
Beberapa kali sang ibu menggelengkan kepala untuk tidak membenarkan perkataan putrinya yang menyalahkan diri sendiri.
"Tidak, Sayang. Jangan bicara seperti itu. Seperti yang dikatakan oleh Daddy, jika semuanya adalah takdir dari Tuhan yang harus diterima. Jadi, jangan terus-menerus menyalahkan dirimu sendiri karena kamu sama sekali tidak bersalah dalam hal ini."
"Ini adalah jalan terbaik dari-Nya." Lestari Juwita yang masih memeluk erat putrinya dan juga sekaligus merasakan pelukan dari sang suami yang berusaha untuk menenangkan mereka.
Ia bahkan sudah tidak bisa lagi menahan boleh kesedihan yang kini mengalir deras dari bola matanya hingga membasahi wajahnya karena tidak tega melihat putrinya yang menangis tersedu-sedu dan juga sesenggukan hingga tubuhnya bergetar.
Sebagai seorang wanita yang bisa mengerti perasaan putrinya, membuatnya tidak melepaskan pelukan. Berharap bisa sedikit menenangkan perasaan hancur putrinya karena kehilangan janin yang sudah bisa diterima.
Sementara itu, Floe masih belum bisa menenangkan perasaannya yang hancur karena dalam waktu yang bersamaan kehilangan janin serta harapan untuk bisa memupuk cintanya pada sosok pria yang sama sekali tidak menginginkannya karena lebih memilih sang kekasih.
Ia sengaja meluapkan semuanya dengan cara meledakkan seluruh keluh kesah berupa tangisan agar perasaannya jauh lebih baik. Menyadari jika menahan perasaannya tidak akan membuatnya baik-baik saja.
Jadi, sengaja ia menumpahkan semuanya hari ini agar esok hari sudah jauh lebih tenang dan melupakan semua penyesalan serta rasa sesak yang membuatnya seperti kesulitan bernapas.
"Apa anakku akan memaafkanku karena tidak menjaganya hingga tidak bisa dilahirkan ke dunia, Mom, Dad?" Masih dengan suara serak dan bergetar, ia bertanya tanpa memperdulikan bulir air mata yang menghiasi wajahnya saat ini.
Tidak tega melihat wajah sembab putrinya, Lestari Juwita kini menarik diri dan melepaskan pelukannya. Kemudian menghapus bulir air mata di wajah putrinya dengan ibu jari.
"Kelak kalian akan bertemu di surga dan Mommy yakin jika anakmu akan menyambutmu dengan senyuman dan tidak akan pernah menyalahkan karena mengerti jika semua yang terjadi merupakan jalan terbaik dari Tuhan. Percayalah pada Mommy karena kita hanyalah pelakon yang mengikuti skenario dari penciptanya." Ia merasa yakin jika badai kehidupan yang terjadi dalam keluarganya akan berganti dengan cuaca cerah suatu saat nanti.
Berharap putrinya tidak terus-menerus berpikir bahwa semua kesedihan akan dirasakan karena akan ada pelangi setelah hujan dan saat itu terjadi, ia ingin menjadi orang pertama yang mengetahuinya.
"Sayang, saat kamu suatu saat nanti menemukan kebahagiaan, semua kejadian penuh kesedihan hari ini akan menjadi momen paling bermakna yang mendewasakanmu dari ujian Tuhan." Hugo Madison yang kini menyambung perkataan dari sang istri dengan mengusap lembut punggung tangan putrinya untuk menyalurkan aura positif.
Berharap semua kesedihan hari ini akan berganti sebuah kebahagiaan suatu saat nanti. Meskipun ia tahu jika semuanya membutuhkan waktu dan tidak mudah untuk mengikhlaskan. Itu karena semua tidak semudah membalikkan telapak tangan.
"Ikhlas memang tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan, Sayang, tapi Daddy yakin jika waktu akan menjadi penyembuh yang paling mustajab untukmu." Lestari Juwita kini juga menghapus bulir air mata yang menghiasi wajahnya agar putrinya tidak melanjutkan tangisannya.
Ia saat ini berusaha untuk mengalihkan perhatian dari putrinya agar tidak terus mengingat tentang janin yang sudah kembali pada sang pencipta. "Hikmah dibalik kejadian hari ini adalah kamu masih bisa bernapas sampai sekarang karena ada Harry yang menolongmu."
