melangkah melewati koridor lalu berbelok dan sampailah di tempat gym yang terlihat sepi. Renjani merasa seperti berada di tempat gym pribadi milik mereka berdua. Renjani heran di apartemen seluas ini, ia jarang bertemu dengan tetangga mereka. Tentu saja karena tak ada orang pengangguran yang tinggal disini.


"Kita pemanasan dulu." Kelana merentangkan tangan untuk memulai pemanasan sebelum olahraga.


Renjani mengikuti gerakan Kelana dengan malas-malasan, ia ingin tidur lagi saja.


Setelah 10 menit pemanasan, Kelana mengajari Renjani menggunakan lat pull-down yang dapat melatih otot bahu. Kelana mengaturnya dengan beban yang paling ringan karena ini pertama kalinya Renjani olahraga. Kelana juga menggunakan alat yang sama di samping Renjani dengan beban yang lebih berat.


Renjani melirik Kelana, pemandangan di sampingnya itu terlihat jauh lebih indah dibandingkan gedung-gedung tinggi di hadapannya. Tempat gym ini memiliki dinding kaca sehingga mereka bisa melihat pemandangan di luar sana.


Jadi ini yang Kelana lakukan untuk mendapatkan tubuh kekar itu. Renjani pikir Kelana memang terlahir dengan tubuh yang bagus. Lalu apakah tinggi badan Kelana yang menjulang ini juga didapat dari olahraga rutin? Pantas saja Renjani tak bisa tumbuh tinggi.


"Aku pengen pakai yang itu?" Renjani menunjuk spinning bike, lebih tepatnya ia ingin duduk sembari olahraga.


"Kaki kamu belum bisa nanti makin lama pulihnya."


Beberapa penghuni lain berdatangan, ada tiga laki-laki dan satu perempuan yang juga menggunakan fasilitas gym tersebut.


Akhirnya Renjani bisa melihat penghuni lain di apartemen ini walaupun tidak mengenal mereka. Renjani juga tak mungkin mengajak mereka berkenalan meski ia menginginkan nya. Hal ini sangat berbeda dengan kehidupan Renjani saat masih tinggal di tempat kos. Ia bisa berkunjung ke tetangga sebelah saat kehabisan gula atau garam. Namun disini, itu adalah hal yang tidak mungkin Renjani lakukan.


Kelana berpindah menggunakan bench press setelah merasa cukup dengan lat pull-down.


Renjani menelan ludah melihat Kelana yang sudah penuh keringat melakukan angkat beban. Kenapa Kelana terlihat tampan saat berkeringat. Kenapa Kelana harus latihan angkat beban padahal violin tidak seberat itu. Kelana tak perlu memiliki tenaga besar untuk mengangkat violin.


Renjani menggeleng, kenapa ia jadi menanyakan banyak hal di kepalanya. Fokus Re!


Kelana menyeka bulir keringat yang membasahi wajah dan lehernya. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru mencari keberadaan Renjani.


Kelana menemukan Renjani bergelantungan sambil mengayun-ayunkan kakinya. Kelana tersenyum menghampiri Renjani.


"Kamu harus angkat kaki ke depan." Kelana memberi contoh cara bergelantungan yang benar.


Renjani berusaha mengangkat kakinya seperti yang Kelana lakukan tapi ternyata itu sulit.


"Cukup hari ini." Kelana sudah cukup berkeringat setelah 30 menit berolahraga. "Kamu bisa pakai alat yang lain setelah kaki mu benar-benar pulih."


"Kamu mending gendong aku aja dari pada olahraga disini."


"Beda lah." Kelana menurunkan Renjani. "Seka keringat mu." Ia melempar handuk kecil pada Renjani.


"Ih bekas kamu ya?" Renjani mempercepat langkah menyusul Kelana.


"Nggak mau sama bekas aku?" Kelana menengadah tangan hendak mengambil lagi handuk tersebut.


"Ya udah lah dari pada nggak ada." Renjani menyeka keringatnya dengan handuk tersebut.


Sebuah kardus di dekat pintu menarik perhatian Kelana, ia yakin tak ada kardus tadi saat ia keluar. Kelana tidak membeli apapun, apakah Renjani membeli sesuatu di e-commerce?


"Itu kiriman dari Pak Wira Mas." Yana muncul dari belakang menjawab rasa penasaran Kelana.


Kelana mengambil kardus itu dan membawanya ke kamar. Sepertinya itu adalah violin yang baru diproduksi oleh perusahaan papa nya. Wira selalu mengatakan hal buruk pada Kelana tapi setiap kali hendak mengeluarkan alat musik baru pasti ia mengirimkannya pada Kelana lebih dulu. Biasanya Kelana akan memberi kritik tentang alat musik itu agar Wira memperbaikinya.


"Kelana, aku mandi duluan ya." Renjani melempar handuk bekas keringatnya ke keranjang baju kotor lalu masuk ke kamar mandi tanpa menunggu jawaban Kelana.


