
"Lu gila ya? harusnya lu nggak macem-macem lagi sama Renjani, lu nggak inget Kelana bilang apa waktu itu?" Rehan bicara dengan emosi meluap, ia sudah cukup tenang karena akhirnya Kelana membebaskannya. Namun Emma justru berulah lagi.
"Ini gara-gara lu." Emma menatap Rehan tajam, ia melihat sekeliling memastikan tidak ada siapapun di basemen kecuali mereka.
"Oke gue salah karena bikin Renjani kecelakaan parah, tapi gue nggak sebut nama lu di depan polisi."
"Tolol banget sih lu, elu udah sebut nama gue depan Kelana itu sama aja, pokoknya gue nggak mau karir gue hancur!" Emma lelah berurusan dengan Rehan, tapi masalah ini membawanya bertemu Rehan kembali.
"Lu tenang dulu."
"Gimana gue bisa tenang, kalau Kelana beneran ngasih tahu semua orang, karir gue bakal abis." Emma merendahkan suaranya, walaupun basemen sudah sepi tapi ia takut jika ada yang mendengar percakapan mereka.
"Gue punya sesuatu buat ngancem Kelana balik."
Emma langsung terdiam mendengar perkataan Rehan, ia menggeser tubuhnya lebih dekat dengan lelaki itu.
"Gue simpan ini buat jaga-jaga kalau hal kayak gini bakal terjadi."
"Apaan buruan ah." Pinta Emma tidak sabar.
"Tapi gue minta harga mahal buat ini."
"Lu jangan main-main sama gue." Emma melotot, ia sudah mengeluarkan banyak uang hanya untuk mencelakai Renjani.
"Seratus."
"Lu mau peras gue?"
"Ini nggak seberapa dibanding karir lu." Rehan tersenyum miring, ia pandai memeras uang artis seperti Emma.
"Udah buruan ah."
Rehan mengeluarkan ponselnya, ia memutar salah satu video yang ia rekam beberapa bulan lalu saat Renjani dirawat di rumah sakit.
"Aku nggak pernah benci kamu, kalau memang benar aku nggak mungkin menikahi mu."
"Tapi kita menikah karena insiden itu, kamu nggak pernah punya perasaan ke aku."
Mata Emma membulat, jadi benar dugaannya ada yang janggal dengan pernikahan Kelana dan Renjani. Mereka menikah karena insiden berciuman di depan umum. Emma tiba-tiba merasa bersemangat, ia punya senjata kuat untuk melawan Kelana. Ia harus melakukan apapun untuk mempertahankan karirnya.
"Kita sama-sama punya kartu AS." Emma tersenyum miring. Bagaimana jadinya jika Kelana yang terkenal sebagai publik figur tanpa skandal justru melakukan cara seperti ini untuk menutupi berita itu. "Gue kasih lu bayaran mahal buat video ini."
Rehan tersenyum puas, saat pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Renjani ia tak sengaja mendengar obrolan Kelana dan Renjani. Rehan iseng merekam video berjaga-jaga jika hal seperti ini terjadi. Ia tak sia-sia melakukannya.
"Buruan kirim ke gue." Emma masuk ke dalam mobilnya setelah melihat video yang direkam diam-diam oleh Rehan.
"Oke, setelah lu transfer." Rehan tidak mau tertipu, ia harus mendapatkan uangnya lebih dulu.
Ibu jari Emma bergerak cepat di atas layar ponsel mentransfer sejumlah uang yang Rehan inginkan.
Setelah mendapat video tersebut, mobil Emma melesat keluar basemen disusul Rehan setelahnya.
"Wah dunia hiburan memang kejam." Seorang gadis lain yang dari tadi berada di dalam mobil akhirnya bersuara setelah menutup mulutnya sendiri selama mendengarkan percakapan Emma dan Rehan. "Liora, kamu tinggal pilih mau dukung siapa, Kak Emma atau Kak Kelana." Liora berkata pada dirinya sendiri. Semuanya adalah seniornya, mereka berada di manajemen yang sama.
Liora yang baru bergabung dengan Antasena Entertainment sangat terkejut mengetahui ada kasus semacam itu. Padahal semua masyarakat tahu jika artis-artis Antasena terkenal dengan karir cemerlang tanpa skandal.
******
"Kamu marah sama aku?" Kelana memiringkan tubuhnya menyangga kepala dengan satu tangan menghadap Renjani yang tidak bersuara sejak mereka sampai di apartemennya. Kelana terbiasa dengan Renjani yang cerewet. Jika Renjani diam seperti ini Kelana merasa sedang bersama orang lain disini.
"Untuk apa?" Renjani melirik Kelana, untuk apa ia marah pada orang yang sudah melindunginya. Renjani hanya kesal karena Kelana telah menyembunyikan hal ini darinya begitu lama padahal mereka telah berjanji untuk saling terbuka. Ternyata ada banyak rahasia yang belum Renjani ketahui.
"Aku melakukan ini untuk melindungi mu, sayang." Kelana menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajah Renjani. Ada bekas keunguan melintang di leher Renjani.
"Aku tahu, harusnya aku berterimakasih sama kamu, aku cuma kesel aja karena kamu rahasiain ini padahal kita udah janji mau saling terbuka."
"Maafkan aku." Kelana mendekap Renjani, ia mencium aroma lemon segar dari rambut Renjani.
"Kamu pakai parfum apa?" Renjani mengendus leher Kelana. "Baunya beda."
"Kamu nggak suka?"
"Suka." Renjani menciumi leher Kelana dan sesekali menggigitnya. Renjani tak peduli dengan parfum apa yang Kelana gunakan, ia tetap menyukainya.
