Married by Accident

Married by Accident
LXXII



"Makan dulu Mas." Yana meletakkan roti panggang dengan selai kacang di hadapan Kelana.


Kelana tidak tidur, ia menyusuri seluruh jalanan Jakarta untuk mencari keberadaan Renjani. Namun hingga pagi tiba, tak ada tanda-tanda Renjani ditemukan. Kelana bingung harus mencari Renjani kemana lagi. Mungkin pagi ini ia akan kembali ke kantor Renjani setelah istirahat sebentar. Kepalanya terasa pening akibat terjaga semalaman.


Kelana melirik kue anniversary mereka yang tidak tersentuh, ia diselimuti penyesalan karena telah pergi pagi itu. Kelana ingkar janji dan menganggap remeh Renjani. Kelana tidak mau kehilangan orang yang ia sayangi untuk kedua kalinya tapi nyatanya sekarang ia juga kehilangan Renjani. Kelana tidak bisa menjaga Renjani dengan baik.


"Mas harus makan biar bisa lebih fokus cari Mbak Rere."


Kelana menyambar kue di atas nakas tersebut dan menjatuhkannya ke lantai. Yana tidak terlalu terkejut, Kelana memang sering memecahkan barang saat marah. Yana justru kasihan melihat Kelana, ia juga mengkhawatirkan keadaan Renjani sekarang.


Yana keluar dari kamar memberi waktu untuk Kelana sendiri. Ia juga tidak akan membersihkan kue yang berceceran di lantai karena bisa saja Kelana menjatuhkan barang-barang lainnya. Yana akan membersihkannya sekaligus nanti.


Yana mengirim pesan pada Renjani menanyakan keberadaannya walaupun belum tentu Renjani membaca pesan tersebut. Yana sudah mencoba menghubungi Renjani berkali-kali tapi nomor itu tidak aktif.


"Semoga Mbak Rere nggak apa-apa." Gumam Yana.


Yana membuka gorden agar sinar matahari masuk ke apartemen, ia melihat foto pernikahan Kelana dan Renjani yang terpajang di ruang tengah. Mulanya dinding itu kosong tapi setelah beberapa bulan menikah, Kelana tiba-tiba ingin mencetak foto pernikahan tersebut dan memajangnya di ruang tengah. Saat itu Yana menyadari bahwa Kelana mulai mencintai Renjani seperti yang ia harapkan.


"Kenapa Elara itu harus kembali, dia cuma mengacaukan hubungan Mas Lana dan Mbak Rere." Gerutu Yana seraya meraba wajah Renjani pada foto tersebut.


Pyarrr!


Yana terkesiap mendengar suara pecahan kaca dari dalam kamar Kelana. Ia berdecak kesal, apalagi yang Kelana pecahkan kali ini. Yana seperti kembali ke masa lalu dimana Kelana sering memecahkan barang saat marah. Ini seperti bencana untuknya.


"Jangan Mas!" Yana berlari menghampiri Kelana yang tengah mengangkat violin nya tinggi-tinggi bersiap melemparnya ke lantai. Dua lampu tidur sudah tak berbentuk pecah berkeping-keping di lantai.


"Jangan Mas." Ucapnya sekali, ia berusaha meraih violin tersebut tapi tubuh Kelana yang tinggi membuatnya kesulitan untuk menggapai benda berharga tersebut. "Tolong kendalikan emosi Mas Lana, cara ini nggak akan bikin Mbak Rere balik." Katanya dengan suara lebih kencang untuk menyadarkan Kelana.


"Andai aku nggak pergi kemarin pasti Renjani masih ada disini." Racau Kelana, sekarang tidak ada gunanya menyesal. Renjani sudah pergi.


"Mas yakin Mbak Rere pergi hanya karena hal itu?"


"Apalagi?" Kelana menatap Yana dingin. Yana bisa membeku hanya karena tatapan itu.


"Mungkin Mbak Rere pergi karena Mas bilang mau menggugurkan kandungannya."


"Andai dia terus terang, aku nggak akan bicara sekejam itu." Kelana mengepalkan tangannya kuat, ia pikir Renjani hanya main-main itu sebabnya ia menanggapi dengan candaan. Kalimat itu memang terlalu kejam untuk sebuah candaan, Kelana hanya melakukannya secara spontan.


"Benarkah? bukannya Mas Lana sendiri yang bilang nggak pengen punya anak."


"Tapi kalau tahu Renjani benar-benar hamil, aku nggak mungkin tega menggugurkannya."