"Kamu ingatkan apa yang dilakukannya? Meskipun harus mengorbankan janinmu, tapi Mommy yakin jika anakmu tidak akan menyesal dan berbahagia karena kamu masih hidup sampai sekarang." Ia masih diam karena ingin melihat reaksi dari putrinya ketika mengalihkan perhatian.
Hingga suara bariton dari sang suami kini seolah mendukungnya dengan membahas tentang pria yang merupakan teman satu kelas putrinya yang menjadi dewa penolong hari ini.
"Iya, Daddy tadi sudah mengucapkan terima kasih pada temanmu itu karena telah menyelamatkanmu dari maut. Bahkan sudah menyuruh orang untuk mengurus sopir yang ceroboh karena hampir saja membuatnya mampu melayang karena kendaraan yang dikemudikan mengalami rem blong."
Meskipun ia menganggap bahwa hikmah dari kejadian itu adalah bisa memisahkan putrinya dari putra musuh besarnya, tidak mungkin ia mengatakan jika diam-diam merasa sangat senang.
Bahwa pada kenyataannya memang dari dulu tidak pernah menyukai putra dari musuh besarnya itu menjadi menantu serta keluarga Felix menjadi besannya.
Floe yang tadinya merasa berdosa karena tidak berhasil menjaga calon anaknya dan juga memikirkan Erland yang telah pergi jauh darinya, mengingat kejadian yang membuatnya hampir saja ditabrak oleh truk ketika hendak masuk ke dalam taksi.
"Ya, aku ingat semuanya. Entah mengapa aku selalu bertemu dengan Harry di manapun berada. Mungkin jika hari ini tidak ada dia, aku sudah dikuburkan bersama dengan anakku." Floe saat ini mengingat teman kampusnya selalu menjadi orang pertama yang mengetahui hal buruk dialaminya.
Meskipun selama ini selalu berpikir jika semua yang terjadi adalah sebuah kebetulan, tetap saja merasa heran karena selalu saja ada Harry yang melihatnya ketika berada dalam posisi tidak baik-baik saja.
Hingga murka pada teman kampusnya tersebut ketika tadi hendak menghubungi Erland dan saat ini ingin bertanya pada orang tuanya. "Apa dia tadi lama berada di sini? Atau langsung pulang setelah mengantarku ke rumah sakit?"
Saat sang ibu ingin membuka suara untuk menceritakan semuanya, tidak jadi melakukannya karena sudah dipotong terlebih dulu oleh sang suami yang terlihat sangat bersemangat ketika menceritakan mengenai teman kampus putrinya tersebut.
Hugo Madison yang dari awal sangat menyukai pria bernama Harry itu, langsung menceritakan semua hal yang terjadi hari ini dan juga mengetahui tentang kemurkaannya pada Erland.
"Sekarang kamu tidak perlu merahasiakan tentang semuanya pada Harry karena dia sudah mengetahui semua hal yang terjadi padamu. Bahwa kamu terpaksa menikah karena kecelakaan dengan Erland saat mabuk. Daddy sudah meminta tolong untuk menjagamu di kampus karena percaya bahwa dia adalah anak yang baik." Saat ia baru saja selesai menceritakan semua yang terjadi hari ini, masih belum berani untuk mengungkit tentang perceraian.
Berpikir bahwa saatnya belum tepat karena putrinya masih sedang dirundung duka, jadi menunggu waktu setelah Floe jauh lebih tenang.
Berharap jika putrinya terlebih dahulu mengobati luka hati saat kehilangan janinnya, baru akan membahas tentang perceraian yang akan diserahkan pada pihak pengacara keluarga Madison.
Floe tadinya menjadi pendengar yang baik saat sang ayah bercerita, kini mencium bau-bau perjodohan karena merasa yakin jika Harry dianggap adalah pria yang tepat untuknya. Tidak ingin ada kesalahpahaman serta harapan semu dari orang tuanya, sehingga mengatakan hal yang sebenarnya mengenai hubungannya dengan Harry yang murni berteman.
"Dad, Harry sudah mempunyai seorang kekasih di kampus yang sama-sama cerdas dan menjadi pasangan paling serasi serta menjadi duta di universitas. Jadi, jangan berpikir untuk membuatku dekat dengannya karena kami hanya sebatas teman satu kelas saja."
