
Dengan ragu-ragu Floe menggeser tombol hijau ke atas, tapi ia tidak mengeluarkan suara sama sekali karena ingin mendengar siapa yang menghubungi. Ia merasa yakin jika saat ini yang menghubungi adalah Erland dan ingin tahu apa yang diinginkan pria itu. Namun, begitu mendengar suara bariton dari seberang telepon, seketika wajahnya masam.
"Ayu Ningrum? Ini Dhewa. Maaf karena aku terpaksa melakukan ini padamu, tapi saat ini benar-benar buntu dan tidak tahu harus bagaimana. Aku meminta tolong pada tuan Hugo Madison untuk membujukmu dan syukurlah katanya kamu berubah pikiran dan akhirnya mau membantuku," ucap Dhewa yang beberapa saat lalu berbicara dengan ayah Floe mengenai perintah untuk datang ke apartemennya.
Ia tadi merasa sangat keberatan jika sampai Floe datang ke apartemen dan seolah seperti merendahkan harga diri seorang wanita. Jadi, sengaja berbicara langsung dengan Flow yang ia ketahui pergi kuliah sepulang kerja.
"Nanti aku jemput di kampusmu saja. Jadi, tidak perlu datang ke apartemenku. Lalu kita langsung berangkat ke bandara." Dhewa yang kini menutup mulut karena ingin mendengar suara Floe, dengan sabar menunggu.
Namun, sudah beberapa menit waktu berlalu, masih tidak mendengar suara dari wanita yang berada di seberang telepon. Sebenarnya ia tahu seperti apa perasaan Floe saat ini. Pasti tengah kesal sekaligus murka padanya, tapi tidak bisa meluapkan padanya.
'Mungkin Kanjeng Ratu Widodariku ini akan langsung menarik rambutku jika aku ada di depannya. Pasti saat ini tengah kesal karena aku meminta tolong pada tuan Hugo Madison dan akhirnya tidak bisa menolak. Maafkan aku karena terpaksa melakukan cara ini,' gumam Dhewa yang mengingat sesuatu, yaitu tentang pria yang merupakan suami Floe.
Tadi setelah ia tahu nama lengkap pria itu, langsung mencari semua informasi di mesin pencarian dan menemukan fakta yang sangat jelas. Bahwa Floe kuliah di kampus yang sama dengan Erland—pria yang dielu-elukan menjadi alumni membanggakan dan sering diundang untuk menjadi motivator.
Sementara itu, Floe yang malas berbicara dengan Dhewa meskipun tadi bilang pada sang ayah jika akan menerima dan tidak protes lagi, tidak bisa menahan rasa kesalnya.
Ia berjalan menuju ke arah pintu keluar dan menuruni anak tangga karena ingin segera berangkat ke kampus. Hingga kembali mendengar suara embusan napas kasar dari pria yang ada di seberang telepon.
"Apa tidak ada lagi yang ingin kau katakan? Aku sangat risi mendengar embusan napas kasarmu." Floe yang kini sudah berada di halaman rumahnya, memberikan kode pada supir untuk segera mengantarkan ke kampus.
"Maaf. Oh ya, aku sudah membelikan gaun untukmu. Nanti kamu mau ganti di mana? Di mobil atau di kampus? Tidak mungkin kamu ganti di Bandara karena waktu sudah di jam kedatangan mamaku. Jika mamaku menunggu, sudah bisa dipastikan jika hubungan kita tidak akan direstui." Dhewa mengakhiri penjelasannya dan berharap jika Floe akan mau berkomentar.
Itulah mengapa ia sengaja mengakhiri dengan kalimat untuk memancing emosi Floe karena menganggap jika itu malah membuatnya merasa senang mendengarkan. Seolah kemurkaan Floe malah menghidupkan suasana hatinya yang telah lama mati.
'Berbicaralah, Kanjeng Ratu Widodariku. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana jika melihat kediamanmu. Aku lebih senang saat melihatmu marah daripada tidak berbicara seperti ini,' lirih Dhewa yang saat ini sambil melihat profil dari seorang Erland Carl Felix.
Di sisi lain, Floe saat ini sudah berada di dalam mobil yang menuju ke kampus dan melirik sekilas jam tangan miliknya. "Aku sudah terlambat. Nanti saja bicaranya saat ketemu karena aku sedang menghemat seluruh energiku demi menghadapi mamamu." Floe kini kembali mengingat wanita yang masih keturunan darah biru dan membuatnya merasa tidak percaya diri.
Jadi ia melampiaskannya di telpon dan nanti akan dilanjutkan saat bertemu secara langsung. "Jangan berbicara konyol, seolah kita punya hubungan saja. Padahal cuma hubungan palsu saja, pake bilang se-lebay itu. Nanti berikan saja pakaiannya saat di kampus. Biar aku sekalian pakai."
Floe terdiam ketika di otaknya kini terbersit sesuatu yang sangat mengganggunya. "Tiba-tiba aku ingat sesuatu."
"Apa?" tanya Dhewa yang kini makin dibuat bingung sekaligus negatif thinking saat Floe tidak langsung mengatakannya.
To be continued...