Kelana sibuk membuka kardus kiriman papa nya, sesuai dugaannya itu adalah violin berwarna hitam metalik dengan ukiran nama Kelana.


Selamat atas suksesnya konser kamu. Setelah ini, kamu harus melakukan konser di luar negeri dan lihat berapa banyak penggemar kamu yang sebenarnya.


Kelana melipat secarik kertas dengan tulisan tangan papa nya lalu menyimpannya di dalam laci. Ia tak sabar ingin mencoba memainkan violin itu setelah mandi.


******


Renjani pergi ke dapur untuk membuat sarapan setelah mandi. Suasana hatinya sangat baik hari ini mungkin karena efek olahraga tadi. Renjani ingin membuat menu sederhana karena perutnya sudah berdendang ingin segera diisi.


"Kamu mau oatmeal nggak?" Tanya Renjani pada Yana yang juga berada di dapur.


"Boleh mbak."


Renjani memasukkan oatmeal setelah air mendidih dan mengaduknya sebentar. Ia juga memasukkan bubuk kayu manis untuk menambah aroma.


Tidak butuh waktu lama tiga mangkok oatmeal dengan irisan pisang, buah bluberi dan peanut butter siap disajikan. Terakhir Renjani menabur kacang kenari di atasnya.


"Wah, kayak sarapannya orang kaya." Renjani bergumam memindahkan mangkok tersebut ke meja makan.


Walaupun lapar tapi Renjani menunggu Kelana untuk makan bersama. Ia menyalakan ponselnya memeriksa pesan yang masuk.


Mata Renjani melebar melihat nama Maia, ia segera membuka pesan tersebut. Renjani memekik membaca pesan yang Maia kirimkan padanya, Maia menerima tawarannya untuk menerbitkan Meet Sunshine. Renjani sudah menduga kalau Maia tak akan menolaknya. Ia memang andal dalam merayu.


"Makan duluan aja." Ujar Renjani saat Yana duduk.


"Mbak Rere nggak makan?"


"Nunggu Kelana."


Yana menahan senyum, biasanya Renjani akan langsung makan tanpa acara menunggu Kelana dulu. Rupanya hubungan keduanya makin lengket. Yana penasaran apakah Kelana berhasil menyatakan cinta setelah membuat Renjani ngambek waktu itu.


"Wah, kamu bikin apa?" Kelana mencium aroma enak dari ruang makan.


"Oatmeal doang." Renjani hendak membaca pesan dari Jesi tapi karena Kelana sudah datang maka ia meletakkan ponsel dan menyantap sarapannya.


"Kok manis ya?" Itu tidak seperti oatmeal yang biasa Kelana makan karena rasanya manis.


"Aku kasih sirup maple, enak nggak?"


"Enak." Komentar Kelana tulus, makanan buatan Renjani tak pernah gagal. Ia menghabiskan oatmeal tersebut dengan cepat karena rasanya enak. "Besok berenang yuk."


Renjani menoleh pada Yana, ia pikir Kelana mengajak Yana tapi Kelana justru melihat ke arahnya. Bukankah Renjani sudah pernah memberitahu Kelana kalau ia trauma berenang.


"Temenin aku berenang." Kelana meralat perkataannya.


"Pergi aja sendiri." Renjani menjilat peanut butter yang tersisa di sendoknya. Melihat kolam saja Renjani tak sanggup apalagi menemani Kelana berenang.


"Re, kamu harus melawan rasa takutmu."


Renjani tidak menjawab, ia tak perlu melawan ketakutannya untuk berenang. Lagi pula dalam hidupnya, kalaupun tak berenang ia tidak akan mati.


"Ada aku." Kelana menyentuh punggung tangan Renjani. "Seperti aku yang melawan rasa takut untuk pergi ke perpustakaan, kamu juga pasti bisa."


"Biar saya yang cuci mangkoknya." Yana mengambil mangkok Kelana dan Renjani yang sudah bersih tak tersisa.


Renjani kembali menyalakan ponsel karena barusan ia urung membaca pesan dari Yana. Renjani tak mau membahas ajakan Kelana lagi, itu sebabnya ia pura-pura sibuk dengan ponsel.


Jesi mengirim foto dua kartu undangan berwarna merah hati.


Re, kita dapat undangan dari Arya, Arus mau nikah!


Ponsel Renjani hampir saja terjatuh membaca pesan tersebut. Renjani tak percaya laki-laki yang begitu sulit ia lupakan hendak menikah. Tentu Arya berhak melakukan itu tapi kenapa ia mengundang Renjani. Apakah Arya ingin pamer bahwa ia berhasil menikah setelah berselingkuh dari Renjani.


Pandangan Renjani nanar dan berkabut. Hatinya teriris membaca pesan Jesi tersebut. Harusnya tidak begini, hati kecil Renjani berkata bahwa ia menyukai laki-laki di hadapannya saat ini. Laki-laki yang Renjani sebut suami. Renjani hanya tidak bisa terima karena Arya berani mengundangnya setelah dulu berselingkuh darinya.