Buru-buru Lestari Juwita langsung mengambil air mineral dan memberikan straw untuk memudahkan putrinya minum. Meskipun sebenarnya jauh di dalam hati merasa sangat kecewa karena ternyata pria yang dianggap sangat cocok untuk putrinya, ternyata sudah memiliki pasangan.
"Pelan-pelan, Sayang." Masih memegangi botol air mineral yang saat ini digunakan untuk minum putrinya.
Floe yang saat ini meneguk minuman sedikit demi sedikit, tentu saja bisa melihat raut wajah kekecewaan dari orang tuanya.
'Ini jauh lebih baik karena tidak mungkin aku membiarkan kesalahpahaman berlarut-larut. Aku dan Harry akan selamanya berteman dan tidak akan ada hal lebih selain itu. Apalagi mereka adalah pasangan serasi di kampus. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga dan dibenci oleh semua orang jika sampai ada gosip tentang kami,' gumam Floe yang saat ini baru saja selesai meneguk minuman.
Hingga suasana ruangan yang tadinya dipenuhi oleh tangisan menyayat hati darinya, sekarang berubah hening. Seolah semua orang tengah sibuk memikirkan tentang nasib Floe masih belum ada gambaran mendapatkan pasangan yang bisa mencintainya dengan tulus.
"Sayang sekali. Mommy pikir dia masih jomlo, makanya tadi menyuruh untuk sering main ke rumah dan dia berjanji akan datang. Harry tidak salah karena memang kami tidak menanyakan apakah dia memiliki seorang kekasih atau belum." Lestari Juwita melirik ke arah sang suami yang juga sama kecewa sepertinya.
Hugo Madison saat ini merasa gagal untuk mencari pria pengganti yang bisa mengobati luka hati putrinya. Jadi, ia merasa bingung dan tidak bisa berkata-kata lagi. "Ya, dia memang tidak salah."
Floe yang saat ini merasa risi dengan wajahnya yang masih dihiasi oleh bulir air mata, kini mengusap dengan punggung tangannya. Kemudian beralih menatap ke arah orang tuanya yang terlihat seperti tidak bersemangat.
"Daddy dan Mommy tidak perlu berusaha untuk mencarikan aku pria yang menggantikan Erland. Aku baik-baik saja dan sudah sedikit lega setelah meluapkan semuanya dengan cara menangis. Aku memang masih belum bisa melupakan kesedihan karena kehilangan anakku, tapi akan berusaha untuk menerimanya dengan ikhlas." Mengingat bahwa perkataan dari sang ayah memang benar adanya.
Ia tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan dan membuat orang tuanya merasa khawatir, sehingga saat ini berakting tersenyum di depan mereka. "Daddy dan Mommy tidak perlu kuatir karena aku akan bahagia saat tiba masanya."
"Putrimu yang cantik ini tidak mungkin tidak laku, kan? Tapi aku tidak akan pernah memaksakan perasaan orang lain untuk tetap stay bersamaku begitu menyadari jika sudah tidak ingin bersamaku. Aku memilih pergi karena sadar diri setelah melihat perubahan sikap Erland." Floe tidak ingin membuat sang ayah merasa bersalah padanya karena sudah mendengar perkataan dari orang tuanya tadi saat belum membuka mata.
"Jadi, lebih baik kami berpisah karena memang sudah tidak ada yang perlu dipertahankan. Daddy, tolong bantu aku urus semuanya untuk menggugat cerai Erland. Dia sangat mencintai kekasihnya dan tidak ada yang salah dengan itu karena memang pernikahan kami terjadi atas dasar terpaksa."
"Dia berhak bahagia bersama cinta sejatinya." Meski saat ini dadanya bergemuruh hebat dan rasa sesak seperti mencekiknya hingga kesulitan bernapas, Floe masih berusaha untuk berakting tersenyum.
Khususnya di depan orang tuanya yang merasa bersalah padanya, padahal ia tahu jika mereka melakukan itu demi kebaikannya karena sangat menyayanginya. Jadi, sengaja mengatakan itu dan berharap hubungannya segera selesai dengan Erland.
'Akhirnya aku membebaskanmu, Erland. Kamu bebas bersama dengan Marcella sekarang. Berbahagialah dengan pilihanmu dan aku memilih mundur dengan melupakan perasaanku padamu. Meskipun berat, tapi semoga aku bisa memusnahkan rasa yang baru tumbuh ini agar tidak makin berkembang,' gumam Floe yang saat ini melihat sosok sang ayah berubah bersemangat.
