
Air mengguyur tubuh Kelana yang tengah bermain violin. Ekspresi Kelana sangat menghayati lagu Dancing in the Rain. itu adalah hujan buatan untuk keperluan syuting video klip Kelana. Awalnya Kelana tak setuju jika ia harus ikut diguyur air. Kelana meminta hanya Liora yang diceritakan berada di tengah hujan. Namun sutradara meminta Kelana ikut basah-basahan dengan alasan totalitas agar hasil video tersebut lebih bagus.
Begitu selesai mengambil video, Kelana langsung berlari keluar set dan menerima handuk dari Yana. Ia segera masuk ke ruang ganti dan mengeringkan rambutnya dibantu oleh dua orang staf.
"Syuting hari ini selesai, terimakasih sudah bekerja keras semuanya!" Sutradara berseru pada semua orang.
Kelana bangkit menghampiri Liora yang juga sedang mengeringkan rambut. Siapa sangka gadis bertubuh tinggi itu masih 16 tahun. Liora terlihat lebih dewasa dari usianya karena tuntutan manajemen.
"Terimakasih atas kerja keras mu, Liora." Ujar Kelana.
Liora berdiri untuk menjabat tangan Kelana. Ia bangga karena ditunjuk langsung oleh Kelana untuk menyanyikan lagu Dancing in the Rain.
"Saya merasa terhormat karena bisa menjadi bagian dari Dancing in the Rain, ini mimpi saya sejak lama, terimakasih Kak Kelana."
"Kamu masih muda tapi semangat mu luar biasa, semoga karir kamu semakin sukses."
"Saya yakin itu pasti terjadi berkat Kakak." Liora yakin setelah ini karirnya akan lebih baik setelah digandeng oleh Kelana dalam proyek lagu tersebut.
"Jika kamu sukses maka itu karena kerja keras mu, bukan saya."
Liora tersenyum, Kelana sangat rendah hati dan baik pada semua staf disini termasuk dirinya yang notabene anak kemarin sore di dunia hiburan.
"Mas, Pak Wira menunggu di depan." Yana berbisik pada Kelana.
Senyum Kelana langsung lenyap mendengar nama Wira. Ada apa Wira kesini tanpa memberitahu Kelana lebih dulu. Wira memang selalu seenaknya sendiri, ia selalu datang tiba-tiba menemui Kelana. Bahkan jika Kelana menolak Wira akan tetap datang.
Rambut Kelana masih lembap tapi ia tetap keluar dari ruang ganti untuk menemui papa nya, lebih cepat lebih baik.
"Ada apa Papa kesini?" Kelana to the point. Biasanya papa nya akan bertanya mengenai komentar Kelana terhadap alat musik yang hendak diproduksi melalui pesan. Namun kenapa sekarang Wira datang langsung.
"Gimana syuting kamu?" Tanya Wira.
"Semuanya lancar, kami hampir selesai." Kelana tersenyum samar, ia senang papa nya bertanya.
"Bagus kalau begitu Papa mau minta sesuatu sama kamu."
Senyum Kelana langsung pudar, ia pikir papa nya benar-benar peduli tapi ternyata itu hanya basa-basi. Kelana harusnya tidak berharap terlalu banyak.
"Aku akan kirimkan ulasan mengenai violin yang Papa kirimkan waktu itu melalui email." Kelana mengerti maksud dari permintaan papa nya.
"Bukan itu."
Lalu apa?
"Buatkan lagu untuk Valia."
"Maksud Papa?" Alis Kelana bertaut, ia bukannya tidak mengerti maksud dari kalimat itu. Hanya saja Kelana ingin papa nya berpikir seribu kali sebelum memintanya membuat lagu untuk Valia. Itu adalah cara murahan yang memalukan.
"Kamu cukup pandai membuat lagu, biarkan Valia memiliki satu lagu atas nama dirinya."
Rahang Kelana mengeras, Wira begitu mempedulikan karir Valia tapi selalu acuh tak acuh pada Kelana.
"Kenapa Papa menggunakan cara seperti itu, kalaupun seandainya nanti Valia sukses dengan lagu yang aku buatkan untuknya, apakah dia akan puas sedangkan itu bukan karyanya."
"Itulah bedanya kamu dengan Valia, kamu terlalu naif, curang sedikit tidak masalah." Kata Wira santai.
Kelana tertawa mengejek, "aku nggak perlu curang untuk mendapatkan kesuksesan."
"Jadi kamu tidak mau?"
"Suruh anak kesayangan papa itu membuat lagu sendiri." Ujar Kelana dingin.
