Married by Accident

Married by Accident
Semoga baik-baik saja



Beberapa saat lalu, Harry yang tiba di Mall, sudah bertemu dengan sang ibu. Namun, ia disuruh untuk membelikan buku resep kue kering dan basah di toko buku yang ada di lantai satu. Jadi, ia pun pergi sendiri untuk membeli, sedangkan sang ibu masih berada di pusat perbelanjaan.


Besok lusa ada acara arisan keluarga dan sang ibu ingin membuat kue sendiri. Selain untuk mengisi kesibukan, juga ingin membawakan keluarga kue hasil buatan sendiri.


Saat Harry fokus mencari buku resep kue, tanpa sengaja ia melihat sosok wanita yang fokus memilih dan di sebelahnya ada bodyguard.


"Floe?" panggilnya yang kini melambaikan tangan dan tersenyum sambil menghampiri sosok wanita yang tengah memegang buku tentang kehamilan.


Sementara itu, Floe yang tadinya sudah memilih buku terakhir di tangan, seketika melihat ke arah sosok pria yang tidak disangkanya bisa bertemu di toko buku.


"Hei, kamu juga di sini? Cari buku apa?" Floe bertanya sambil menunjukkan buku tentang kehamilan. "Biar tidak kamu ejek seperti tadi."


Saat Harry ikut menunjukkan buku resep kue basah di tangan, ia juga menatap sinis sang bodyguard ketika seperti tidak suka padanya. "Sepertinya kita akan selalu kebetulan bertemu tanpa disengaja seperti ini, Floe."


"Baguslah jika kamu ada perkembangan untuk mencari tahu semua informasi mengenai kehamilan dengan membeli buku. Mamaku menyuruhku membeli ini. Padahal zaman sekarang tinggal pencet tombol di hp sudah datang semuanya, tapi malah memilih ribet membuat sendiri." Saat ia baru saja menutup mulut, melihat Floe tertawa dan berjalan menuju ke arah tumpukan buku resep.


"Itulah kaum wanita. Kalau mereka rajin, pasti lebih suka yang ribet dengan alasan akan bisa membuat yang lebih banyak dengan bahan sedikit. Kalau beli kan kadang tidak sesuai harapan dan jatuhnya lebih mahal serta lebih sedikit." Floe ingin berterima kasih pada Harry dengan cara membantu mencarikan buku resep kue.


Ia dulu sering membelikan sang ibu, jadi tahu mana saja buku resep yang komplit. "Yang ini saja lebih lengkap. Mommy juga punya beberapa koleksi buku resep, jadi aku tahu karena yang membelikan aku."


Saat Floe baru saja menyerahkan buku pilihannya, seketika menoleh ketika mendengar suara bariton Harry yang memanggil seseorang dan menatap ke arah depan. Refleks ia menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang membuat pria di hadapannya tersebut terkejut.


"Ze?" Harry yang tadinya hendak menerima buku dari Floe, mendengar lirih suara sang kekasih, jadi langsung mencari tahu dengan mencari dan di saat bersamaan melihat wanita itu keluar sambil tersenyum padanya bersama dengan Narnia.


"Sayang, kamu di sini juga? Kebetulan sekali. Aku tadinya ingin shopping sekalian makan di sini, tapi Narnia ingin membeli buku dulu. Jadi, sekalian aku juga membeli novel ini." Tadi Zeze yang diam-diam terus memperhatikan sang kekasih dengan anak baru, seketika merasa sangat lega karena apa yang dipikirkannya salah.


Sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk menampakkan diri dan membuatnya sekalian ingin menunjukkan kepada sosok anak baru itu jika Harry adalah miliknya. Berharap dengan begitu, tidak lagi punya niat untuk merebut kekasihnya.


"Wah kebetulan sekali," sahut Harry yang kini melihat sang kekasih serta Narnia membawa beberapa buku di tangan. Ia pun kembali menatap ke arah Floe. "Kenalin, ini pacarku dan temannya."


Floe yang dari tadi menatap ke arah dua wanita yang baru saja datang tersebut, bisa membaca jika mereka seperti tidak menyukainya. Meskipun bibir tersenyum padanya, tapi bisa tahu jika itu hanya sebuah kepalsuan semata.