"Ah ini nggak adil buat aku." Keluh Kelana.
"Kenapa?"
Renjani terkekeh, tadi ia sudah mengoleskan salep untuk meredakan rasa sakit di lehernya. Tentu Kelana tak boleh menyentuh leher Renjani agar salep nya tidak luntur.
Ponsel Kelana bergetar panjang di atas nakas tanda ada telepon masuk. Kelana berdecak kesal, siapa yang menelepon tengah malam begini.
"Sebentar." Kelana menyingkap selimut mengulurkan tangan meraba nakas untuk menemukan ponselnya. "Awas aja kalau nggak penting." Kelana melihat nama Liora di layar ponselnya. "Halo Liora."
Renjani terdiam demi ikut mendengarkan percakapan Kelana dan Liora. Renjani sempat berkenalan dengan Liora tadi, penyanyi muda yang mengisi lagu Cloudy Night bersama Kelana.
Wajah Kelana tampak serius mendengarkan perkataan Liora. Ia turun dari tempat tidur dan pergi ke balkon.
Renjani menyusul Kelana ke balkon dan memeluknya dari belakang. Angin malam bertiup menerpa keduanya.
"Dingin banget." Renjani berbisik, ia mengenakan kimono tipis karena Kelana bilang mereka akan bekerja semalaman. Pekerjaan paling menyenangkan yang akan mereka lakukan di atas tempat tidur.
Kelana membalikkan tubuh merangkul Renjani, meski sedang serius bicara dengan telepon tapi ia tetap mendengarkan ucapan Renjani.
Renjani mendongak, apa yang mereka bicarakan hingga guratan di wajah Kelana jelas terlihat. Rahang Kelana mengeras, alisnya bertaut menyiratkan amarah.
"Ada apa?" Tanya Renjani setelah Kelana selesai bicara.
"Kamu ingat percakapan kita waktu kamu dirawat di rumah sakit?"
"Yang mana?"
"Kamu bilang kita menikah karena insiden itu."
Renjani terdiam berusaha mengingat ucapannya saat di rumah sakit. Renjani tidak ingat hal-hal seperti itu bahkan kejadian kemarin saja ia bisa lupa.
"Iya, kenapa?" Tanyanya walaupun tidak ingat persis percakapan mereka saat itu.
"Emma punya rekaman video kita waktu itu, kemungkinan dia akan mengancam ku dengan video tersebut, Liora nggak sengaja dengar percakapan Emma dan Rehan di basemen."
"Itu karena kamu bilang mau ngasih tahu semua orang kalau Emma yang udah menyebabkan aku kecelakaan."
Kelana kembali memeriksa ponselnya yang bergetar pendek, sesuai dugaannya ia menerima pesan dari Emma.
Aku akan unggah video ini ke media sosial kalau kamu nekat kasih tahu orang-orang tentang kecelakaan itu.
"Kelana, jangan kasih tahu siapapun, biarin semuanya berjalan kayak biasa."
"Dan membiarkan Emma semena-mena sama kamu?" Kelana tidak mau kejadian seperti tadi terulang lagi. Emma sudah berani membuat Renjani dirawat di rumah sakit lalu hari ini ia mencekiknya. Kelana merasa beruntung karena ia menyusul Renjani ke toilet hingga segera menggagalkan Emma. Bagaimana jadinya jika Kelana tidak datang. Mungkin sekarang Kelana sudah kehilangan Renjani. Membayangkannya saja Kelana tak mampu.
"Bukan gitu, lagi pula kami jarang ketemu."
"Emma orang yang licik bahkan kamu hampir mati di tangannya."
"Kelana, semua orang akan tahu kalau kita menikah karena kejadian di perpustakaan itu."
"Nggak masalah, lagi pula sekarang kita saling mencintai." Kelana mengusap rambut Renjani yang sedikit berantakan. Ia tak peduli apa yang akan terjadi setelah semua orang mengetahui alasan dibalik dirinya menikahi Renjani.
"Mereka nggak akan peduli sama itu."
"Aku akan tetap akan mengungkap kebenarannya." Kata Kelana mantap, ancaman Emma sama sekali tidak akan membuatnya mundur.
"Jangan, aku mohon, kamu udah bangun karir mu dengan susah payah, jangan sampai hancur karena hal kayak gini." Renjani gemetar mencengkram lengan Kelana. "Ini salahku, aku janji setelah ini akan jaga diri baik-baik supaya Emma nggak ngelakuin kayak tadi lagi."
"Re, semua orang yang bersalah harus dihukum."
Renjani menggeleng, ia tak mau Kelana terkena masalah karena hal seperti ini. Lebih baik mereka tetap menjaga rahasia itu agar keadaan tetap damai seperti biasa.
"Penggemar mu akan kecewa."
"Kalau mereka memang menyukaiku, hal seperti ini harusnya nggak jadi masalah."
"Jangan Kelana, keadaannya mungkin nggak akan sama lagi setelah ini."
"Renjani, lihat aku." Kelana menangkup pipi Renjani "Aku sayang kamu Re."
Renjani terdiam, ia tak mau keberadaannya membuat karir Kelana hancur. Renjani tahu betapa susahnya Kelana mencapai titik ini.
"Kamu segalanya buat aku." Kelana tidak memiliki siapapun untuk bersandar. Dulu setelah mengetahui Wira menikah lagi, Kelana memutuskan untuk tidak menyandarkan hidupnya pada orang lain. Namun setelah bertemu Renjani, Kelana merasa tak bisa hidup dengan baik tanpa wanita itu. Renjani adalah satu-satunya orang yang peduli terhadap keadaan dan perasaan Kelana.