"Baiklah." Wira beranjak, "maka Papa akan membiarkan Valia menggunakan studio di rumah."
Jantung Kelana seperti mencelos dari dalam dada. Itu adalah studio musik milik mama nya. Kelana tak mungkin membiarkan siapapun menggunakannya terutama Valia. Kelana sudah memberi peringatan untuk semua orang yang berada di rumah itu agar jangan masuk ke studio tersebut.
"Studio itu milik ku, Mama memberikannya pada ku."
"Kamu begitu serakah, Kelana."
Kelana terhenyak, dari awal studio itu memang miliknya. Bukankah Wira membuat studio sendiri untuk Valia yang pengetahuan musiknya minim. Valia sering merusakkan alat-alat musik di studionya sendiri.
"Aku akan membuat lagu untuk Valia." Kelana tak mau berdebat lagi dengan papa nya. Ia harus melindungi studio tersebut bagaimanapun caranya. Hanya itu kenangan bersama mama nya yang Kelana punya.
"Begitu lebih baik." Wira menepuk bahu Kelana dua kali lalu berlalu dari sana.
Kelana mengembuskan napas keras setelah kepergian Wira. Kedatangan Wira selalu meninggalkan kesan buruk bagi Kelana.
******
Senyum Kelana lenyap ketika membuka pintu kamar dan mendapati Renjani sudah tidur padahal ia berusaha pulang lebih awal karena ingin mengobrol dengan Renjani. Bahkan Kelana sengaja membeli puffed rice cakes dengan berbagai topping saat perjalanan pulang.
Kelana urung masuk ke kamar, ia membalikkan badan melangkah menuju dapur.
"Kalau disimpan sampai besok masih bisa dimakan nggak?" Kelana meletakkan kotak puffed rice cakes di atas kitchen island.
"Kalau nggak ada topping nya bisa Mas."
"Ya udah buang aja."
"Mbak Rere udah tidur ya Mas?"
"Iya."
"Ditaruh aja dulu siapa tahu nanti Mbak Rere bangun." Yana tahu Renjani biasa bangun tengah malam dan mencari makanan di dapur.
Lampu ruangan menyala terang, rupanya Renjani kelelahan hingga tidak sempat mematikan lampu dan langsung tidur. Bahkan ia belum melepas kaos kaki dan masih mengenakan pakaian kerja. Renjani benar-benar terlihat berantakan, itu membuat Kelana risih. Karena Kelana tak bisa tidur jika belum ganti baju dan melakukan ritual sikat gigi serta cuci muka di kamar mandi.
Mula-mula Kelana melepas kaos kaki Renjani dan membenarkan posisi tidurnya. Kelana menuang pembersih pada kapas untuk membersihkan riasan Renjani.
"Wajah mu bisa jerawatan kalau kayak gini setiap hari." Kelana mengusap wajah Renjani dengan handuk basah untuk membersihkan sisa cairan pembersih. "Tapi kulit mu bagus sekali padahal belum pernah perawatan di salon." Kelana tahu teman-teman artis wanita yang ia kenal rutin melakukan perawatan di salon. Mereka juga sangat pilih-pilih makan untuk menjaga kulit dan berat badan. Renjani harus bersyukur karena meski makanan apapun masuk ke tubuhnya, ia tetap terlihat langsing.
Sebuah kartu undangan di atas meja rias mencuri perhatian Kelana saat ia keluar dari kamar mandi setelah cuci muka. Kelana membaca kartu undangan tersebut lalu meletakkannya lagi.
"Maafin aku Re." Kelana berbaring di samping Renjani, ia menatap wajah Renjani yang terlelap. Mulutnya sedikit terbuka membuat Kelana tidak bisa menahan diri untuk tak menciuminya. Kelana menciumnya perlahan agar tidak membangunkan Renjani.
"Walaupun bukan aku yang menyelamatkanmu waktu itu tapi mulai sekarang aku akan terus melindungimu." Kelana meraba-raba nakas mengambil remote dan mematikan lampu ruangan menggantinya dengan lampu tidur.
Kelana memejamkan mata, ia juga lelah hari ini. Tadinya ia ingin mengobrol banyak dengan Renjani sebelum tidur. Namun ternyata Renjani sudah tidur lebih dulu.
Sebenarnya Kelana bukan orang yang mudah mengutarakan perasaannya pada orang lain tapi sejak ada Renjani ia terbiasa melakukannya. Renjani pendengar yang baik dan akan memberi respon yang membuat Kelana merasa hangat. Hidup Kelana yang dingin bahkan hampir beku perlahan mencair dan terasa hangat sejak keberadaan Renjani.