Apalagi selama ini ia tahu bagaimana orang-orang yang selalu iri padanya selalu bersikap seperti itu. Manis di depan dan membicarakan buruk di belakang sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya.


Itu semua karena ia selalu berhasil membuat siapapun langsung akrab dengannya dan hal itu tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang.


Apalagi jika ia akrab dengan para pria, pasti membuat banyak wanita iri. Padahal ia sama sekali tidak punya perasaan apapun dan benar-benar hanya menganggapnya murni sebagai teman.


Hanya saja, ia terlalu bodoh ketika jatuh cinta pada seorang Rafadhan yang selalu bersikap manis padanya dan dianggap tulus, tapi ternyata hanya ingin morotin uangnya saja.


"Halo, aku Floe dan baru hari ini pindah ke kampus." Mengulurkan tangannya sambil tersenyum untuk melihat sampai di mana wanita itu berakting di depan Harry.


Sementara itu, Zeze langsung menjabat tangan yang menggantung di udara tersebut sambil tersenyum. "Aku Zeze. Senang bisa bertemu dengan anak baru yang menjadi trending topik di kampus hari ini."


Zeze pun melepaskan tangannya dan memberikan kode agar sahabatnya melakukan hal sama. Ia sebenarnya muak terus berada di hadapan wanita yang dianggap adalah seorang penggoda tersebut.


Hanya saja ia berakting di depan sang kekasih agar tidak membuat ilfil. Padahal ia merasakan tersiksa harus selalu bersikap menjadi orang lain karena tidak bisa marah atau pun menunjukkan kekesalannya.


"Halo, aku Narnia. Senang bisa bertemu istri tuan Erland yang menjadi idola para mahasiswi di kampus." Narnia yang baru saja melepaskan tangannya, kini bisa dengan jelas seperti apa sosok wanita yang membuat temannya resah.


Hingga ia pun kini mengakui jika anak baru di kampus itu memiliki kulit yang sehat tanpa ada satu pun noda di wajahnya, sedangkan ia saja sering berjerawat dan meninggalkan bekas hitam.


Sampai tidak percaya diri di depan para pria yang membuatnya sampai sekarang jomlo karena belum ada pria yang bisa menerima kekurangannya. "Apa aku boleh bertanya?"


Floe yang tadinya mengulas senyuman begitu nama Erland disebut, padahal aslinya ia kesal jika selalu dihubungkan dengan pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut.


Ia padahal ingin menjadi diri sendiri dan tidak dikaitkan dengan Erland, tapi sadar jika itu hanya mimpi semata dan akan selalu ada bayang-bayang pria itu karena kuliah di kampus yang sama.


"Tanya apa?" Sebenarnya ia sudah mulai lelah berdiri dan pusing, tapi masih mencoba untuk menguatkan diri karena ditanya.


"Kamu selama ini pakai skincare apa? Bisa glowing sebening kristal seperti itu, membuatku iri." Narnia yang saat ini menunjuk ke arah wajah putih mulus wanita di hadapannya, seketika membulatkan mata ketika pemandangan mengejutkan terjadi.


"Eh ... eh pingsan!" teriaknya yang kini melihat wanita di hadapannya terhubung ke belakang.


Dengan sigap Harry menahan tubuh Floe agar tidak terhempas ke lantai begitu melihat tatapan terkejut Narnia dan juga teriakannya.


"Floe?" seru Harry yang saat ini masih berusaha untuk menahan beban berat tubuh wanita yang tengah hamil itu.


"Nona Floe?" ucap pengawal yang merasa bersalah karena dari tadi membiarkan majikan berbicara terlalu lama hingga kecapean.


Ia khawatir sekaligus takut jika mendapatkan kemurkaan dari majikannya karena membiarkan wanita itu kelelahan saat membeli buku. Tadi ia pikir membiarkan mereka sedikit berbincang dan mengingatkan untuk pergi ke food court menunggu sang suami, tapi semuanya terlambat begitu istri majikannya hilang kesadaran.


