
"Dalam mitologi Yunani, Paeon sukses menyembuhkan Pluto dan membuat Aesculapius cemburu sehingga ingin membunuhnya. Untuk menyelamatkan Paeon dan sebagai bentuk belas kasihan, akhirnya Pluto mengubahnya jadi bunga peony."
Renjani melirik Kelana, mereka berada di tengah hamparan bunga peony merah muda yang sedang mekar-mekarnya. Renjani baru tahu ada tempat seindah ini di Bandung. Renjani pernah dengar jika peony tidak mudah tumbuh di daerah tropis. Itu salah satu yang membuat peony mahal.
"Jadi peony itu melambangkan kasih sayang?" Renjani menanggapi cerita Kelana tentang mitos bunga peony. Ia setuju jika bunga itu melambangkan kasih sayang karena bentuknya memang cantik. Menurutnya peony lebih indah dari mawar. Mungkin itu yang membuat para pengantin membawa bunga peony di hari bahagianya. Renjani jadi mengingat hari pernikahannya dengan Kelana, bunga apakah yang ia bawa saat itu.
Kelana mengangguk pelan, ia menarik tangan Renjani melewati hamparan bunga peony yang tidak terlalu menyengat justru menyegarkan.
"Ini tempat terindah yang pernah aku kunjungi." Renjani merentangkan tangan merasakan hembusan angin yang bertiup lembut menerpa tubuhnya. Ini adalah tempat terbaik untuk mengistirahatkan diri dari kesibukan pekerjaan.
"Mungkin karena ada aku."
"Dih PD banget." Renjani mencibir walaupun itu tidak sepenuhnya salah. Percayalah meski menggunakan armsling, Kelana sama sekali tidak kehilangan kharismanya. Renjani bisa mengerti mengapa para fans selalu berteriak heboh saat Kelana muncul. Pesona Kelana memang luar biasa.
Setelahnya mereka terdiam, menikmati pemandangan indah itu. Tidak sia-sia mereka bangun pagi untuk pergi kesini bahkan melewatkan sarapan.
"Jadi Mama Karalyn pernah ngajak kamu kesini?"
"Dulu Mama pernah ngajak aku ke taman bunga Azalea tapi sekarang tempat itu berubah jadi taman hiburan."
Bicara soal taman hiburan, tempat selanjutnya yang akan mereka kunjungi adalah taman hiburan tak jauh dari situ. Namun sebelum itu Kelana mengajak Renjani makan. Kelana melihat warung bubur ayam sebelum masuk kesini.
"Engkau adalah pendar dalam hati yang gelap." Renjani menyanyikan satu baris lagu Renjani yang memancing senyum Kelana meski suaranya tak semerdu Kelana tentu saja.
"Kamu hafal?"
"Aku hafal sejak pertama kali dengar." Renjani bangga.
"Oh ya? aku nggak tahu kalau kamu punya ingatan yang bagus."
"Makasih udah ajak aku kesini." Renjani mengecup dagu Kelana singkat, ia ingin mencium bagian lain tapi tubuhnya yang kerdil ini tak sampai. Atau Kelana yang terlalu tinggi. Lihatlah ia menjulang seperti tiang bendera.
Senyum Kelana semakin lebar, ia mengambil satu tangkai peony yang sudah disediakan oleh pihak taman lalu memberikannya pada Renjani.
"Wah, terimakasih." Renjani sering mendapat bunga sejak menikah dengan Kelana, para penggemar tak hanya memberikan bunga pada Kelana tapi Renjani pun dapat. Namun bunga dari Kelana tentu lebih spesial karena dipetik langsung dari pohonnya.
Mereka yang perlu berjalan kaki 5 menit untuk sampai ke warung bubur ayam. Kelana langsung memesan dua porsi bubur ayam dengan tambahan sate jeroan kesukaan Renjani.
Renjani melahap sate usus lebih dulu sambil menunggu bubur mereka datang. Perut Renjani sudah keroncongan, ia bisa makan apapun yang ada di hadapannya saat ini.
"Kamu nggak mau?" Renjani mengambil sate keduanya.
Kelana menggeleng, semua sate jeroan itu untuk Renjani.
"Kenapa, ini enak lho "
"Enggak suka."
Sejak kecil Kelana memang tidak suka makan jeroan, menurutnya mereka memiliki bau mirip kotoran tapi ia tak mungkin mengatakan alasan sebenarnya pada Renjani.
"Syukurlah, itu artinya kita nggak akan berebut makanan." Renjani nyengir. "Jesi suka banget sama usus dan hati ayam makanya kalau makan, kami suka rebutan."
"Kenapa nggak beli banyak sekalian biar nggak rebutan?"
"Kamu lupa aku miskin?"
Kelana tergelak, ia hampir lupa jika Renjani hidup tanpa orangtua disini. Jadi Renjani harus mengatur keuangannya untuk berbagai kebutuhan.
"Kamu boleh tambah kalau kurang."
