Married by Accident

Married by Accident
Kekerasan tidak menyelesaikan masalah



Harry yang baru saja selesai mengurus pendaftaran, masih menunggu di depan ruang IGD. Hingga saat ia baru beberapa menit duduk, melihat perawat datang menghampirinya dengan wajah yang diduganya membawa kabar buruk.


'Ya Allah, apa janinnya tidak bisa diselamatkan?' gumam Harry yang langsung berdiri dari kursi dan menunggu hingga perawat berbicara.


"Apa pihak keluarga dari pasien belum datang?" tanya sang perawat sambil menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada siapa-siapa di samping pria yang diketahuinya adalah teman kampus pasien.


Harry yang kini menatap ke arah jam tangan miliknya, merasa jika ibu Floe sudah ditelpon dari tadi, tapi sampai sekarang pun belum kunjung datang.


"Mungkin terjebak macet, Suster. Tadi katanya langsung berangkat ke sini begitu saya telpon. Memangnya apa yang terjadi pada ibu dan janinnya?" Ia menunggu dengan perasaan berkecamuk karena tidak tega pada Floe jika pemikirannya benar.


Apalagi ia bukan pertama kali menghadapi situasi seperti itu dan mengerti apa yang terjadi pada Floe dan janinnya.


Meskipun berat hati menyampaikan, tetap saja ia mengatakan apa yang tadi dijelaskan oleh dokter. "Karena sudah terjadi perdarahan dan kehamilan sudah tidak bisa dipertahankan, maka janin perlu dikeluarkan, supaya perdarahan bisa berhenti dan komplikasi bisa terhindarkan."


"Dokter bilang untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan prosedur kuret. Tadi sudah dipastikan oleh dokter melalui pemeriksaan USG. Pada kondisi ini, prosedur kuretase dibutuhkan karena ada jaringan yang tertinggal di dalam rahim." Tentu saja ia paham dengan kebingungan dari pria yang terlihat masih muda dan pasti bingung mendengar penjelasannya.


Namun, karena memang hanya ada satu orang yang datang dengan pasien, mau tidak mau harus mengatakan pada pria muda itu. "Jadi, kami membutuhkan persetujuan dari pihak keluarga sebelum dilakukan kuratase."


Seperti mengulang kejadian yang paling ia tidak sukai karena mengingat bagaimana sepupunya menangis tersedu-sedu kala mendengar penjelasan dari dokter, Harry berpikir jika Floe juga akan demikian.


Apalagi dulu ia mendengar penjelasan secara langsung dari dokter mengenai keguguran tidak lengkap yang disebut incomplete miscarriage. Merupakan keguguran yang masih menyisakan sebagian jaringan di dalam rahim.


Kondisi itu tentunya memerlukan kuratase karena sisa jaringan janin yang belum keluar bisa merangsang terjadinya perdarahan terus-menerus. Bahkan, juga bisa menyebabkan infeksi rahim.


"Lakukan yang terbaik untuk pasien. Nanti saya akan langsung meminta pihak keluarga menandatangani surat persetujuan setelah tiba. Yang penting, Floe selamat karena janinnya sudah tidak bisa diselamatkan," ucap Harry yang kini seketika menoleh ke arah pria paruh baya dengan postur tinggi besar.


"Selamatkan putriku karena janinnya sama sekali tidak penting! Kami dari dulu sama sekali tidak menginginkannya dan ini jauh lebih baik." Hugo Madison yang baru saja datang dengan naik ojek online karena tadi terjebak macet, sudah yakin jika sang istri belum tiba.


Jadi, begitu mendengar perkataan dari pria muda yang menyebut nama putrinya, langsung mendekat dan mengungkapkan apa yang ada di otaknya. Ada rasa lega meskipun sedikit sedih karena putrinya keguguran.


Sang perawat yang kini melihat pria paruh baya tersebut, seketika menganggukkan kepala dan merasa lega karena akhirnya pihak keluarga ada yang sudah datang.


"Baik, Tuan. Silakan Anda menandatangani surat pernyataan sebelum dilakukan proses kuratase agar tidak terjadi infeksi rahim. Jadi, agar rahim bersih dari jaringan janin yang mungkin tersisa." Kemudian ia berlalu pergi untuk mengatakan pada dokter yang masih menangani pasien.