"Sudah lah Mas." Yana berjinjit mengambil alih violin itu dan meletakkannya kembali. Saat marah Kelana lupa segalanya, apakah ia juga lupa kalau harga violin itu tidak murah. "Mas istirahat dulu, nanti lanjut cari Mbak Rere."


Yana membuka laci nakas mengambil obat yang dulu sering Kelana konsumsi setiap kali susah tidur. Sejak ada Renjani, Kelana tidak pernah lagi minum obat tersebut. Namun sekarang Yana harus memberikannya agar Kelana bisa tidur sebentar.


"Makan walaupun sedikit." Yana menyodorkan roti ke dekat mulut Kelana.


"Kamu tahu kan aku cinta sama Renjani." Kelana mengambil roti tersebut dan mengunyahnya dengan terpaksa.


"Saya tahu."


"Kenapa dia pergi?"


Yana tidak bisa menjawab, ia bisa membayangkan betapa terlukanya perasaan Renjani saat Kelana mengatakan akan menggugurkan kandungannya.


"Coba Mas Lana posisikan diri menjadi Mbak Rere, dia sedang hamil, walaupun waktu itu Mas berpikir Mbak Rere cuma bercanda tapi harusnya Mas nggak perlu bicara seperti itu, Mas juga pergi padahal kalian berencana merayakan anniversary, pasti Mbak Rere juga lihat waktu Mas Lana dan Elara tampil satu panggung, Mbak Rere pasti makin hancur, percuma Mas Lana membuatnya percaya kalau pada akhirnya Mbak Rere diperlakukan seperti itu." Yana berkata dengan lembut takut menjadi sasaran kemarahan Kelana. Namun Yana harus terus terang bahwa dalam hal ini Kelana lah yang bersalah.


"Katanya orang hamil itu sensitif, Mbak Rere nggak mungkin pergi karena alasan sepele."


"Kamu benar Yana, aku salah besar karena sudah menyakiti Renjani."


"Jangan pikirkan betapa banyak pengorbanan Mas Lana buat Mbak Rere tapi pikirkan perasaannya saat Mas memperlakukannya seperti itu."


"Tinggalin aku sendiri."


"Saya mau bersihin ini dulu Mas."


"Tapi jangan berisik." Kelana melangkah keluar menuju balkon, ia butuh udara segar untuk menjernihkan pikirannya yang kalut.


Kelana salah fokus pada pot bunga dekat pagar pembatas balkon, tanahnya terlihat basah seperti baru saja disiram. Kelana menyentuh pinggiran pot tersebut.


"Besok kita tanam bibitnya."


"Tapi anniversary kita hari ini."


"Tolong jangan mempersulit ku, lagi pula sejak awal ini rencana kamu."


Bahu Kelana berguncang, ia mulai terisak mengingat dirinya telah mengatakan hal menyakitkan pada Renjani. Betapa Kelana ingin memeluk Renjani saat ini.


"Maafkan aku Re." Kelana menunduk dalam memeluk lututnya. Ia pantas mendapat hukuman seperti ini. Namun apakah sekarang Renjani baik-baik saja, Kelana harap begitu.


Renjani turun dari tempat tidur mendengar suara ketukan pintu di antara rintik hujan yang turun sejak semalam. Dengan mata masih setengah terpejam Renjani membuka pintu, selain malas bangun karena hujan yang membuai tidurnya, kepala Renjani juga terasa pusing. Ia lupa untuk minum tablet tambah darah yang dokter berikan kemarin.


"Maaf ya, saya khawatir kamu kenapa-napa soalnya belum keluar kamar dari kemarin." Tumi berdiri di depan pintu dengan wajah khawatir. Ia hanya ingin memastikan Renjani baik-baik saja.


"Nggak apa-apa Bi, saya terlalu lama tidur." Renjani tidur sejak sampai dan baru bangun siang ini. Durasi tidurnya jadi tidak teratur akhir-akhir ini.


"Sarapan dulu nih."


Pandangan Renjani turun pada nampan di tangan Tumi, terdapat satu mangkuk sup yang terlihat lezat, nasi dan air putih.


"Bi Tumi nggak perlu bawain saya sarapan, saya jadi nggak enak." Renjani hanya menyewa tempat tapi ia justru mendapat sarapan.


"Nggak apa-apa kebetulan saya masak banyak." Tumi meletakkan nampan tersebut di atas meja dekat pintu.


"Saya belum sempat beres-beres, jadi berantakan, maaf Bi." Renjani melihat kopernya yang dibiarkan terbuka di atas lantai. Kemarin Renjani hanya sempat ganti baju dengan piyama. Ia belum memindahkan pakaiannya ke dalam koper.