"Beneran?" Mata Renjani melebar.
"Khusus hari ini, jeroan itu nggak sehat." Kelana berbisik saat mengatakan itu.
Renjani tersenyum, Kelana selalu memperhatikan nutrisi makanan sedangkan Renjani yang penting kenyang, nutrisi urusan belakang. Apakah itu alasan mengapa Kelana tumbuh tinggi sedangkan Renjani mentok di 160 centimeter.
Dua mangkok bubur dengan suwiran ayam, sambal, potongan daun bawang dan kerupuk telah tersaji di atas meja.
Mereka menikmati sarapan dengan banyak diam karena perut Renjani harus segera diisi penuh agar siap naik bianglala nanti. Tak ada hubungannya, Renjani memang doyan makan.
"Tinggi kamu berapa?" Renjani bertanya disuapan terakhirnya, ia ingin menanyakannya dari tadi tapi tak mau membagi pikirannya selagi menikmati bubur.
"187 mungkin, aku nggak yakin." Kelana tak ingat kapan terakhir kali mengukur tinggi badan, ia hanya rutin menimbang berat badan karena tuntutan perusahaan.
"Wah, pantes aku kayak kurcaci di deket kamu." Renjani menghabiskan tusuk terakhir sate ampela di piring.
"Tapi menurutku kamu lumayan tinggi kok untuk ukuran cewek Indonesia."
"Oh ya?" Renjani meneguk sebotol air mineral hingga tandas, kini ia benar-benar kenyang. "Kelana, aku mau beli kue balok di warung sebelah buat dimakan di jalan." Maksudnya lambung Renjani yang sebelah kanan kenyang yang kiri belum. Dia punya dua lambung.
Kelana mengiyakan, ia tak terlalu terkejut karena sudah paham betul dengan kebiasaan makan Renjani. Untungnya semua makanan Renjani tak jadi daging atau lemak, mungkin menguap ke udara karena tubuhnya tetap langsing meski makan banyak.
Renjani memesan sekotak kue balok rasa coklat dan serabi untuk dimakan selama perjalanan menuju taman hiburan.
"Lahap banget makannya sayang." Kelana mengusap puncak kepala Renjani gemas melihat pipinya menggembung.
Renjani berhenti mengunyah saat mendengar Kelana memanggilnya sayang, untungnya Renjani tidak menyemburkan makanannya meski salah tingkah.
Kelana mencium pipi Renjani sebagai balasan ciuman di dagunya tadi. Percayalah meski bukan bibir tapi Kelana merasakan gelanyar aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya bahkan pada Elara sekalipun.
"Kenapa lihatin aku gitu?" Renjani menyingkirkan kue balok di pangkuannya, ia makin salah tingkah saat Kelana menatapnya lama. "Belepotan ya?" Ia mengusap sudut bibirnya barangkali ada coklat yang tertinggal disana.
"Enggak kok." Kelana menggeleng, ia hanya sedang mengagumi makhluk Tuhan bernama wanita di hadapannya sekarang. Kenapa Renjani begitu menggemaskan bahkan diusianya yang sudah 25 tahun. Jika tak ada Dayat, pasti Kelana sudah menghabisi Renjani sekarang juga. Semalam kan udah! Tiba-tiba bagian dari diri Kelana yang lain berteriak seolah menyadarkannya.
Pertama-tama mereka harus membeli bando Mickey Mouse setelah sampai di taman hiburan. Tentu saja itu ide Renjani, Kelana akhirnya mau memakai bando tersebut setelah dipaksa.
"Ya ampun kamu imut banget." Renjani mencubit pipi Kelana.
"Harusnya aku yang bilang begitu." Kelana tak setuju jika ia disebut imut dengan badannya yang berotot ini.
Renjani hanya tergelak dan menarik Kelana menuju carousel, ia melihat catatan Kelana dan wahana pertama yang harus mereka naiki adalah carousel.
"Kamu bisa?" Renjani ragu saat Kelana hendak naik carousel.
"Bisa, aku pernah naik kuda beneran."
"Aku bisa nona sempurna." Kelana memasang senyum lebar, Renjani terlalu meremehkannya hanya karena tangannya menggunakan armsling padahal anak bayi saja bisa naik wahana ini.
"Kalau begitu silakan naik tuan cacat." Renjani menjulurkan lidah mengejek Kelana sebelum ia juga naik tepat di samping Kelana.
Renjani merentangkan tangan saat carousel mulai bergerak. Tak seperti Kelana yang tenang, Renjani justru berteriak heboh seperti bocah 5 tahun yang baru pertama kali naik carousel.
Renjani mengulurkan tangan mencolek pipi Kelana yang fokus melihat ke depan. Kelana pun menoleh pada Renjani lalu mengulas senyum, raut bahagia begitu terlihat di wajahnya.
Kelana meraih tangan Renjani dan menggenggamnya. Keduanya tertawa meski tak tahu apa penyebabnya. Seperti anak kecil yang mudah tertawa karena tak ada masalah yang harus dipikirkan.