Hugo Madison yang saat ini tengah menatap kepergian perawat setelah tadi mengiyakan perintah, sekilas menoleh ke arah sosok pria muda yang sama sekali tidak pernah dilihatnya.


"Kau siapa, Anak muda?" Ia mengamati penampilan pria yang diperkirakan sebaya dengan putrinya.


Mulai dari sepatu dengan merk terkenal dan semua outfit yang dikenakan bukanlah barang-barang murah dan yakin jika pria di hadapannya berasal dari keluarga berada.


Berbeda saat ia pertama kali bertemu dengan pria bernama Bagas yang disuruh putrinya untuk mengaku ayah dari janin di kandungan Floe. Semuanya biasa dan tentu saja sangat berbeda dari sosok pria di hadapannya tersebut.


Kemudian ia menjelaskan tentang semua yang terjadi. Hingga membuat Floe mengalami pendarahan dengan raut wajah penuh penyesalan karena dipenuhi oleh rasa bersalah.


"Maaf, Om karena mungkin tadi terlalu kuat menarik Floe hingga mengalami pendarahan. Jadi, janinnya tidak bisa diselamatkan." Sebenarnya ia tadi merasa heran sekaligus bingung kala mengetahui respon pria paruh baya itu yang jelas-jelas mengatakan tidak menginginkan cucunya.


Namun, tidak ingin mempertanyakan karena merupakan masalah intern keluarga. Hanya saja ia makin yakin jika kehamilan Floe memang tidak diinginkan.


Hugo Madison kini menepuk pundak pria di hadapannya. "Justru aku sangat berterima kasih padamu karena berkatmu, putriku selamat. Aku berhutang budi padamu. Terima kasih, Nak Harry."


"Mengalami keguguran merupakan mimpi buruk bagi setiap wanita yang tengah mendambakan kehadiran buah hati, tapi putriku dari awal memang tidak menginginkannya dan mungkin ini sudah jadi jalannya. Kamu tunggu di sini, aku akan meminta surat pernyataan dulu di dalam."


Saat ia baru saja melangkah, mendengar suara bariton dari sosok pria yang sangat dihafalnya karena sama sekali tidak menyukainya.


"Apa Floe dan anakku baik-baik saja, Dad?" Erland yang tadi mengebut mengendarai motor sport miliknya, sehingga bisa segera sampai di Rumah Sakit.


Sepanjang perjalanan ia dipenuhi oleh kekhawatiran pada Floe dan calon anaknya, sehingga begitu melihat siluet pria paruh baya di hadapannya, ingin segera mengetahui semuanya.


Hugo Madison seketika berbalik badan dan langsung mengepalkan kedua tangannya. "Dasar bajingan tengik!"


Sambil mengumpat, ia langsung menghambur ke arah Erland dan meninju wajah menantunya karena membiarkan putrinya pulang naik taksi sendiri saat hamil muda.


"Aku akan memberimu pelajaran karena telah membuat putriku hampir kehilangan nyawanya!" teriak Hugo Madison tanpa memperdulikan tatapan dari orang-orang yang ada di area luar Rumah Sakit.


Erland yang tidak sempat menghindar dari pukulan tiba-tiba mertuanya, merasakan nyeri pada wajah serta bibir sebelah kiri yang diusap dengan ibu jarinya karena robek dan mengeluarkan darah.


"Apa maksud Daddy?" Erland yang baru saja menutup mulut, menoleh ke arah kanan ketika mendengar suara dari ibu mertuanya.


"Apa yang kau lakukan? Ini Rumah Sakit, bukan ring tinju! Apa harus memakai cara kekerasan seperti ini tidak menyelesaikan masalah?" umpat wanita paruh baya yang tadinya membulatkan mata begitu melihat sang suami meninju wajah menantunya.


"Ada apa, Jeng?" Ibu Erland yang baru saja tiba, dihadapkan pada situasi yang membuatnya tadi merasa khawatir sepanjang perjalanan naik ojek online.


Ia bahkan melihat putranya yang lebam dan langsung menghampiri karena tidak tega meskipun sadar jika itu adalah kesalahan Erland membiarkan Floe pulang naik taksi.


To be continued...


Coba komennya untuk visual Floe cocok nggak kira-kira. Ini foto Author yang pakai filter 🤭