"Ya, kamu benar, Sayang. Lebih baik hubungan yang seharusnya tidak terjadi ini segera diakhiri. Itu adalah jalan yang terbaik untuk kalian karena memang semua yang berawal dari kesalahan tidak akan pernah bertahan. Apalagi ...." Hugo Madison yang tadinya berniat untuk menceritakan mengenai Erland yang saat ini mungkin sudah berada di dalam pesawat menuju ke London, tidak jadi melakukannya.
Ia khawatir jika perasaan putrinya yang sudah jauh lebih baik akan kembali terluka. "Sebentar, Daddy tiba-tiba sakit perut."
Dengan berarti meringis menahan sakit dengan cara memegang perutnya agar putrinya tidak merasa curiga karena tadi tidak melanjutkan perkataannya, sehingga buru-buru berbalik badan dan berjalan ke arah kamar mandi yang berada di sebelah kiri ruangan.
Sementara itu, Lestari Juwita merasa sangat lega karena tadinya ia hendak menghentikan sang suami agar tidak membahas mengenai Erland yang hendak pergi ke London.
'Untung saja suamiku tidak keceplosan karena jika sampai putriku yang saat ini sudah jauh lebih baik malah akan bertambah sedih jika membahas tentang Erland yang tidak mengurungkan niat untuk pergi ke London saat Floe keguguran.'
Floe berpura-pura untuk tidak mengerti dengan membahas masalah perkataan dari sang ayah, sehingga kini menatap ke arah sang ibu yang terlihat seperti memikirkan sesuatu dan ia tahu apa itu. Namun, laki-laki berakting seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun.
"Daddy tadi makan apa, Mom? Kenapa bisa sampai sakit perut? Kalau perlu, sekalian periksa saja di IGD agar mendapatkan penanganan." Ia sambil berusaha menggerakkan tubuhnya untuk memastikan bahwa efek obat bius sudah hilang.
"Entahlah. Mungkin tadi siang makan di restoran yang tidak higienis. Makanya jadi sakit perut. Nanti Mommy akan tanya daddy-mu dulu. Apakah masih sakit perut atau tidak setelah keluar dari kamar mandi." Kemudian ia meraih telapak tangan putrinya karena ingin menyampaikan sesuatu yang dari tadi mengganggunya.
"Sayang, lupakan semua kejadian buruk yang kamu lalui. Anggap masa lalu menjadi pendewasaan diri agar kedepannya bisa menjadi orang yang jauh lebih baik dari sekarang. Percayalah, suatu saat nanti kamu akan menemukan seorang pria yang sangat mencintaimu dan menjadikanmu ratu di dalam kehidupannya." Ia sebenarnya tidak tega ketika mengungkapkan hal itu.
Hanya saja, tidak ingin putrinya terus memendam perasaan pada pria yang sama sekali tidak mencintainya karena sebagai seorang ibu yang sudah mengandung selama 9 bulan lebih dan juga membesarkan putrinya, bisa mengerti jika Floe memiliki sebersit perasaan pada Erland.
Floe saat ini berpura-pura tersenyum dan menganggukkan kepala sambil terkekeh dan menepuk punggung tangan sang ibu untuk menenangkan agar tidak khawatir berlebihan padanya.
"Iya, Mom. Aku tahu jika Tuhan sudah mengatur jodohku semenjak belum dilahirkan. Masa, putrimu yang secantik ini tidak punya jodoh. Saat nanti aku menemukannya, Mommy akan menjadi orang pertama yang mengetahuinya." Meski di dalam hati merasa ragu karena tidak yakin apakah ia berhak dicintai karena selalu gagal dalam percintaan, tetap saja berakting seperti layaknya seorang wanita yang percaya diri.
'Tuhan, jika aku diizinkan untuk jatuh cinta lagi, izinkan aku mencintai orang yang bisa kumiliki dan kami bisa bersatu karena sama-sama takut kehilangan satu sama lain,' gumam Floe yang hanya bisa mengungkapkan keluh kesahnya di dalam hati saat merasa tidak pantas mendapatkan cinta dari siapapun.
Ia saat ini seolah tidak percaya lagi dengan cinta yang hanya menyisakan luka mendalam di hati dan menganggap bahwa dirinya tidak berhak untuk hidup berbahagia.
To be continued...