
Dhewa saat ini sudah berada di dalam mobil yang terparkir rapi di parkiran yang ada di depan kampus Floe. Ia dari tadi dibuat penasaran dengan apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Floe tadi ketika berbicara dengannya di telepon. Tadi Floe tidak melanjutkan perkataannya dan mengatakan akan menyampaikan saat bertemu dengan alasan terburu-buru karena sudah hendak masuk ke ruangan kelas.
Jadi, perbincangan mereka di telepon terputus begitu saja dengan rasa penasaran yang membuncah dan kini bertanya-tanya. Saat ini Dhewa melihat jam tangan mahal miliknya yang menunjukkan sudah pukul sembilan malam.
Kebetulan pesawat yang ditumpangi sang ibu tiba di bandara pukul setengah sepuluh malam, jadi masih ada waktu untuk perjalanan karena malam hari jalanan tidak macet karena bukan weekend.
Ia tadinya menunggu di dalam mobil dan begitu melihat beberapa mahasiswi serta mahasiswa keluar, langsung beranjak dari tempat duduk dan keluar dari mobil untuk mencari sosok wanita yang ingin diberikan paper bag berisi pakaian.
"Apa mereka adalah teman-temannya?" Saat Dhewa masih mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok wanita yang ditunggu, di saat bersamaan bersitatap dengan Floe dan membuatnya langsung melambaikan tangan.
Melihat sosok wanita yang saat ini berjalan mendekat ke arahnya dengan raut wajah cemberut dan sudah bisa dipastikan sangat kesal padanya, tapi tidak dipedulikannya karena saat ini hanya membutuhkan bantuan Floe.
Ia pun langsung memberikan paper bag yang berada di tangan kanannya. "Kamu pasti cocok mengenakannya. Semoga kamu suka dengan pilihanku."
Sementara itu, Floe yang sebenarnya dari tadi bermalas-malasan saat keluar dari ruangan kelas, sehingga cukup terlambat dan berada di bagian belakang sendiri dari teman-temannya. Ia saat ini langsung melihat pakaian yang dibelikan oleh Dhewa dan seketika mengerjakan mata.
"Kenapa harus putih sih warna gaunnya?" Floe sebenarnya dari dulu suka dengan warna putih, tapi semenjak kehilangan kesuciannya karena mabuk dan bercinta dengan Erland, menganggap dirinya sudah tidak layak memakai gaun berwarna putih.
Ia merasa jika warna putih tidak pantas dikenakan karena sudah tidak suci lagi. Dari dulu ia selalu berpikir bahwa warna putih yang berarti suci itu pantas dikenakan oleh seorang wanita yang masih perawan. Memang pemikirannya sangat konyol, tapi selalu merasa ternoda setelah kejadian di hotel yang membuatnya kehilangan kesucian.
Padahal dari dulu ia ingin memberikan kesuciannya pada pria yang sudah sah menjadi suami, tapi semua hancur gara-gara satu malam akibat patah hati dan berakhir mabuk.
Floe sebenarnya ingin sekali melempar gaun berwarna putih itu karena merasa tidak cocok memakainya, tapi menahan diri untuk tidak bersikap kekanak-kanakan. Ia hanya bisa menghembuskan napas kasar untuk meluapkan gejolak amarah yang saat ini meluap-luap di hatinya.
"Apa kamu tidak suka gaun berwarna putih?" Dhewa yang sama sekali tidak menyangka jika pilihannya jatuh pada warna putih karena menganggap sangat cocok dikenakan oleh wanita secantik bidadari seperti Floe.
Mungkin jika waktunya masih cukup, akan mampir ke toko pakaian untuk membeli gaun lain. Namun, saat ini tengah dikejar waktu karena khawatir jika terlambat menjemput sang ibu dan hari telah larut, sehingga mungkin toko sudah tutup.
Ia saat ini merasa bingung harus bagaimana menghadapi sosok wanita yang terlihat semakin masam padanya. Jadi, hanya diam dan menunggu keputusan Floe karena otaknya tengah buntu.
Ia masih terdiam sambil menatap gaun yang panjangnya kira-kira selutut itu. Bahkan tadi sempat melihat jika pria di hadapannya sesekali menatap jam tangan mahal yang dikenakan.
'Sekalian biar dia dimarahi mamanya jika datang terlambat. Biar dapat hukuman, tapi aku tidak kena imbasnya, kan? Atau malah berpikir akulah yang membuatnya terlambat datang? Aaah ... bikin kesal saja,' sarkas Floe yang hanya bisa mengumpat di dalam hati dan kini kembali menatap tajam dengan kilatan amarah.
"Aku tidak suka dengan pakaian gaun berwarna putih. Ingat itu baik-baik! Tapi karena aku tahu jika waktunya sudah mepet, jadi terpaksa memakainya. Tunggu di sini! Aku akan ke sana sebentar." Floe menuju ke arah toilet yang berada di sebelah kiri dan langsung melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke sana.
Tentu saja berjalan sambil mengumpat beberapa kali karena kesal ketika harus melakukan sesuatu hal yang tidak disukai. Ia dari dulu tidak pernah memaksakan diri dan selalu melakukan apapun sesuai dengan keinginan hatinya, tapi semua tidak berlaku setelah bertemu dengan Erland.
Hingga sekarang berlanjut ketika mengenal sosok pria yang menggunakan kekuasaannya untuk memanfaatkannya. 'Aku punya kekuasaan sepertinya, tapi sialnya tidak bisa melakukan apapun. Menyebalkan sekali.'
'Ini karena daddy menyuruhku untuk tidak membuka jati diri dan terus menyamar sebagai orang biasa agar bisa bekerja dengan baik. Aku tidak menyangka jika semua hal yang tidak diinginkan akan terjadi.' Floe kini sudah berjalan masuk ke dalam toilet dan buru-buru mengganti pakaian yang dikenakannya dengan kaum berwarna putih yang memiliki pita di bagian kerah.
Saat ia selesai melakukannya, sedikit merapikan gaun yang dikenakan dan menatap penampilannya sendiri. "Rasanya aku telah menodai gaun putih ini karena bukan merupakan wanita yang suci lagi. Ini adalah pertama kali dan terakhir kalinya aku memakai gaun berwarna putih. Awas saja jika dia tidak ingat."
Floe seketika terdiam ketika kalimat terakhirnya membuatnya merasa sangat konyol dan bodoh. "Lah ... ngapain aku menyuruhnya mengingat jika aku tidak suka gaun dengan warna putih? Aku pun tidak akan menyuruhnya untuk membelikan gaun lagi, kan? Aku pun juga tidak akan berhubungan lagi dengan dengannya mengenai masalah pribadi."
Ia menepuk jidatnya begitu menyadari jika sikapnya berlebihan karena sedang kesal. Akhirnya ia pun keluar dari kamar mandi dan bisa melihat jika sosok pria yang tadi dimarahinya dan hanya diam saja tersebut masih berdiri di sebelah kanan mobil.
Kini, Floe berjalan menuju ke arah mobil berwarna hitam yang terparkir rapi di sana.
"Tunggu!" seru Dhewa yang saat ini berniat untuk membukakan pintu dengan berjalan memutar. Namun, seketika berhenti ketika mendapatkan sikap ketus dari Floe.
"Tidak perlu!" sarkas Floe yang saat ini langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. 'Apa dia mau sok romantis di depanku karena ingin mengurangi kekesalanku? Justru aku bertambah kesal melihat dia melakukannya.'
To be continued...