"Nggak apa-apa Re, ini kan kamar kamu, mau saya bantuin beres-beres?"


"Jangan Bi, Bi Tumi sudah bikinin saya sarapan, setelah ini saya beresin." Tolak Renjani sopan, ia tidak mau merepotkan Tumi lagi.


"Kamu sakit?" Tumi menyentuh kening Renjani dengan punggung tangannya. "Wajahmu pucat."


Untuk sesaat Renjani terkejut dengan perhatian Tumi tapi ia menggeleng, mungkin karena belum cuci muka ia terlihat pucat.


"Nggak apa-apa, jangan sungkan, saya bantuin ya?" Tumi senang jika Renjani membiarkannya membantu membereskan kamar, ini adalah pekerjannya setiap hari.


"Nggak apa-apa Bi?"


"Nggak apa-apa kan ini memang pekerjaan saya, kamu makan dulu gih."


"Makasih banyak ya, Bibi dan Paman sudah mengizinkan saya tinggal disini, sekarang dibuatin sarapan juga."


"Kami sudah menikah hampir 30 tahun dan tidak dikaruniai anak jadi setiap kali ada yang menyewa tempat ini saya senang karena kami jadi ada teman mengobrol begitupun dengan kedatangan kamu, kami senang." Ekspresi Tumi sama sekali tidak menunjukkan kesedihan, ia sudah berdamai dengan takdir.


"Kalau gitu saya akan tinggal lama disini." Renjani tersenyum seolah berusaha menghibur Tumi.


"Semoga masakan saya cocok di lidah kamu."


"Pasti cocok." Renjani menyuapkan sesendok penuh nasi dan sup ayam dan jagung yang masih hangat sangat pas dengan cuaca pagi ini. "Enak banget Bi." Pujinya setelah menghabiskan suapan pertama.


"Syukurlah kalau kamu suka." Tumi memungut bantal yang tergeletak di lantai lalu menyusunnya. Ia juga melipat selimut dan merapikan sprei.


Tumi tidak sengaja menemukan foto USG di atas tempat tidur Renjani. Ia membalikkan badan melihat Renjani yang tengah menikmati sarapannya.


"Kamu hamil?" Tanya Tumi.


Renjani hampir saja tersedak mendengar pertanyaan tersebut, ia menoleh pada Tumi. Tampaknya Renjani lupa menyimpan foto USG nya tapi lambat laut Tumi dan Edi pasti akan tahu. Tak ada gunanya Renjani menyembunyikan hal tersebut.


"Iya."


"Tapi kenapa kamu kesini sendiri?"


"Dia nggak mau menerima anak ini." Renjani sudah berusaha tegar tapi suaranya justru terdengar gemetar menahan tangis.


Tumi menghampiri Renjani dan memeluknya, pasti sangat menyakitkan karena Renjani harus melalui ini semuanya sendiri.


"Jangan takut, sekarang kamu nggak sendiri lagi, kami akan menemanimu."


Perhatian Tumi justru membuat Renjani tak kuasa menahan tangis, ia tidak pernah diperlakukan seperti ini bahkan oleh orangtuanya sendiri.


"Sudah-sudah jangan nangis, ibu hamil nggak baik nangis terus nanti bayinya ikut sedih." Tumi menghapus air mata Renjani dan memintanya melanjutkan sarapan.


Renjani bersyukur karena Tumi tidak bertanya lebih banyak tentang dirinya. Tumi lanjut membereskan kamar setelah Renjani berhenti menangis.


"Bi, saya lihat di depan jendela kamar ada pot kosong." Renjani ingat memiliki sisa bibit bunga Alyssum dan kebetulan melihat pot kosong di depan jendela kamarnya.


"Iya, kenapa Re?"


"Mau dipakai nggak Bi?"


"Enggak, kalau kamu mau pakai aja, di belakang juga masih banyak pot kosong."


"Makasih ya Bi." Renjani sumringah, untungnya ia menyelipkan bibit tersebut di tas nya. Renjani penasaran seperti apa bunga Alyssum ketika dilihat langsung karena sebelumnya ia hanya melihatnya di internet.


Setelah memasukkan semua pakaian ke dalam lemari, Renjani keluar membawa biji Alyssum untuk ia tanam. Edi meminjamkan beberapa alat yang Renjani butuhkan.


"Semoga kamu tumbuh ya." Gumam Renjani setelah selesai menanam semua biji bunga yang ia punya. "Kalian beruntung karena disini udaranya lebih bagus dari pada di balkon apartemen Kelana, jadi kalian harus tumbuh sehat."