Berbeda dengan Zeze yang merasa sangat marah sekaligus cemburu ketika sang kekasih bergerak menggendong Floe yang dianggapnya hanya sedang berpura-pura saja.


'Dasar rubah betina! Dia pasti hanya sedang berakting dengan memanfaatkan kehamilannya. Dasar wanita keganjenan! Pasti dari dulu dia mengincar para pria dengan menggunakan cara licik seperti ini,' gumam Zeze yang berjalan mengikuti sang kekasih ketika menggendong Floe keluar dari toko buku.


Harry yang tadinya langsung menggendong tubuh Floe, berniat untuk membaringkan di tempat yang tak jauh dari sana ada salah satu area beristirahat bagi para ibu hamil dan menyusui.


Pengawal yang tadi menitipkan buku-buku di tangannya ke meja kasir, tidak sempat membayar karena memilih untuk mengikuti ke mana pria itu pergi membawa majikannya.


Hingga suara dering ponsel miliknya terdengar dan langsung diangkat begitu mendapatkan telpon dari sang majikan yang ditebaknya sudah tiba di Mall.


Ia menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara bariton dari pria di seberang sana.


"Di mana kau? Aku sudah masuk ke Mall ini," ucap Erland yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari keberadaan Floe.


"Halo, Bos. Nona Floe pingsan dan sekarang akan dibawa ke tempat peristirahatan ibu hamil dan menyusui yang berada di sebelah toko buku," ucap pengawal dengan perasaan berdebar kencang.


Pengawal sudah menduga jika pria di seberang telepon yang terkejut itu pasti akan murka padanya dan membuatnya babak belur. Ia hanya menerimanya saja dan sadar tidak mungkin bisa menghindar atau pun membela diri.


"Apa? Pingsan? Dasar bodoh!" sarkas Erland yang langsung berjalan cepat menuju ke arah yang disebutkan.


Kebetulan ia tadi mengecek terlebih dulu sebelum pergi ke food court di lantai paling atas. Jadi, sekarang langsung pergi ke sana untuk melihat keadaan Floe.


Beberapa saat kemudian ia sudah tiba di tempat yang tentu saja hanya ada para wanita hamil dan menyusui tersebut. Tanpa pikir panjang langsung masuk ke dalam setelah mengatakan jika merupakan istri dari wanita yang tengah pingsan di dalam dan menyuruh pengawal yang baru saja ditemuinya tersebut tetap di depan sana.


"Floe?" seru Erland yang kini melihat sosok pria tak lain adalah mahasiswa paling populer di kampus dan itu diketahui dari sahabatnya tadi yang dimarahinya lewat telpon.


"Kau? Keluar kau! Ini area wanita! Apa kau tidak lihat?" sarkas Erland yang kini makin bertambah kesal sekaligus bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan pria itu di Mall.


Meskipun ada banyak pertanyaan di otaknya, tapi tidak mungkin menginterogasinya saat Floe masih dalam keadaan tidak sadar dan membuatnya khawatir.


Sementara itu, Harry yang tadinya baru membaringkan tubuh Floe di salah satu bangku panjang yang dilapisi spon, jadi sangat nyaman untuk ditempati, tapi ia tidak ingin menanggapi dan memilih berjalan keluar.


Berbeda dengan Zeze dan Narnia yang masih di sana karena tidak ada yang salah jika tidak pergi.


Selain itu, Zeze ingin membersihkan nama baik kekasihnya yang sudah repot menolong tadi. "Maaf, Tuan Erland. Tadi kekasih saya yang menggendong istri Anda dan membawanya ke sini. Dia tidak bermaksud apa-apa karena tulus ingin menolong."


Erland yang kini berusaha untuk membangunkan Floe dengan cara memberikan minyak pada bagian pelipis dan bawah hidung karena tadi di berikan oleh salah satu wanita yang tengah hamil di sebelahnya.


Refleks ia menoleh ke arah jasa wanita yang seperti ini tidak terima jika kekasihnya mendapatkan tatapan tajam darinya.


"Oh ... kamu adalah salah satu mahasiswi terpopuler di kampus, kan? Jadi, dia pacarmu? Baguslah. Kalian adalah pasangan serasi di kampus. Kalau begitu, terima kasih dan sampaikan pada kekasihmu. Sekarang aku ada di sini dan kalian boleh pergi. Biar aku yang mengurus istriku," ucap Erland yang hanya menulis sekilas dan kembali menatap ke arah Floe.