Setelahnya mereka naik bianglala, tadinya Renjani ingin naik roller coaster tapi mengingat kondisi tangan Kelana, ia mengurungkannya. Lebih baik mereka naik wahana bianglala, siapa tahu ada adegan romantis yang bisa terjadi disana. Renjani bukannya berharap Kelana akan melakukan adegan romantis, ia hanya berpikir realistis.
"Dulu aku nggak berani naik bianglala." Renjani memecah keheningan antara dirinya dan Kelana. Sebentar lagi mereka akan mencapai tempat tertinggi dari bianglala tersebut.
"Kenapa?"
"Takut tiba-tiba jatuh." Sekarang saja Renjani tak berani melihat ke bawah.
"Sekarang?"
"Karena ada kamu, lagian aku udah janji."
"Terimakasih sudah memberi ide ini."
Renjani mengeluarkan ponselnya untuk menyalakan musik untuk menciptakan suasana romantis. Setidaknya itu yang dipelajarinya dari novel romantis yang pernah ia baca.
"Eh, Kelana." Renjani menunjukkan ponselnya pada Kelana yang menampilkan foto mereka di wahana carousel.
"Ini diambil barusan."
Kelana dan Renjani berlibur ke taman hiburan.
Renjani menggulir layar ponselnya ke bawah untuk membaca komentar. Renjani pikir setelah menggunakan masker tak akan ada yang mengenali Kelana. Namun Renjani salah besar, Kelana dengan badannya yang besar tentu tak bisa bersembunyi hanya dengan selembar masker.
Mereka kelihatan bahagia
Tolong jangan ada yang ganggu mereka
Jangan sampai bikin Kelana nggak nyaman
Please jangan ada yang ganggu hubungan mereka!
Diam-diam Renjani tersenyum membaca komentar positif para penggemar Kelana. Tidak seperti beberapa bulan yang lalu, kehadiran Renjani sudah bisa diterima oleh mereka.
Kelana melepas maskernya lagi pula ia sudah ketahuan.
"Kayaknya mereka udah merestui aku." Renjani meletakkan ponsel setelah memutar lagu Azalea.
"Apa itu penting?"
"Penting banget, para penggemar ini juga bagian dari diri kamu, jujur aku sempet sedih waktu mereka bilang aku nggak pantes jadi istri kamu, mereka juga bandingin aku sama Elara, ya jelas lah aku nggak ada apa-apanya dibanding Elara tapi pada akhirnya mereka bisa menerima aku."
"Itu artinya kamu luar biasa." Kelana menggenggam tangan Renjani. "Peluk yuk."
Renjani tertawa, ia mencondongkan tubuhnya dan memeluk Kelana. Dada Kelana adalah tempat paling nyaman untuk bersandar. Renjani tak tahu jika berpelukan seperti ini akan membuatnya sangat nyaman dan jadi ketagihan.
"Akhir-akhir ini kamu kelihatan banyak pikiran."
"Oh ya?" Renjani sudah berusaha menyembunyikan itu tapi ternyata Kelana masih bisa melihatnya.
"Kamu udah janji mau cerita semuanya sama aku."
"Nggak apa-apa kok, cuma ada masalah sedikit di kantor, aku malu mau ngomong karena Asmara Publishing baru aja mulai tapi aku nggak bisa bikin dia berkembang."
"Terlalu dini untuk menyerah."
"Aku tahu tapi uang perusahaan udah habis buat biaya produksi dan promosi sana-sini, aku nggak mau uang kamu habis sia-sia."
"Itu bukan sia-sia."
Lagu Azalea terputus berganti dengan suara nada dering yang cukup nyaring mengusik ketenangan Renjani.
"Sebentar ya." Renjani menyambar ponselnya, "halo."
"Mbak Rere harus lihat data pemesanan Meet Sunshine." Suara Manda terdengar tertahan, seperti ada kebahagiaan yang tengah ia tahan dengan sekuat tenaga.
"Kenapa emangnya?"
"Ada 500 pesanan masuk dan terus bertambah."
"Serius kamu?" Renjani membelalak, ia pasti sedang bermimpi. Berada di tempat tinggi seperti ini membuatnya berhalusinasi.
"Serius Mbak."
Kelana menatap Renjani penuh tanya.
"Kamu nggak lagi nge-prank aku kan?"
"Ya ampun Mbak lihat aja sendiri."
Renjani segera memutus sambungan dan melihat data pemesanan novel di website Asmara Publishing.
"Wah gila!" Renjani menepuk pipinya sendiri untuk menyadarkannya.
"Ada apa?" Kelana menahan tangan Renjani.
Renjani menunjukkan ponselnya pada Kelana.
"Lihat, terlalu dini untuk menyerah." Kelana kembali menarik Renjani ke pelukannya, ia bangga karena Renjani bisa melalui ini.