******
Langit masih gelap ketika Renjani bangun dari tidurnya. Renjani melompat dari ranjang dan berjalan menuju dapur dengan mata tertutup. Namun ia sempat melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 5 pagi.
Perut Renjani keroncongan karena kekenyangan semalam. Entah kenapa jika ia malam malam hingga kekenyangan, pagi harinya ia merasa sangat lapar. Tadi malam Renjani dan tim nya memasak mie instan dengan tambahan sosis, telur dan sayur sebelum pulang.
Renjani menemukan kotak makanan di atas kitchen island, tanpa pikir panjang ia mencomot satu kue berbentuk lingkaran dengan topping stroberi dan bluberi tersebut.
Walaupun rasanya sedikit aneh tapi Renjani tetap melahapnya hingga habis lalu meletakkan kepala di atas meja dan kembali tidur. Ia ngantuk dan lapar pada saat yang bersamaan.
Kelana terbangun saat Renjani tiba-tiba melompat dari ranjang dan keluar. Tidak biasanya Renjani bangun pagi-pagi sekali. Biasanya Renjani baru bangun setelah matahari meninggi.
Kelana mencari Renjani ke ruang tengah lalu ruang tamu tapi tidak ada. Kemana Renjani? apakah Kelana salah lihat?
"Itu dia." Kelana menemukan Renjani duduk di dapur. "Re, ngapain disini?" Kelana duduk di sampingĀ Renjani, ia menyibak rambut yang menghalangi wajah Renjani. Ia tersenyum setelah sadar bahwa ternyata Renjani tidur.
"Kamu lucu sekali." Kelana membersihkan sisa makanan di sudut bibir Renjani. "Kamu habis makan kue beras ya, aku memang membelikannya untukmu."
Kelana tiba-tiba teringat jika kue itu sudah basi karena sudah didiamkan semalaman.
"Re, Re!" Kelana menepuk punggung Renjani, "Re, kamu makan puffed rice cakes yang disini?"
Renjani masih setengah sadar tapi ia mengangguk menjawab pertanyaan Kelana.
"Itu udah basi."
"Pantas rasanya sedikit aneh." Kata Renjani santai.
"Muntahin sekarang juga." Kelana menepuk tengkuk Renjani agar mengeluarkan makanan basi yang bisa saja membuat perutnya tidak nyaman.
Renjani menepis tangan Kelana, mana mungkin ia bisa memuntahkan makanan begitu saja. Lagi pula ini bukan pertama kalinya Renjani makan makanan basi.
"Aku pernah makan makanan basi kok sebelumnya bahkan aku pernah makan produk kadaluarsa tapi buktinya aku masih hidup sampai sekarang."
Kelana melongo, ia sudah panik setengah mati tapi Renjani justru tenang padahal makanan itu masuk ke perutnya.
"Kamu memang ceroboh." Omel Kelana.
"Tenang, jangan panik." Renjani menepuk-nepuk bahu Kelana.
"Harusnya aku yang bilang gitu."
"Aku tahu orang kaya seperti mu pasti kaget."
"Ini bukan soal kaya atau enggak, Re." Kelana menyambar sisa puffed rice cakes dan membuangnya ke tempat sampah membuat Renjani melongo.
"Kok dibuang sih?"
"Itu sudah basi."
"Kan sayang, aku masih mau makan."
"Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau rasanya sedikit aneh?"
"Iya tapi masih bisa dimakan."
"Nanti aku beliin lagi." Kelana menarik Renjani agar beranjak dari sana. "Aku mau peluk kamu." Ia mendekap Renjani, semalam ia menahan diri untuk tidak mengusik Renjani yang sudah terlelap meski ia menginginkannya.
"Ada apa?" Renjani bingung melihat tingkah Kelana. "Kamu capek ya?"
Kelana mengangguk. Pikiran Kelana benar-benar kacau setelah Wira menemuinya semalam dan memintanya membuat lagu untuk Valia tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Kamu bisa istirahat." Renjani menepuk-nepuk punggung Kelana.
"Aku merindukan seseorang."
"Ayo pergi menemuinya."
Kelana terkejut, kenapa Renjani langsung berkata seperti itu. Bahkan Renjani tidak tahu sosok yang Kelana rindukan.
Kelana mengurai pelukan, "kamu mau ikut?"
Renjani mengangguk, jika itu bisa menghibur Kelana maka ia akan menurutinya.