Zeze yang saat ini merasa sangat senang atas pujian pria itu, seketika membungkuk hormat sebelum pergi. "Terima kasih atas pujiannya, Tuan Erland. Kalau begitu saya pergi dan akan menyampaikan terima kasih Anda pada Harry."


"Semoga istri Anda baik-baik saja," ucap Zeze yang saat ini mengajak sahabatnya untuk keluar dari ruangan yang cukup luas tersebut.


Kebetulan tidak banyak orang di dalamnya karena memang ini bukanlah hari libur. 'Sebenarnya aku ingin sekali menanyakan tentang kehamilannya, tapi sepertinya waktunya tidak tepat dan malah hanya akan membuat pria itu kesal.'


'Sepertinya Harry sudah mengetahui kehamilan anak baru itu karena sama sekali tidak terkejut ketika bertemu di toko saat mencari buku kehamilan,' gumamnya di dalam hati dan kini melihat sang kekasih tengah menelpon ibunya.


"Sayang!" panggilnya agar ia bisa terus bersama dengan sang kekasih dan ikut berbelanja bersama calon mertua.


Berharap suaranya didengar oleh ibu dari Harry, jadi akan sekalian diajak. Apalagi selama ini sudah dekat dengan wanita paruh baya yang dianggap seperti ibu kandungnya sendiri.


"Sebentar lagi aku akan ke sana, Ma." Kemudian Harry mematikan sambungan telepon sebelum sang ibu berbicara.


Ia tidak ingin sang ibu terlalu lama menunggu, sehingga mengatakan jika ia baru saja menolong temannya yang pingsan. Kini, ia menatap ke arah sang kekasih setelah memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana.


"Apa Floe masih belum sadar juga?" tanya Harry yang sekilas melirik ke arah bagian pintu.


Usaha yang dianggapnya sia-sia karena tidak bisa berbicara dengan calon mertua di telepon, tapi malah ditanya mengenai sosok wanita yang membuatnya cemburu, tentu saja membuat Zeze sangat kesal.


Namun, seperti biasa berakting menjadi orang lain dan hanya menganggukkan kepala sambil menahan amarah yang membuncah di dalam hati.


"Sudah ada suaminya yang mengurus. Mungkin sebentar lagi akan sadar karena sudah diolesi minyak yang diberikan oleh wanita hamil tadi. Oh iya, mamamu sekarang di mana? Aku ingin sekalian menyapanya, mumpung berada di sini," ucap Zeze yang saat ini berharap bisa menghabiskan waktu bersama dengan kekasih serta calon mertuanya.


Namun, wajahnya seketika berubah memerah karena kesal ketika usahanya tidak berhasil.


"Mama hari ini banyak belanja. Aku tidak ingin kamu repot. Lebih baik lanjutkan rencanamu untuk pergi berbelanja bersama dengan Narnia. Aku kembali ke toko buku dulu dan menemui mamaku untuk membantu membawakan barang belanjaannya." Kemudian Harry melambaikan tangan saat melangkah pergi.


Ia sebenarnya saat ini ingin mengetahui keadaan Floe karena sangat khawatir jika terjadi sesuatu hal yang hal yang buruk pada kandungannya. Apalagi mempunyai pengalaman buruk dulu saat sepupunya keguguran dan melihat sendiri bagaimana semuanya terjadi.


Namun, tidak mungkin menunggu sampai Floe sadar dari pingsan karena mengetahui jika seorang Erland sangat tidak menyukainya.


"Semoga Floe dan bayinya baik-baik saja," lirih Harry yang kini mengambil buku pesanan sang ibu tadi dan langsung membayar ke kasir.


Ia akan bisa melihat tumpukan buku kehamilan yang tadi dipilih oleh Floe. "Sekalian buku-buku itu, Mbak. Biar saya memberikan pada orang yang membelinya tadi."


"Baik, Mas," ucap sang kasir kini sudah mulai menotal semuanya.


To be continued...